Dirga dan Ailee yang sudah terdiam tanpa kata-kata membuat Delio dan Eliza kesulitan dalam mencairkan suasana.
Sebelumnya anak ini begitu ribut jika bertemu, tapi sekarang?? Aku sampai bingung harus berbuat apa untuk memecah keheningan diantara mereka. Delio menatap Elizaa, dan Eliza hanya ikut terdiam tanpa tahu harus berbuat apa.
"Emm Eliza, tanganmu kenapa??"
Pertanyaan Delio memecah keheningan yang bercampur dengan ketegangan diantara Ailee dan Dirga.
"Ah itu.. Tadi aku.."
"Dia ceroboh.." Dirga memotong perkataan Eliza dan mengambil alih menjawab pertanyaan Delio yang diarahkan pada Eliza.
Tatapan mata Ailee kembali mengarah pada Dirga, pandangan mereka beradu sejenak dengan perasaan yang hanya keduanya yang mengerti.
Kenapa? Apa kau cemburu? Itu baru sekarang kamu rasakan. Sedang aku?? Aku sudah merasakannya dari berbulan-bulan yang lalu saat pilihanmu bukan padaku. Tersiksa bukan?? Seperti itu juga yang aku rasakan. Aku ingin kamu merasakan bagaimana sakitnya menahan kobaran kecemburuan yang sulit dipadamkan. Namun, cinta bodohku yang terus mengalir padamu membuatku tidak tahan melihatmu cemburu dan tersakiti. Aku bodoh..
Dirga mengalihkan pandangannya dari Ailee. Dia sadar, Ailee sedang terbakar oleh perasaannya sendri, dan itulah hal yang dia inginkan. Dirga ingin memberi Ailee perasaan yang sama dengan apa yang dia rasakan. Namun, selayaknya orang yang mencintai, Dirga begitu tidak tahan melihat Ailee yang harus merasakan sesak karena cemburu.
Anak ini, benar-benar sengaja ingin membuat Ailee cemburu. Delio melirik Dirga yang sudah memperlihatkan ekspresinya yang tidak karuan.
"Ceroboh kenapa?" Delio masih berusaha memecah ketegangan diantara keduanya.
"He he he, aku keciprat minyak panas kak.." Jawab Eliza.
"Astaga kenapa bisa?"
"Telur yang aku pegang gak sengaja terlepas, tercebur dalam minyak jadi minyaknya terpecik dan mengenaiku.."
"Lain kali hati-hati.."
"He he iya kak..."
Eliza dan Delio saling melempar senyuman, keduanya berusaha keras mencairkan suasana yang entah mengapa masih saja terasa begitu tegang.
"Emhh Ailee, kamu tidak buru-buru pulang kan?"
Ailee berbalik menatap Delio, tesenyum lalu menjawab pertanyaan Delio dengan menggeleng pelan.
"Ini sudah hampir siang, bagaimana kalau kita makan siang bersama saja disini??" Saran Delio, sekiranya itu bisa melepas ketegangan diantara adik dan tunangannya itu.
"Aku sama Eliza baru selesai makan.." Timpal Dirga
"Tadi kan hanya sarapan, setidaknya aku bisa tinggal lebih lama disini sampai jam makan siang. Bagaimana menurutmu Eliza?" Delio melempar senyumannya pada Eliza, seolah memberi isyarat untuk meneruskan usaha Delio dalam melepas kesenjangan percakapan antara Dirga dan Ailee.
"Ah iya, aku setuju. Aku juga belum pernah makan bareng sama kak Delio.." Isyarat yang diberikan Delio tersampaikan dengan baik pada Eliza. Eliza mulai ikut dalam alur yang Delio ciptakan untuk menuntaskan keadaan yang memburuk ini.
"Bagaimana menurutmu Ailee?"
"Aku ikut dengan kakak saja.." Senyum manis Ailee mengiringi jawabannya.
"Aku gak punya bahan makanan sekarang.." Dirga mengatakan sesuai fakta meski ada maksud terselubung dari perkataannya. Mungkin lebih baik jika kak Delio pulang saja sekarang sambil membawa tunangannya ini.
"Kalau begitu kita belanja dulu, sekalian kan untuk menyiapkan bahan makanan kalian untuk beberapa hari kedepan.."
"Tapi.." Belum selesai Dirga meneruskan kalimatnya, Eliza sudah memburu dengan kata-katanya.
"Ah iya.." Pandangan Dirga dengan cepat terarahkan pada Eliza yang memotong perkataannya. Eliza sadar, tatapan tajam itu mengarah padanya, meski detak jantungnya mulai tidak teratur, Eliza tetap berusaha melanjutkan kalimatnya.
"Aku setuju kak, kaki Dirga juga sedang sakit jadi mungkin kami gak bisa belanja untuk dekat-dekat ini" Eliza tidak berani menatap Dirga. Walau sudah sering menjadi bulan-bulanan kekesalan Dirga, namun Eliza masih saja tidak bisa menganggap biasa tiap kali Dirga marah.
"Kalau gitu biar aku yang belanja. Eliza, kamu bisa temani aku belanja kan?" Ajak Delio.
"Kenapa Eliza?" Tanya Dirga dengan cepat. "Ada yang lain kan??"
'Yang lain'? Anak ini apa tidak berfikir saat mengatakan itu? Apa yang ada dipikiran Ailee saat mendengar Dirga berkata begitu. Delio melirik Ailee, jelas sekali bagaimana Delio melihat ekspresi Ailee yang terkejut.
"Eliza pasti tahu makanan seperti apa yang kamu suka kan, belanjanya bisa lebih mudah.." Delio dengan alasannya, berusaha membawa Eliza bersamanya agar Ailee bisa tinggal bersama Dirga dan menyelesaikan apa yang sedang bergemuruh dihati mereka masing-masing.
"Ailee kenal aku sedari kecil, harusnya dia lebih tahu.."
"Aku udah lama gak main sama kamu. Mungkin saja seleramu sudah berubah dan aku tidak tahu" Jawab Ailee dengan tatapannya yang tidak lepas dari Dirga.
Apa segitu tidak tahannya untuk tinggal berdua saja bersamaku sekarang? Dirga, hal yang kamu lakukan ini melukaiku. Bisakah kamu membiarkanku melihatmu tanpa dia? Ailee melirik Eliza sejenak kemudian kembali menatap Dirga.
Dirga berbalik menatap Ailee, lagi-lagi batin mereka berseteru meski tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya.
"Yaudah, aku siap-siap dulu kalau gitu.."
Eliza bergegas menuju kamarnya, meninggalkan mereka bertiga yang menyimpan teka tekinya sendiri.
"Apa kalian mau diam-diaman terus seperti ini??" Tanya Delio setelah Eliza berlalu.
Dirga masih terdiam.
"Aku harus ngomong apa kak? Aku juga gak punya sesuatu yang harus dibahas" Ailee tersenyum simpul.
"Aku tahu, kalian.."
"Kakak gak tahu.." Potong Dirga. "Kakak hanya mengira-ngira dan perkiraan kakak itu salah" Dirga menatap Delio sejenak. "Aku dan Ailee memang tidak memiliki sesuatu untuk dibahas"
"Ya terserah kata kalian. Aku yakin, kalian sudah cukup dewasa untuk menyelesaikannya.."
"Menyelesaikan apa? Aku tidak punya sesuatu yang harus aku selesaikan dengan Ailee. Apa ada sesuatu terjadi sama aku dengan..." Dirga terdiam sejenak, beralih memandang Ailee dan "Dengan kakak ipar" Lanjutnya.
Delio tersenyum, mendekat dan mengusap kepala Dirga.
"Adikku kapan dewasanya sih? Kamu mau sampai kapan kekanak-kanakkan begini hem??"
"Maksud kakak apa sih? Memangnya apa yang harus aku bahas sama tunangan kakak??" Dirga dengan nadanya yang mulai kesal.
"Ya aku juga gak tahu" Jawab Delio sembari mengangkat kedua bahunya. "Ya pokoknya selesaikan masalah kalian.."
"Kak, aku.."
"Oh Eliza sudah siap??" Potong Delio. Eliza yang berjalan menghampiri mereka selepas berganti pakaian, memberikan Delio alasan untuk mengalihkan pembicaraannya dengan Dirga.
"Iya kak.."
"Yasudah, ayo berangkat. Dirga, Ailee, aku berangkat dulu. Kalian bahas apapun sesuka kalian dan selesaikan apa yang harus diselesaikan.." Kata Delio tersenyum sembari beranjak disusul Eliza dibelakangnya.
Perkataan Delio yang mengandung maksud tertentu itu membuat Eliza kebingungan. Ada apa sih diantara mereka ini. Omongan kak Delio barusan kayak kode-kodean begitu. Ck, terserahlah, itu urusan mereka..