Aisyah dan Jeremi yangs sedang memadu kasih di sebuah taman yang cukup ramai, jilbab yang sebelumnya dia kenakan kini di jadikan sebagai syal dan membiarkan rambut pirang nya itu tergerai bebas, membuat banyak orang memandangnya secara gratis.
"Kamu benar mau pindah agama?"
"Apapun akan aku lakukan demi hubungan kita, kamu janji nggak bakal tinggalin aku kan?"
"Aku janji sayang,"
Niat Aisya yang ingin ikut agama Jeremi membuat Jeremi bahagia, rasa takut kehilangan kekasihnya itu kini berubah menjadi rasa penuh harapan untuk masa depan nya.
"Aisyah!"
"I...ibu."
Plak'
"Kamu masih berhubungan sama lelaki ini? Dimana masa depan kamu!" Riska yang marah melihat kelakuan anak perempuan nya itu menyeret tangan Aisyah dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Ibu kenapa si nggak suka sama Jem?" Kata Aisya yang menangis di kursi belakang.
"Kamu nggak akan faham tentang itu, ibu benci sama dia bukan tanpa alasan."
"Kasih tahu aku! Kasih aku alasan Bu!"
"Aisyah! Diam!"
"Ibu jahat!"
Aisyah hanya bisa menangis di kursi belakang, kehidupan nya yang dia rasa sangat mengekang dia dan penuh dengan aturan membuat Aisya merasa jenuh.
"Aku mau ikut agamanya Jem."
Ckit'
Deg'
"Susah payah aku membesarkan mu, sekarang kamu memilih lelaki itu! Nggak akan ibu biarkan kamu hidup apalagi berdekatan dengan dia." Ucapan Riska yang benar benar emosi dengan ucapan anak nya yang di rasa bukan main main.
Dalam perjalanan pulang Riska dan Aisyah tak banyak bicara, Aisya yang terus menangis hingga mata nya sembab. Sementara Riska yang marah dan berusaha menahan emosi nya itu hanya bisa diam seribu bahasa.
"Ayah"
"Iya kenapa?"
Kedatangan Riska cukup membuat Rian terkejut, pasalnya Riska baru saja pamit untuk pergi ke pasar namun kini sudah kembali, apalagi kedatangan nya kini membawa Aisyah dengan mata yang sembab.
"Ada apa ini?" Tanya Rian yang melihat wajah istri nya itu tak bersahabat.
"Lihat anak kita yah, dia memilih untuk ikut agama Jem dan hidup dengan lelaki sialan itu!"
"Astaghfirullah, benarkah itu nak?"
"Aku nggak mau di kekang ayah, aku mau bebas."
"Ini demi kebaikan mu nak, ayah mohon kamu mengertilah, supaya di masa depan kelak kamu tidak akan menjadi orang yang rugi."
"Maksud ayah dan ibu apa? Kenapa kalian egois!"
Brukh'
"Aisyah!"
"Aisyah!"
"Dasar anak itu tak tahu di untung!" Kesal Riska ketika melihat anak semata wayang nya itu memilih masuk ke dalam kamar nya dengan membanting pintu, meninggalkan Rian dan Riska yang tengah menasihati nya.
"Sudah sudah Bu, nanti malam nak Zain dan Hans akan segera ke sini."
"Benarkah?"
"Jadi alangkah baik nya, kita memasak dan menyiapkan berbagai macam jamuan untuk mereka."
"Baik yah, ibu akan berusaha yang terbaik untuk mereka." Jawab Riska yang bahagia mendengar ucapan suami nya.
Lelaki yang sudah mapan dan usianya cukup itu adalah harapan besar bagi Rian dan Riska untuk membantu Aisyah kembali ke jalan yang benar, agama yang mereka anut selama ini kini di anggap mainan oleh putrinya sendiri dan itu terjadi hanya karena cinta buta.
_____
"Bang nanti malam kita akan ke rumah nya kolega bisnis papah, dia akan menjodohkan putri nya dengan anak papah yang tak lain adalah kamu." Tutur Hans yang tengah duduk di ruang tempat keluarga biasa berbincang.
"Ya sudah terserah papah saja, lagian aku juga udah mau ibadah kok hanya saja belum ada yang cocok selama ini." Jawab Zaid.
"Papah dan mamah nggak akan memaksa kamu untuk menerima wanita itu, tapi jika kamu merasa yakin dan cocok maka lanjutkan lah."
"Baik pah, aku akan mencoba nya."
"Tapi nak, kamu harus faham bahwa wanita yang akan di jodohkan dengan mu itu seumuran dengan adek mu Syifa, yang sudah pasti sikap manja, egois dan keras kepalanya masih melekat keras." Sahut Yanti ibunda dari Zaid.
"Nggak papa mah, nggak masalah, jika Abang sudah sholat dan di beri petunjuk tentang wanita itu maka Abang insyaallah nggak akan pernah ragu lagi, masalah dia masih belia itu akan menjadi ilmu baru buat Abang ke depan nya."
"Masyaalloh, baik lah nak. Nanti malam kita akan ke rumah nya om Rian, kalau di lihat dari keluarga nya sudah pasti keluarga baik baik saja." Sahut Hans kembali.
"Apakah itu sahabat ayah?"
"Dia dulu sahabat papah selama di pondok, namun kami terpisah lama hingga di pertemukan kembali ketika kita menjadi kolega bisnis." Jawab Hans.
"Masyaalloh sahabat sampai surga ya pah."
Malam yang sudah di rencanakan pun tiba, keluarga Hans sudah bersiap untuk menemui Rian, begitu pula Rian dan keluarga nya sudah bersiap untuk menyambut kehadiran Hans dan keluarga nya.
"Pah Abang mau bawa mobil sendiri ya soalnya mau ketemu dulu dosen yang lain untuk menyerahkan tugas anak anak."
"Baiklah, jangan sampai terlambat ya nak."
"Insyaallah pah."
Zaid berangkat lebih dulu dengan tujuan ingin menuju ke rumah teman nya dulu.
Sementara di tempat lain Aisyah sedang berusaha kabur dengan cara membuka jendela kamar nya yang sudah terkunci mati karena jarang di buka.
"Aku harus pergi sebelum acara itu di mulai." Ucap Aisyah dengan sedikit keraguan di hati nya dia berhasil keluar dari kamar nya.
Aisyah berjalan dan terus berjalan hingga dia sampai di jalan raya yang cukup ramai, dengan sedikit rasa takut dia memaksakan berjalan kaki tanpa arah tujuan.
Tangan nya hanya menggenggam ponsel yang sedari tadi dia gunakan untuk menelpon Jeremi kekasih nya, namun nihil. Tak ada jawaban apapun dari sebrang sana, hanya ada jawaban dari operator.
Langit yang hitam itu kembali menghitam dengan pekat ketika bintang mulai hilang dan berganti dengan suara petir yang bergantian datang.
"Astaghfirullah, ya Alloh tolong aku." Ucap Aisyah yang takut dengan suara petir, tubuh nya bergetar hebat.
"Hai cantik ngapain di sini?"
"Mau kita temenin?"
"Ouh iya takut petir ya?"
"Sini sini Abang peluk."
3 orang lelaki yang memakai pakaian serba hitam dan dengan gaya yang sobek sobek dengan aksesoris yang menambah kesan takut bagia Aisyah.
Mereka mendekati Aisyah dengan cepat, Aisyah yang hampir di sentuh mereka teriak teriak. Namun tak ada yang bisa menolong Aisyah karena jalanan cukup sepi.
"Tolong! Siapapun tolong aku!" Teriak Aisya yang kini dua orang lelaki itu berhasil meraih tangan Aisyah.
"Pergi! Kalian pergi!" Aisyah berontak sekuat tenaga, namun sayang tenaga Aisya kalah jauh dari mereka bertiga.
Ckitt'
"Lepasin wanita itu!"
"Eh ada jagoan di sini!"
"Serang!"
Brugh'
Brukh'
Lelaki yang baru saja tiba itu kini harus berhadapan dengan 3 preman yang ingin mengganggu Aisyah.
"Pak dosen...." Lirih Aisyah.