Ada apa dengan Dirga?

809 Kata
Eliza masih sangat terkejut mengetahui bahwa dia akan tinggal satu atap dengan Dirga, laki-laki yang menurutnya memiliki kepribadian yang tidak menentu. Menurut Eliza, Dirga sangat hangat sebelumnya meski tingkahnya sangat menyebalkan, namun saat berdua dengannya sikap Dirga begitu dingin meski menyebalkannya masih tetap sama. Eliza sangat tidak ingin tinggal bersama dengan Dirga, namun dia sendiri tidak punya pilihan lain. Baginya tinggal bersama Dirga adalah sebuah keburukan tapi meski begitu Eliza masih bersyukur, setidaknya ada seseorang yang bisa bertanggung jawab pada hidupnya yang bahkan mengenali diri sendiripun dia tidak bisa. Bagi Eliza, semua hal yang diberikan Samuel untuknya adalah sebuah anugrah meski hal itu bukan sesuatu yang dia senangi. **** "Sayangg..." Nara menghampiri Samuel dengan cepat saat suaminya itu tiba kembali setelah sebelumnya bertemu dengan Eliza dan Dirga di restoran. "Kenapa??" Ekspresi istrinya membuatnya bertanya. "Apa tidak sebaiknya kita memeriksa kesehatan Dirga lagi??" "Ada apa? Apa yang salah dengan Dirga? Bukannya dokter bilang dia sudah sehat.." Samuel kebingungan mendengar permintaan istrinya itu. Nara menarik Samuel menghampiri Delio yang terbaring dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Samuel hanya mengikut dengan segala kebingungannya. "Tadi aku sempat menanyai Dirga perihal kecelakaan itu dan dia menceritakan apa yang dia ingat. Dirga sempat kebingungan sejenak namun yang dia katakan..." Nara kebingungan sendiri harus bagaimana menceritakannya. "Dia bilang apa??" "Dia bilang, yang menyetir saat kecelakaan itu  terjadi adalah kakaknya tapi Delio..." Nara menatap Delio, meminta Delio menjelaskan lebih pada Ayahnya. "Bukan aku Ayah.. Bukan aku yang menyetir saat kecelakaan itu terjadi. Iya aku yang menjemput Dirga, aku juga yang menyetir sebelumnya tapi karena melihatku yang kurang fokus dalam menyetir, Dirga memintaku bertukar tempat dan akhirnya dia yang menyetir.." Samuel kebingungan, ada apa lagi ini?? "Maksudmu adikmu tidak sadar saat dia menyetir.." "Aku tidak tahu, hanya saja kalau seperti yang Ibu katakan sepertinya Dirga tidak ingat.." "Iya sayang.. Saat aku tanyapun, Dirga sempat kebingungan sendiri. Dia spontan ngejawab kalau dia lupa.." Perasaan Samuel yang sebelumnya sudah lebih tenang saat Delio siuman, sekarang kembali kacau lagi mengingat ada hal yang tidak beres dari ingatan Dirga. "Apa itu termasuk Amnesia juga??" Nara mencoba menebak-nebak. "Amnesia?? Tapi Dirga masih mengingat semuanya, dan juga dia..." Samuel kebingungan sendiri harus melanjutkan apa kata-katanya. "Yah, sebaiknya kita periksa kesehatan Dirga kembali, aku akan memintanya datang sekarang.." Samuel mengusap dahinya yang dikerutkan karena pikirannya tentang Dirga mulai menganggunya. **** "Aku bilang aku udah sehat, kenapa harus kembali periksa lagi sih??" Gerutu Dirga sambil berjalan menuju parkiran setelah sebelumnya dia kembalikan  memeriksakan kesehatannya atas keinginan Samuel. Kakinya yang panjang membuat langkahnya lebih luas dan menempuh jarak lebih cepat membuat Eliza dengan ukuran tubuh mininya harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah Dirga. "Siapa suruh punya kaki pendek" Gumam Dirga Dari belakang terlihat jelas bagaimana Eliza kesal melihat Dirga yang seolah membuatnya kesulitan mengejar langkah kakinya. "Tunggu..." Eliza dengan nadanya yang sedikit meninggi. Dia nyaris hilang kesabaran melihat Dirga. Sedari awal pertemuannya di kamar Delio tadi, Eliza sudah memberi cap 'tidak suka' pada Dirga. Dia hanya berusaha menahannya mengingat Dirga adalah putra Samuel, seseorang yang telah membantu hidupnya. "Kenapa??" Tanya Dirga judes. "Kamu jalannya terlalu cepat, aku kesusahan mengikutimu.." Dirga berbalik, menatap Eliza dari ujung kakinya hingga ujung rambut yang membuat Eliza menjadi gugup. "Bukan jalanku yang cepat, tapi kakimu yang terlalu pendek sampai langkahmu terlalu kecil.." Jawaban jujur Dirga itu seolah mengolok-olok ukuran tubuh mini milik Eliza. Ingin rasanya Eliza mengumpat atau setidaknya menyumpal mulut Dirga yang berkata pedis itu, tapi apalah daya itu hal yang tidak mungkin dia lakukan. "Kalau sudah tahu, setidaknya kamu jalannya lambat sedikit biar aku gak ketinggalan.." "Kalau sudah tahu, setidaknya kamu harus berlari biar bisa mengimbangi langkahku..." Tidak tahan lagi, Eliza memperlihatkan tatapan kesalnya pada Dirga. Kekesalannya kali ini bukan lagi hal yang bisa dia sembunyikan. Dirga dengan segala ketidakpeduliannya kembali berbalik melanjutkan langkahnya dan bermasa bodoh tentang Eliza. Tidak ada hal yang bisa Eliza lakukan selain berlari kecil mengikuti Dirga. "Kalau saja aku punya pilihan lain, aku tidak akan mengikuti laki-laki yang bisa membuatku nyaris menyebut kebun binatang.." Dengus Eliza Entah karena sengaja atau karena memang langkah kaki Dirga yang tanpa sadar semakin cepat itu, membuat Eliza benar-benar harus agak berlari untuk bisa mengejar Dirga. BRUUKKK.... Spontan Dirga berbalik. Eliza jatuh tersungkur dan lututnya mengalami luka kecil. Karena harus berlari kecil sedang kesehatannya masih tidak sepenuhnya pulih, membuat Eliza kehilangan keseimbangan dan terjatuh saat berusaha mengejar langkah Dirga. Dirga kembali menghampiri Eliza "Kamu ini bagaimana sih? Jalan saja bisa jatuh, Ayah bisa memarahiku kalau tahu kam..." "Karena jalanmu terlalu cepat, jadi aku harus lari dulu biar bisa ngejar kamu.." Potong Eliza sembari memegangi lututnya yang sedikit lecet. Dirga menyingkirkan tangan Eliza yang sedang memegangi lututnya untuk bisa melihat seperti apa luka pada lutut Eliza itu. "Masih bisa jalan?" Tanya Dirga tanpa mengalihkan pandangannya dari lutut Eliza. "Bisa.." "Tunggu aku disana.." Dirga menunjuk sebuah kursi kosong. "Biar aku sendiri yang ke parkiran, aku akan menjemputmu disitu nanti.." Eliza hanya mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN