Beberapa bulan yang lalu.
POV Eliza.
Tidak terasa, sudah hampir satu tahun aku tinggal bersama Dirga. Aku yang sebelumnya begitu risih tinggal bersama laki-laki yang tidak kukenali, tanpa sadar mulai terbiasa sekarang. Aku tidak pernah menyangka, bahwa waktu mampu mengikis dinding yang terbangun diantara aku dan Dirga. Aku juga tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya, bisa menjadi nyaman tinggal satu atap dengan anak laki-laki yang sebelumnya ku beri cap ‘menyebalkan’.
Seiring berjalannya waktu, kami menjadi saling mengenal satu sama lain dan saling mengerti satu sama lain. Aku nyaris hapal semua hal tentangnya, dan mungkin juga Dirga seperti itu. terlebih lagi Dirga yang mulai terbuka dan bercerita tentang dirinya. Akupun ingin seperti itu, bercerita tentang diriku pada Dirga dan percaya bahwa Dirga bisa menjaga rahasiaku. Tapi, ingatanku yang hilang membuatku tidak bisa bercerita hal-hal yang berbau rahasia pada Dirga.
Awalnya aku terkejut ketika Dirga mulai membuka obrolan yang menurutku itu termasuk bagian dari privasinya. Aku tidak pernah menyangka, dia akan berbagi rahasia padaku dan mempercayakan indra pendengarku untuk menerima keluh kesahnya. Ya, kami yang tinggal bersama ini, jelas membuat Dirga tidak lagi melihatku sebagai oranglain sehingga ia bisa mempercayakan hal-hal privasinya padaku dengan bercerita.
Aku senang mendengar ceritanya, dan aku juga senang memberinya saran. Tapi, aku tidak tahu sejak kapan, ada perasaan yang lain muncul dihatiku. Entah hanya karena merasa iri pada perempuan yang dicintai Dirga, ataukah.... Ah, ini tidak mungkin perasaan cemburu kan??.
Aku selalu meyakinkan diriku, bahwa ini hanyalah perasaan iri. Iri pada wanita yang begitu dicintai Dirga, iri pada wanita beruntung yang bisa membuat Dirga mencintainya sebegitu dalam meskipun dia sudah memiliki oranglain disisinya. Aku pasti hanya ingin mendapatkan cinta dan dicintai sebegitu dalamnya, sehingga aku terkadang merasa uring-uringan ketika Dirga kembali bercerita dan meminta pendapatku.
Tidak mudah bagiku untuk merespon cerita Dirga dengan eskpresi biasa saja sedang hatiku perlahan mulai bergejolak. Juga sangat tidak mudah bagiku karena aku dituntut harus memberi Dirga saran atas apa yang dia tanyakan padaku. Sesekali aku menyesal karena awalnya memberi Dirga saran hingga ia merasa yakin dengan saran yang kuberikan. Aku terlalu senang waktu itu, aku senang karena pada akhirnya Dirga lebih terbuka dan mau berbagi cerita padaku.
Sesekali aku berniat memberinya saran agar segera melupakan perempuan itu dan membuka hati pada perempuan lain. Namun kesadaranku masih bertahan untuk membuatku menjadi perempuan yang baik dan memberi saran tanpa melibatkan perasaan pribadiku. Aku semakin jelas merasakan, bahwa aku mulai tidak senang Dirga bercerita tentang perempuan lain. Apakah ini karena aku memiliki perasaan pada Dirga? Rasanya aku mulai gila.
Aku pernah menepis pikiran seperti itu. Sebelum aku memiliki perasaan yang aneh pada Dirga, aku tidak merasakan apa-apa sama sekali, bahkan ketika melihat Dirga berlarian dengan cepat menghampiriku saat minyak panas mengenai tanganku. Kalau benar aku menyukai Dirga, jelas momen itu aku merasa terharu atau apapun sejenisnya. Tapi faktanya, aku hanya melihat aneh tindakan impulsif Dirga waktu itu dan menganggapnya berlebihan. Namun kejadian itu hanya sekedar kejadian saat itu saja, fakta yang ada sekarang adalah aku yang benar-benar mulai merasakan sesuatu terhadap Dirga.
‘Tidak seperti itu dan tidak boleh seperti itu’, aku meyakinkan diriku bahwa aku tidak boleh memiliki perasaan pada Dirga. Dia memiliki perempuan yang dicintainya. Dan lagi, apa yang akan di pikirkan Dirga kalau dia tahu tentang perasaanku. “Dasar tidak tahu diuntung” Mungkin kalimat senada dengan itu yang akan keluar dari mulut Dirga.
Aku kembali meyakinkan diriku dan mengontrol perasaan yang aku sendiri belum mengerti jenisnya. Hingga ada waktu, aku yang tanpa sengaja tertidur di kamarnya. Saat aku terbangun, rasanya itu bukan hal yang luar biasa sampai mengharuskan aku berdebar-debar. Toh aku hanya ketiduran karena kelelahan belajar. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa rasa nyaman yang kurasakan saat tertidur, adalah karena Dirga yang menjadi sandaranku.
Aku masih mengingat dengan jelas waktu itu.
*****
Aku sangat tahu bahwa matematika itu sangat membosankan, jadi bukan hal yang mengejutkan ketika aku tertidur di sela-sela waktu belajar matematika. Bukan hanya di rumah, di sekolah pun aku sangat mengantuk ketika guru sedang menjelaskan deretan angka-angka, hanya saja aku menahan rasa ngantuk sebisaku saat di sekolah. Dan jelas lain ceritanya ketika di rumah.
Tik tik tik..
Detak jam yang tergantung cantik di dinding kamar Dirga, samar-samar menyentuh indra pendengaranku saat aku tersadar dari tidurku. Perlahan aku membuka mata dan menyadari, bahwa aku baru saja tertidur di kamar Dirga. Aku mengangkat kepalaku dan spontan menegakkan dudukku saat mendapati Dirga yang duduk disampingku dengan aku yang baru saja bersandar padanya.
“Sudah bangun?” Tanyanya dengan mengalihkan pandangannya dariku. Apa dia membuang muka barusan?”
Pertanyaannya tidak lebih penting dari rasa penasaranku yang menyadari dia duduk tepat disampingku. “Kamu kok disini?” Tanyaku sembari menatap tempat posisi duduk Dirga sebelumnya. Aku masih mengingat jelas, bahwa dia duduk didepanku saat menerangkan pelajaran Matematika.
Bukannya menjawab pertanyaanku, Dirga malah melemparkan pandangannya yang seolah tengah kesal terhadapku, dan itu membuatku bingung.
“Apa?” Tanyaku yang tidak mengerti dengan maksud dari tatapan kesal Dirga itu.
Dirga mulai melontarkan kata-kata menyebalkan sebagai jawaban dari pertanyaanku. Harusnya aku sudah terbiasa mendapat kata-kata menyebalkan dan sedikit kasar dari Dirga, tapi tetap saja itu membuatku kesal.
“Aku baru saja bangun dan sudah disambut sama ocehan manusia satu ini” Gerutuku dalam hati dengan kesal.
“Sana cuci mukamu, ilermu bertebaran membentuk pulau di pipimu”
Aku spontan menyentuh pipiku. Jelas ini akan menjadi hal memalukan jika benar aku yang hanya tidur sebentar tapi sudah ileran.
Seiring dengan tegurannya, Dirga beranjak.
“Mau kemana?”
“Meregangkan badan. Badanku kaku semua karena jadi sandaranmu” Katanya dengan ketus sembari berjalan keluar kamar meninggalkanku sendiri.
Aku beranjak dari duduk, menghampiri kamar mandi yang terletak dikamar Dirga. Sedikit membasuh wajahku, sekiranya kantukku hilang secara keseluruhan, juga menghilangkan bekas iler yang kata Dirga sudah membentuk pulau dipipiku, meski aku tidak yakin.
Aku kembali ke meja dimana aku belajar sebelumnya. Buku-buku pelajaran yang tadi digunakan masih berserakan diatas meja. Aku mulai mengambil satu persatu buku dan merapikannya, tapi kemudian aktifitas tanganku yang merapikan buku seketika berhenti saat sesuatu terlintas di pikiranku.
“Tunggu-tunggu.. Apa kata Dirga tadi? Badannya kaku karena menjadi sandaranku? I-itu berarti???” Kornea mataku melebar secara otomatis. “A-aku tidur di pundak Dirga??”
Aku terdiam sejenak, masih mencoba mencerna kejadian yang baru saja aku alami. Perlahan pipiku mulai memerah, suhu tubuhku serasa meningkatkan dan hanya terfokus di wajahku saja.
“A-aku.. Aku tidur di pundak Dirga??” Aku kembali mengulang pertanyaan tanpa jawaban itu sembari menutup wajah dengan kedua tanganku.
Malu, namun tidak kupungkiri bahwa ada perasaan senang yang turut bercampur. Hal ini telah membuat runtuh pertaElizanku untuk membuat perasaanku biasa saja saat bersama Dirga. Rasanya aku ingin meledak, atau setidaknya menyimpan wajah di kantong plastik lalu membuangnya jauh-jauh.
Niat beres-beres buku menjadi tertunda akibat aku yang terlanjur kepikiran dengan kejadian yang baru saja aku alami. Hingga aku tersadar saat suara langkah kaki Dirga menyentuh indra pendengaranku. Aku dengan cepat kembali fokus membereskan buku dan berusaha terlihat biasa saja. “Semoga Dirga gak fokus ke mukaku. Aku tahu, mukaku masih memerah sekarang”
Aku merasakan Dirga yang sudah berdiri di depan pintu kamar. “Ck, kenapa gak tahan buat gak noleh sih” Gerutuku kesal pada diri sendiri.
Dirga mulai berjalan masuk dalam kamarnya. Beberapa godaan dia lontarkan, hal umum yang Dirga lakukan untuk membuatku kesal. Tapi aku dengan perasaanku yang berkecamuk seperti ini, tidak lagi bisa menggubris godaan Dirga dan hanya fokus membereskan buku-buku yang berserakan diatas meja.
Aku ingin cepat lari dari kamar ini dan menenangkan perasaanku.