Kepikiran

1243 Kata
"Jen"  "hmmm" HENING... “Nia...apa mungkin anakku”  DEGGG  Jangan tanyakan lagi kondisi jantung Jenny, lajunya bagai balapan kuda. Apa yang harus aku katakan, apakah aku harus jujur sekarang.   “hahaha" tiba-tiba Nathan tertawa  "mungkin benar kata orang kalau kita sering bersama seseorang kadang membuat menjadi mirip. Lagipula kalaupun Nia anakku pasti kau langsung memberitahuku kan, ga mungkin kamu berbohong apalagi untuk hal besar seperti ini” lanjut Nathan   Sementara Jenny, nyalinya menciut karna ucapan Nathan. Kerena jelas-jelas dia membohongi Nathan. Namun Jenny masih mencoba peruntungannya.   “Kadang berbohong diperlukan untuk kebahagiaan orang lain Nath” Jenny mencoba menyelidik melalui respon Nathan akan pernyataannya ini   “Kau tahu, dulu aku juga membenarkan hal itu tapi sekarang tidak lagi karena ternyata hal itu akan membuat banyak penyesalan. Lytha, dia menyimpan semua masalah kandungannya sendiri sampai akhirnya aku mengetahuinya disaat-saat terakhir. Jika saja dia jujur, aku akan bersamanya menghadapi semua situasi sulitnya dan meluangkan waktu lebih banyak untuk mengukir memori indah kami bersama” ucap Nathan sambil menatap gelapnya malam   Jenny menarik napas dan membuangnya pelan menghilangkan rasa gugupnya “Bagaimana kalau ternyata aku membohongimu dan Nia ternyata anakmu”   Nathan memutar tubuhnya berhadapan dengan Jenny, membulatkan matanya dengan raut wajah bagai singa yang sedang membidik mangsanya dua kali lebih menyeramkan dari Nathan yang marah pada Jenny saat tahu Jenny hamil membuat Jenny menggenggam erat gelasnya berusaha menghilangkan rasa gugupnya.   “hahahaha..aku bercanda Nath” Jenny tertawa canggung   Nathan membawa tubuh Jenny kedalam pelukannya, namun “ahhh..panas” Nathan tercekat karena gelas berisi s**u yang digenggam Jenny tumpah ke dadanya.   “Tuh kan, makanya jangan marah begitu. Jadi kamu ga pakai mata, sudah tau aku lagi pegang gelas” ucap Jenny sambil mengusap baju Nathan yang jelas saja percuma karena tidak akan mempunyai efek apapun. Jenny ingin beranjak mengambil tissue di meja riasnya namun tangannya sudah dicekat oleh tangan Nathan.   Tangan itu menariknya, membawa masuk kedalam pelukan yang selalu hangat dan nyaman bagi Jenny. Namun sedetik kemudian Jenny menyadari kalau Nathan sudah topless karena beberapa detik yang lalu Nathan sudah membuka bajunya yang terkena tumpahan s**u.   “Jen, jangan suka bercanda seperti tadi. Itu sama sekali gak lucu. Aku menyayangi kalian berdua, kalau ternyata kamu membohongi aku, aku bisa marah besar Jen dan mungkin aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Kita sudah berjanji kan untuk selalu jujur”   Jenny tersenyum kecut,   Untuk itu biarkan semua ini menjadi rahasiaku, sampai aku menyelesaikan janjiku pada Lytha – Jenny ----------- Pagi ini sangat cerah namun tidak dengan hati Jenny. Dia tidak bisa tidur semalaman, pembicaraannya dengan Nathan sangat mengganggu pikirannya. Kepalanya pening memikirkan hal itu.   Jenny beranjak dari ranjang dengan agak oleng kemudian mengecek keadaan dua bayi mungil yang masih terlelap dalam box bayinya. Melangkahkan kakinya menuju dapur karena dia memerlukan air untuk tenggorokannya yang kering.   Matanya menatap heran pada meja makan, melihat sarapan masih tersaji lengkap seperti belum ada yang menyentuhnya. Menatap jam dinding menunjukkan pukul 08.00 pagi.   “Bi, Nathan tidak sarapan sebelum berangkat kerja” tanyanya pada asisten rumah tangga Nathan itu “Oh, pak Nathan belum sarapan karna belum berangkat kerja juga” jawab Bi Uti   Jenny melangkahkan kaki ke kamar Nathan yang dulu digunakannya saat menginap di apartment Nathan. Mereka terpaksa harus bertukar kamar karena Jenny memerlukan kamar yang lebih luas karena dihuni bersama dua bayi lucu.   Jenny mengetuk pintu “Nath” tidak ada jawaban “Nath” masih tidak ada jawaban, akhirnya Jenny masuk ke dalam kamar itu yang seperti kebiasaan Nathan maupun Jenny tak pernah mengunci kamar mereka.   “Nath...nath...”Jenny menyusuri kamar itu namun tidak mendapati Nathan didalamnya. Jenny memutuskan untuk kembali ke dapur namun saat mendekati pintu dia bertabrakan dengan Nathan yang berjalan terburu-buru ke kamarnya.   “Aaaaa” Jenny hampir tersungkur namun tangan kekar menahan tubuhnya membuatnya kembali berdiri. Wangi shampoo dan sabun mandi beraroma mint tertangkap indra penciuman Jenny. “Sorry Jen, aku buru-buru. Aku bangun kesiangan” Nathan baru saja mandi menggunakan kamar mandi luar karena saat ini kamar yang digunakannya tidak terdapat kamar mandi di dalam kamar.   Jenny memperhatikan Nathan yang sangat terburu-buru menuju walk in closet dengan rambut yang masih basah.   “Nath, kamu keringin dulu aja rambut kamu. Aku bantu siapin baju kamu” seru Jenny membuat Nathan mengangguk dan menuju meja rias yang didominasi oleh berbagai produk kecantikan milik Jenny. Walau Lytha sempat tinggal di apartment ini sebelum pindah ke rumah baru mereka, kamar ini tidak pernah tersentuh jadi barang-barang Jenny masih berada disana dan memang Jenny tidak pernah mengambil barang-barang itu.   Jenny menyiapkan pakaian Nathan termasuk underwearnya. Canggung, tentu tidak. Ini bukan pertama kali bagi Jenny melakukannya. Saat Jenny menginap di apartment Nathan Jenny hampir selalu melakukannya karena Nathan sering kesiangan apabila Jenny tidak membangunkannya baik lewat telepon maupun secara langsung saat dia sedang menginap.   “Nath, pakai pakaian kamu” Jenny mengambil alih hair dryer dari tangan Nathan,   Nathan yang hanya menggunakan handuk sebatas pinggang sampai atas lutut segera memakai under wearnya dengan handuk yang melekat pada pinggangnya dilanjutkan dengan yg lainnya sedangkan Jenny menuju meja kerja Nathan yang tak jauh dari ranjangnya. Mempersiapkan tas kerja Nathan dan arloji, menaruhnya diranjang bersebelahan dengan posisi Jenny menaruh kemeja Nathan agar Nathan dengan mudah melihatnya.   Selesai dengan keperluan Nathan, Jenny menuju dapur “Bi, sarapan Nathan taruh di kotak makan dan kopinya masukin ke tumbler ya, nanti dia sarapan di mobil” pesannya pada bi Uti kemudian menelpon supir agar bersiap 15 menit di lobby.   Nathan keluar dari kamarnya kemudian menuju kamar Jenny untuk menyapa dua balita kesayangannya. Mengecup kening mereka kemudian kembali menuju dapur. “Aku berangkat Jen” Nathan beranjak menuju pintu namun tangan Jenny menghentikan langkah Nathan “Ada apa?” tanya Nathan "Minimal minum dulu" Jenny memberikan segelas s**u pada Nathan "Thanks" Nathan menaruh gelasnya kembali setelah meminum susu Saat Nathan akan beranjak, Jenny menahannya kemudian merapikan dasi Nathan. “Nah, sekarang kau sudah rapih dan terlihat tampan” ucap Jenny sambil menepuk kemeja bagian bahu Nathan setelah membetulkan dasinya membuat Nathan tersenyum. “Thanks, aku berangkat ya” namun lagi-lagi Jenny menahan langkah Nathan “Bi, sarapannya sudah dipack” ucap Jenny kemudian Bi Uti segera muncul membawa tas kecil berisi sarapan Nathan dan tumbler berisi kopi Nathan.   ‘sahabatku tidak pernah berubah, selalu perhatian dan baik hati. Tidak pernah terbayang jika Jenny tidak hadir di masa-masa terberat hidupku’   “Nath..kenapa melamun. Nih ambil makanlah di mobil aku sudah menelpon Pak Ujang dan dia mungkin sudah stand by di Lobby” ucap Jenny sambil memberikan sarapan yang sudah terbungkus rapi di tas kecil berwarna hitam. “Thanks ya” ucap Nathan sambil memainkan pipi Jenny "Sakit Nath" keluh Jenny membuat Nathan melepaskan pipi Jenny dari keisengan tangannya "Iya maaf, aku jalan ya" namun Jenny kembali menahannya “Nath..” Jenny menunjuk sudut bibirnya. Nathan tampak bingung, tidak mungkin kan Jenny memintanya untuk mengecup bibirnya. “Itu disudut bibir kamu ada sisa s**u” Ya ampun apa yang ada dipikiranmu Nath. Namun ide jail mampir di otak Nathan. Dia mendekatkan bibirnya ke lengan baju tidur Jenny dan membersihkan sisa s**u pada sudut bibirnya. Kemudian dengan cepat memeluk Jenny, mengecup keningnya dan mencubit pipinya LAGI “aku berangkat” ucap Nathan.  ‘Dia pasti akan berteriak sebentar lagi’ gumam Nathan, namun sampai dia keluar dari pintu Nathan tidak mendengar teriakan Jenny sedikitpun. Tumben sekali. Sedangkan Bi Uti senyam-senyum dengan tingkah kedua bosnya yang menurutnya sangat serasi. Bahkan Bi Uti pernah berdoa agar mereka berjodoh. Ikutin terus ya, mumpung gratis Jangan lupa Follow, loves and comment
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN