Aku menjejakkan kakiku di teras kos-ku tepat jam enam sore, dan langit belum terlalu gelap, hingga aku bisa melihat dengan jelas sosok cewek yang berdiri depan teras kos ku padahal lampu teras belum ku nyalakan.
"VAYA!" Teriak Maya yang terlihat girang melihat kepulangan ku. Entah apa yang membawanya kemari dan tanpa memberiku terlebih dahulu, dia memang suka datang tiba-tiba seperti dulu.
"Kenapa?" Tanya ku sembari berusaha membuka pintu kos-ku, aku masuk ke dalam dan Maya mengikuti ku dengan senyum yang masih mengembang lebar, matanya juga terlihat berbinar-binar.
Aku melempar tas ku ke sembarang tempat, kemudian ku hempaskan pantatku ke atas kasur empuk tempat ku biasa merebahkan tubuh letih ku ini.
"Vay! Vay!" Maya lalu duduk di sebelahku,
"Lo kenapa, deh?" Aku menatapnya dengan tatapan seperti...
Eh... nih anak udah gila, ya?
"Tadi gue ketemu cogan," sahutnya seperti itu, membuatku memutar bola mata malas.
Biasanya aku sangat antusias jika harus membahas tentang cowok ganteng atau sekarang biasa di singkat dengan cogan, tapi entah kenapa kali ini aku merasa sangat malas dan tidak mood.
"Ya... terus?" Sahutku sembari membuka sepatu Converse warna putih yang masih membungkus kakiku.
"Ganteng banget, Vay," ujarnya sembari meremas-remas seprei tempat tidurku yang masih rapih, karena aku selalu membereskannya setiap pagi.
Salah minum obat kali nih, anak,
Enggak bisa diem dari tadi!
"Emang Lo ketemu di mana?" Aku menatap Maya berusaha tertarik dengan topik pembicaraan Maya.
Karena aku tahu bagaimana rasanya, saat ingin menceritakan sesuatu 6ang excited, tapi tidak ada orang yang mau menanggapi dengan serius, sakit tahu! sakit!
"Tadi tuh gue nunggu jemputan di toko roti deket kampus, terus ada cowok make kaos item duduk di meja samping gue. Sumpah, ganteng parah! Kayaknya sebaya sama kita, terus kan gue liatin tuh cowok, terus dia--"
"Ngerasa di liatin, akhirnya noleh ke Lo?" Aku memotong pembicaraan Maya dan mencoba menebak kelanjutan ceritanya.
"BENER BANGET TEBAKAN LO, DAN DIA JUGA SENYUM KE GUE, SENYUMNYA MANIS BANGET, GILA!" Mata berteriak antusias dan membuat gendang telingaku hampir pecah karenanya. Kasir yang kami duduki pun sampai bergoyan-goyang karena Maya seolah tak bisa berhenti bergerak.
"Alay! Lebay!" Aku menyentil dahi Maya sedikit keras dan membuatnya meringis.
"Ih... apaan sih, Vay! Beneran ganteng tau!" Protes Maya.
"Ya setiap cowok pasti ganteng, ya kali cowok cantik!" Ujar ku dan membuat Maya sontak mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Terserah, pokoknya gue besok hari bisa ketemu lagi sama dia!"
"Emangnya Lo kenal, siapa tuh cowok?" Aku tahu, ini kedengarannya jahat, tapi sekali-kali aku harus menjatuhkan harapan tinggi gadis ini.
"Enggak, makanya besok gue besok harus ketemu biar bisa kenalan!"
"Iya," aku lalu merebahkan diriku sendiri di atas kasur dan membiarkan Maya dengan fantasi liarnya bersama cowok yang baru saja di temuinya itu.
Tapi diam-diam aku penasaran juga, siapa cowok yang sudah membuat Maya seheboh ini.
Emang seganteng apa sih?
***
"Hai... gue boleh duduk di sini kan?"
Suara itu membuatku mendongak dari mangkuk baksoku dan aku mendapati kak Axel sudah berdiri di hadapan ku.
Tersenyum manis dengan mangkok bakso yang sama dengan ku.
"Boleh, boleh, kak," aku menjawabnya dengan sopan. Kak Axel langsung menarik bangku di sebelahku.
Lusi sedang memesan mie ayam, jadi hanya ada aku dan kak Axel yang duduk di meja pojok kantin ini.
Enak kali mojok....
"Eh... ada kak Axel," Lusi datang dengan semangkuk mie ayam di tangannya, lalu duduk di sampingku dengan cengiran lebar yang membuat matanya hampir tenggelam.
"Hai, Lusi!" Sapa Kak Axel.
Kemudian, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu di antara kami bertiga. Hingga akhirnya, Lusi mencoba memecah keheningan di antara kami.
"Kak Axel kemarin kemana? Kok enggak kelihatan?" Aku merasa Lusi sedang melirikku dengan ujung matanya. Aku tahu dia sedang memberi kode.
"Gue kemarin ada acara keluarga, jadi terpaksa enggak ngampus deh."
Aku menganggukkan kepala dan meraih gelas es teh ku dan meminumnya.
"Lah, pantes, kemarin seharian enggak kelihatan, di cariin Vaya tau!"
Heh?!
Aku tersedak minuman ku sendiri, tepat di saat Lusi menyelesaikan kalimatnya yang terdengar jelas mengada-ngada.
Sahabat macam apa itu yang tega memfitnah sahabatnya sendiri, bukankah fitnah lebih kejam dari PHP?
Eh... enggak deng!
PHP lebih kejam kayaknya.
"Ati-ati, Vaya, kalau lagi minum," Lusi menepuk-nepuk punggungku, padahal sekarang pasti dia sedang tersenyum evil di belakangku.
"Ha... masa sih?" Aku mendengar kekehan kak Axel, lalu di ikuti dengan tawa Lusi yang berderai setelahnya.
Ye, k*****t!
Aku hanya bisa tersenyum kecut setelah keduanya berhenti tertawa.
"Hahaha, sorry Vay!" Lusi menepuk tangan ku yang ada di atas meja, dan aku membalasnya dengan senyum menahan kesal.
"Udah enggak apa-apa, nyantai aja, gue tahu Lusi cuma bercanda," Kak Axel tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya yang benar-bebar mempesona. Aku mengangguk dan berusaha terlihat biasa saja di depannya.
Salting tahu,
Senyumnya bikin dedek meleleh!
"Iya."
Kami bertiga pun lanjut mengobrol, membicarakan banyak hal, mulai dari musik, novel dan film yang sedang sedang tranding saat ini.
Yang dominan bercerita adalah kak Axel, lalu Lusi, kemudian aku yang sepertinya lebih banyak mengangguk dan mendengarkan saja.
Mungkin hanya sepatah atau dua parah kata yang ku ucapkan, seperti misalnya, saat keduanya bertanya pada ku tentang suatu hal, hanya jawaban "iya" atau "tidak" yang ku berikan.
"Vay, Lo kenal Rahul junior kita itu enggak?" Tanya Lusi tiba-tiba.
"Iya, tahu, kenapa?" Jawabku singkat.
"Gue Gedeg banget kalau liat dia, Sik kecantikan banget, udah gitu sok iye banget. Ngeselin banget, anjir! Masa tampang kayak gitu katanya udah matahin puluhan hati cowok, cowok mana coba yang mau sama dia!" Ujar Lusi dengan meluap-luap.
"Hem... Gue jadi penasaran, orangnya yang mana sih?" Gurau kak Axel sembari memainkan sedotan bekas minumnya yang sudah habis.
"Jangan deh, kak. Mendingan Lo jangan ketemu sama si Rachel itu, jangan!"
Dih... Lusi, emang Lo siapanya kak Axel?
"Hahaha... lagian gue enggak bakalan naksir sama Rachel tau!" Kak Axel sedikit melirikku dengan ekor matanya.
"Bener kak?" Entah kenapa, gurauan Lusi kali ini seperti sedikit merujuk ke arah orang yang ada di sampingnya, alias... aku!
"Iya, Lusi, enggak akan," untuk kedua kalinya, lirikan ujung mata kak Axel menjadi tanda tanya besar di kepalaku.
Kayak....Ini orang lagi pada kenapa sih?
Aku pura-pura menyeruput teh manis ku yang masih setengah gelas, pura-pura tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan.
Bersambung.