"Ayah kangen sama kamu, sayang." "Apa? Kangen?" Vaya tersenyum menyindir, apa aku nggak salah denger? Bukannya ayah cuma peduli sama calon istri ayah yang baru itu kan?" Wajah pria paruh baya di hadapannya langsung terperangah. "Kok kamu ngomong gitu?" "Emang bener kan?" Vaya menatap tajam sang ayah. Tante Bule yang masih di situ terkejut melihat sisi lain Vaya. Vaya begitu mengerikan saat sedang marah. Gadis itu tidak bisa melupakan rasa sakit hatinya begitu saja pada sang ayah. Bagaimana bisa ayahnya begitu royal dan peduli pada orang lain, sedangkan dengan putrinya sendiri begitu keras dsn perhitungan. Betapa pria paruh baya itu sering membelanjakan barang-barang mahal untuk wanita yang hendak di nikahinya. Sedangkan untuk putrinya sendiri pria itu jarang perhatian. "Apa aya

