Awal, Tentang Mereka
Awal, Tentang Mereka
-A-
Sudah jadi rahasia umum bahwa ia paling senang mengendarai kuda, membiarkan angin mempermainkan rambut, dan menampar wajahnya. Tak peduli dengan kata-kata orang, perempuan harus seperti ini, perempuan tidak boleh seperti itu, jangan melakukan ini, itu, blah blah blah. Kau akan menjadi kepala klan selanjutnya menggantikan ibumu. Sebagai calon kepala klan dan putri satu-satunya, tidak bisakah kau sedikit patuh? Adora, dengan tambahan Lotus di belakang namanya, sebuah tanda bahwa ia adalah calon penerus kekuasaan sang ibu. Bukankah kepala klan harus kuat dan tangguh? Ia hanya melakukan hal-hal yang harusnya dilakukan kepala klan.
Berburu kerbau atau celeng, mencari dan memotong kayu bakar, mengendarai kuda, dan belajar senjata tajam. Bahkan ibunya saja selalu membawa-bawa belati ke mana pun, masa ia tidak boleh belajar memanah atau menggunakan pedang? Orang yang memberikan penolakan paling kencang atas aktivitas-aktivitas tersebut tidak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Adora tidak tahu alasan pasti mengapa ayahnya tidak menyukai tindakannya yang bisa dikatakan maskulin? Ah, entahlah. Ia sendiri masih bingung dengan konsep feminin dan maskulin yang berlaku dalam klan mereka.
Pemimpin klan haruslah perempuan, tetapi mereka masih bertanggung jawab atas urusan rumah tangga dan merawat laki-laki. Sedangkan laki-lakilah yang mengerjakan berbagai pekerjaan kasar, berburu, membangun rumah, menggiring hewan ternak, dan jangan tanya apa-apa saja pekerjaan kasar yang berlaku di desanya. Semua yang melibatnya banyak tenaga fisik selalu dikaitkan dengan pekerjaan lelaki. Bahkan jika itu mencuci tenda, yang sebenarnya pekerjaan cuci mencuci sudah jadi urusan perempuan, hanya bagian tenda ini dikhususkan untuk lelaki.
Seekor burung besar terbang melintas di atas kepala, mengeluarkan bunyi kencang. Ia mengeluarkan panah dari sarungnya beserta anak panah dalam sekali tarik. Di atas kuda, diserbu sapuan angin, dan membidik seekor burung besar, inilah dunia yang ia damba. Satu anak panah melesat mengenai kaki si burung. Menghempaskannya hingga jatuh ke tanah. Malam ini keluarganya bisa makan enak, bukan sekadar ikan-ikan banyak duri yang dibawa ayahnya dari sungai.
“Dasar anak badung! Kenapa kau mengambil kuda Ayah tanpa izin?! Apa yang kau lakukan juga pada burung sebesar itu?! Tunggu … kau, kau juga mengambil panah Ayah.”
Seperti yang sudah diduga. Sejak awal ayahnya memang selalu menjauhkannya dari senjata dan kuda, tetapi sebagai anak bebal, mencuri atau mengambil diam-diam sudah jadi pilihan bijak jika tidak mendapatkan apa yang dimau.
“Setidaknya hari ini kita makan daging dan bukannya ikan kurus banyak duri. Ayah yang bertanggung jawab mencari makan, tetapi Ayah juga yang memberikanku dan Ibu makanan tidak enak. Kalau bukan tangan emas Ibu, pasti ikan dan umbi-umbi kurus yang Ayah bawa rasanya tidak enak.” Adora melewati tubuh ayahnya, ia enggan berdebat lebih jauh, tetapi perdebatan akan terus berlanjut. Setidaknya sampai sang ayah membalas sekali saja.
“Ya ampun, ya ampun, betapa bahagianya Ayah karena mendapatkan omelan dari seseorang yang bahkan merebus air saja gosong,” balas ayahnya sembari memasang wajah konyol.
“Kenapa Ayah selalu saja mengungkit-ungkit tentang kemampuan memasakku yang payah? Ayah pasti sudah tidak bisa melawan lagi, ‘kan?”
Baik Adora maupun ayahnya sama-sama keras kepala dan ibunya juga sering kali mengeluhkan dua kepala batu yang sering bertengkar di rumah. Kali ini pun mereka berdua kembali menjadi penyebab sakit kepala sang ibu. Wanita yang telah berada di penghujung usia lima puluh itu sedang disibukkan dengan festival dan ritual tahunan. Bukannya membantu, anak semata wayang dan suami kesayangan malah menambah beban pikiran.
“Daripada kalian saling bertengkar begitu, bukankah lebih baik membantu persiapan festival dan ritual bukan? Kalian sudah bukan anak-anak lagi, jadi tolong lebih dewasalah.” Sebuah keranjang anyaman bambu terselip di antara lengan dan pinggan ibunya. Ritual dan festival tahunan ini selalu diadakan di pantai hingga agak menjauh dari bibirnya.
“Nah, karena aku sama sekali tidak bisa membantu memasak, lebih baik Ayah saja yang memasak. Ayah seratus kali lebih jago daripada aku yang selalu menggosongkan air.” Burung malang hasil buruan dilemparkan kepada ayahnya. “Kalau begitu biar aku yang bantu para paman dan abang mengangkuti kayu dan—“
“Adora, Sayang. Tolong hentikan.” Kalau ibu sudah menyela perkataannya, maka ia sedang marah. Dan, Adora tak ingin ibunya membahas topik yang amat dijauhi. “Kau ini perempuan yang sudah dewasa, jangan bertingkah seolah kau adalah remaja tanggung. Tolong pikirkan tentang masa depanmu. Kau sudah dewasa, carilah suami selagi masih muda dan sehat. Kau harus ingat kalau Ibu menikah agak terlambat dan membutuhkan perjuangan untuk mendapatkanmu, jadi—“
“Memangnya salah kalau aku berbuat sesukaku? Lagipula aku melakukan ini bukan untuk merugikan Ayah dan Ibu bukan? Aku hanya ingin menjadi anak yang baik dengan melakukan sebanyak apa pun hal yang kubisa untuk meringankan beban kalian. Kenapa kalian selalu saja menganggap niat baik yang kulakukan sangatlah buruk?” potong Adora.
Kedua orang tuanya sesaat terdiam, menyadari jika hal sensitif ini tidak seharusnya diungkit. Mereka saling pandang sejenak sebelum kembali menatap sang putri. Ayahnya yang lebih dulu berkata, “Kami berkata seperti ini untuk kebaikanmu, Sayang. Kau adalah putri kami satu-satunya. Juga harapan bagi klan kita, maka dari itu kami menginginkan yang terbaik untukmu. Tidakkah kau lelah mendengar cercaan dari orang-orang, mereka pasti akan kehilangan wibawa padamu kalau kau menjadi kepala klan nanti.”
Raut wajah Adora menggelap, matanya memanas. “Memangnya aku bilang aku mau jadi kepala klan?! Aku tidak bisa meletakkan beban orang satu kampung di pundakku sendirian! Itu adalah hal yang sangat aku takuti.”
Ibunya berkaca-kaca, merasa bersalah karena menumpahkan air mata sang putri. “Maafkan kami, Sayang. Bukan begitu, Ibu dan Ayah—“
“Hentikan! Aku tidak ingin mendengarnya lagi dari Ayah maupun Ibu! Aku akan pergi ke tempat Puri! Jangan cari aku sampai beberapa hari ke depan!” Adora buru-buru membalikkan badan, meninggalkan kedua orang tuanya dengan langkah-langkah besar dan cepat. Ayahnya ditahan sang ibu agar tidak menyusul. Membiarkan sang putri mendapatkan waktu untuk diri sendiri. Adora sendiri sejak dulu mendapatkan hinaan dari orang-orang lain, mendapatkannya dari keluarga sendiri tentu lebih melukai hatinya.
Adora tak lagi mengindahkan sapaan orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya. Karena sikap abai itulah, ia kembali mendapatkan tatapan sinis dari orang-orang lain. Adora sendiri memang telah sering mendapatkan perlakuan seburuk ini. Ia hanya sudah terbiasa … walaupun dalam hatinya diliputi banyak gemuruh.
|Bersambung|