Seatap

669 Kata
Tidak ada perlawanan dari Dirga, sangat berbeda saat dia berada dalam kamar rawat inap Delio tadi. Sebelumnya dia terlihat sangat sangar, aku mengira dia akan berusaha sebisanya untuk meraih ponselnya kembali saat pak Samuel mengambilnya, namun dia diam saja dan beralih pada makanan yang sudah disediakan diatas meja. Dia melirikku sejenak, aku berusaha tersenyum untuk memberi kesan yang baik, namun apa balasannya? Jangankan balas tersenyum, mengubah ekspresi dinginnyapun dia enggan. Ah, aku menjadi kesal melihatnya. "Eliza.. Silahkan makan.." "Ah.. I iya pak.." Semoga saja pak Samuel tidak memergoki ekspresiku yang memperlihatkan bagaimana aku tidak senang dengan tingkah laku putra bungsunya ini. "Maaf ya Eliza.. Karena terlalu senang tadi, saya sampai tidak ingat tentang sarapanmu. Perawat juga sudah tidak menyiapkannya karena saya sudah mengatakan kamu keluar pagi ini.." "Tidak apa pak.." Jawabku tersenyum. Betapa beruntungnya Dirga dan Delio memiliki Ayah sebaik ini. Aku yang hanya orang luar saja dia perhatikan sebaik ini, apalagi kedua putranya itu. "Dirga, hari ini kamu pulang sama Ayah saja.." "Sama Ayah? Aku pulang kerumah Ayah??" "Ya kerumah kamu lah.. Kenapa kamu harus pulang ke rumah Ayah??" Whatt?? Dia punya rumah sendiri?? Dari yang aku lihat, dia masih cukup muda dan kisaran umurnya sepertinya dia seumuran denganku. "Terus kenapa aku pulangnya sama Ayah??" "Maksud Ayah, Ayah akan mengantarmu pulang bersama Eliza hari ini.." Mengantar Dirga pulang bersamaku?? Dia akan mengantarku pulang kemana?? "Mobilku kemana???" Sekaya apa pak Randi ini? Sampai anak semuda Dirga sudah diberi rumah dan mobil pribadi. Ah aku tidak habis pikir tentang itu. "Ayah masih khawatir kalau kamu yang bawa mobil, kamu kan baru saja sembuh.." "Ayah, aku sudah sehat dari dua hari yang lalu, Ayah saja yang terus-terusan menganggap aku masih sakit sampai menjebakku dua hari ini dirumah sakit" "Tetap saja.." "Tidak.." Potong Dirga. "Aku mau pulang dengan mobilku.." Sesiapapun yang melihatnya, akan ikut merasakan rasa kesal sepertiku melihat Dirga yang berprilaku seperti itu pada Ayahnya. "Hufftt ya sudah terserah kamu.. Tapi biarkan Eliza ikut denganmu.." Dirga melirikku sejenak. Kemudian mengangguk pelan. Sampai sekarang aku masih tidak tahu dimana aku akan tinggal, sedari tadi pak Samuel hanya mengatakan bahwa aku akan pulang bersama Dirga. Bukannya Dirga memiliki rumah sendiri? Apa itu berarti... "Maaf pak..." Dengan ragu-ragu aku mencoba bertanya untuk memperjelas dimana aku akan tinggal. "Haduh.. Jangan panggil saya bapak, panggil Ayah saja seperti Dirga memanggil saya.." Dia tersenyum begitu ramah. "Ck, makanya kencangkan sabukmu biar Nara bisa memberimu anak perempuan..." Celetuk Dirga tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan yang disendoknya pelan-pelan. "Woah.. Apa kamu mau adik perempuan.." Sumringah pak Samuel memperlihatkan betapa dia bahagia dengan kata-kata Dirga yang terdengar setengah hati itu. "Menurut Ayah??" Dirga mengangkat wajah, menatap Ayahnya sejenak. "Sudahlah.." Ekspresi senang itu berubah menjadi datar. "Ah Eliza.." Dia kembali menatapku dengan tersenyum. "Ada apa tadi?" Aku sendiri sampai lupa kalau akan bertanya tadi. "I itu.. Maaf kalau aku menanyakan ini A ayah.." "Tanyakan apa? Tanyakan saja, jangan sungkan begitu.." "Aku tahu, sangat tidak baik kalau aku bertanya perihal ini, tapi kalau boleh tahu aku akan tinggal dimana?" Tanyaku ragu-ragu. "Ah iya, aku lupa memberitahumu. Untuk sementara kamu tinggal bersama Dirga dulu ya.." WHAATT??? Dia bilang apa? Tinggal bersamaa.... Aku mengalihkan pandanganku menatap Dirga yang sudah lebih dulu meyorotiku dengan pandangan anehnya. "Maaf, mungkin kamu akan merasa canggung tinggal bersama anak laki-laki, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa membawamu bersama Nara karena kami tidak tinggal menetap, sedangkan dengan Danish.. Hem seperti yang kamu lihat, dia baru saja siuman hari ini dan lagi itu tidak baik karena aku harus menjaga perasaan Ailee. Aku bisa saja membelikanmu sebuah rumah..." "Ah tidak tidakk..." Aku memotong perkataan pak Samuel, memang sangat tidak sopan. "Tidak mengapa aku tinggal dengan Dirga.." Jujur saja, aku sangat tidak ingin tinggal dengan Dirga, tapi mendengar dia yang bahkan bersedia membelikanku rumah, rasanya aku kelewatan sekali jika menginginkan hal itu dari orang yang sudah berbaik hati menolongku. "Tidak usah khawatir, Dirga tidak akan memperlakukanmu dengan tidak baik. Dirumahnya ada CCTV, jadi itu bisa mengawasinya secara langsung" Aku hanya tersenyum kecil sembari mengingat apa yang akan terjadi padaku kedepannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN