"Lo kenapa nggak pernah cuci rambut, Ni? Bokek? Bapak lo nggak pernah ngasih duit? Jangan-jangan banyak kutunya, atau malah kecoak. Lo cewek bukan, sih? Nurut Uci, dong. Wangi, cantik, nggak kayak lo." Seruni yang menghabiskan waktu duduk di balkon kelas lantai tiga, yang pemandangannya menembus lapangan sepak bola segera menoleh dan menjawab santai pada bocah tujuh belas tahun super ganteng kesayangannya. "Mana bisa gue cuci rambut, Oon. Orang bapak nyiksa terus. Lo nggak tau, gue ke sekolah, biar dia nggak liat, biar gue nggak digebuk." Jingga menatap Seruni tak percaya, "Lo digebuk bapak lo? Bohong. Alesan aja itu." Dia menuduh. Seruni membalas lewat gelengan dan senyum yang kelihatan amat dipaksa. Ditariknya sedikit ujung rok, sekitar lima senti dari lutut. Dipamerkannya bagian bir

