Part 2

1253 Kata
Jangan datang lagi, jika akhirnya hanya akan membuat duka, jangan kembali lagi kalo hanya sekedar menyapa, lalu setelahnya pergi lagi dan menyisakan luka. *** Jam pelajaran terakhir telah usai. Selama jam pelajaran berlangsung aku sudah mulai tidak fokus, rasanya kepalaku mau pecah saja, memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa bayar sewa kost bulan depan. Emang sih baru bulan depan, tapi waktu seolah berjalan sangat cepat. Perasaan baru kemarin bayar uang kost, tahu-tahu sudah harus bayar sewa lagi bulan depannya. Gitu aja terus.... Untuk itu ku putuskan duduk disini saja, di bangku taman belakang kampus. Membuang waktu selama mungkin hanya untuk melamun, kurang kerjaan sekali memang, namun ini lebih baik daripada aku buru-buru balik pulang ke kost'an. Setidaknya disini masih ada udara yang bisa ku hirup dengan bebas. Berbeda saat di kost'an yang membuatku serasa langsung penuh sesak. Tahu sendiri kan masalahnya apa? Bahkan saat ini mungkin para penghuni di sana masih sibuk bergosip tentang kejadian tadi pagi. Mungkin aku bisa pura-pura cuek, tapi aslinya aku bukanlah orang yang seperti itu. Aku sangat perasa, hanya saja tak ingin menunjukkannya. Dan hari ini Lusi juga izin tidak masuk kelas. Entah ada apa dengan anak itu, katanya ada urusan keluarga. Tahukah dia? Tanpa dia aku jadi merasa sangat kesepian seperti sekarang ini. Ku hela nafas berat sambil terus memandangi awan putih yang berarak di atas sana. Kali aja gitu ada pesawat lewat, terus aku bisa bersorak.... Pesawat bagi duit dong segepok. Aku terkekeh sendiri mengingat hal konyol yang biasa aku lakukan waktu kecil dulu bersama teman-temanku ketika ada pesawat terbang yang melintas di atas kami. Sayangnya semua itu hanyalah kehalu'an semata bocah-bocah yang baru berusia lima tahun. Lama aku menatapi langit biru di atas sana yang berhiaskan gumpalan awan putih yang cerah. Aku tahu, seberapapun aku mengharapkan sebuah keajaiban. Keajaiban itu tidak akan datang begitu saja. Di dunia ini kita harus berusaha keras terlebih dahulu jika ingin mendapatkan sesuatu, enggak bisa gitu tiba-tiba hujan uang? Itu malah enggak mungkin banget kan? Jadi harus tetap berusaha dan biarkan semesta yang menuntun kita pada keberuntungan yang sesungguhnya. Yaelah tumben banget gue bijak... wkwk... Tanpa kusadari, tiba-tiba seseorang sudah berdiri menjulang tepat di hadapanku. Kak Axel... Badanku seolah langsung membeku di tempat. Tapi sebaliknya, dia terlihat begitu tenang dengan senyum manis yang kini terlukis di wajahnya. Tanpa rasa canggung laki-laki itu malah turut duduk di sisiku, sontak membuat jantungku ingin melompat dari tempatnya. Sumpah lebay banget "Nngapain duduk disini sendirian?" Ujarnya dengan senyum yang masih mengembang. Nungguin abang Eh... "Lagi iseng aja," Ku lihat dia malah terkekeh. Apa aku salah bicara? Emang ada yang lucu ya? "Lo lucu banget sih, duduk sendirian disini sore-sore, emang nggak takut apa di gangguin setan!" Oh... gitu doang, terus lucunya dimana? Dan saat aku meliriknya, entah kenapa aku merasa kalo dia sedang memperhatikanku. "Eh..., bentar deh...!" Apa? Tangannya tiba-tiba bergerak ke arah rambutku, membuat debaran di jantungku jadi makin tak karuan. Mau apa dia? "Nah, udah..., ada kotoran dikit tadi di rambut lo, ternyata cuma daun kering." Lagi-lagi dia tertawa kecil. Aku nyaris tak pernah melihat emosi apapun di wajahnya selain senyuman yang bagiku... menawan. Ah... Bukan, tapi sangat menawan. Anggap saja aku hiperbolis, tapi itu kenyataanya, aku selalu tak bisa mengendalikan perasaan ku sendiri jika ada di dekatnya. Sumpah aku merasa sangat canggung duduk berdekatan dengannya seperti saat ini, meskipun ini bukanlah yang pertama kalinya. Maksudku, dulu... sebelum hubungan kami renggang gara-gara insiden yang terjadi sebulan yang lalu. Aku adalah orang terdekatnya, bahkan sejak satu tahun belakangan ini, kami sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk sekedar telponan ataupun chatingan. Kadang aku mengangguk malu-malu setelah mendengarkan setiap cerita baru darinya. Dan dia suka sekali tertawa tiap kali mendengarkan lelucon yang ku punya. Dia seolah mempersilahkan aku memasuki dunianya, begitu juga sebaliknya. Bahkan bagiku dia adalah duniaku. Tapi itu dulu... Sekarang? Aku hanya bisa tersenyum kecut, saat tiba-tiba saja semua ingatan itu membayang seperti slide film yang di putar dalam kepalaku. Ya... Aku hanya merasa sedikit sedih saat menyadari, sebulan terakhir ini dia mulai berubah, tiba-tiba menjauhiku, tiba-tiba bersikap dingin padaku. Dan ku rasa, aku tahu penyebabnya. Seseorang yang baru mungkin telah hadir dalam hidupnya. Hanya saja kadang aku menyangkalnya. Pengecut sekali bukan? Sekarang apa? Tiba-tiba muncul dan berlagak seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara kami. Dia membuat seolah semuanya baik-baik saja. Setelah ia berhasil menjungkir balikkan perasanku dengan dasyatnya. Bagaimana bisa aku melupakan semuanya dengan mudah. Setelah apa yang sudah terjadi? Mendadak ada ribuan tanya di benakku, untuk apa tiba-tiba saja dia muncul di kantin saat aku tersedak? Dia datang seperti dewa penolong yang membawakan sebotol air mineral untukku. Lalu, saat ini, tiba-tiba saja dia ada disini duduk bersamaku. Padahal dia bisa saja memilih untuk tidak peduli padaku, atau bahkan mengabaikan ku. Iya kan? tetapi..., dia memilih untuk datang kesini, menyapaku dan menemaniku. Lalu apakah aku salah jika seandainya aku mengartikan semua ini sebagai pertanda? Pertanda bahwa ia juga memiliki perasan yang sama. Apa ini lagi-lagi hanya sebuah kebodohan? "Udah lama nggak ngobrol, kita kok jadi canggung yah, hehe!" Selorohku dengan tawa hambar, mencoba mengusir keheningan yang sempat terjadi di antara kami beberapa menit yang lalu. "Kalo gue sih ngerasanya biasa aja, hehe...." Lagi-lagi dia terlihat tenang dan malah terkekeh. Aku terdiam lagi. Sekarang aku harus berani meyakini, bahwa perasan kami mungkin ... tidaklah sama. "Gimana? Lo masih suka nulis? Suka gambar? terus begadang baca novel or komik sampai tengah malem?" Aku hampir saja tidak mempercayai pendengaran ku sendiri saat dia mulai melontarkan semua pertanyaan itu padaku. Ternyata dia masih ingat semua kebiasaan yang selalu ku lakukan setiap harinya. Aku linglung, kenapa perkataan sederhana darinya ini, selalu mampu menimbulkan harapan baru di hatiku. Jangan memupuk harapan semu Vaya.... Suara hatiku seolah bergema mengingatkan. Dan biasanya itu tidak cukup efektif, tapi setidaknya aku bisa mengurangi sedikit rasa gusarku yang kini tiba-tiba menyapa. "Um...," Gumam ku malas. Setelah sekian lama aku menantikan hari ini terjadi lagi, aku malah seolah kehilangan selera untuk bicara dengannya. Entahlah, mungkin karena saat ini aku sedang berusaha menahan diri mati-matian. Mungkin aku yang bodoh, karena terlalu terburu-buru mengartikan kedekatan dan perhatian yang dia berikan padaku selama ini adalah bentuk bahwa dia memiliki perasaan yang sama denganku. Kadang aku merasa menjadi gadis paling sepesial di hidupnya, namun di saat yang hampir bersamaan, dia membuatku merasa bukanlah siapa-siapa baginya di bandingkan kemungkinan-kemungkinan lain di hidupnya. Seandainya aku boleh bertanya... Aku itu apa di matamu? Tapi sayangnya, aku tak pernah berani untuk menanyakannya. Bahkan dalam mimpi sekalipun. "Pulang yuk, udah mau malem nih, biar gue anter yah?" Aku terkesiap, tak menyahut tawarannya dan malah terdiam menatapnya tanpa tanya. Dan lagi, kenapa aku merasa dia ingin menarik ulur hatiku? Membuatku hanyut dalam pesonanya, kemudian dia hempaskan lagi, kemudian dia tarik lagi, hempaskan lagi. Sadarkah dia dengan semua yang dia lakukan padaku? Apa aku enggak bosan dengan hubungan seperti ini? Dan anehnya aku enggak pernah merasa bosan, ataupun membencinya walau hanya sedetik saja. Dia masih terlihat setia menunggu jawabanku sebelum akhirnya aku mengangguk mengiyakan. "Nah gitu dong, gitu kek dari tadi!" Pluk... Tangannya bergerak menepuk kepalaku pelan. Membuatku merasakan perasaan itu lagi, perasaan yang tadinya ingin ku buang jauh-jauh, perasaan yang sudah susah payah ku tahan mati-matian... Perasaan yang.... Kalo ada Naruto disini dia pasti sudah mengatai ku... Ah... Dasar lemah, dasar payah.... Segitu aja udah baper.... Entahlah, aku yang payah karena perasaanku yang gampang tersentuh, atau dia yang jahat, yang dengan sengaja, ingin menarik ulur hatiku, lagi dan lagi. Woy... move on woy... Tapi sepertinya, aku lagi-lagi malah terjebak pada perasaan yang sama pada orang yang sama pula. Satu kata aja buatku... Bodoh. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN