Ailee Cemburu?

786 Kata
POV Eliza Aku kembali menyusuri seisi kamar dengan pandanganku sembari mencari celah untuk berbicara agar mereka tahu aku ada disini saat ini. "Itu Tuan Samuel, dan mungkin itu adalah Tuan muda pertama dan kedua" Pikirku sembari menatap anak laki-laki yang ekspresi wajahnya seperti baru saja kalah dari taruhan togel, lesuh dan terlihat sedang kesal. "Lalu yang mana Nyonya? Dua perempuan yang disana siapa? Salah satu dari mereka pasti Ailee, tunangan Tuan muda pertama.." Aku mencoba meraba-raba kondisi dalam ruangan saat ini. "Permisi.. Bapak memanggil saya.." Semua orang mengarahkan pandangannya kearahku membuatku jadi tidak tahu harus berekspresi seperti apa. "Oh, kamu sudah disini Ailee??" Aku hanya tersenyum sambil mengangguk pelan menanggapi pertanyaan pak Samuel. "Dia orang yang..." Tanya salah satu wanita yang ada didalam ruangan itu sambil menatap pak Samuel dan mengarahkan jari telunjuknya padaku. "Iya Sayang.." Pak Samuel memang penuh dengan kasih sayang, dia begitu ramah pada semua orang bahkan panggilan 'sayang' itu terdengar hangat. "Wah.. Cantiknya..." Dia mendekatiku dan perlahan memelukku dengan lembut. Aku hanya balas memeluknya meski aku tidak mengenalinya. "Sayang.. Kamu harusnya memperkenalkan diri dulu sebelum memeluknya seperti itu. Lihat dia sepertinya kebingungan.." Tegur pak Samuel. "Ah iya..Maaf maaf.." Dia melepas pelukannya dariku. "Perkenalkan aku Nara, kamu bisa memanggilku Mami juga seperti Ailee memanggilku.." Mami?? Bukannya itu panggilan untuk seorang Ibu? "Ma mami??" Aku tidak ingin menyimpulkan sendiri, baiknya aku bertanya ulang agar semakin jelas. "Dia pasti tidak mengira kalau Nara yang masih muda begitu istrinya Ayah.." Celetuk anak laki-laki yang sedari tadi bersandar di sofa dengan malasnya. I istri?? Ja jadi perempuan muda ini?? "Ah ma maaf Nyonya, sa saya tidak tahu..." "Tuh kan, kubilang juga apa. Dia tidak mungkin mengira kalau Nara itu istri Ayah.." Laki-laki itu sedari tadi berbicara dengan nada santainya. "Dirga.. Sudah Ayah bilang berhenti memanggil Ibumu dengan namanya secara lansung.." Perkataan pak Samuel barusan seolah memperjelas kebingunganku tentang siapa wanita yang ada didepanku saat ini. "Nyonya?? Kenapa memanggilku seperti itu??" Nara menatapku lekat, seolah aku sedang melakukan kesalahan sekarang. "Ajarannya pak Logan itu.." Entah mengapa laki-laki itu selalu saja berbicara disela-sela percakapan oranglain, aku sedikit kesal melihatnya. "Hem.. Jangan panggil aku Nyonya lagi, panggil aku Mami saja.. oke??" Aku mengangguk perlahan mengiyakan permintaannya "I iya Ma mami.." Jujur saja fakta bahwa wanita muda ini adalah istri pak Samuel membuatku sangat terkejut. Aku kembali mengarahkan pandanganku pada penghuni lain dalam ruangan ini. Entah perasaanku saja atau bagaimana, rasanya perempuan lain yang ada dalam ruangan ini selain Istri pak Samuel, seperti menatapku dengan tatapan tidak senang. Ah, mungkin hanya aku yang terlalu berfikir keras, buat apa juga dia tidak menyukaiku sedang aku tidak melakukan kesalahan apapun. Kenapa aku bisa seudzon sama orang lain begini sih?? Kehadiran Eliza dalam kamar rawat Inap Delio mengubah suasana. Nara yang sedari tadi tidak ada habisnya mendebati Dirga anak tirinya, akhirnya beranjak mengabaikan Dirga dan fokus pada gadis dengan ukuran tubuh mini yang baru bergabung dengan mereka dalam ruangan itu. POV Dirga "Ternyata cuman anak kecil, aku kira anak itu remaja seumuranku atau yang lebih tua dariku.." Gumam Dirga dalam hati saat melihat Eliza. "Ah, ini sih sama saja kalau aku diminta buat jaga anak. Etdaah nikah aja belum, tapi sudah harus ngurus anak.." Dirga mendengus kesal. Aku masih saja kesal mengingat Ayah yang memintaku untuk tinggal satu atap dengan perempuan itu, tapi aku merasa lebih lega mengingat dia hanya anak kecil, yah mungkin dia sedang menempuh pendidikan di Sekolah menengah pertama sekarang. Aku kembali melirik Ailee. Aku masih saja kesulitan mengendalikan pandanganku untuk tidak melihatnya jika dia ada disekitarku. Jujur saja, perasaan yang kubawa-bawa tiga tahun padanya tidak mudah hilang begitu saja. Aku sudah terlanjur mencintainya, meski aku berusaha melupakannya dengan selalu mengingatkan diri bahwa dia adalah milik kak Delio sekarang, tapi tetap saja itu tidak bisa membantuku melupakannya secara utuh. "Kenapa dia??" Aku mengikuti pandangan Ailee yang sepertinya tertuju pada gadis kecil itu, seperti ada tatapan tidak senang di matanya. "Apa Ailee mengenal anak itu??" Dirga berusaha menebak dengan mengamati ekspresi Ailee. "Delio.. Kamu sudah sadar nak.." Seruan Ayah membuat perhatianku teralihkan dari Ailee. "Kak Delio sudah sadar.." Tanpa sadar mataku mulai berkaca-kaca melihat kak Delio yang perlahan membuka matanya meski terlihat masih sangat lemah. Belum sampai langkahku mendekat pada kak Delio, Ailee sudah lebih dulu menghambur memeluknya sambil terisak. Ya itu adalah hal wajar yang dilakukan oleh seorang kekasih, yang tidak wajar dari hal ini adalah perasaanku yang entah mengapa terlalu sakit melihat tontonan drama romance yang diadegankan oleh Ailee, wanita yang sampai saat ini tidak bisa kupungkiri bahwa dia masih menjadi penghuni istimewa dalam hatiku. Lucu sekali takdir ini mempermainkan perasaanku, apa aku punya masalah pada dunia sampai dia dengan senangnya memberiku kehidupan yang seperti ini. Ingin rasanya aku mengumpat dan mengutuk saat ini. Hanya saja kesadaranku masih membuatku bertahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN