Entah sejak kapan Dirga mulai terbiasa bercerita pada Eliza, menjadi candu akan jawaban Eliza yang selalu bisa memberinya pencerahan. Sesekali Dirga menatap Eliza diam-diam sembari memenuhi hatinya dengan rasa kagum atas kemampuan Eliza dalam memberinya gambaran dan solusi dari tiap masalah yang dia ceritakan.
Andai saja Eliza ini tidak lupa ingatan, mungkin aku akan tertarik untuk mencari tahu kehidupannya. Tentang bagaimana sikap dia menghadapi teman-temannya, bagaimana dia saat menjalin hubungan dengan pacarnya dan bagaimana dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Karena jelas, menyelesaikan masalah sendiri jauh lebih rumit jika membantu oranglain dalam mencari jalan keluar dari masalahnya.
****
Eliza sangat tertolong dengan kualitas otak Dirga yang masuk kategori cerdas. Eliza yang terbilang pas-pasan dalam pelajaran sering sekali meminta Dirga mengajarinya, bahkan meminta Dirga untuk membantunya dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
Dirga, meski sering kali menggoda Eliza dengan kemampuan belajarnya yang tidak setara dengannya, bahkan sesekali memarahi Eliza yang tidak kunjung mengerti meski dia sudah menjelaskannya berulang kali. Namun tetap saja Dirga berusaha membantu Eliza dalam menyelesaikan tugas-tugas hingga memberi Eliza les khusus tiap kali mereka akan menghadapi ujian di sekolah.
Dirga nyaris tak beda seperti orangtua Eliza ketika ujian berakhir. Dirga akan meminta buku hasil pembelajaran Eliza dan mengomelinya jika ada nilai yang menurutnya itu masih bisa ditingkatkan namun Eliza hanya mendapatkan nilai standar.
...
Seperti biasanya, Eliza akan berjalan secara langsung menghampiri Dirga ke kamarnya jika setelah menelfon Dirga namun tidak terjawab.
"Dirga..." Panggil Eliza sembari mengetuk pintu kamar Dirga.
Tidak ada jawaban dari dalam, membuat Eliza kembali mengetuk pintu kamar Dirga.
"Dirga... Kamu didalam??" Dengan nada sedikit tinggi dari sebelumnya, Eliza mencoba mencari tahu keberadaan Dirga dari dalam.
Masih saja tidak sahutan dari Dirga.
"Ck, anak ini tidur atau bagaimana??" Gerutu Eliza, sembari memutar engsel pintu kamar Dirga.
Eliza melangkah masuk kedalam kamar Dirga yang tidak terkunci. Ya, sudah tidak asing lagi bagi Eliza masuk kedalam kamar Dirga, karena ini bukan pertama kalinya.
Setiap kali Eliza meminta Dirga untuk mengajarinya, Dirga akan meminta Eliza untuk kekamarnya secara langsung. Ada banyak buku di dalam kamar Dirga, menurutnya sangat merepotkan kalau harus memindahkan buku-buku itu kelain tempat hanya untuk belajar yang sebenarnya bisa dia lakukan didalam kamar.
Dirga memastikan, dirinya tidak akan melakukan apapun pada Eliza, dan Eliza pun percaya kalau Dirga tidak akan melakukan hal buruk padanya. Selain itu, CCTV juga akan terus mengawasi mereka, meski CCTV tidak akan menjangkau kamar Dirga secara leluasa. Maka dari itu setiap kali mereka belajar didalam kamar, Dirga tidak menutup pintu kamarnya.
Eliza melemparkan pandangannya kesuluruh sudut kamar Dirga yang terbilang cukup luas. Dirga yang sebelumnya dia perkirakan sedang tidur, ternyata tidak ada berbaring di tempat tidurnya.
Eliza berjalan menuju meja dimana mereka sering belajar bersama dan mengerjakan tugas. Secarik kertas diatas meja itu menarik perhatian Eliza. Eliza duduk sembari memandangi kertas berisi sketsa wajah manga yang sudah dipegangnya.
"Seperti tidak asing.." Gumam Eliza sembari sedikit memiringkan kepalanya mencoba mengingat gambar itu.
Eliza yang sedang lupa ingatan jelas sangat sulit untuk bisa mengingat sesuatu yang dilihatnya meski itu terasa tidak asing. Awalnya, jika Eliza merasakan de javu pada sesuatu hal, dia akan memaksa pikirannya untuk mengingat hal tersebut. Alhasil, kepalanya menjadi sangat sakit, bahkan telinganya terkadang berdengung dan membuatnya menjadi tantrum.
Mengingat setiap kali dia tantrum, Dirga akan kesulitan menghadapinya, membuat Eliza memilih lebih baik tidak memaksa otaknya untuk mengingat daripada harus menyusahkan Dirga lagi. Eliza sendiri juga sudah tidak tahan jika harus menahan sakit di kepalanya dan telinganya yang berdengung membuatnya merasa mual.
Tidak cukup lama Eliza menunggu Dirga dengan masih memandangi sketsa wajah manga dikertas itu. Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Eliza refleks berbalik dan..
"HUAAAAA......."