Kemiripan

1012 Kata
MASA SEKARANG   AUTHOR 3 bulan berlalu sejak kepergian Lytha, Nathan mulai menata diri demi Natta. Berkat dukungan Jenny, Nathan lebih mudah untuk melanjutkan kehidupannya tentu saja tanpa melupakan Lytha. Wanita itu akan tetap bersemayam dihatinya. Nathan selalu mengingat kata-kata Jenny. “Nath...it's OK to smile, bukan karena kamu kehilangan lalu berhenti tertawa karena takut dengan pandangan orang. Lytha tak akan pernah hilang dari ingatan kamu hanya karna kamu tertawa. Jangan merasa bersalah jika kamu tertawa. Kembalilah seperti Nathan yang dulu dan kejar kebahagiaanmu demi Natta" ------ Tepat hari ini Nia berusia satu tahun sedangkan Natta berumur 4 bulan, Jenny ingin membuat perayaan kecil di apartment untuk ulang tahun pertama Nia. Jenny sudah memesan kue dan saat ini dia hanya perlu membeli beberapa bahan untuk dinner. Kebetulan bi Uti hari ini sedang sakit jadi mau tidak mau Jenny harus turun tangan sendiri.   “Nat aku mau ke supermarket dekat apartment bersama Natta, kamu jaga Nia dia sedang tidur baru saja menyusu dan mungkin nanti akan ada pengirim paket tolong kamu terima ya” ucap Jenny “OK. Hati-hati, kalau butuh bantuan nanti telepon aku” Jenny menganggukkan kepala sambil berlalu menuju pintu.   Nathan memasuki kamar Jenny, berbaring disebelah Nia. Memandang wajah Nia yang lelap tertidur bagai malaikat membuat Nathan juga mengantuk, namun baru saja ingin memejamkan mata pengirim paket membangunkannya.   Nathan menerima paket yang ternyata Birthday Cake, Nathan baru sadar kalau hari ini Nia berulang tahun. Nathan segera menghampiri Nia dan mengecup pipinya “selamat ulang tahun putri kecil daddy, maaf daddy lupa ulang tahun Nia. Akhir-akhir ini daddy juga melupakan kalian” Nathan mengusap pipi Nia dengan lembut yang membuatnya terbangun. Tangan kecil Nia meraih pipi Nathan dan menepuk-nepuknya. Nathan bangun untuk duduk, meraih Nia duduk dipangkuannya. Bermain-main dengan tangan mungilnya membuat Nia tertawa. Nathan memandangi Nia yang ternyata sudah sebesar ini, kulitnya putih bersih seperti Jenny begitu juga warna rambutnya. Saat menatap mata Nia dia mendapati warna matanya pada bola mata Nia. Bola mata berwarna hazel yang jauh sekali dengan warna bola mata Jenny. Beralih ke alisnya, hidungnya dan bulu matanya. Nathan semakin dalam memperhatikan Nia sambil mengerutkan dahinya.  Apa perasaanku saja ya, mengapa Nia semakin mirip dengan ku – Nathan ------- Jenny yang telah kembali dari acara belanjanya segera meletakkan barang bawaannya ke meja dapur. Dia membawa Natta yang sedang tertidur ke kamarnya. Jenny mendapati Nathan yang sedang bermain dengan Nia. Pemandangan yang indah bagi mata Jenny walau dalam hatinya takut jika Nia terlalu dekat dengan Nathan dan sulit berpisah nantinya.   “Anak mommy asik banget mainnya sih” ucap Jenny sambil membaringkan Natta di box bayi dan membuka jaketnya “mom...mom..." celoteh Nia sambil menatap Jenny “main sama uncle Nathan dulu ya, mommy mau masak” Jenny mengecup pipi Nia dan berjalan ke arah dapur. “Nat...nat...” Nia kembali berceloteh menyebutkan nama Nathan sambil menunjuk dirinya yang membuat terkejut. Nathan duduk disamping Nia menggenggam tangan Nia dan mengarahkannya ke wajahnya “Daddy...daddy...bukan Nat...nat” Nathan mengulangi sebanyak 3x kemudian membawanya ke box Natta “Ini Nat...nat” Nathan mengarahkan tangan Nia ke pipi Natta  “Daddy...daddy” mengarahkan tangan Nia ke wajahnya mengulangi pelajaran tersebut sebanyak 3x agar Nia terbiasa.   Nathan sebenarnya kecewa karna Jenny mengajari Nia memanggilnya dengan sebutan Uncle padahal dari Nia masih di dalam kandungan Nathan sudah memperkenalkan dirinya sebagai Daddy pada Nia.   Jenny meninggalkan masakannya sejenak kemudian memasuki kamarnya menuju walk in closet meraih satu paper bag besar.   “Taraaaaa, hari ini kita pakai baju kembaran untuk hari special Nia” ucap Jenny sambil mengangkat paper bag dalam genggamannya. Terdapat kemeja berwarna baby blue untuk Nathan dan jumper untuk Natta dengan warna yang serupa dengan Nathan. Sedangkan Jenny dan Nia akan menggunakan gaun berwarna baby pink. Tidak lupa memasang sedikit dekorasi agar acara lebih meriah.   Setelah semua siap mereka merayakan ulang tahun Nia. Meniup lilin bersama-sama dengan Nia dalam gendongan Nathan dan Natta dalam gendongan Jenny. Merekapun mengabadikan moment dengan berfoto.   Nathan memutuskan untuk mencuci piring, membersihkan kitchen dan meja makan karena Jenny harus menyusui Nia dan Natta. Jenny berdiri di balkon setelah menyusui dua malaikat kecilnya sejenak menghirup udara malam. Dia bahagia mengingat perayaan kecil-kecilan mereka. Ahhh aku harus menikmati moment ini, karna aku tahu suatu saat nanti akan meninggalkan mereka saat Nathan sudah menemukan pengganti Lytha.   Nathan yang baru menyelesaikan kegiatannya masuk ke kamar Jenny dengan membawa segelas s**u hangat mendapati wanita itu kemudian membelai surainya, Jenny yang sadar akan belaian itu menengok ke sebelah kiri dan tersenyum pada Nathan.   “Mikirin apa?” tanya Nathan sambil terus membelai surai Jenny dan memberikan segelas s**u pada Jenny “Ga ada, just chill for a moment” ucapnya kemudian melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Nathan dan menyandarkan kepalanya ke bahu Nathan dan memejamkan matanya sedangkan tangan kanannya masih memegang gelasnya. “Jen” “hmm” "Aku dulu kecewa karna kamu tidak mencantumkan nama keluargaku pada Nia dan Aku kecewa lagi hari ini karna kamu mengajarkan Nia memanggilku uncle padahal sejak dalam kandungan aku sudah mengajarinya memanggilku daddy" "Aku ngerti Nath, tapi kalau Nia memanggilmu daddy bukankah akan sangat membingungkan saat Nia besar nanti" "Kamu tenang aja, aku yang akan jelasin ke Nia kalau perlu ke calon pasanganmu nanti" "Nath, aku..." "Jen...please" Nathan memotong ucapan Jenny "Baiklah...kalau itu mau kamu" lagipula aku tidak yakin aku masih ada disampingmu saat Nia sudah besar "Thanks kamu mau turutin permintaan aku" ucap Nathan sambil tersenyum "Padahal Nia yang ulang tahun tapi kamu yang banyak permintaan" ketus Jenny "Ya ampun cuma permintaan kecil begitu, ga mahal juga Jen. Perhitungan banget sih"  "Terus mana kado kamu untuk Nia, aku mewakilkannya menagih pada DADDY-nya ini" ucap Jenny menekankan kata DADDY yang diminta Nathan "Besok pasti aku kasih"  "Awas bohong ya, nanti aku ajari Nia memanggil kamu tante. hahaha" "Ih jangan dong, aku kan bukan cowok jadi-jadian"  "Jen"  "hmmm" HENING... “Nia...apa mungkin anakku”  DEGGG  Jangan tanyakan lagi kondisi jantung Jenny, lajunya bagai balapan kuda. Apa yang harus aku katakan, apakah aku harus jujur sekarang. Wah bakal ketahuan ga ya di episode selanjutnya Ikutin terus ya mumpung gratis, mendekati akhir akan berbayar Jangan lupa Follow, comment dan loves
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN