"Ada projek jadi agen 1001 cara menikung pacar orang."
"APA?!!" Mataku sampai ingin keluar dari tempatnya.
Apa tidak salah?
"Iya... kalau misinya selesai, kamu juga bisa bikin artikel."
Gila... tuh orang bisa-bisanya nyantai banget ngomong gitu!
"Tapi--"
"Aku berani bayar gede soal ini." Potong Bu Marni.
Membuatku berhenti berkata-kata dan aku jadi berpikir sekarang, lumayan juga sih sepertinya, kan aku juga sedang butuh uang.
"Boleh deh, Bu!" Jawabku kemudian.
Kayaknya gue ikutan gila, nih!
"Oke, sekarang kamu sudah boleh pulang, nanti di omongin kembali pas meeting bareng tim besok Senin."
Beneran muka gile!
Kurang kerjaan sekali bos satu ini. Menyuruhku datang ke kantor cepat-cepat cuma mau ngomong gitu doang!
Heh!
***
"Maya enggak kuliah di sini?" Tanya Lusi sembari melahap makan siangnya, kau sedang duduk di kantin dan memesan dua piring ketoprak untuk mengganjal perut kami siang ini.
"Enggak," jawabku sembari memasukkan sepotong lontong besar berlumur sambal kacang ke mulut ku.
"Terus dia lanjut kuliah dimana dong?"
"Dia pindah kuliah di Trisakti, tapi ngulang lagi dari semester 1," aku mulai menyiapkan potongan lontong berikutnya, begitu juga Lusi yang tampak menikmati makanannya.
"Lah, kenapa enggak disini aja sih, kan enak bisa ngumpul bertiga," Lusi terlihat sedikit kecewa, aku hanya bisa mengangkat bahu.
"Iya sih, gue juga mikirnya gitu." Timpalku.
Aku mulai membaca novel yang sejak tadi terasingkan. Ya... aku memang suka membawa dan membaca novel kemanapun aku pergi. Begitu juga dengan Lusi. Kami pindah duduk ke taman agar acara membaca kami lebih menenangkan. Tak ada suara di antara kami, yang ada terdengar suara tawa Lusi saat Lusi membaca adegan lucu di novel online. Ludi lebih suka membaca novel online melalui ponselnya.
"Kak Axel kemana ya? Tumben enggak kelihatan," celetuk Lusi tiba-tiba memecah keheningan di antara kami berdua, aku hanya mengangguk menanggapinya karena aku sedang fokus membaca.
"Dia kemana, Vay?" Lusi kembali bertanya dan aku lagi-lagi hanya memberinya anggukan kecil.
"Dih... ngangguk-ngangguk doang." Aku mengangkat kepalaku dari buku novel yang sedang k*****a dan beralih menatap Lusi yang kini menatapku dengan sinis.
"Ada apa, Lusi?" Jujur aku benar-benar tidak tahu dengan apa yang terjadi hingga Lusi terlihat jengkel seperti itu padaku.
"Lo denger enggak apa yang gue bicarakan tadi?" Katanya sembari bersedekap dan mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi.
"Enggak," aku memiringkan kepala ke sebelah kiri, dan untuk kedua kalinya Lusi mendengus kesal.
"Kenap tumben kak Axel enggak nyamperin kita?" Ulang Lusi dengan penuh penekanan di setiap katanya.
"Mana gue tempe," jawabku acuh dan kembali membaca novel.
"Cuma gitu?"
"Lah... terus Lo mau apa lagi, jeng?"
"Udah lah, enggak jadi, udah enggak mood ngomong sama Lo!"
***
Jam setengah tiga siang, aku mampir ke kantor setelah pulang dari kampus. Sesuai janji ku kemarin, aku akan menyempatkan diri untuk ikut meeting bersama tim yang sudah Bu Marni buat.
Oh mungkin aku juga sudah sangat terlambat siang ini, mereka bilang akan mulai meeting sekitar jam dua. Dan sekarang sudah jam berapa?
Gara-gara jalanan yang begitu macet karena perbaikan jalan, dan angkot yang ku tumpangi harus terpaksa berputar arah, jadilah aku ke kantor dengan setelat-telatnya. Tapi aku berharap meeting-nya belum selesai dan Bu Marni mau memberiku toleransi untuk tetap mengikutinya.
Ceklek!
Aku membuka pintu ruang meeting begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sontak semua orang yang ada di ruangan itu menatapku yang kini hanya bisa memaku di ambang pintu.
Kenapa natapnya horor gitu sih?
"Maaf... Bu, saya te-lat," kataku sedikit terbata karena gugup.
Yang di ruangan itu untung tidak banyak, ada sekitar enam orang beserta Bu Marni, dan beberapa di antaranya aku kenal, mereka sama sepertiku penulis artikel lepas.
"Masuk!" Kata Bu Marni dingin.
Aku mengangguk hormat dan hendak menuju kursi kosong.
"Bisa tutup pintunya kembali?" Ujar Bu Marni dan membuat langkah ku terhenti, aku pun segera berbalik arah dan menutup daun pintunya, setelah itu buru-buru bergabung bersama yang lain.
"Maaf, Bu. Tadi macet banget, udah gi--"
"Enggak perlu di jelasin, waktu kita mepet." Potong Bu Marni.
Aku seketika diam dan menelan ludah kasar.
"Kami juga baru mulai kok, sama... kita-kita tadi juga kejebak macet," sambungnya.
Reflek aku menghela napas lega. Setelah itu rapat pun di mulai. Bu Marni mulai mempresentasikan projek yang sedang di buatnya.
"Jadi nanti kita yang cari client, atau client yang mencari kita?" Tanya ku saat sudah memasuki segmen tanya jawab.
"Pertanyaan bagus," sahut Bu Marni cepat.
"Jadi sistemnya kita akan pasang iklan di internet, semacam iklan pelayanan jasa. Kan projek yang sedang kita garap kan termasuk bidang jasa. Jadi otomatis nanti client yang cari kita. Dan dari kita gencar saja promosinya," jelas Bu Marni.
"Tapi fungsi nikung pacar orang itu buat apa ya, Bu? Kok saya masih enggak ngerti sama konsepnya, ibu yakin projek ini bakal berhasil?" Tanya rekan ku yang lain dan mendapat anggukan dari semua pihak.
"Maksudnya 1001 cara menikung pacar orang itu hanya labelnya saja sih, tapi sebenernya banyak fungsinya, kayak misal kita bisa bantu client kita buat ngetes pasangannya, atau misalnya lagi, ada orang tua yang ga setuju dengan hubungan anak dengan pacarnya terus mereka pingin hubungannya itu putus, kita bantu buat putus gitu, dengan cara tikung saja pacar anaknya dan--"
"Waduh," pekikku dengan reflek.
Sontak semua melihat ke arahku dan aku hanya bisa nyengir sebagai permintaan maaf karena tanpa sengaja sudah menyela kalimat Bu Marni.
"Dan saya berencana untuk membuat acara live streamingnya, tapi yang bener-bener real tanpa rekayasa, jadi sekaligus ini buat riset dan bisa dijadikan artikel nantinya," lanjut Bu Marni menjelaskan.
Dan semuanya mengangguk mengerti, entah karena paham atau enggak mau lebih banyak pikiran....
Entahlah....
Sementara Ibu Marni masih sibuk menjelaskan, aku mencatat apa saja point' yang penting dan meeting kali ini. Begitu juga rekan-rekan yang lain, mereka tampak melakukan hal yang sama.
"Terus, yang kira-kira jadi agennya siapa Bu? Dan yang di belakang layar siapa?" Tanya Mas Rafa penulis artikel senior di antara kami semua.
"Untuk perempuan, Gaya, untut yang prianya Rangga bagaimana?"
"Bentar, Bu? Kok saya?" Protes ku, "saya mending yang di balik layar aja deh, Bu, yang nyusun strategi.
"Oh... jadi kamu nolak, oke aku bisa ganti orang tapi kamu keluar dari tim projek ini."
"Eh... eh... jangan, Bu. Becanda aja tadi Bu, hehe." Ralatku buru-buru sembari cengengesan.
Sumpah... ini orang otoriter banget!
Mike gile!
Siap-siap deh gue di hujat, tapi demi cuan, apalah daya diri ku ini.
Bersambung.