18 Pagi itu cuaca cerah. Langit biru dihiasi awan-awan yang berarak tertiup angin, sementara matahari bersinar dengan cemerlang. Davien melangkah menuju ruang kerjanya. Saat akan melewati meja Jasmine, Davien memelankan langkah. Ia mengamati wajah cantik itu sejenak. Jasmine mengangkat wajah dan mata mereka pun beradu. “Selamat pagi, Davien,” sapa Jasmine sambil menampilkan senyum tipis. Davien mengangguk kecil. “Selamat pagi, Jass.” Lalu melanjutkan langkah menuju ruangannya. Jasmine jelas tampak berusaha bersikap seperti ketika percikan hasrat di antara mereka belum menjadi nyala api. Namun Davien tahu, usaha tersebut sia-sia. Api hasrat mereka membara dan tak mudah untuk dipadamkan. Bahkan jika pun Davien amnesia, ia yakin api hasratnya kepada Jasmine akan tetap berkobar. Davi

