Perempuan yang Menggetarkan Hati

2979 Kata
Enam tahun lalu. Begitu turun dari pesawat, ketiga lelaki itu bersegera keluar usai pemeriksaan di Imigrasi. Kemudian mengambil barang-barang yang tadi dititipkan dibagasi pesawat. Omong-omong, salah satu di antara ketiga lelaki itu adalah Farrel. Farrel memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar ke Singapore dan ke Malaysia sebelum kembali ke Indonesia, bersama dua orang sahabatnya. Keduanya asli Malaysia tapi salah satu diantaranya lama tinggal di Brunei Darussalam. "Jika di sini, tak seronok kalau kite tak cuba Hokkien Prawn Mee! Itu sedaaap!" seru Hazeer, sahabat Farrel yang asli Malaysia dan memang tinggal di Malaysia. Ia tinggal di Penang. Farrel belum pernah ke Penang tapi ia banyak mendengar kalau tempat itu begitu bagus. Bagai peradaban di tengah lautan. Ia juga pernah melihat foto-foto Hazeer yang sering mengendarai sepeda di pinggir pantai sambil mengejar sunrise. Itu keren sekali. Ia belum pernah mencobanya. Namun sayang sekali, seperti bukan rejekinya kali ini. Omong-omong Farrel sebetulnya sering bolak-balik ke negara ini sejak kecil dan sudah terlampau sering memakan makanan khas di sini. Namun Farrel lebih banyak singgah di kotanya saja. Hazeer bilang ada tempat terkenal yang menyuguhkan Hokkien Prawn Mee terenak di sini. Jadi lelaki itu ingin membawanya dan Juri ke sana usai menaruh barang di hostel. Farrel sih mangut-mangut saja. Toh yang merencanakan perjalanan ini memang Hazeer. Ia hanya ikut-ikut saja. Kini ketiganya sudah berada di MRT (Mass Rapid Transit) menuju pusat kota. Farrel menyukai negara ini karena bersih, masyarakatnya pun tertib dan disiplin. Tentunya, tak macet dan panas oleh polusi seperti Jakarta. Setidaknya, Farrel lebih bisa bernafas selama berada di negara kecil ini. Singapura memang tak lebih besar dari Jakarta tapi kemajuannya dalam bidang apapun patut diacungi jempol. Kali ini Farrel hanya membawa ransel gunung 50 L dari US. Ia tak membawa kopernya karena toh, barangnya masih banyak di rumah. Ia juga sudah meninggalkan ranselnya di hostel tadi dan hanya membawa dompet juga ponselnya untuk perjalanan ini. Ia berdiri di dekat pintu keluar MRT seraya sesekali mengobrol dengan Hazeer dan Juri. Kedua temannya ini adalah teman kampus walau berbeda jurusan. Bertemu pertama kali dengan mereka saat Farrel hendak mencari makan di apartemen. Kini ketiganya bertetangga di gedung apartemen yang sama. Dan liburan kali ini, Farrel memutuskan untuk berlibur sebentar. Tadinya, Hazeer ingin mengajak Farrel dan Juri untuk ke kampung halamannya, Penang. Tapi Farrel menolak karena ia harus pulang. Jadi hanya Juri yang akan main ke Penang nanti sementara Farrel akan balik ke Indonesia usai perjalanan mereka di Kuala Lumpur. Ada banyak hal yang harus Farrel urus di Indonesia. Ia ingin memulai bisnis baru tentu saja. Memulai startup hanya saja masih memilah-milah juga startup dibidang apa yang ingin ia bangun. Selain iru, ia perlu melakukan banyak survey terkait startup ini. Ia ingin membuat sesuatu yang baru dan belum pernah ada di Indonesia. Tujuannya berkreasi, tentu saja tak hanya untuk keuntungan semata tapi juga memajukan bangsa Indonesia. "Jika di sini, kite senang nak cari makan tetapi tetap harus pilih-pilih cari penjual. Barang niaga yang dijual patut halal tapi kaedah memasak mesti sesuai dengan undang-undang syariah Islam." Juri mengangguk-angguk. Ia bercerita kalau pernah membeli makanan di sebuah kedai saat berkunjung di Singapore, kedai ayam. Tapi kemudian dimarahi ayahnya karena tak tanya-tanya cara menyembelih ayamnya. Apalagi ternyata, di kedai itu pula dijual daging babi. Bah! Panjang urusan memang. Tapi begitu lah indahnya Islam. Selalu ada hikmah dibalik sebuah anjuran atau pun larangan terhadap sesuatu. Dan itu sudah banyak dibuktikan dalam kajian penelitian-penelitian ilmiah. Lama berteman dengan dua orang berlogat melayu ini membuat Farrel terbiasa dengan cara bicara mereka. Semakin lama, ia semakin bisa dan lancar berbahasa melayu. Kadang kalau sedang ditelepon oleh Bunda, ia sering keceplosan berbicara Melayu. Hal yabg membuat Bunda tertawa karena teringat masa-masa berkuliah di Malaysia. "Assalamualaikum, Bun?" sapanya begitu merasakan ponselnya bergetar. Ia agak menjauh dari dua sahabatnya walau percuma juga karena sinyalnya hilang-timbul di kereta bawah tanah ini. Ia ingin mencoba menghubungi balik tapi tak tersambung. Ia menghela nafas. Saat hendak memasuki ponsel ke dalam saku, matanya tak sengaja menangkap sosok perempuan bercadar yang duduk jauh di seberangnya. Gadis itu duduk diam dengan kepala menoleh agak ke belakang, ke arah jendela. Gadis itu sedang melihat pemandangan gelap di luar kereta. Tak ada apapun yang terlihat walau tak lama, langit-langit Singapura mulai terlihat. Pergerakan kereta yang mereka tumpangi ini memang sangat cepat. Farrel hanya bisa melihat mata kiri gadis itu namun tak lama, gadis itu tiba-tiba mengalihkan tatapannya ke depan. Dan itu membuatnya bisa melihat kedua matanya lalu Farrel terpaku. Ada desir aneh yang tiba-tiba menyapanya. Padahal ia sama sekali tak mengenali mata itu namun entah kenapa, sanggup membiusnya. Hingga tanpa sadar, ia terus menatap mata itu. Saat gadis itu mendongak dan tak sengaja bersitatap dengannya, jantungnya seakan berhenti berdetak seketika. Kaget juga terbius. Allah seolah-olah sedang menuliskan takdir untuknya. Mempertemukannya dengan gadis yang menyembunyikan wajahnya dibalik cadarnya. Yang hanya mata indahnya yang begitu membekas dihati Farrel hingga saat Farrel tersadar. Ia segera menoleh ke arah lain dengan senyuman tipis yang tiba-tiba mengembang. Ia mencoba mengalihkan tatapan terlarang nan membahayakan itu. Memang begitu gembira rasanya bisa menatap perempuan itu. Tapi Farrel paham batas-batas agama dan ia juga tak mau mengotori matanya dengan sesuatu yang tidak sepatutnya ia harap begitu. Apalagi gadis itu bukan mahramnya. Ia sama sekali tak punya hak untuk menatapnya berlama-lama. Namun tak lama, Farrel terkesiap ketika gadis itu berdiri dan berada tak jauh darinya. Langkah gadis itu mendekat dan itu....membuat Farrel seakan berhenti bernafas. Farrel bahkan tak mendengar ketika Juri memanggilnya berkali-kali. Ia terlalu fokus pada gadis yang berdiri tepat di sebelahnya. Gadis itu tak berbuat apapun. Hanya berdiri tak jauh dari pintu kereta. Namun Farrel bagai beku dengan jantung yang nyaris lepas. Farrel bahkan takut kalau debarannya sampai terdengar oleh gadis itu. Farrel juga takut kalau-kalau jantungnya tiba-tiba lepas hanya dengan keberadaan gadis ini yang begitu dekat dengannya. Lalu tak lama, gadis itu menghilang saat pintu kereta terbuka. Farrel? Ia baru menyadari kepergian gadis itu saat pintu kereta akan kembali tertutup. Farrel langsung menoleh ke arah jendela. Mencoba mencari gadis yang hilang di tengah keramaian. Ia tak berhalusinasi kan? Tadi benar-benar ada perempuan kan? Matanya sampai mengerjab-erjab beberapa kali namun ia tak pernah menemukan perempuan itu lagi. Saat bersitatap dengan perempuan tadi, sebetulnya perempuan itu tak benar-benar menatapnya. Gadis itu hanya menatap lurus ke depan tanpa berpikir kalau ada lelaki yang terbius olehnya. Siapa yang terbius? Tentu saja Farrel Alhanan Adhiyaksa. Dia bukan lelaki sempurna. Ia hanya lelaki biasa yang semoga memiliki cinta yang luar biasa. @@@ Hari pertama tiba, Hazeer memang langsung mengajaknya berjalan kesana-kemari hingga baru kembali ke hostel di tengah malam. Begitu tiba di hostel, ketiganya langsung tepar. Farrel bahkan lupa mengabari Bundanya kalau ia sudah kembali ke hostel. Dan hal itu tentu membuat Bunda mengomel-ngomel. Maklum lah, biar kata anaknya lelaki, Bunda tetap lah Bunda. Akan posesif jika urusannya dengan anak. Farrel lumayan pulas hingga terkaget saat dibangunkan Juri untuk solat subuh. Lantas ketiganya berjamaah bersama di hostel berhubung penginapannya begitu jauh dari masjid. Seperti ketika di Amerika sana. Mereka lebih sering berjamaah bertiga karena masjid begitu jauh jaraknya. Walau begitu, hal itu tak pernah menjadikan mereka untuk meniadakan alasan untuk tidak berjamaah dalam solat. Pertama, mengingat besarnya pahala solat berjamaah. Kedua? Farrel sudah terbiasa solat berjamaah di masjid sejak kecil. Sehingga itu lah yang membekas dibenaknya. Dan dua sahabatnya ini ikut tertular dari kebiasaan baiknya ini. Memang benar kata orang kalau berteman dengan orang-orang soleh bukan tidak mungkin jika kesolehannya juga akan menular. Hari kedua, mereka bermain ke Universal Studio seharian. Kadang bercerita ini-itu tapi kebanyakan si bercerita tentang perempuan. Hazeer yang katanya menyimpan rasa pada seseorang yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Sekarang gadis itu ada di Johor Bahru. Sedang berkuliah di sana. Sementara Juri? Menyukai salah satu gadis Malaysia yang juga satu kampus dengan mereka. Sialnya, gadis itu malah menyukai Farrel. Ya lah. Wajar jika banyak perempuan yang menyukai sosok Farrel. Farrel tak hanya tampan dan cerdas tapi juga soleh. Lelaki itu bahkan terkenal di antara anak-anak Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Amerika dan juga Malaysia. Karena keaktifannya dalam organisasi Islam di sana dan juga di organisasi kampus. Farrel bahkan terpilih menjadi presiden mahasiswa tahun ini. Hal yang tak pernah ia lakukan semasa SMA. Ketika SMA, ia memang aktif dalam organisasi sekolah seperti OSIS tapi tak pernah mencalonkan diri sebagai pemimpinnya. Namun berbeda ketika di dunia perkuliahan. Farrel? Hohoho. Tentu tak ada perempuan yang diceritakan karena ia memang sedang tak jatuh cinta pada siapa pun. Lalu perempuan kemarin? Farrel enggan memikirkannya. Toh belum tentu bertemu lagi walau.... "Mau tak, saye kenal kan dengan teman saye?" tawar Juri. Farrel hanya tersenyum tipis sebagai jawaban. Sementara Hazeer terbahak. Sudah paham dengan watak Farrel yang agak misterius jika menyangkut perempuan. Di hari keempat, saat perjalanannya menuju Johor Bahru, ia merasa seperti melihat perempuan itu. Namun ia tak yakin karena hanya melihat punggungnya. Toh, ia juga banyak bertemu perempuan bercadar di sini, terutama di dekat area masjid. Farrel sempat singgah ke masjid Sultan di hari ketiga. Setengah hari mereka habis kan waktu di sana. Kebetulan bertemu beberapa mahasiswa Turki yang sedang study tour. Farrel banyak berkenalan karena ia tertarik dengan suara tilawah Quran mereka. Ia mencoba menirunya jadi mengambil kontak salah satunya untuk belajar. Sebetulnya, dihari itu, perempuan itu muncul lagi. Farrel saja yang tak menyadari. Perempuan itu ada di masjid yang sama dengannya. Perempuan itu juga bertegur sapa dengan beberapa mahasiswa Turki dan turut belajar tilawah Quran gaya Turki. Hanya saja, usai Ashar, gadis itu keluar dari masjid sementara Farrel? Baru akan keluar dengan waktu berselang lima menit saja dengan gadis itu. Gadis itu yang lebih dulu keluar. Saat Farrel dan dua sahabatnya mampir ke sebuah restoran Turki, perempuan itu lewat di belakangnya, kemudian berjalan lurus hingga berbelok ke kanan. Penginapannya tak jauh dari sana. Hari itu mereka bertemu tapi tak ada yang saling menyadari. Apalagi perempuan itu. Ya begitu lah takdir-Nya. Kadang yang jauh saja bisa jadi dekat. Yang dekat bisa jadi jauh. Tak ada yang benar-benar paham apa makna dibaliknya. Dan dihari keempat ini... "Rel, awak je yang meminta tiket, kami mahu ke tandas," tukas Hazeer usai memberikan uang mereka pada Farrel. Farrel mengangguk. Ia segera mengantri tiket bus ke Kuala Lumpur dari Johor Baru ini, Stasiun JB Sentral. Saat matanya berseliweran melihat sekeliling, saat itu lah ia kembali melihat gadis itu. Ia yakin jika itu adalah gadis yang sama. Entah keyakinan dari mana yang datang padanya. Seolah-olah Allah yang meyakinkannya hingga ia seyakin itu. Sementara perempuan itu mengantri di barisan lain dan di loket lain. Gadis itu hanya menghela nafas sembari sesekali mengecek ponselnya. Lalu entah kenapa tiba-tiba gadis itu menoleh ke arah kiri, di mana Farrel masih menatapnya. Saat mata itu saling bersitatap, saat itu lah Farrel menunduk lantas ber-istigfar. Ia terlalu lama terbius oleh perempuan itu. Dan hatinya tiba-tiba bergetar. Ia menyadari apa yang dirasakannya dan apa yang terjadi pada hatinya. Ada banyak perempuan di bumi tapi baru gadis ini yang memberikan rasa getar yang sangat berbeda dengan gadis-gadis lain yang pernah Farrel temui. Gadis yang membuat Farrel penasaran akan mata indahnya, cantik wajahnya, dan .... Ia mendongak lagi ketika satu pikiran terlintas. Barangkali boleh berkenalan? Hihihi. Tentu bukan perkenalan dengan menepiskan jarak-jarak bergaul dengan perempuan bukan mahram. Bagaimana pun Farrel tahu caranya menjaga perempuan. Ia pasti akan menghormatinya. Dan barangkali Bunda tak keberatan jika ia juga menikah muda seperti adiknya? Hahaha! Pikiran bagus! Toh untuk urusan finansial, setidaknya ia punya meski masih pas-pasan. Pendapatannya dari jualan martabak ganteng juga toko sepatunya mungkin bisa menghidupi gadis itu nanti ketika ia bawa ke US. Iya kan? Eh, apa itu pemikiran yang bagus? Ke mana? tanya hatinya. Begitu ia kembali menoleh ke tempat di mana gadis itu berada, ia sudah tak melihatnya. Sekalipun Farrel sampai berputar dan meninggalkan antrian di loket itu pun, ia tak menemukan gadis itu. Gadis itu bagai hilang ditelan bumi dan itu membuatnya seperti baru tersadar dari halusinasi. Ia benar-benar melihat gadis itu kan? Gadis itu benar-benar ada bukan? Bukan hanya halusinasi kan? Aaarrgh! Kenapa ia selalu melewatkan kesempatan sih? Padahal....perempuan itu masih ada di sana. Duduk di lantai sembari mengecas ponselnya. Farrel tak melihatnya karena tertutup keramaian. Walau ia sudah menoleh ke sana dan ke mari namun keberadaan gadis itu tetap tak tertangkap matanya. Tapi barangkali begitu lah cara Allah membiarkan Farrel kehilangannya. Karena apa? Sepertinya belum waktu yang tepat untuk dipertemukan lagi dengannya. Ya kan? Karena Allah tahu kapan waktu yang tepat bagi seorang Farrel untuk kembali dipertemukan dengan gadis bermata indah itu. Gadis yang mampu membuat hatinya bergetar seketika setelah sekian lama tak jatuh cinta. Satu-satunya gadis yang membuatnya berpikir tentang pernikahan. @@@ Seorang gadis tertatih-tatih turun. Itu gara-gara ia tak sengaja menginjak gamisnya sendiri. Kemudian mengambil kopernya dan mengucapkan terima kasih kepada kenet bus yang sudah membantu mengambil kopernya dibagasi. Ia melirik sekitar karena masih awam dengan terminal yang tersambung dengan bandara ini. Dari pada pusing-pusing, akhirnya ia memilih untuk mengikuti rombongan bapak-bapak yang tadi satu bus dengannya. Lalu menaiki eskalator dan ia tiba di lantas dasar di mana banyak loket check in. Ia menghela nafas lega. Baru hendak berjalan lagi, ia dikejutkan dengan suara ponselnya sendiri. Ia menahan tawa kemudian mengeluarkan ponselnya dadi tas kecil yang ia kenakan. Dipunggungnya juga ada tas ransel yang melekat. "Assalamualaikum, Ayaaaah!" sapanya dengan ceria. Beberapa kali ia tersandung gamisnya sendiri. Itu karena ia lupa membawanya ke pajhit untuk dipotong sebelum dikenakan. Tapi ya sudah lah. Toh ia masih bisa memakainya meski agak panjang begini. "Iya-iyaaa ini Mya pulang, Ayaaah!" seru gadis itu. Ia melirik jam di sekitar. Ia harus buru-buru mengantri ke loket check in. "Ini udah sampe di bandara iiih!" tuturnya. "Takut amat anaknya hilang!" tambahnya yang terkesan seperti sedang mengomeli ayahnya. "Udah ya Yaaah!" pamitnya lantas segera menutup teleponnya. Ia berjalan terburu-buru sambil menggeret kopernya dan berbelok ke kanan secara tiba-tiba hingga membuat kopernya tak sengaja menabrak punggung laki-laki yang sedang memperbaiki tali sepatu di depannya. Ah laki-laki itu? Ya, Farrel. Ia spontan berbalik lantas membeku saat mata itu saling bersitatap. Kata 'maaf' keluar berulang kali padanya seraya meringis dalam hati. Kecerobohannya malah membuat kekacauan. Farrel hanya mengangguk dengan senyuman tipis dan jantung yang tiba-tiba berdebar. Ia tak masalah dengan kejadian itu meski sedikit membuat sakit di punggungnya. Namun yang jadi masalah adalah.... Saat Farrel berdiri, ia sadar betul jika perempuan itu tidak pergi. Perempuan itu berdiri tepat di belakangnya dan itu membuatnya bergetar. Bahkan ia mendengar percakapan gadis itu yang sepertinya sedang berbicara dengan Ayahnya. Ayah gadis itu memang kembali menelepon dan anaknya malah mengomel-omel karena menurutnya, ayahnya terlaku lebay. Ia sudah dewasa dan untuk perjalanan semudah ini tentu bisa ia lekukan meski hanya sendiri. Tapi sialnya bagi Farrel adalah ia bisa merasakan jika bukan hanya hati yang bergetar tapi seluruh tubuhnya. Ini lebih membuat gugup dibanding presentasi di podium kampusnya. Ia benar-benar tak kuat karena khawatir detak jantungnya dapat didengar perempuan yang berdiri di belakangnya itu. Akhirnya, dengan tangan berkeringat, Farrel membawa tas ranselnya lantas pindah ke loket lain dengan penerbangan yang sama dari Kuala Lumpur ke Jakarta. Ia menghela nafas lega usai pindah. Walau matanya masih ingin menatap namun ia menahan diri. Tidak boleh, tahan hatinya. Jika ingin mendapat perempuan seperti itu, ia harus menata dan memantaskan dirinya sehingga layak mendapatkan gadis itu. Karena gadis yang ia lihat itu sepertinya gadis yang solehah. Mudah-mudahan penilaiannya tak salah. Dan mudah-mudahan Allah mau mengabulkan. Tapi takdir seolah mempermainkan. Karena ternyata, perempuan itu duduk di seberangnya ketika berada di dalam pesawat. Hal yang membuatnya tak bisa menahan kehendak hatinya untuk tetap menahan diri. Kala hatinya bergetar pada seorang perempuan yang tak pernah ia tahu siapa namanya, bagaimana rupa wajahnya dan ia hanya tahu tutur katanya yang lembut. Seorang perempuan yang menjaga pandangannya dan kehormatannya di mata Tuhan. Yang hanya bisa Farrel lihat adalah ketika tangan perempuan itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah Al-Quran kecil lantas gadis itu mulai membacanya. Ketika penumpang lain memilih terhenyak dalam tidur, perempuan itu malah memilih terhenyak dalam ayat-ayat-Nya. Kece sekali bukan? Dan Farrel terpesona. Ia menyembunyikan senyumnya seraya berdeham pelan. Allah....bisiknya dalam hati. Apa yang kemudian terlintas suatu doa dikepalanya. Apa? Mau tahu? Boleh kah aku melamarnya? Melamar perempuan yang bahkan belum melihat wajahnya dan tak tahu namanya? Melamar perempuan yang diinginkan hatinya? Karena Farrel sadar betul jika perempuan ini lah yang tiba-tiba memenuhi hatinya setelah sekian lama kosong. Rasa debar jantungnya yang terlalu kencang membuat Farrel semakin sesak. Namun jiwanya seketika semakin tenang saat mendengar suara merdu yang pelan terdengar itu ikut menenangkan jiwanya. Bacaan Quran nya tak hanya sekedar merdu tapi juga fasih. Gadis itu sepertinya paham cara membaca Al-Quran dengan benar. Hingga mendengarkannya pun begitu membuat damai dihati. Dan tiba-tiba satu pikiran lain terlintas dikepala Farrel. Apa? Farrel baru tersadar akan satu pikiran itu saat ia sudah turun dari pesawat. Kini berhenti melangkah. Matanya mencari sosok perempuan yang meneduhkan jiwanya dengan bacaan Quran tadi. Ia hanya ingin tahu namanya yang barangkali bisa menjadi awal dari kelanjutan kisah cintanya yang baru. Meski ia sudah berkeliling hingga keluar dari pintu kedatangan, ia sama sekali tak melihat perempuan itu. Ia berjalan ke sana dan ke mari sembari berharap jika perempuan itu masih ada di sekitarnya. Bahkan ia sampai ke luar mendekati taksi-taksi yang berjajaran di depan pintu kedatangan. Tapi epremouan itu tak kunjung ia temu kan. Padahal perempuan itu baru saja berlalu ketika  Farrel sedang melihat ke depan, usai memerhatikan para taksi yang berjajadan. Perempuan itu berjalan dari belakangnya lalu belok ke kiri menuju loket bus untuk melanjutkan perjalanannya menuju Depok. Iya, Depok. Gadis itu sedang berkuliah di Universitas Indonesia dan juga merupakan mahasiswi Bundanya Farrel. Bunda mengajar di fakultas yang sama dengan gadis itu. Rasanya takdir begitu lucu menggambarkan kenyataan ini bukan? Karena keduanya ternyata sudah lama saling terhubung. Tapi begitu lah skenario-Nya. Tak ada yang tahu. Kenapa orang yang bertalian sangat dekat sangat sulit dipertemukan? Namun itu lah takdir-Nya yang memutuskan untuk menyimpan keduanya. Agar terus berada di jalan-Nya, senantiasa taat pada-Nya, hingga suatu saat keduanya sama-sama siap dipertemukan. Barangkali untuk menjadi pasangan dunia-akhirat? Hanya Allah yang tahu karena itu adalah Rencana-Nya. Lalu bagi Farrel? Perempuan itu sangat istimewa hingga membuatnya susah tidur, susah pula mengenangnya. Ia hanya bisa berdiam tanpa berani meminta karena takut kecewa. Bagimana kalau bukan perempuan itu yang dituliskan untuknya? @@@
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN