Sarapan bersama

513 Kata
Jam sarapan memang sudah berlalu dan waktu makan siang belum saatnya, namun itu bukan menjadi patokan yang bisa membuat sebuah restoran yang bersebelahan dengan Rumah sakit swasta sepi pengunjung, penikmat kuliner ataupun orang-orang yang sedang sekedar mengisi perut di selisih waktu makan itu, ramai berdatangan. Semuanya sibuk dengan perbincangan masing-masing, saling melempar tawa sambil menunggu pesanan datang atau saling bertukar pikiran sembari mencicipi makanan yang tersedia juga yang duduk sendiri namun tetap asyik menikmati menu yang dihidangkan. Semua tampak riuh kecuali meja yang sedang ditempati Eliza dan Dirga. Keduanya hanya terdiam tanpa satu katapun. Dirga asyik memainkan ponselnya sembari menunggu pesanannya datang, sedang Eliza hanya duduk menunggu tanpa ada yang bisa dia lakukan, dia juga cukup segan untuk membuka obrolan dengan Dirga yang sibuk dengan dunianya sendiri seolah Eliza hanyalah bayangan yang tidak perlu di respon. POV Eliza. Sekitar 25 menit yang lalu, aku mengikuti putra bungsu pak Samuel keluar dari kamar dimana Delio dirawat. Delio baru saja siuman dari yang kudengar setelah tiga hari berbaring koma pasca kecelakaan. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi sebenarnya, aku hanya mengetahui beberapa garis besar peristiwa itu dari apa yang diceritakan oleh pak Samuel dan pak Logan. Pak Samuel mengatakan bahwa aku terlibat kecelakaan dengan kedua putranya yang menyebabkan salah satu diantaranya hilang kesadaran hingga tiga hari. Pak Samuel sendiri tidak bisa menjelaskan lebih detail tentang kecelakaan itu padaku karena dia tidak berada di lokasi kejadian. Aku cukup mengerti itu, jangankan untuk menanyai putra mereka tentang kronologi itu, mengingat putranya harus mengingat kejadian mengenaskan itu saja dia tidak akan tega. Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa aku terbangun di Rumah sakit itu. Saat siuman, orang yang pertama kali aku lihat adalah pak Logan. Beliau seolah sedang menungguku hingga tersadar, terlihat dari bagaimana dia yang masih terjaga di dinihari saat aku siuman. Aku merasa sangat bersyukur, meski aku yang tidak mengingat apapun bahkan tidak mengenali diri sendiri ini masih bisa tertolong dan bertemu dengan orang sebaik pak Samuel. Aku berhutang besar pada keluarga ini. Aku hanya mengekor dibelakang putra bungsu pak Samuel yang jika aku tidak salah mengingat namanya adalah Dirga. Dia terlihat sangat berbeda dari saat dia berada diruangan Delio tadi. Meski sebelumnya dia terlihat cukup menyebalkan saat berada dalam kamar rawat inap Delio, namun dia cukup hangat saat itu. Berbeda saat ini, dia hanya duduk di depanku tanpa mengucapkan satu katapun. Jangankan berucap, menatapku atau bahkan sekedar berekspresi-pun tidak, wajahnya datar sedari tadi sambil sibuk memainkan ponselnya. Sesekali aku meliriknya yang duduk selonjoran didepanku sambil menunggu pesanan makanan datang, aku berharap sesekali dia melihat ke arahku dan mengubah eskpresi dinginnya itu, tapi sampai pelayanan datang membawa makanan kami, dia tetap saja acuh. "Maaf maaf, Ayah telat datang.." Pak Samuel menghampiri kami sambil mengatur nafasnya, sepertinya dia berlari menuju kemari tadi. Apa segitunya pak Samuel mencintai putranya sampai dia tidak membiarkan putranya menunggu lebih lama. "Sudah terbiasa.." Jawab Dirga cuek tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Ck, apa dia seacuh itu juga pada Ayahnya. "Turunkan ponselmu dan segera makan.." Ponsel yang sedari tadi dimainkan Dirga ditarik begitu saja oleh pak Samuel. Aku hanya terdiam saja melihatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN