Pertanyaan Dirga (2)

836 Kata
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, Delio dan Ailee akhirnya tiba di rumah Myesha. Menempuh perjalanan 30 menit dari rumah Dirga ke rumah Ailee terbilang cukup lama, mengingat rumah Dirga dan Ailee tidaklah terlalu jauh. Hanya saja, karena sempat terhalang macet dan beberapa hal, membuat keduanya harus menempuh waktu yang lebih lama dari sebelumnya "Kakak gak turun dulu?" Tawar Ailee. "Gak usah, aku langsung pulang saja.." "Makasih sudah mengantarku pulang kak.." "Oke, kalau begitu aku pamit dulu.." "Hati-hati di jalan kak.." Delio hanya tersenyum dan berlalu setelah menancap gas mobilnya. Senyum Ailee masih terpancar diwajahnya, berbalik melangkahkan kaki memasuki pekarangan rumah yang dibalut cat berwarna abu-abu dengan desain klasik. Namun ketika Ailee baru melangkahkan kakinya beberapa langkah saja ke dalam rumah, suara Ayahnya yang khas sudah menyambutnya. "Dari mana kamu?" Ailee sedikit terkejut, namun dengan cepat menjawab pertanyaan Ayahnya. "Dari jalan sama Delio.." "Dimana?" Ailee terdiam sejenak, apa bisa dia berkata jujur bahwa dia baru saja kembali dari rumah Dirga, sedang dia tahu kalau Ayahnya sangat melarangnya untuk dekat dengan Dirga. "Rumah Dirga.." Jawab Myesha jujur. Ailee mencoba berkata jujur. Ya, dengan harapan Ayahnya tidak akan marahinya secara berlebih mengingat ia kesana bersama Delio. "Ngapain kamu kerumah Dirga. Ayah sudah melarangmu untuk dekat dengan Dirga, Ailee. Jangan lupa akan statusmu sebagai tunangan Delio.." "Aku kesana kan sama Delio Ayah. Bagaimana juga aku bisa menolak kalau Delio mengajakku kesana.." "Lalu apa yang kamu perbuat disana?" Apa? Kenapa Ayah bertanya seperti ini? "Apa? Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya makan siang sama  kak Delio dan Dirga saja.." "Hanya itu?" "I-iya.. Memangnya aku mau ngapain lagi disana.." "Jangan coba membohongi Ayah, Ailee" "Ayah..." "Ayah tahu apa yang kamu lakukan dengan Dirga" "Ayah mengikutiku? Ah tidak, Ayah menguntitku??" "Terserah apa sebutannya. Pokonya Ayah tidak ingin hal yang kamu lakukan itu terulang lagi. Ayah bisa saja langsung mengambil surat pindah untuk kamu.." "Ayah.. Ayah benar menguntitku? Ayah keterlaluan.." "Terserah apa katamu. Ayah peringatkan satu kali lagi. Kalau kamu berulah, Ayah tidak akan berfikir dua kali untuk memindahkanmu waktu itu juga.." Ailee menatap Ayahnya sejenak. Tatapan marah dan kesal penuh di mata Ailee dan dia lemparkan tajam pada Ayahnya. "Ayah jahatt...." Kecam Ailee, berlari menuju kamarnya. Baru saja Ailee merasa senang akan apa yang dia lalui hari ini bersama Dirga, namun sejenak perasaan itu hancur setelah teguran Ayahnya mendarat dengan rasa sakit di ulu hatinya.     ***** Waktu terus berlalu. Ailee yang semakin hari semakin kesal pada Ayahnya yang terus-terusan mengawasi gerak geriknya, namun tetap melanjutkan rencana yang sudah di susunnya. Delio yang masih setia mengambil peran dalam membantu Ailee, meski sesekali ia sedikit kebingungan, apakah terus-terusan ikut dalam alur rencana Ailee dan menyembunyikan kebenarannya pada Dirga, ataukah mengungkapkan semuanya pada Dirga agar Dirga bisa menentukan pilihannya. Melanjutkan perasaannya dengan membantu Ailee menentang Ayahnya atau mundur dan membuat Ailee menjadi putri yang penurut. Dibalik perasaan yang kalut dari Ailee dan kebimbangan yang menyelimuti perasaan Delio, Eliza dan Dirga tetap asyik menikmati keseharian mereka. Keributan yang sering terjadi diantara keduanya semakin sering, namun keributan yang semakin sering itu juga yang membuat keduanya semakin akrab hingga tidak lagi ada kecanggungan diantara keduanya. Meski perasaan Dirga masih begitu menyukai Ailee, namun berkat saran Eliza, Dirga menjadi lebih santai dalam menangani perasaannya. Dirga yang awalnya terlalu monoton dalam mengarahkan perasaannya, sekarang lebih bisa membawa perasaannya mengikuti alur yang ada. Ya, Dirga memilih untuk menyadarkan diri, mempertahankan secara kuat perasaannya pada Ailee adalah kesalahan. Dirga tidak menolak atau memaksa perasaannya untuk cepat membuang Ailee dalam hatinya. Dirga hanya mencoba mengikhlaskan tanpa terburu-buru untuk melupakan. Bagi Dirga saat ini, Ailee adalah wanita yang dia cintai tanpa berharap untuk dia miliki. Sesekali Dirga berfikir untuk menghadirkan perempuan lain dalam hidupnya, sekiranya itu bisa membantunya untuk meredam rasa cintanya pada Ailee dengan cepat. Namun lagi-lagi Eliza menyadarkannya. "Kamu mau nyari cewek buat ngelupain cewek yang kamu suka itu?" Tanya Eliza saat Dirga kembali mencoba bertukar pikiran dan meminta pendapat Eliza. "Iya.. Aku rasa, aku bakal lebih cepat ngelupain perempuan itu kalau ada perempuan lain yang dekat sama aku.." Jawab Dirga, yang sudah jujur pada Ailee sebelumnya bahwa laki-laki yang dia maksud itu adalah dirinya. Meski Dirga masih menyembunyikan bahwa wanita yang disukainya itu adalah Ailee. "Jahat.. Bayangkan bagaimana perasaan perempuan itu kalau semisal dia tahu, kamu ngedekati dia cuman untuk ngelupain mantan pacarmu" Dirga terdiam sejenak. "Iya, kehadiran orang baru akan membuat kita bisa lebih mudah penepis perasaan kita pada orang yang sebelumnya. Tapi itu bukan satu-satunya cara, dan itu bukan cara yang bisa dipastikan berhasil" "Maksudmu?" "Coba pikir, bagaimana kalau semisal perempuan itu benar tulus menyukaimu nantinya, tapi perempuan itu tidak bisa membuatmu lupa sama mantanmu. Kamu akan berada di posisi yang sulit saat itu, tidak bisa melepas perempuan itu karena takut menyakitinya, dan tetap bersama perempuan itu dengan menyakiti perasaanmu sendiri karena tetap tinggal pada perempuan yang tidak kamu sukai. Atau kamu mau menjadi orang egois yang tetap memilih meninggalkan perempuan itu setelah berhasil membuatnya jatuh cinta, hanya untuk melindungi perasaanmu sendiri" Jawaban Eliza selalu berhasil masuk dalam pikiran Dirga, selalu tepat dan selalu bisa membuat Dirga berfikir lebih jernih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN