JENNY
Aku kesal karena Nathan terus diam, seakan aku ini melakukan kesalahan besar. Aku berteriak padanya sampai Nathan juga berteriak padaku, namun satu kata yang kudengar sangat jelas membuatku terperanjat.
HAMIL...kata yang selalu aku takutkan semenjak kejadian malam itu dan yang lebih parahnya diucapkan langsung oleh si penanam benih. Apa yang harus aku katakan, seakan otakku beku tidak dapat berpikir.
Ayolah otak bekerja, dulu kau sangat pintar memberikan jalan keluar sampai kau mampu menelpon wanita penghibur untuk menggantikan posisiku di ranjang Nathan.
"Bagaimana ini bisa terjadi Jen, ceritakan padaku siapa b******n itu" Nathan mencecarku. Aku terus berfikir jawaban terbaik yang akan kuberikan pada Nathan. Untuk kedepannya tentang aku dan anak yang ada dikandunganku, aku akan memikirkannya nanti.
"A..aku hanya mengenalnya kebetulan" yah aku memutuskan untuk mengambil cerita karangan ini "kejadian itu terjadi di Australia sehari setelah aku mengunjungi makam mommy" lanjutku
Mata Nathan masih terus menyelidiki mataku, biarkan karangan cerita ini berhasil aku mohon "aku mabuk Nath, saat aku bangun aku sudah berada di motel tanpa seseorang disampingku" aku merutuki diriku yang menjadi pintar berbohong
"Apa kau tidak melihat data di resepsionis? minta data booking kamar. Cari tahu alamat pria itu" tanyanya, apalagi yang harus aku jawab. Berfikir-berfikir.
"Aku tidak memerlukan lelaki seperti itu, dengan dia meninggalkanku itu berarti dia tidak menginginkanku apalagi anak ini" oh maafkan aku Nath telah berbohong.
"Bagaimana bisa aku tidak disisimu saat itu Jen, bagaimana bisa kau begitu bodoh" Nathan mengepalkan tangannya kemudian kulihat tangannya terarah ke tembok, aku segera bangkit menahan tangannya hingga aku terdorong ke tembok
"Akkhhh" aku menahan sakit ditubuhku dan segera memeluk perutku yang sedikit nyeri 'sayang maafkan mommy, bertahanlah...malam ini mungkin akan sangat panjang'
Nathan menghampiriku, memeluk tubuhku dan memapahku menuju ranjang, dia tampak semakin merasa bersalah.
Saat aku duduk di pinggir ranjang, Nathan berlutut, memeluk pinggangku dan membenamkan kepalanya dikedua pahaku. Kulihat punggungnya bergetar, kurasakan basah diarea pahaku. Nathan menangis...tangannya meremas baju bagian belakangku. Tak pernah terbayangkan Nathan akan menangis karena masalah ini. Bagaimana jika dia tau kalau dia yang menyebabkan kehamilan ini. Tanganku bergetar membelai surainya, membawa kepalaku mendekat ke kepalanya. Airmataku tak dapat tertahan, aku merasa bersalah. Aku tidak dapat mengatakan yang sebenarnya padanya. Kami menangis bersama sampai kemudian kesadaranku kembali. Tidak, aku tidak bisa membawa Nathan untuk menanggung masalah ini bersamaku. Dia juga tak menginginkan malam itu terjadi.
"Nath ini bukan salahmu, jangan merasa bersalah. Kau menjagaku dengan sangat baik. Mungkin ini sudah jalan hidupku" ucapku pada Nathan.
Kutegakkan tubuhku, meraih wajah Nathan untuk menghadapku, sungguh aku sakit melihatnya menangis "jangan begini Nath, aku merasa lemah jika kau begini"
"Jen, aku akan men..."
"tidak Nath, jangan katakan kau yang akan bertanggungjawab dan menikahiku" aku memotong ucapan Nathan. Aku tahu Nathan akan berkata seperti itu. Ini yang aku takutkan jika aku mengatakan yang sesungguhnya padanya.
"Apa kau mencintaiku, apa kau sudah melupakan Lytha?" tanyaku yang jelas-jelas mendengar Nathan memanggil nama Lytha saat mendapat pelepasannya bersamaku malam itu. Aku tak ingin Nathan menikahiku bukan karena cinta namun rasa bersalah.
"Aku masih mencintainya dan masih terus mengingatnya Jen" jawabnya meyakinkan dan menyadarkanku bahwa aku tak bisa membawa Nathan menanggung masalah ini bersamaku. Aku putuskan untuk menaggung masalah ini sendiri. Aku pasti bisa, merawat anak ini sendiri.
"Aku tahu, untuk itu jangan lakukan apa yang kau pikirkan tadi" ucapku. Kuhapus airmatanya "Bangunlah Nath, mandilah kita terlihat sangat berantakan" candaku
"Jen..."
"Cukup Nath, berhenti menyalahkan dirimu atas keadaanku itu menyakitiku Nath" aku menyela ucapannya karna aku tau dia akan meminta maaf lagi padaku.
Baby kita pasti bisa bertahan berdua, sambil kuusap perutku yang masih rata.
-----------
Aku menggeliat sambil membuka mataku, kudapati Nathan tertidur disampingku. Tangannya menjadi sandaranku dan dalam dekapannya aku merasa aman. Namun sampai kapan aku bisa seperti ini, apakah aku rela melepaskannya saat dia bertemu dengan kekasih tercintanya. Aku mengusap perutku 'sayang semua ini bukan kesalahannya, dia berhak bahagia. Mommy harap kamu juga seperti mommy, bahagia melihatnya bahagia'.
Mengurai pelukan kami dengan pelan agar tidak membuatnya bangun, aku membersihkan diri dan menyiapkan sarapan.
"Nath, bangun..." ku tepuk pelan pipinya
"Hmmmm" dia membuka matanya kemudian mengulet sejenak untuk mengumpulkan jiwanya "mandi gih, aku udah nyiapin sarapan" kataku
Aku mengambil kotak P3K dan menunggu Nathan selesai mandi. Saat membangunkannya aku lihat buku jarinya terluka. Walau bagaimanapun aku turut ambil bagian atas timbulnya luka itu. Aku duduk di sofa yang berada didalam kamarku saat kulihat Nathan selesai mandi aku tersenyum. Seperti biasa dia sudah mengenakan celana training dengan bagian atas tubuhnya yang topless.
"Sini" aku menepuk sofa agar Nathan duduk disampingku "tangan kanan" aku meminta tangan kanannya agar terulur padaku.
"Aw..aw..pelan-pelan. Sakit tau" ucapnya manja tak sesuai dengan tubuhnya yang menjulang tinggi dengan otot-otot sempurna pada bagian tubuhnya itu.
"Ck...Ck udah tau akan sakit masih saja dilakukan. Salah kamu sendiri, berhentilah menyakiti dirimu saat marah, kau harus lebih mengontrol emosimu" ucapku mengobati lukanya sambil memberikan sedikit ceramah.
Walau aku tidak melihat secara langsung raut wajah Nathan, ujung mataku menangkap Nathan terus menatapku dengan iba atas apa yang menimpaku.
"Jangan menatapku kasihan, aku bahagia Nath akan menjadi seorang ibu. Dulu mommy merawatku seorang diri, aku yakin aku bisa seperti mommy dan jangan menyalahkan dirimu atas apa yang menimpaku"
"Jen...kamu yakin tidak mau mencari tahu ayah dari anak kamu" lirih Nathan
"Tidak pelu, lagipula aku tidak marah padanya"
"Kamu apa-apaan sih Jen, kamu harus minta pertanggungjawaban dari pria b******k itu. Gimana kalo nanti anak kamu tanya dimana daddynya"
"Ga perlu Nath, aku justru berterima kasih dia memberiku seorang anak. Akhirnya aku tidak sendiri lagi. Walaupun aku baru mengenalnya malam itu aku tau di pria yang baik"
"Kalau dia baik tidak mungkin dia kabur begitu saja Jen"
"Aku yakin dia punya alasannya sendiri, Nath aku ingin menatap masa depan. Aku harap kita tidak membahas masa lalu" ucapku
"Selesai, ayo kita sarapan" aku tersenyum "Nath, tersenyumlah" pintaku
Pria itu baik Nath, Daddy dari anak aku ini orang yang baik. Aku sudah lama mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Dia orang pertama yang mengetahui kehamilanku dan menangis dihadapanku saat tahu aku hamil bahkan dia ingin bertanggungjawab dengan menikahiku. Tapi aku tidak bisa menerimanya, aku tidak mungkin masuk dalam cerita cinta yang seharusnya tidak pantas aku perankan. Aku yang memilih melepasnya dari tanggungjawab ini. Tanpa kau sadari, kau mengenalnya. Kau mengenal pria yang telah menanamkan benihnya dirahimku. Pria itu adalah kau Nath, Nathan Green.
Baik banget Jenny ya...
Jangan lupa ikutin kelanjutannya ya
Comment dan loves ya