Eliza Flashback (2)

1441 Kata
Malam semakin larut, namun mataku masih saja enggan terpejam. Entahlah, mungkin dia tengah terganggu akan pikiranku yang masih saja belum bisa tenang sampai sekarang. Bayangan tentang aku yang bersandar dan tertidur pulas di pundak Dirga benar-benar membuatku kepikiran. Meski pikiranku berkecamuk mengingat kejadian tadi, tapi tidak bisa ku pungkiri bahwa aku merasa senang. Ada bahagia tersendiri yang aku rasakan bisa menjadi lebih dekat satu langkah lagi dengan Dirga, walau mungkin Dirga tidak berpikiran yang sama denganku. Rasa bahagia yang sempat terlintas, aku tarik kembali setelah kesadaranku menghampiri. “Gak, aku gak boleh seperti ini. Aku harus kontrol perasaanku” Kataku pada diri sendiri sembari menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. “Dirga menyukai perempuan lain, dia sangat menyukainya. Aku akan terluka kalau terus-terusan bertahan dengan perasaan seperti ini. Lagian siapa aku? Yang lancang menyukai Dirga. Keluarga mereka sudah begitu baik sama aku, aku tidak boleh berharap yang lainnya”. Aku mencoba berdamai dengan perasaan dan pikiranku. Ya, bukan hal mudah menepis perasaan, tapi hanya hal itu yang bisa aku lakukan saat ini. ****** Waktu menunjukkan kurang 20 menit lagi jam tujuh. Aku bergegas sebisaku agar tidak terlambat. Aku yang biasa berjalan menuju kamar Dirga untuk membangunkannya, sekarang tidak lagi sempat. “Dia pasti sudah bangun, toh ini sudah siang” Pikirku. Susah tidur yang kualami semalam, berakibat di pagiku hari ini. Aku terlambat bangun, sehingga harus bergegas lebih cepat. Rasa nyeri yang mulai kurasakan di pinggang dan perut bagian bawah membuatku tersadar, bahwa sebentar lagi aku akan datang bulan. Aku harus bersiap meski hari ini belum jadwalnya. Kamarku begitu berantakan, tempat tidur yang belum aku rapikan hingga buku-buku yang belum disiapkan. Aku yang tengah berusaha merapikan secepatnya harus berbalik dan mengarahkan pandanganku pada pintu yang di ketuk dari luar. “Ck, Dirga kenapa lagi sih” Gerutuku yang sudah tahu kalau yang mengetuk pintu adalah Dirga. Aku mendapati Dirga yang setengah mengomel dari balik pintu karena tidak aku bangunkan. Rupanya dia juga terlambat bangun, dan aku tidak habis pikir, dia yang terlambat bangun itu kenapa pakai acara keramas sehingga ribut-ribut di depan kamarku untuk meminjam hairdrayer. Untuk pertama kalinya, aku tidak membuka kamarku untuk Dirga. Bukan karena apa, tapi karena kamarku berserakan dan lagi sesuatu yang seharusnya tidak dilihat oleh anak laki-laki sedang tergeletak diatas tempat tidurku. Ya, tidak heran dia begitu penasaran dan berpikiran bahwa aku menyembunyikan sesuatu dalam kamar. Dan alhasil, aku harus menahan malu untuk mengatakan yang sebenarnya agar Dirga tidak lagi penasaran. ***** Sudah menjadi hukum alam, bahwa waktu akan terus bergulir. Tidak akan ada yang bisa menghentikannya, apalagi memintanya untuk kembali ke masa lalu. Dua hari yang lalu, perasaan yang sulit ku pahami pada Dirga kembali mencuak ke permukaan akibat kejadian yang sama sekali tidak aku sangka-sangka terjadi. Bagaimana bisa aku tertidur nyenyak di pundak Dirga? Apa senyaman itu tidur di pundaknya? Aku sempat uring-uringan dengan usaha keras untuk kembali menormalkan perasaanku, dan itu bukan menjadi hal yang sia-sia. Ya, dua hari memang terbilang singkat jika harus mengubah perasaan secara normal, namun karena saat ini tamuku sedang datang, sehingga hormonku yang saat ini tidak stabil membuatku acuh akan perasaanku dan lebih fokus pada sakit perut yang aku rasakan. Aku sedang datang bulan sekarang, dan dismenore tengah menyerangku saat ini. Entah berapa kali aku pulang balik dari kamar mandi karena perasaan tak enak yang sedang menyerangku. Rasa mual dan keram perut membuatku semakin kesulitan. Aku keluar dari dalam kamar mandi setelah perasaanku menjadi sedikit baik. Rasanya aku mendengar notif masuk pada ponselku, membuatku mengarahkan pandangan mencari letak ponselku sekarang. “Ponselku kemana?” Gumamku. Meski daya ingat tidak bisa dikategorikan sebagai daya ingat yang kuat, tapi aku masih bisa memastikan bahwa aku meletakkan ponselku diatas meja yang terletak disamping tempat tidur. Tapi, saat aku mencari disana, ponselku sudah tidak ada di tempatnya. Aku berputar arah dan melihat ke arah meja rias. Beberapa barang berantakan disana, aku yang sedari tadi dismenore, sehingga tidak bisa merapikan. Aku berjalan menuju meja riasku, kiranya ponselku ada disana bercampur dengan barang-barang yang tergeletak diatas meja. Namun karena ketidak sabaranku mencari ponsel, aku akhirnya menjatuhkan salah satu tuspenku. Dengan rasa malas, aku kembali berjalan menuju tempat tidurku, dimana tuspen itu jatuh dan menggelinding masuk kebawah ranjang, dan... “Huwaaa.....” Aku melihat sesuatu dibawah ranjangku, sontak aku mundur dan terjatuh seketika keseimbanganku hilang. Aku mendapati Dirga tengah terngkurap dibawah tempat tidurku, entah apa yang dia lakukan dan sejak kapan dia disana. “Kamu ngapain disini?” Terlihat jelas ekspresi panik di wajah Dirga. “Sejak kapan kamu disitu?” Tanyaku kembali bahkan sebelum Dirga menjawab pertanyaanku yang pertama. Beberapa jawaban aneh Dirga lontarkan sebagai alasan mengapa ia berada dibawah tempat tidurku sekarang. Aku tahu, itu bukan hal yang sebenarnya, namun nyeri di perutku tidak lagi bisa membuatku berpikir baik dan mencari tahu kebenaran mengenai Dirga yang kini berada dalam kamarku. “Aduhh..” Keram perutku mulai lagi. Rasa sakitnya membuatku tidak tahan untuk mengeluh. Dirga begitu khawatir melihatku yang sangat kesakitan. Dia mulai menyerbuku dengan pertanyaan, beberapa dari pertanyaannya bahkan ia jawab sendiri. Dirga bahkan sedikit memaksa untuk membawaku ke Rumah sakit. Jujur saja, aku malu mengaku pada Dirga perihal sakit yang kurasakan akibat datang bulan. Karena menurutku, hal seperti ini hanya dibahas oleh sesama perempuan. “Kamu datang bulan?” Tanya Dirga dengan eskpresinya yang begitu khawatir. Ck, aku begitu malu mengatakannya, tapi kenapa anak ini begitu peka sama hal-hal seperti ini. Tidak alasan bagiku untuk tidak mengaku. Dirga berbicara sebegitu santainya, sedang aku sedang menahan malu. Dirga yang tahu keadaanku begitu cekatan dan berusaha membantu sebisanya, dia bahkan bersedia membeli sesuatu yang hanya digunakan oleh wanita. Perhatiannya itu, kembali membuatku luluh. ***** Aku masih berjuang menahan diri untuk tidak kembali terbawa perasaan oleh sikap Dirga. “Ya, dia memperhatikanku hanya karena dia menganggapku sebagai keluarga, bukan karena melihatku sebagai perempuan” Gumamku menguatkan diri sembari menunggu Dirga kembali dari dapur. Dirga sudah kembali dari membeli beberapa yang kubutuhkan untuk meredahkan keram perutku, dan sekarang aku tengah menunggunya di depan Tv. Kami memiliki tugas mengerjakan esai hasil dari menonton sebuah film, dan aku berinisiatif untuk mengajak Dirga menonton bersama. Selain karena Dirga yang terbilang pintar dan pastinya bisa membimbingku, juga karena aku yang tidak ingin melepas Dirga yang tengah memperhatikanku saat ini. Film yang kami setujui bersama sedang memenuhi layar berukuran 43 inch itu. perlahan aku mulai menikmati alur dan cerita dalam film, hingga tiba pada adegan yang menampilkan dimana main male dan female dalam film tengah mengalami kecelakaan. Awalnya aku menontonnya biasa saja, namun sejenak terlintas dipikiranku mengenai apa yang terjadi padaku beberapa bulan yang lalu. Benar aku tidak ingat mengenai kecelakaan yang menimpaku sampai membawa ingatanku pergi, tapi dengan melihat film yang ditayangkan di layar, membuatku bisa membayangkan seperti apa aku waktu itu. Aku mulai terisak, dan itu membuat perhatian Dirga yang sedari tadi hanya terfokus pada layar, berbalik dan menatapku. “Hey... kamu kenapa??” Aku mengutarakan semua rasa sakit dari apa yang aku bayangkan setelah melihat film itu dan itu membuat tangisku menjadi pecah. Bukan hanya rasa sakitku saja, tapi juga kekhawatiran akan Dirga dan keluarganya yang bisa meninggalkanku kapan saja. Aku hanya orang luar di keluarga mereka, dan bukannya tidak mungkin mereka akan pergi. Aku hanya orang asing, yang bahkan diri sendiripun tidak aku kenali. “A-aku takut Dirga.. aku takut. Bagaimana kalau suatu hari nanti kalian ninggalin aku saat tahu siapa aku sebenarnya. Aku tidak tahu asal usulku Dirga, aku tidak tahu seperti apa aku sebelumnya, aku tidak tahu diriku ini siapa dan bagaimana aku sebenarnya” Aku tidak tahu, kenapa aku begitu terbawa perasaan saat ini. Emosiku memuncak dan perasaan bergejolak tak karuan. Pikiranku terus membawaku dalam perasaan takut akan ditinggalkan. Tangisku bahkan pecah yang semakin membuatku tidak bisa mengontrol perasaanku. Dirga mencoba menenangkan dengan menarikku dalam pelukannya. Aku tidak tahu, meski pikiranku berkecamuk dan perasaanku bergejolak, tapi aku tetiba bisa merasa lebih baik ketika berada dalam pelukan Dirga. Detak jantungnya yang terdengar samar ditelingaku, seperti irama yang menghipnotis agar aku bisa tenang. Setelah menerima kata-kata penenang dan hangatnya pelukan Dirga, perasaan mulai terkontrol dan aku mulai bisa tenang. Sejenak aku menatap Dirga, dia begitu terlihat khawatir. Aku tidak tahu sihir apa, namun rasa nyaman yang Dirga berikan padaku malam ini, membuatku memtusukan untuk tidak lagi menahan perasaanku. Aku akan membiarkannya mengalir, sebagaimana seharusnya. Aku tidak akan memaksa atau berharap mendapat balasan dari Dirga, tapi aku akan tetap membiarkan perasaanku bertumbuh sebagaimana yang seharusnya. Samar-samar hatiku berbisik dengan kelegaan. Ya, bukan hal yang salah aku mencintainya. Yang salah itu jika aku memaksanya merasakan perasaan yang sama. Aku akan terus seperti ini, bersembunyi dibalik topengku dan berpura-pura biasa saja terhadapmu. Aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman akan perasaanku. Biarkan rasa cintaku padamu, menjadi rahasiaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN