Aku mengeriyit mendengar debaman pintu yang di buka dan berderit. Lalu seperti ada sesuatu yang di geser ke kiri dan kanan, mungkin gantungan baju. Entahlah. "Gue mau kencan lagi, Vay. Sama kak Axel!" Aku melotot, dan selama lima detik aku seperti berhenti bernapas. Dadaku tiba-tiba menjadi sesak tidak karuan. "Oh, ya... teru?" Aku mendengar tawa konyolnya. "Gue bingung mau pake baju apa? Hehe, bantuin milih dong, Vay, Lo kan fashionable banget orangnya." "Maya, tapi gue kan lagi nggak di tempat Lo, jadi gimana gue milihinnya?" "Oh... iya ya, haha kok gue tulul banget ya, Vay. Aturan gue kan VC aja sama Lo." "Iya emang," aku ikut terkekeh pelan. "Bentar-bentar, gue matiin dulu ya? Kita ganti VC-an aja." "Okey," sebenarnya aku enggan, tapi merasa tidak enak jika harus menolak permi

