Mencintai itu butuh banyak keberanian, keberanian untuk terluka atau melukai *** Tukk Seseorang berhenti melangkah ketika gumpalan kertas itu mengenai sepatu hitam berkilat, aku menelan ludah kasar. Ck, jangan bilang yang kena kertas itu senior galak. Aku mengangkat kepalaku perlahan, dan bertemu dengan sepasang mata dingin itu. Kak Axel Dia menatapku datar tanpa ekspresi, aku diam, dan dia juga diam. Tidak ada senyum atau sapaan di antara kami berdua. Bunyi derit pintu yang terbuka terdengar, seiring dengan langkah kaki kak Axel yang mulai menjauh. Aku menatap punggung yang tegap itu dengan tatapan kosong. Dia aneh, dia berubah, tapi kenapa? Apa aku berbuat salah? "Vay, ayok pulang!" Ajak Lusi yang ku balas dengan anggukan. Aku dan Lusi berjalan beriringan menyusuri koridor. S

