Danish Siuman

729 Kata
Suasana yang tadinya terasa berbeda-beda dari setiap orang yang berada dalam kamar rawat inap Delio, dengan cepat berubah menjadi suasana dan perasaan yang sama dari semua orang, haru dan bahagia. Eliza yang meskipun bukan bagian dari mereka, juga cukup merasa bahagia melihat Delio sudah terbangun dari tidur panjangnya. Pak Samuel dengan cepat memanggil dokter setelah melihat putra sulungnya itu siuman, dan pemeriksaan dokter memberinya hasil yang memuaskan. Delio dinyatakan lolos dari masa kritisnya dan tinggal menjalani masa pemulihan hingga tubuhnya mampu beraktifitas seperti semula. Ailee terus-terusan bertengger disamping Delio. Seolah tidak ingin lepas dari pandangan kekasihnya, Ailee terus-terusan berusaha mengajak Delio mengobrol entah itu informasi yang penting untuk Delio atau cuman sekedar kata-kata buaian saja. Melihat Ailee yang begitu antusias setelah Delio sadar dari komanya, membuat Samuel selaku orangtua Delio merasa senang, setidaknya dia memiliki calon menantu yang benar-benar bersedia menemani putranya dalam keadaan sehat maupun sakit. Namun berbeda dengan Dirga, dia masih berusaha keras melawan rasa cemburunya dan membuat dirinya sesadar mungkin bahwa wanita yang dicintainya itu sudah menjadi milik kakaknya. "Ayah, bagaimana tentang aku?? Apa kata dokter??" Dirga berusaha mengalihkan pikirannya dari medan yang berputar di sekitar Ailee yang selalu menghasilkan rasa sakit dihatinya. "Ah iya, Ayah sampai lupa sama kamu.." Samuel tertawa kecil mengingat bagaimana dia melupakan putra bungsunya karena terlalu bahagia selepas putra sulungnya siuman. "Iya.. Anak Ayah emang cuman kak Delio doang.." Nada-nada ngambek mulai terdengar dari ucapan Dirga. "Sudah-sudah, jangan ngambek. Ibu selalu mengingat kamu kok meski Ayahmu kadang melupakanmu.." Nara berusaha menenangkan Dirga sebelum dia meledak-ledak lagi dengan kekesalannya seperti sebelumnya. "Kata-katamu lebih terdengar seperti seorang kakak yang sedang membujuk adiknya.." Dengus Dirga. "Ck, setidaknya kamu beruntung karena ada aku..." Nada judes Nara mulai keluar. Anak tirinya itu selalu saja bisa mengoyak-ngoyak kesabaran Nara dan membuatnya lepas kendali dari pertahanannya untuk bisa menjadi Ibu yang tenang dengan penuh kesabaran untuk Dirga dan Delio. Ya dilihat dari segimanapun, Nara benar-benar berusaha keras untuk bisa menjadi sosok pengganti orangtua kandung bagi Dirga dan Delio meski usianya terbilang belia untuk menjadi seorang Ibu dari dua remaja itu. "Sudah sudah.. Dirga, dokter bilang kamu sudah boleh pulang hari ini. Juga Eliza.." Samuel mengalihkan pandangannya dari Dirga dan menatap gadis bertubuh mungil itu yang hanya berdiri diam disamping Nara sedari tadi. "Kamu juga sudah boleh pulang.." Eliza hanya tersenyum menanggapi perkataan Randi. "Kalian belum makan kan??" "Ya belum, tadi Nar.. Ah maksudku Ibu datang kesini hanya membawa makanan untuk Ayah saja.." "Ya sudah, di sebelah Rumah sakit ada Restoran. Kamu makan dulu disana bersama Eliza dan tunggu Ayah disana.." Dirga hanya mengangguk mengiyakan permintaan Ayahnya begitupun Eliza. "Kak.. Cepatlah sehat, banyak hal yang ingin aku lakukan bersama kakak..." Dirga memegang erat tangan Delio. Delio bisa melihat dengan jelas bagaimana adiknya itu sangat mengharapkan kesembuhannya. "Iya.." Jawan Delio tersenyum dengan suara yang masih tertatih-tatih. "Kalau kakak cepat sembuh setidaknya ada yang bisa membantuku untuk balas menyerang Ayah.." Dirga melirik tajam Ayahnya. Delio tertawa kecil meihat sorot mata adiknya yang seperti ingin menerkam Ayah mereka itu. "Ibu muda kita juga sudah tidak berpihak padaku kak.." Keluh Dirga. Perlahan Delio mengarahkan pandangannya pada Nara. Ada perasaan yang tidak bisa dia jelaskan melihat perempuan yang sudah menjadi Ibunya itu sedikit terkekeh melihat tingkah Dirga yang terlihat kekanak-kanakan. "Dirga... Berhenti menganggu kakakmu dengan kata-katamu yang tidak jelas itu.." Samuel bersuara, sepertinya putra bungsunya itu tidak akan beranjak jika tidak ditegur. "Pulanglah dulu, aku akan istirahat dengan baik biar bisa sembuh dengan cepat dan membelamu seperti biasanya.." Meski nafasnya masih tersenggal-senggal, Delio berusaha menyelesaikan kata-katanya untuk menenangkan adiknya itu. Dirga memeluk Delio perlahan. "Aku rindu sama kakak..." "Kenapa kalian drama sekali sih?? Setiap hari kan juga kamu melihat kakakmu.." Samuel nyaris habis kesabaran. "Ayah ini kenapa?? Aku hanya merengek sama kakak, kenapa sewot begitu??" Balas Dirga dengan kesal. "Sudah sudah... Dirga, biarkan kakakmu istirahat dulu. Kamu sana makan dulu sama Eliza, kalian belum ada makan kan?? Kalian kan sedang masa pemulihan juga.." Dirga beranjak mundur dari sisi Delio. Diliriknya Ailee yang masih bertengger di sisi sebelah Delio. "Kakak ipar, tolong jaga kakakku baik-baik.." Sorot mata Dirga yang tajam, tidak bisa diartikan membuat Ailee kebingungan sendiri dibuatnya. "Dia sedang marah padaku???" Seperti itu dipikiran Ailee. Ailee hanya mengangguk mengiyakan permintaan Dirga. Perlahan Dirga beranjak keluar dari ruangan disusul Eliza setelah meminta izin undur diri pada semua yang berada dalam ruangan itu, dan lagi Eliza merasa ada pandangan tidak senang dari Ailee yang diarahkan padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN