Guru Dirga

1110 Kata
Eliza yang memerlukan bantuan Dirga akhirnya langsung menuju kamar Dirga setelah panggilan telfonnya tidak mendapat jawaban. Eliza menunggu dikamar. Dirga yang sedari tadinya dipanggilnya tidak memberikan tanda keberadaannya juga. Eliza masih memandangi gambar sketsa manga sembari terus merasakan rasa tidak asing pada gambar yang dilihatnya itu. Namun, meski gambar itu terasa akrab, Eliza tidak ingin mencoba berusaha mengingatnya. Ya, karena dia akan berakhir menjadi tantrum tiap kali memaksa otaknya untuk mengingat sesuatu. Eliza menoleh ketika suara engsel pintu menyentuh gendang telinganya. "UWAAHH..." Teriak Dirga dan membuat Eliza spontan ikut berteriak. "Kamu ini kenapa sih keluar-keluar langsung teriak.." Tegur Eliza sembari memegang dadanya untuk menenangkan jantungnya yang berdetak lebih kuat dari sebelumnya setelah terkejut. "Kamu yang ngapain disitu? Bikin kaget saja.." "Aku kan sudah manggil-manggil dari tadi, masa gak dengar.." "Ya aku memang gak dengar, suara air dari shower juga kamar mandi yang sedikit kedap suara, wajar saja kalau aku gak dengar.." "Lagian kenapa juga mandi jam begini.." Sungut Eliza mengingat waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, sambil kembali menatap kertas yang berisi gambar sketsa wajah manga itu. "Ya terserah aku lah mau mandi jam berapa.." Kata Dirga sembari melangkah. "Wah kamu hebat sekarang" "Apanya?" Tanya Eliza yang tidak melepas pandangannya dari secarik kertas itu. "Sudah gak kaget lagi ngeliat aku gak pake baju.." "Biasa aja bambang.." Eliza seolah tidak peduli dengan Dirga yang bertelanjang d**a dan hanya mengenakan handuk saja. "Aku cuman pakai handuk loh.." Dirga memperjelas, mencoba menggoda Eliza. Kiranya dia bisa membuat Eliza kesal lagi. "Terus?" Tanya Eliza acuh. "Ya gak papa.." Jawab Dirga malas karena tidak mendapat respon yang diinginkan dari Eliza. Ya, Eliza sudah tidak peduli lagi jika melihat Dirga tidak menggunakan baju. Meski tidak sering, namun sudah beberapa kali Eliza memergoki Dirga hanya menggunakan celana atau sekedar menggunakan boxer saja, membuat Eliza tidak lagi terkejut jika tiba-tiba Dirga muncul didepannya tanpa baju seperti barusan. Terlebih dari rasa terbiasa, hal yang membuat Eliza tidak terkejut atau setidaknya merasa malu melihat Dirga yang tidak menggunakan baju adalah, pandangan Eliza terhadap Dirga. Bukan dalam artian dari segi genrenya, namun karena kebersamaan mereka membuat Eliza tidak melihat Dirga sebagai laki-laki pada umumnya yang bisa membuatnya malu. Dirga berjalan menuju lemari pakaiannya, mengeluarkan beberapa baju dari sana. "Jangan balik.." Dirga memberi peringatan bahwa dirinya sedang mengenakan pakaian sekarang. Eliza yang membelakanginya hanya mengiyakan tanpa menoleh dan tanpa peduli. "Ini buatanmu?" Tanya Eliza sembari menunggu Dirga selesai berpakaian. "Apa?" "Ini" Eliza mengangkat kertas yang berisi gambar sketsa wajah manga, tanpa menoleh. Dirga yang tengah berpakaian menyempatkan diri berbalik dan melihat kertas yang dipegangkan Eliza. "Iya, kenapa? Bagus kan?" "Ya lumayan.." Dirga selesai mengenakan bajunya berjalan menghampiri Eliza yang sedari tadi sudah menunggunya. "Bilang saja kalau bagus.." "Ya bagus, aku mengakuinya.." "Tentu saja. Aku yang buat.." Dirga mulai menyombongkan diri. "Aku seperti tidak asing melihat gambar ini.." "Wajar saja.." Tatapan Eliza yang sedari tadi tidak lepas dari sketsa manga itu, beralih menatap Dirga. "Wajar saja? Kenapa?" "Mungkin kamu pernah melihatnya di m*******n atau mungkin di i********:" "Dreamtoon?" "Kamu tidak tahu m*******n??" Dirga sedikit terkejut mengetahui fakta tentang Eliza yang buta akan aplikasi membaca komik digital yang cukup terkenal itu. Eliza hanya menggeleng. "Kurasa, otakmu tergeser bukan hanya menyebabkan amnesia juga. Tapi sedikit kebodohan.." Komentar Dirga yang membuat Eliza menatapnya dengan tatapan kesal. "Itu aplikasi untuk membaca komik digital" Jelas Dirga, sembari meraih ponselnya diatas meja. "Kamu ngebuat komik??" Dirga yang mulai memainkan ponselnya hanya mengangguk. "Wah kerenn.. Judulnya apa??" Eliza terdengar antusias, membuat Dirga mengalihkan perhatian dari ponselnya dan melirik Eliza yang tersenyum lebar memperlihatkan bagaimana dia merasa kagum. "Kamu suka baca komik??" "Kurasa begitu. Aku gak tahu seperti apa aku sebelumnya, tapi aku suka ngebaca beberapa potongan dialog dari foto-foto yang di unggah orang-orang di i********:. Aku mengikuti beberapa akun yang mengunggah gambar-gambar animasi seperti itu. Jadi, mungkin aku yang dulu orangnya suka baca komik" "Download saja dulu aplikasinya, nanti kuberi tahu.." "Ah Ponselku dikamar, aku lupa bawa kesini" Keluh Eliza. "Nanti saja.." "Sampai sekarang masih buat?" Eliza kembali bertanya dengan antusias. Dirga menggeleng. "Kenapa?" Ekspresinya yang sedari tadi sumringah seketika berubah menjadi cemberut setelah mendapat jawaban yang tidak Eliza inginkan dari Dirga. "Ailee tidak suka aku ngebuat hal seperti itu.." Ailee? Terus apa hubungannya? "Terus kenapa?" Tanya Eliza berusaha menebus rasa kebingungannya. "Ya aku tidak mau melakukan hal yang Ailee tidak suka.." "Meski itu hal yang kamu suka?" Dirga mengangguk. "Kenapa begitu??" "Ya karena Ailee itu..." Dirga tersentak, hampir saja Dirga membongkar hubungan masa lalunya dengan Ailee. Eliza menatap Dirga menunggu jawaban Dirga berikutnya. " Ya.. Ya karena Ailee itu temanku.." Dirga mengalihkan pandangannya dari Eliza. Mencoba menghindari kontak mata dari Eliza agar tidak membuat Eliza curiga. "Karena dia temanmu, harusnya dia mendukungmu untuk melakukan hal yang kamu sukai, bukannya malah menghalang-halangi bakatmu. Toh ini bukan hal yang negatif.." Komentar Eliza. Dirga melirik Eliza, pikirannya tidak menolak untuk membenarkan perkataan Eliza. "Jadi.. Menurutmu aku harusnya ngelanjutin komikku itu?" "Ya kalau kamu suka, kalau bisa bagi waktu, kenapa tidak kan.." Dirga berfikir sejenak. Sudah sangat lama Dirga tidak menggambar lagi, entah karena angin apa yang membuatnya malam ini kembali membuat coretan diatas kertas itu. Mendengar perkataan Eliza, membuatnya kembali ingin menekuni hobby-nya. Apa aku bisa ngebuat lagi? Apa dukungan Eliza saat ini cukup untuk menyemangatiku? "Ck.. Kenapa jadi bahas itu sih? Hem, kamu kesini mau ngapain?" Dirga menepis tentang keinginnya dan kembali pada pokok utama penyebab dari Eliza yang sudah menunggunya sedari tadi. "Ohaha, aku sampai lupa sama tujuan awalku.." "Otakmu itu, benar-benar sulit dipercaya kalau yang menggunakannya manusia.." Eliza seperti sudah terbiasa dengan perkataan Dirga yang terus-terusan mengomentari kualitas otaknya, meski ia masih menunjukkan eskpresi tidak senang. Namun, karena ia tidak memungkiri bahwa yang dikatakan Dirga itu benar, sehingga Eliza tidak balas menghujani Dirga dengan kata-kata kekesalannya. "Ya ya, lanjutin aja hujatanmu itu. Aku udah resistensi.." Ujar Eliza tidak peduli sembari. "Ajari aku ini.." Eliza membuka buku yang di bawanya. Dirga menyimpan ponselnya dan mulai mengarahkan perhatiannya pada buku yang diperlihatkan Eliza. Ya seperti itu, sebagaimanapun Dirga mengeluarkan kata-katanya yang nyaris tidak memanusiawi pada Eliza itu, dia akan langsung mengumpulkan fokusnya dan mengajari Eliza apapun yang Eliza tunjukkan. "Ini bukannya sudah dibahas tadi?" Dahinya yang mulus berkerut melihat Eliza yang memprlihatkan soal yang sebelumnya sudah dibahas di kelas hari ini. "Yang tadi kan tunggal.." "Yang data kelompok kan juga sudah.." "Tapi aku gak ngerti.." Ekspresi memelas auto terpajang di wajah Eliza, membuat Dirga harus menjadi guru mode on. Materi Matematika yang sebelumnya sudah dibahas saat disekolah, kembali Eliza pertanyakan lagi pada Dirga. Entah apa yang menyebabkan Eliza menjadi sulit menerima penjelasan yang diberikan oleh Guru tadi sehingga harus meminta Dirga untuk menjelaskannya ulang malam ini. Seperti biasanya, Dirga kembali menjelaskan ulang apa yang sebelumnya sudah guru mereka jelaskan hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN