Hari yang Berat

1029 Kata
NATHAN Aku mengamati Jenny yang berjalan dengan tertatih khas orang menahan sakit. Walau dia mengatakan bahwa sakitnya karena datang bulan entah kenapa ini terasa berbeda. Kali ini Jenny terlihat sangat pucat dan mataku kemudian tertuju pada kakinya. Aku shock seketika saat melihat darah mengalir di betisnya, aku segera berlari untuk mengecek keadaannya lebih pasti namun saat kuhampiri, Jenny sudah pingsan dan untungnya aku berhasil menangkap tubuhnya. Aku menggendong tubuh Jenny dan membaringkan tubuhnya di sofa terlebih dahulu. Aku ambil jas ku untuk menutupi kaki bagian paha sampai betis Jenny. Kemudian aku kembali menggendong Jenny ala bridal.  "Pinkan minta supir untuk bersiap di loby, SEGERA" perintahku pada sekretarisku saat aku keluar ruangan Apakah sesakit ini menjadi wanita sampai kamu bisa seperti ini aku sudah tidak memperdulikan tatapan banyak orang mempertanyakan apa yang terjadi. Sesampainya di Loby aku minta supir untuk segera menuju rumah sakit terdekat. Wajahnya semakin pucat, aku mulai panik. Untungnya saat ini belum jam makan siang jadi tidak terlalu macet.  Aku menanti dokter yang sedang memeriksa Jenny. Saat pemeriksaan selesai dokter memintaku untuk menemuinya diruangannya. "Untuk saat ini Ibu Jenny masih bisa ditangani, tapi untuk kedepannya bapak harus lebih memperhatikan kondisinya. Hari ini mungkin aktifitasnya terlalu berat dan sepertinya dia mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung bromelain" penjelasan dokter "Iya dok tadi memang dia habis menaiki tangga sebanyak 7 lantai, untuk bromelain saya kurang begitu mengerti" ucapku "Bromelain biasa ditemukan pada buah nanas karena dapat memecah protein pada tubuh dan menyebabkan pendarahan abnormal. Tapi menurut saya penyebab utama adalah menaiki tangga tersebut dan mungkin sebelumnya Ibu Jenny sudah mengeluhkan sakit namun masih dibiarkan" dokter melanjutkan penjelasannya Aku teringat kejadian di apartment Jenny, saat Jenny tiba-tiba merasakan sakit diperutnya saat kami tengah bercanda. Ya ampun aku tidak menyangka ternyata bisa menyebabkan keadaan sampai seperti ini. "Iya dok saya memang menyadari bahwa untuk kali ini sakitnya tidak seperti biasa seperti sebelumnya saat dia mengalami datang bulan" ujarku membenarkan kata-kata dokter Dokter tersebut nampak berpikir kemudian tersenyum padaku. "Sakit ini bukan karna datang bulan pak, Ibu Jenny sedang mengandung kemungkinan usia janin sudah empat minggu. Selamat ya pak" dokter mengulurkan tangannya padaku Kaget, tentu saja tapi aku tetap menyambut uluran tangan dokter. Aku kembali ke kamar Jenny, kulihat wajahnya masih pucat dengan infus tertancap ditangannya. Banyak pertanyaan didalam otakku, bagaimana ini bisa terjadi. Apakah Jenny tahu dia hamil namun menyembunyikannya dariku, siapa ayah bayi itu dan usia janin 1 bulan berarti.... Akkkgghhh.....Jen kau berhutang penjelasan padaku  ----------------  AUTHOR Sudah lebih dari lima jam Jenny berada dirumah sakit namun belum sadarkan diri, saat ini sudah pukul 17.15pm. Pria itu terus menatap Jenny yang masih terlelap diranjang rumah sakit. Jemari Jenny bergerak namun amarah Nathan mengalahkan keinginannya untuk menggenggam tangan lemah itu. Dia menuntut banyak penjelasan dari Jenny. Jenny sudah membuka matanya, mengedarkan pandangannya mencari tahu dimana saat ini dia berada. Netranya bertemu dengan Nathan, namun tatapan Nathan nampak tidak bersahabat membuat Jenny bertanya-tanya.  Jenny berusaha untuk duduk "sssshh" namun tubuhnya tak mampu melakukannya. Akhirnya Nathan pun tak tega dan segera membantu Jenny untuk duduk. "Thanks, Nath" Jenny tersenyum ke arahnya "Maaf ya aku ngerepotin kamu, kamu jangan marah" Jenny berpikir Nathan marah karena harus menungguinya di RS "Kapan aku bisa pulang?" tanya Jenny masih tetap dengan senyumannya membuat Nathan benar-benar tak habis pikir kenapa Jenny masih bisa tersenyum. "Nanti malam kamu boleh pulang" Nathan menjawab dengan dinginnya membuat Jenny semakin merasa bersalah. "Jam berapa sekarang" tanya Jenny  Nathan melihat jam tangannya "jam lima sore" jawab Nathan "Hah, seingat aku tadi masih siang. Kamu sudah makan?" lagi-lagi pertanyaan yang Jenny berikan "Belum" jawab Nathan masih menyelidik Jenny. "Ya ampun, makan dulu sana Nath sakit maag kamu kambuh aku yang repot ngurusin kamu" ucap Jenny sambil tersenyum. Tapi untuk kali ini senyum Jenny membuat Nathan kesal dan marah.  Nathan menyugar rambutnya ke belakang kemudian meninju tembok didekatnya kemudian meninggalkan kamar Jenny, hatinya masih kesal namun tak tahu kemana dan bagaimana melampiaskannya. Jenny sangat kaget kemudian menutup matanya "apa aku sangat merepotkan bagimu Nath" airmata kemudian tergenang di sudut matanya "kenapa aku jadi cengeng begini sih" diapun menghapus airmatanya. Jenny merasa karena dirinya merepotkan membuat Nathan marah. Sedang Nathan saat ini berada di kantin RS membeli dua botol air mineral dan satu can soda. Nathan duduk di taman rumah sakit, membuka minuman bersodanya. Nathan menghembuskan nafasnya berusaha menetralkan emosinya. Setelah dirasa mulai tenang Nathan membuka air mineralnya kemudian menyiramkan ke buku jarinya, menghilangkan noda darah pada lukanya itu. Menarik napas kembali kemudian menghembuskannya. Nathan melakukannya berulang kali sebelum kembali ke kamar rawat Jenny. "Ibu sudah boleh pulang tapi harus bedrest, dijaga baik-baik ya pak, bu." kata dokter sebelum meninggalkan ruangan Jenny "Tentu saja aku akan menjaga diriku baik-baik" gumamnya pelan membuat Nathan kesal, namun buru-buru menarik napas dan membuangnya agar amarahnya tidak memuncak. Nathan memutuskan untuk membicarakan perihal kehamilan Jenny di apartment dia tak mau membuat keributan di RS. ----- Sesampainya di apartment Nathan memapah Jenny menuju kamarnya, saat Jenny terduduk di pinggir ranjangnya dia memperhatikan noda darah pada kemeja Nathan yag berwarna putih. 'Astaga pantas dia marah, dia pasti malu terkena noda darah datang bulanku' Jenny kemudian bangkit namun perutnya masih sakit. Nathan kembali memegang kedua bahu Jenny dan mendudukkan kembali Jenny diranjangnya. "Nath, kamu masih marah?" ucap Jenny karna Nathan sangat dingin padanya "iya aku tahu sudah bikin kamu malu, aku minta maaf ya" sambungnya sambil memegang tangan Nathan saat ia mau beranjak. Sementara Nathan menganggap kata-kata Jenny membuktikan kalau wanita itu tahu dirinya sedang mengandung. Nathan tetap diam meredakan emosi dan masih menunggu Jenny membuka mulut perihal kehamilannya dengan jelas. Namun setelah ditunggu lama Jenny tetap diam. Nathan melepaskan genggaman Jenny pada tangannya kemudian bangkit berdiri menuju kitchen untuk mengambil air dingin. Kebisuan Jenny membuatnya semakin kesal. Baru ingin melangkah Jenny berteriak membuat Nathan menghentikan langkahnya. "Ya sudah lo pulang saja sana jika lo terus mendiamkan gue seperti ini. Gue bisa menjaga diri gue sendiri" ucap Jenny sambil berteriak diapun sudah menggunakan kata lo dan gue. Moodnya benar-benar naik turun. Teriak Jenny dan kata-kata yang digunakannya membuat emosi tertahan Nathan tak terbendung "Bagaimana bisa lo menjaga diri lo, kalau pada kenyataannya lo sekarang HAMIL. HAH” Wah...beneran hamil apa prank nih Terus ikutin ceritanya ya mumpung free, jangan lupa comment dan loves
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN