16 “Kau harus berhenti menciumku, Davien,” kata Jasmine saat mereka berdua sudah berada di restoran. Sebenarnya Jasmine tidak nyaman membahas hal tersebut, tapi ia tak punya pilihan lain. Davien harus berhenti menciumnya, atau akal sehat Jasmine akan menguap. Davien mengangkat wajah dari steik yang sedang ia potong, dan menatap Jasmine dengan seringai nakal. “Kau tidak menolak.” Jasmine mendengkus kesal. “Aku serius.” “Aku juga serius, Jass. Kau tidak menolakku, bukan? Mungkin ..., jika kau menolak …, aku akan berusaha berhenti menciummu.” Wajah Jasmine terbakar. Ia membuang muka. Tatapannya berhenti pada meja sebelah, menatap sepasang insan yang sedang dimabuk cinta, yang membuat Jasmine makin tak nyaman. Davien benar, ia tidak menolak ciuman pria itu, aku Jasmine malu. Setelah bebe

