Kalau saja aku punya satu hari..
Aku ingin mabuk dalam aroma manismu yang membuatku tertidur..
Jika ku punya waktu ditengah jadwal padatku, aku ingin membenamkan diri dalam hangat matamu..
Aku suka rambut lurus panjangmu, yang ketika kau mengikatnya sebagian jatuh kebawah lehermu..
Kemanapun kita pergi, pinggangmu akan menjadi tasku..
Kau sayangku, aku sesak nafas tiap kali kulihat dirimu..
Seperti berada di jalan yang padat, BGM kita hanya helaan nafas..
Ketika kau panggil namaku, aku terpesona oleh suaramu..
Aku terkunci dalam hatimu, dan berenang dalam lautan cintamu..
Aku ingin tahu lebih banyak, seperti penjelajah yang menjelajahi misterimu yang sedalam lautan..
Kau seperti sebuah karya yang ingin ku renungkan..
Karena kehadiranmu sendiri adalah sebuah seni..
Ini adalah apa yang kubayangkan tiap malam..
Tak apa kan? Lagi pula ini mimpi yang tak masuk akal.
Hanya satu hari saja, jika aku bisa bersamamu..
Hanya satu hari saja, jika aku bisa mengenggam tanganmu..
Hanya satu hari saja....
Just One Day - BTS
***
"Dirga.." Panggil Eliza sembari berlari kecil menghampiri Dirga yang berjalan memasuki pekarangan rumah.
Dirga tersenyum melihat Eliza yang menghampirinya, rasanya begitu menyenangkan mengingat ada seseorang yang sedang menunggu kepulangannya, terlebih lagi itu adalah Eliza.
Benar apa yang dikatakan Delio, dilihat dari bagaimana Eliza yang sudah berdiri di depan pintu dan berlari menghampiri Dirga, jelas sekali dia sedang menunggu kepulangan Dirga.
"Kamu dari mana saja? Kenapa jam begini baru pulang?"
Dirga tersenyum. Melihat Eliza yang menunggunya, membuat hatinya dipenuhi dengan perasaan bahagia.
"Kenapa? kamu nungguin aku?"
"Iyalah.. Gak biasanya kamu pulang larut seperti ini, kamu juga gak ngehubungi aku.."
"Kenapa nungguin aku, kenapa gak tidur saja?"
"Ya karena aku khawatir.."
Seperti sebuah angin lembut yang menyapa hatinya dengan hangat. Cinta yang sudah ada sebelumnya itu semakin subur setelah Eliza memupuknya dengan semangkuk perhatian.
Dirga tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya, senyumannya terus menghias di bibirnya.
"Ya sudah.. Ayo masuk.."
Dirga meraih tangan Eliza, mengenggamnya dengan pelan.
"Kamu khawatir sama aku apa takut tinggal dirumah sendiri, hem?"
"Kamu kira aku penakut.."
"Aku lebih percaya kalau kamu penakut dari pada kamu yang ngekhawatirin aku.."
Entah berniat menggoda Eliza atau memang Dirga tidak yakin akan Eliza yang mengkhawatirkannya. Meski jauh di lubuk hatinya, dia berharap Eliza memang sedang mengkhawatirkannya.
"Aku beneran khawatir Dirga.."
"Kenapa khawatir?"
"Ya aku gak tahu.."
"Masa gak tahu, kalau khawatir itu ya berarti ada alasannya"
"Alasan bukan syarat untuk merasa khawatir.." Jawab Eliza menatap Dirga dengan tatapan sedikit kesal. Dirga hanya tersenyum menerima tatapan kesal itu. Tatapan kesal yang sangat menggemaskan menurutnya.
Ah kamu benar, akupun tidak memiliki alasan spesifik, mengapa aku mencintaimu sedalam ini.
"Mau aku buatkan air hangat?" Tawar Eliza.
"Boleh.."
Dirga duduk disofa yang terletak diruang tengah, sembari menunggu Eliza membawakan sesuatu yang dia tawarkan sebelumnya.
Tidak cukup lama, Eliza kembali dengan membawa segelas s**u.
"Kenapa s**u?"
"Karena itu bisa ngebuat tidurmu nyenyak.."
Eliza meletakkan segelas s**u itu dan beranjak.
"Sudah mau tidur?"
"Iya, kenapa?"
"Ah gak papa..." Kata Dirga sedikit lesuh sembari meraih segelas s**u yang disiapkan Eliza untuknya.
Eliza berbalik dan duduk di samping Dirga. Membuat Dirga meliriknya.
"Mau cerita sesuatu?"
Sudah bukan sekali dua kali, sudah cukup sering Dirga bercerita panjang lebar pada Eliza, membuat Eliza mengerti tanpa harus Dirga memintanya untuk menjadi pendengar malam ini.
Dirga hanya tersenyum melihat Eliza yang sudah lebih dulu menebak apa yang diinginkanya sebelum dia meminta.
"Tadi pulang sama Nara?"
"Iya.."
"Kenapa gak nungguin aku.."
"Karena aku gak mau ngeganggu kamu, lagian Mami mau kok nganter aku.."
"Nara langsung pulang?"
"Iya, Ayah ngikutin busnya dari belakang, jadi pas aku tiba Ayah dan Mami langsung pergi.."
"Jadi kamu sedari tadi sendirian dirumah?"
Eliza mengangguk.
"Kenapa gak nelfon aku??"
"Ya karena aku gak mau ngeganggu kamu.."
"Seandainya aku gak balik malam ini? Kamu bakal nungguin aku terus kayak tadi?"
"Mungkin. Ya kalau gak, aku bakal manggil kak Delio buat nginap disini. Bukannya aku takut, aku cuman agak gak enak saja, karena sebelumnya belum pernah sendiri.."
"Jangan.."
"Apa??"
"Jangan panggil kak Delio atau siapapun kalau aku gak ada, panggil aku saja. Pokoknya apapun yang terjadi, jangan panggil orang lain dan panggil aku saja.."
"Kenapa??" Tanya Eliza bingung
"Ya gak kenapa-kenapa. Pokoknya panggil aku saja.."
"Ck, aneh.." dengus Eliza.
Jadikan aku satu-satunya sebagai tempatmu bersandar. Hanya aku yang boleh memenuhi keinginanmu.
Eliza bersandar di punggung sofa dan terdiam sejenak sembari memainkan ponselnya.
"Eliza.."
"Hem?" Jawab Eliza tanpa melepas perhatian dari layar ponselnya.
"Kamu ingat gak, waktu aku bilang suka sama seseorang?"
"Yang pacar temanmu itu ya??"
Dirga mengangguk.
"Kenapa??"
Dirga menatap Eliza sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya. Ada keragu-raguan untuk Dirga melanjutkan ceritanya. Namun di sisi lain, Dirga juga ingin berbagi cerita pada Eliza perihal dia yang sudah merasa biasa saja saat hubungan spesial Delio dan Ailee dibahas.
"Sepertinya aku gak suka lagi sama cewek itu?"
"Oh ya?" Eliza yang sedari tadi fokus pada ponselnya meski tetap merespon perkataan Dirga, berbalik dan menatap Dirga. "Kenapa? Kok bisa?"
Dirga hanya mengangkat kedua bahunya, memperlihatkan dia yang juga tidak tahu alasan spesifik apa yang membuatnya melepas Ailee dari hatinya. Meski dia tahu, sebagian kemampuan yang dia miliki untuk melepas Ailee itu berasal dari Eliza.
"Aku udah gak sakit hati lagi ngeliat dia sama pasangannya. Aku udah gak nyesek lagi ketika dengar pembahasan tentang mereka. Aku benar-benar udah biasa-biasa aja tiap ngeliat dia. Bahkan saat ngeliat dia sama pasangannya, aku udah gak cemburu lagi"
Eliza mendengarkan Dirga dengan baik.
"Eliza.."
"Hem??" Sahut Eliza menatap Dirga..
"Perempuan yang aku suka itu bukan orang lain.."
"Bukan oranglain?? Maksudnya??"
"Ailee. Perempuan yang aku suka itu Ailee.."
Eliza terbelalak mengetahui fakta tentang perempuan yang menjadi penghuni hati Dirga. Selama ini, dia hanya tahu kalau Dirga memiliki perempuan yang disukainya dan perempuan itu sudah memiliki kekasih, namun Eliza benar-benar tidak pernah menyangka kalau perempuan yang di maksud Dirga selama ini adalah Ailee.
"Ail.. Aileee???" Tanya Eliza memperjelas.
Dirga hanya mengangguk. Dan sekali Eliza dibuat terperangah..
*****
Kita adalah dua insan yang dipertemukan Tuhan dengan takdir yang tak terkira..
Malam semakin larut, namun kedua remaja yang tinggal seatap itu masih hanyut dalam cerita dari salah satunya, dan menjadi pendengar yang baik dari salah satunya pula.
"Eliza.."
"Hem??"
"Perempuan yang aku suka itu, bukan oranglain.."
"Bukan oranglain?? Maksudnya??"
"Ailee. Perempuan yang aku suka itu Ailee.."
Eliza terbelalak mengetahui fakta tentang perempuan yang menjadi penghuni hati Dirga. Selama ini, yang dia tahu hanya seputar Dirga memiliki perempuan yang disukainya, dan perempuan itu sudah memiliki kekasih. Namun Eliza benar-benar tidak pernah menyangka kalau perempuan yang di maksud Dirga selama ini adalah Ailee.
"Mye Aileeaa???" Tanya Eliza memperjelas.
Dirga mengangguk, mengiyakan pertanyaan Eliza.
Sekali lagi Eliza dibuat terpengarah. Tidak sedikitpun Eliza pernah berfikiran bahwa yang menjadi penghuni spesial di hati Dirga adalah Ailee. Terlebih dari fakta tentang penghuni hati Dirga selama ini, hal yang lebih mengejutkan bagi Eliza adalah, tentang bagaimana Dirga bisa menyukai Ailee. Eliza tahu betul seperti apa Dirga menyanyangi Delio sebagai kakaknya, sehingga sangat sulit bagi nalar Eliza untuk menerima fakta tentang Dirga yang menyukai tunangan kakaknya sendiri.
"Ke kenapa bisa??"
"Kamu tahu kan, Ailee itu teman masa kecilku.."
Eliza mengangguk. Ekspresi terkejut masih berhias di wajahnya.
"Aku dan Ailee sedari kecil sudah bersama. Kami main bersama dan melakukan segalanya bersama. Waktu mengubah perasaan kami yang awalnya hanya sebatas memiliki sebagai teman, berubah menjadi saling memiliki sebagai pasangan.."
"Ka kalian??"
"Iya, kami pernah menjadi pasangan. Ya, meskipun aku gak pernah secara langsung bilang sama Ailee untuk jadi pacarku, tapi kami berkomitmen untuk menjaga perasaan satu sama lain.."
"Ja jadi, Ailee itu bisa dibilang adalah mantanmu??"
Dirga mengangguk.
Eliza mengalihkan pandangannya sejenak. Kemudian kembali berbalik menatap Dirga.
"Terus kenapa Ailee jadi tunangan kak Delio? Kalian putus atau??"
"Gak tahu. Saat Ayah dan orangtua Ailee memutuskan untuk menjodohkan salah satu dari kami, Ailee memilih kakak untuk di jodohkan sama dia.."
"Kenapa? Apa karena kamu udah jadi mantannya?"
Dirga menggeleng. "Sewaktu Ailee milih kak Delio, kami masih punya hubungan spesial waktu itu??"
Eliza semakin dibuat terheran-heran dengan cerita Dirga. Bagaimana bisa Ailee memilih Delio, sedang yang menjadi kekasihnya adalah Dirga.
"Jadi kalian putus pas.."
"Iya, pas Ailee memilih kak Delio dan bukan aku. Hubunganku dengan Ailee berakhir begitu saja. Awalnya aku gak percaya sama pilihannya dan ngomong langsung sama Ailee. Aku minta penjelasan Ailee, dan Ailee bilang.."
Dirga berhenti sejenak, menatap Eliza yang sudah sedari tadi menatapanya menunggu cerita Dirga selanjutnya.
Apa seantusias ini kamu mau tahu kelanjutan ceritaku??.
Eskpresi Eliza yang begitu serius, kembali menarik perhatian Dirga. Dimata Dirga, Eliza begitu imut dengan wajahnya yang seperti itu.
"Ailee bilang apa?" Tanya Eliza tidak sabaran.
"Ailee bilang, kak Delio lebih dewasa, lebih cepat mapan dan pastinya lebih bisa ngebahagiain dia.."
"Terus kak Delio mau aja gitu di jodohkan sama Ailee padahal tahu tentang hubungan kalian?"
"Kak Delio gak pernah nolak apapun yang Ayah bilang, Eliza. Saat Ailee milih dia, dia juga gak ada pilihan lain selain nurut. Karena pilihan ada pada Ailee saat itu. Ayah yang tidak tahu tentang hubunganku dengan Ailee hanya setuju saja dengan pilihan Ailee. Toh bagi Ayah, aku ataupun kak Delio yang menikah sama Ailee, itu bukan masalah.."
Eliza menghela nafas panjang. Begitu berat nafasnya, seolah dia bisa merasakan perasaan Dirga waktu itu.
"Jadi selama ini, kamu terus-terusan nahan perasaanmu tiap ngeliat Ailee sama kak Delio.."
Dirga mengangguk dengan sedikit tersenyum kecil.
"Aku gak pernah nyangka, kamu sekuat ini.."
"Ya, ini karena kamu juga kan. Kamu selalu ngasih aku solusi, jadi aku bisa lebih tahu langkah apa yang aku ambil dan lebih bisa perlahan-lahan mengikhlaskan Ailee.."
"Tunggu tunggu.. Kamu beneran udah ikhlas ngelepas Ailee?" Eliza bertanya dengan sorot matanya yang serius.
"Iya, kenapa?"
"Beneran ikhlas? Kamu pergi tadi, bukannya karena ngehindar dari pembahasan Ayah sama Ayahnya Ailee yang ngebahas pertunangan kak Delio kan??"
"Gak, aku gak pergi karena menghindar. Malah dari itu aku sadar, kalau aku benar-benar udah ikhlas ngelepas Ailee. Aku gak sakit hati lagi ngedengar pembahasan tentang pertunangan mereka, aku juga udah gak cemburu lagi ngeliat Ailee dan kak Delio tadi.."
"Hem.. Kamu beneran hebat.." Eliza mengeluarkan kedua jempolnya.
"Hebat??" Tanya Dirga sedikit tertawa melihat tingkah Eliza yang memberinya dua jempol.
"Iya hebat. Bisa dibilang Ailee adalah cinta pertamamu, kamu sedari kecil sama dia, perasaanmu jelas gak diragukan lagi. Mungkin kamu udah pernah ngebayangin hari tua sama Ailee, karena dipikiranmu gak bakal ada lagi yang misahin kalian. Tapi nyatanya.."
Eliza menghela nafas sejenak.
"Ailee pergi dan memilih oranglain. Yang lebih menyakitkan lagi, orang pilihan Ailee itu adalah kakakmu sendiri, orang yang kamu sayangi.."
Dirga hanya tersenyum kecil. "Ya, kayaknya aku memang hebat. Aku udah bisa ngelewatin sakit hati terparah diusiaku yang masih muda.."
"Dirga.. Seandainya laki-laki yang dipilih Ailee itu bukan kak Delio, apa yang bakal kamu lakuin?"
"Pasti aku rebut kembali.. Pikiranku sebelumnya seperti itu, aku gak punya pikiran lain selain merebut Ailee kembali. Tapi, setelah aku negbahas hal ini sama kamu, aku jadi sadar sesuatu. Ailee memilih oranglain dan bukan aku itu, karena perasaannya udah bukan sama aku lagi, aku terlalu egois kalau memaksa Ailee buat tetap milih aku dan tinggal sama aku sedang perasaannya sudah bukan sama aku lagi.."
"Bijak sekali.."
"Memangnya kamu pikir siapa yang ngebuat aku bisa berfikiran seperti ini hem? Pikiranku bisa lebih dewasa begini karena sering curhat sama kamu dan sering dapat wejangan dari kamu.."
"He he he.. Aku lebih bijak lagi kalau begitu.." Eliza tertawa renyah.
Ada perasaan lega dalam hati Dirga setelah menceritakan semua kebenarannya. Ya, kebenaran itu di ketahui Eliza ataupun tidak, jelas tidak ada pengaruhnya. Namun bagi Dirga, Eliza bukan lagi 'oranglain' dalam hidupnya, sehingga hal seperti ini wajar saja dia ceritakan pada Eliza. Dirga selalu terdorong untuk bercerita segala hal tentangnya pada Eliza, dia ingin Eliza lebih mengenalnya dan lebih tahu lagi tentangnya.
"Tapi.. Meski perasaanku udah ikhlas ngelepas Ailee saat ini, aku tetap saja merasa was-was dan takut.."
"Kenapa?" Tanya Eliza bingung.
"Perasaanku sekarang sudah berubah, dari mencintai Ailee berubah menjadi mengikhlaskan Ailee dan memilikinya sebagai temanku saja. Itu berarti, tidak menutup kemungkinan kalau suatu hari nanti, perasaanku bisa kembali lagi sama Ailee seperti dulu. Perasaan cinta dan ingin memilikinya.."
Eliza sedikit terkejut. Ya, setelah dipikir-pikir, apa yang Dirga katakan ada benarnya juga. Kekhawatirannya itu bisa saja terjadi.
"Kalau begitu, lakukan rencanamu yang sebelumnya.." Saran Eliza dengan nadanya yang sedikit tegas.
"Rencana yang mana??"
"Hadirkan perempuan lain dalam hatimu. Ya awalnya aku gak setuju sih kalau kamu jadikan perempuan lain buat move on. Tapi kali ini ceritanya lain lagi. Kamu gak lagi nyari orang buat ngebantu kamu move on, tapi kamu lagi nyari perempuan buat ngisi hatimu agar gak balik lagi suka sama Ailee.."
"Bukannya kamu bilang itu salah??"
"Ya, itu adalah hal yang salah kalau kamu masih suka sama Ailee, karena kesannya kamu ngejadiin dia pelampiasan gitu, semacam memanfaatkan. Tapi sekarang ceritanya gak gitu lagi, kamu beneran bisa membuka hati untuk oranglain, hadirkan perempuan lain sebagai penghuni hatimu, ngasih perasaanmu ke oranglain. Kalau kamu ketemu sama orang yang kamu suka, aku yakin kamu gak bakal bisa suka lagi sama Ailee seperti dulu.."
"Hem.. Benar juga.."
"Ya kan.."
Eliza tersenyum bangga setelah memberi saran yang menurutnya sangat efektif.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu saja??"
"Apanya?"
"Kamu saja yang jadi perempuan itu. Kamu saja yang ngisi hatiku biar aku gak balik lagi suka sama Ailee.."
"Ma maksud kamu??" Dengan terbata-bata karena perasaan gugup mulai menghampirinya, Eliza bertanya kembali memperjelas apa yang Dirga katakan.
"Maksudku, kamu jadi perempuan yang ngisi hatiku. Ngebuat aku merasakan cinta dan ngebuat aku gak bakal bisa suka sama Ailee lagi atau oranglain. Kamu mau kan ngebantu aku? Ya semacam jadi pacarku gitu. Kamu mau kan??"
Eliza sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Dirga. Kornea matanya melebar dan hanya menatap Dirga tanpa sepatah kata.
"Kamu mau jadi pacarku??"