BAB 10

1952 Kata
Pagi menetes perlahan lewat celah tirai panjang di ruang kerja Aginos. Cahaya keemasan menyentuh meja marmer yang masih berantakan dengan beberapa berkas, gelas anggur setengah isi, dan selembar kertas yang telah ia ratakan kembali — sisa dari kartu ancaman yang semalam ia sobek. Tulisan di dalamnya telah ia salin ulang dengan tinta hitam di sudut bawah buku catatan kerjanya. “Semua akan jatuh di ujung pisau.” Aginos menatap kata-kata itu lama. Ada sesuatu dalam bentuk hurufnya yang mengusik—garisnya terlalu tegas, nyaris militer. Bukan tulisan wanita seperti Shapira, tapi seseorang dari lingkar dalam. Matanya menyipit. Ia tahu, ancaman itu bukan sekadar gertakan sosial. Ini pesan dari orang yang paham siapa dirinya. Pintu kamar diketuk pelan. Hazel masuk dengan nampan sarapan di tangannya. Rambutnya tergerai setengah, gaun rumah warna gading membuat kulitnya tampak lembut terkena cahaya pagi. “Selamat pagi, Tuan,” ucapnya pelan. Aginos tidak langsung menjawab. Tatapannya, meski tampak tenang, seperti pisau tipis yang menelusuri wajah Hazel dari ujung rambut hingga garis lehernya. Ada sesuatu yang kembali bergerak dalam dirinya — sesuatu yang semalam mati-matian ia kubur di dasar air dingin. “Letakkan di meja,” ujarnya akhirnya. Hazel menuruti, meletakkan nampan di tepi meja marmer, berusaha tidak terlalu menatapnya. Tapi bayangan Aginos di kaca jendela — tegap, berdiri dalam diam — membuat jantungnya berdebar. Ia bisa merasakan hawa ruangan berubah setiap kali pria itu menatapnya. “Bagaimana perasaanmu setelah pesta?” suara Aginos terdengar datar, namun mengandung nada tersembunyi. Hazel menggigit bibir bawahnya. “Masih… sedikit gugup, Tuan. Semua orang menatapku seolah—” “Seolah kau bukan siapa-siapa yang seharusnya berdiri di sana,” potong Aginos, nada suaranya tajam tapi bukan marah. “Dan itulah mengapa mereka menulis pesan itu.” Hazel mengerutkan alis. “Jadi… itu benar ancaman? Untuk saya?” Aginos menatapnya lama, lalu menurunkan pandangannya. “Untukku. Tapi mereka tahu, satu-satunya cara menghancurkanku adalah dengan menyentuhmu.” Hazel terdiam. Kata-kata itu menggantung di udara seperti kabut dingin. Antara takut dan sesuatu yang aneh—nyeri di d**a yang sulit dijelaskan. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi Aginos sudah berbalik, menatap ke luar jendela, memberi isyarat agar Hazel mundur. Namun, sebelum sempat melangkah, pintu terbuka tanpa izin. Seorang pria berpakaian hitam masuk terburu-buru—salah satu pengawal pribadi Aginos. “Tuan, kami menemukan seseorang mencoba menerobos sisi timur pagar luar. Tidak membawa senjata, tapi meninggalkan sesuatu di gerbang.” Hazel spontan menoleh. Aginos tak bergerak, hanya matanya yang beralih tajam. “Bawa ke sini.” Beberapa menit kemudian, pengawal itu kembali dengan sebuah kotak kayu kecil. Di atasnya terikat pita merah, seperti hadiah. Hazel menahan napas ketika Aginos membuka penutupnya. Di dalamnya, sebilah pisau kecil tergeletak — dan di gagangnya, terukir lambang bunga mawar yang sama dengan cincin Shapira. Hazel mundur selangkah. “Itu…” “Simbol lama,” potong Aginos cepat. Tapi matanya menyala dingin. Ia tahu itu bukan sekadar peringatan. Ini pesan pribadi — dari seseorang yang pernah dekat dengannya. Sunyi. Hanya napas Hazel yang terdengar, cepat dan tak beraturan. Aginos menutup kotak itu, lalu berdiri, menatap Hazel dengan sorot mata berat. “Mulai hari ini, kau tidak meninggalkan mansion tanpa izin dariku.” “Tapi—” “Tidak ada tapi, Hazel.” Nada suaranya menusuk. Tapi di balik ketegasan itu, Hazel menangkap sesuatu yang lebih gelap—ketakutan yang ia tutupi dengan kendali sempurna. Hazel menunduk, mengangguk pelan. Namun dalam hatinya, rasa ingin tahu terus tumbuh. Siapa yang cukup berani mengancam seseorang seperti Aginos? Dan mengapa semuanya terasa berkaitan dengannya? Ketika ia keluar dari ruang kerja, Hazel sempat menoleh sekali lagi. Aginos berdiri di sana, sendirian, tangannya memegang gagang pisau dari kotak itu. Tatapannya kosong, tapi rahangnya mengeras—seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu agar tidak meledak. “Mereka ingin menghancurkanku lewat dia,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. “Maka mereka akan tahu apa artinya menyentuh api yang masih menyala.” *** Malam turun cepat. Hujan tipis menetes di luar jendela, menciptakan pola samar di kaca ruang kerja. Di meja, kotak kayu berisi pisau itu masih terbuka. Aginos duduk diam, menatapnya seperti sedang membaca kenangan yang tidak ingin ia ingat. Ia sudah menolak panggilan rapat dari kantor pusat. Semua urusan bisnis malam itu diabaikan. Yang menguasai pikirannya hanya satu hal: simbol bunga mawar. Lambang itu sudah lama hilang dari lingkaran bisnis bawah tanah — lambang dari grup lama yang dulu ia kubur sendiri bertahun-tahun lalu. Dan jika simbol itu muncul lagi, artinya seseorang dari masa lalu mencoba naik ke permukaan. “Shapira…” gumamnya lirih. Nama itu keluar dengan berat, seperti luka lama yang belum sembuh. Ia tahu, wanita itu terlalu ambisius untuk berhenti di titik kehancuran. Dan kini, ia bertanya-tanya apa mau wanita itu sebenarnya? Hazel— sudah terjual seperti keinginannya, lalu mengapa wanita itu terus mengusik mantan budaknya? Dan satu-satunya celah dalam kendali Aginos—Hazel. Mungkin itu pikirnya. Pintu diketuk pelan. Hazel berdiri di ambang, mengenakan piyama lembut warna kelabu. Rambutnya sedikit berantakan, tapi wajahnya lembut diterpa cahaya dari koridor. “Tuan…” suaranya ragu. “Anda belum beristirahat.” Aginos menoleh, hanya sekilas. “Aku tidak bisa tidur.” Hazel melangkah masuk, meski jelas ia takut melanggar jarak yang selalu ditetapkan pria itu. “Kalau begitu… setidaknya minumlah teh dulu.” Ia meletakkan cangkir hangat di tepi meja. Uapnya naik lembut, aroma melati menyebar ke udara. Aginos menatap uap itu, lalu Hazel. “Kau selalu tahu cara menenangkan ruangan,” katanya, pelan namun dalam. Hazel menatapnya, lalu tersenyum kecil. “Saya hanya tidak ingin Anda sendirian dalam diam seperti ini.” Ucapan itu membuat d**a Aginos terasa aneh—sesuatu yang seharusnya ia tolak tapi malah tumbuh makin kuat. Ia bangkit, berjalan perlahan mendekat. Hazel mendongak, langkahnya spontan mundur setengah langkah. “Hazel…” suaranya turun menjadi berat. “Kau tahu apa artinya menjadi pusat perhatian di pesta itu? Setiap mata, setiap niat, setiap ancaman, sekarang mengarah padamu.” “Saya… tidak mengerti, Tuan.” “Belum,” ujarnya cepat. “Dan itu bagus. Karena ketika kau mengerti, semuanya sudah terlambat.” Hazel menggigit bibir. Ia ingin bertanya lebih banyak, tapi sorot mata Aginos membuat lidahnya kelu. Tatapan itu bukan sekadar ancaman — di dalamnya ada kekaguman, juga keterikatan yang ia coba sembunyikan. Udara di antara mereka menegang. Hujan di luar makin deras. Dan dalam jarak beberapa inci, Hazel bisa mendengar detak jantung Aginos, berat dan teratur… tapi tak stabil. Aginos menarik napas panjang, lalu melangkah mundur. “Pergilah tidur,” katanya akhirnya, dengan nada memaksa. “Tapi—” “Hazel.” Hanya satu kata, tapi cukup membuat gadis itu diam dan menunduk. Ia berbalik, melangkah pelan keluar, namun sesaat sebelum pintu tertutup, suara Aginos terdengar lagi. “Hazel.” Hazel menoleh. Tatapan pria itu kini lembut tapi dingin. “Jika seseorang mencoba mendekatimu, siapa pun itu—bahkan orang yang kau anggap teman—jangan bicara. Jangan tersenyum. Jangan percaya.” Hazel mengangguk. “Baik, Tuan.” Pintu tertutup. Keheningan kembali. Aginos menatap pintu lama, lalu menurunkan pandangan ke pisau di atas meja. Ia mengangkat benda itu perlahan, jari-jarinya menyusuri ukiran mawar yang tertanam di gagang logam. “Permainan sudah dimulai,” gumamnya pelan. “Dan kali ini, aku tidak akan kalah.” --- Sementara itu, jauh di sisi lain kota, di sebuah apartemen tinggi dengan dinding kaca, Saphira menatap layar tablet di tangannya. Di sana, foto Hazel di pesta malam itu terpampang jelas — gaun merah marun berkilau, kulit bercahaya di bawah lampu kristal, dan tatapan Aginos yang tak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Cantik, bukan?” Saphira berbisik sambil menyeringai. Seorang pria bersetelan jas di sampingnya hanya diam, tapi ekspresinya dingin. “Dia memang mirip,” lanjut Saphira, menggeser foto itu. “Mungkin itu sebabnya Aginos kehilangan kendali. Sama seperti ayahnya.” Pria itu menatapnya, suara datar. “Dan jika kendalinya benar-benar runtuh?” Shapira menatap ke luar jendela, senyum tipisnya makin melebar. “Maka kita hanya perlu satu dorongan kecil lagi untuk menjatuhkan sang serigala.” *** Udara dini hari menusuk tulang. Kabut tipis merayap di halaman mansion Falcone, menutupi cahaya lampu taman yang temaram. Hazel terbangun karena suara gemerisik. Sekilas, ia pikir hanya angin yang meniup tirai. Tapi ketika ia membuka mata, ia melihat bayangan samar bergerak di luar jendela. Nafasnya tercekat. Ia duduk, memegangi selimut erat-erat, mencoba mengatur degup jantungnya yang berdebar tak beraturan. Namun suara itu muncul lagi — kali ini seperti langkah kaki di atas kerikil. Ia bangkit, berjalan perlahan ke arah jendela. Begitu tirai tersingkap, yang ia lihat hanyalah taman yang diselimuti kabut tebal. Tak ada siapa pun. Namun, di ambang jendela, ada sesuatu yang tak seharusnya ada — setangkai mawar merah basah oleh embun. Hazel mematung. “Tidak…” bisiknya pelan, tapi tubuhnya sudah menggigil tanpa tahu kenapa. Mawar itu indah, tapi juga berbahaya. Sama seperti simbol di kartu ancaman malam pesta. Ia menatap bunga itu beberapa detik sebelum memutuskan untuk tidak menyentuhnya. Ia berbalik — dan hampir menjerit ketika mendapati Aginos berdiri di ambang pintu, mengenakan jubah tidur hitam. Tatapan matanya tajam, dingin, tapi bukan kaget. Seolah ia sudah menduga sesuatu. “Siapa yang memberimu itu?” tanyanya datar. Hazel menggeleng cepat. “Saya—saya tidak tahu. Saya baru saja bangun dan—” Aginos berjalan mendekat. Langkahnya berat, terukur, penuh kendali. Ia mengambil mawar itu dari ambang jendela, menatapnya sekilas, lalu mematahkan batangnya hingga durinya hancur di tangannya sendiri. Setetes darah menetes dari jari Aginos. Hazel menahan napas. “Simbol yang sama,” gumam Aginos rendah. “Mereka bahkan tahu kamarmu.” “Siapa ‘mereka’?” Hazel memberanikan diri bertanya, suaranya bergetar. Aginos menatapnya, dan untuk pertama kalinya, Hazel melihat bukan kemarahan di mata pria itu—melainkan ketakutan yang samar, terselubung di balik kendali yang sempurna. “Orang yang seharusnya sudah mati,” jawabnya akhirnya. “Dan sekarang mereka ingin menuntut balas lewatmu.” Hazel terdiam, dadanya sesak. Ia ingin berkata sesuatu—mungkin menenangkan, mungkin sekadar membantah—tapi Aginos sudah berbalik. “Kunci semua pintu. Mulai malam ini, kau tidak keluar tanpa pengawal.” “Tapi, Tuan—” “Tidak ada tapi.” Nada suaranya menusuk tajam, tapi lebih karena panik daripada marah. Hazel akhirnya menunduk, “Baik, Tuan.” Aginos menatapnya sejenak, lalu berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Tapi saat pintu tertutup, Hazel memperhatikan sesuatu: tangan Aginos masih berdarah, dan ia tidak mencoba menghentikannya. Seolah rasa sakit itu satu-satunya hal yang bisa menenangkan pikirannya sekarang. --- Di ruang kerjanya, Aginos duduk kembali di kursi kulit besar, menatap layar ponsel yang menampilkan pesan baru tanpa pengirim: > “Mawar pertama untuk sang putri. Akan ada dua lagi sebelum dia mekar sepenuhnya.” Aginos meremas ponsel itu begitu keras hingga bunyi retak terdengar. Matanya gelap, suaranya rendah ketika bergumam, “Sialan. Siapa yang bermain di wilayahku!” Ia berdiri, melangkah ke arah rak besi di dinding. Menekan panel tersembunyi, membuka ruangan kecil berisi senjata, berkas, dan peta digital di dinding. Beberapa titik merah menyala di sekitar area mansion — tanda bahwa sistem keamanan barunya telah disusupi. “Ini bukan permainan kecil lagi,” katanya lirih, nyaris tak terdengar. Lalu, dengan nada lebih dingin, penuh tekad: “Jika mereka ingin membawanya ke neraka, maka aku yang akan menjemput mereka lebih dulu.” --- Sementara itu, Hazel duduk di ranjang, menatap jendela yang kini tertutup rapat. Di tangannya, ia masih menggenggam serpihan kecil batang mawar yang tadi dipatahkan Aginos. Entah kenapa, di antara rasa takutnya, ada sesuatu yang lebih halus yang tumbuh: rasa khawatir. Bukan untuk dirinya. Tapi untuk pria yang berdiri di antara amarah, luka, dan kehancuran. “Apapun yang dia hadapi,” gumamnya pelan, “aku tidak ingin dia hancur karenaku.” Ia menutup mata, tapi bahkan dalam kegelapan pun, aroma mawar itu masih menempel di udara—dan entah kenapa, rasanya seperti pertanda buruk yang belum berakhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN