awal saja
"Aisyah ibu mau jodohin kamu nak."
"Maksudnya Bu?"
"Ibu harap kamu nggak menolak nya."
"Tapi, aku mau kuliah dulu Bu."
"Kamu masih bisa tetep kuliah kok."
"Benarkah? Tapi... Statusku?"
"Ini hanya akan terjadi secara privat."
"Kenapa begitu Bu? Ada apa? Apa yang ibu mau selain pernikahan ku?"
"Tidak ada! Ibu harap kamu tak menolaknya, karena bisa jadi ini permintaan terakhir ibu."
"Ibu nggak boleh ngomong gitu!"
"Tapi kenyataannya memang hanya itu satu permintaan ibu."
"Baiklah Bu, atur saja."
Aisyah Alula putri seorang gadis yang kini duduk di bangku kuliah semester 1 dia masih menjadi mahasiswi baru di bidang bisnis.
Terlahir dari keluarga yang berada membuat Aisyah harus meneruskan perusahaan ayah nya yang kini sudah lanjut usia, Aisyah hanya satu satu nya anak dari pasangan Rian dan Riska yang mana mereka harus menanti selama 15 tahun untuk mendapatkan amanah berupa keturunan yang kini tumbuh menjadi sosok gadis cantik yang di beri nama Aisyah.
Usai percakapan nya dengan sang ibunda, Aisyah memilih untuk masuk ke dalam kamar nya dia mengambil air wudhu dan meminta petunjuk pada sang pencipta sebelum akhirnya dia pergi ke alam mimpi nya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam, baru pulang yah?"
"Dimana Aisyah?"
"Dia masuk kamar lebih awal yah."
"Apakah dia sudah makan?" Tanya Rian sambil melepas jas nya.
Riska hanya menggelengkan kepala nya sebagai jawaban pada suami nya.
"Apa kamu sudah berbicara pada dia tentang Zaid?"
"Iya ibu sudah bicara pada nya dan dia mau."
"Baguslah, ayah nggak akan tenang membiarkan anak semata wayang kita harus berada di lingkungan yang seram, paling tidak setelah dia menikah penjagaan nya sudah tidak ayah khawatirkan lagi." Jelas Rian yang di sambut senyuman oleh istri nya.
___________
"Woy!"
"Astaghfirullah kaget gue."
"Lu kenapa?wajahnya di tekuk mulu!"
"Gue bingung Na,"
"Bingung kenapa?"
"Gue mau di jodohin."
"Astaga, serius?"
"2 rius."
"Apa lu nggak nolak?"
"Gue cukup jadi wanita bar bar begini, tapi gue nggak mau jadi anak yang durhaka."
"Terus Jeremi gimana? Masih mau lu kejar?"
"Justru itu Na, gue bingung."
"Ntar lho nikah, trus bunting jadi nya kita nggak sampe donk buat bisnis dan jadi pengusaha bareng lagi."
"Hana malah bikin gue tambah bingung!"
Hana adalah satu satu nya sahabat Aisyah yang selalu berada di saat suka maupun duka, keras kepala nya Aisyah membuat banyak orang di sana kesal dengan sikap nya, berbeda dengan Hana yang sabar meladeni sipat sahabat nya itu.
"Yaudah nggak usah bingung, abisin dulu sarapan nya terus kita masuk ke kelas dan kita pelet Jeremi lagi." Ucap Hana yang membuat Aisyah mengembalikan senyuman nya.
"Tapi lho yakin mau abisin nih makanan?"
"Emang kenapa?"
"Gue kenyang kalau udah denger kata Jeremi masuk kelas." Balas Aisyah yang lalu berdiri dan melilitkan jilbab nya.
"Haduh kebangetan nih bocah ya."
Aisyah duduk di kursi nya, namun bukan Aisya nama nya jika dia tak berusaha semaksimal mungkin untuk meraih hari Jeremi.
"Hai Jem."
"Hai."
"Hari Minggu kamu ada waktu kosong nggak?" Tanya Aisyah yang kini meminjam kursi sahabat nya yang kebetulan berada di samping kursi Jeremi.
"Nggak ada di, paling ibadah aja."
"Ouh aku boleh ikut nggak?"
"Kamu kan muslim? Apa kamu nggak tahu ya, kalau kamu itu nggak boleh masuk ke tempat ibadah ku." Tutur Jeremi.
"Tapi kamu bilang dulu kamu mencintai ku saat awal kita ketemu?"
"Kamu benar aku mencintaimu, tapi cinta ku ini tidak bisa melebihi cintaku pada tuhan ku yang sudah sangat baik."
"Tapi tuhan kita itu sama, hanya beda saja keyakinan kita!"
"Tidak Aisyah, aku nggak mau menghancurkan kamu dan agama mu, yakini keyakinan kita masing masing saja dan semoga nanti kamu bisa mendapatkan lelaki yang seiman dengan mu." Tutur Jeremi lagi yang bisa di katakan bijaksana.
Jeremi dan Aisyah memang saling mencintai, tapi mereka terhalang oleh agama mereka masing masing hingga tak jarang membuat ke dua nya saling toleransi, namun hal itu membuat Rian dan Riska marah besar.
"Aku akan menikah dengan lelaki pilihan ayah dan ibu, jika mau tidak memperjuangkan cinta kita."
Deg'
Kali ini ucapan Aisyah cukup membuat Jeremi terkejut, dia tak menyangka jika akhir dari pertemuan mereka yang membuat Rian marah besar adalah perjodohan, itu artinya Jeremi akan kehilangan Aisya selama lama nya.
"Itu artinya kalian nggak jodoh!" Sahut seorang lelaki yang tak asing bagi mereka para mahasiswi jurusan bisnis.
"Hadeuh kirain nggak bakalan masuk." Gumam Aisyah yang masih bisa terdengar oleh dosen nya.
"Baik saya di sini akan membahas kelanjutan yang kemarin dan silakan di fahami untuk presentasi kalian Minggu depan." Tutur Zaid dosen muda yang terbilang dingin pada mahasiswi nya.
Sementara Zaid yangs sedang menjelaskan materi nya di depan, Aisyah tak bisa lepas dari pikiran nya tentang perjodohan dan juga penolakan dari Jeremi.
"Jem silakan waktunya kamu memimpin acara kelas ini."
Deg'
Jantung Aisya berdegup cukup kencang ketika nama lelaki idaman nya di panggil, dan benar saja presentasi Jeremi tak di ragukan, tepukan tangan memeriahkan nya.
Aisya memandang Jeremi dengan pandangan kagum dan rasa yang semakin menggebu gebu.
"Aisyah!"
"Aisyah!"
"Aisyah! Apa kamu faham yang di sampaikan oleh Jeremi?"
Deg'
"Iya dia emang pinter nggak kayak bapak jutek."
Jawaban sepontan dari Aisya itu mengundang gelak tawa dari seluruh orang yang ada di ruangan itu.
"Upss... Maaf pak."
"Fokus! Jika tidak fokus silakan keluar!"
"Astaga, dasar om om nyebelin."
"Silakan untuk saudari Aisya jika kasih ingin mengumpat, pintu terbuka lebar untuk anda keluar." Ucap Zaid yang membuat Aisyah membulatkan matanya.
"Pak maaf saya bosan dengan pelajaran bapak yang gini gini aja!" Celetukan Jeremi membuat Zaid mengeraskan rahangnya.
"Ada apa dengan mu?"
"Tidak pak saya jenuh saja!"
"Rupanya ada yang ingin menemani Aisyah di luar sana ya."
Huuu.....
"Silakan keluar! Saya tidak butuh murid yang hanya ingin main main saja!"
Jeremi dengan santainya dia memilih keluar untuk menemui Aisyah, hal bodoh yang pertama kali di lakukan Jeremi karena dia mengingat bahwa Aisyah akan di nikahi orang lain.
"Kenapa kamu?"
"Kamu sendiri kenapa?"
"Ih Jem, jawab kamu ngapain lakuin itu."
"Kayaknya seru ya kalau kita ngedate di tengah tengah jam pelajaran begini."
"Beneran?"
"Bener, yuk ikut."
Aisyah yang memang sudah gelap mata hingga dia mau ikut dengan Jeremi ke suatu tempat yang membuat ke dua nya serasa nyaman di sana, taman yang indah itu memberitahukan bahwa ke dua nya sedang mewarnai kertas putih yang kosong.