Solusi Membawa Luka

834 Kata
Nathan menarik napas, mengenyahkan rasa yang bergejolak di dalam hatinya. Kamu harus bisa Nath, demi Nia demi Natta demi menghilangkan kesakitan Jenny. Nathan menghembuskan nafasnya.  Nathan mengubah posisinya yang kini sudah berada diatas Jenny, memajukan wajahnya ke arah p******a Jenny "jangan salah paham, aku yakin kamu mengerti niatku" kemudian menghisap p****g Jenny.  Jenny terkesiap dengan napas tertahan dan mata terbuka lebar menahan kaget.  "shhh...awwwhh" Jenny memejamkan matanya, rasa kaget itu berganti nyeri karena hisapan dari bibir Nathan. Nathan dapat merasakan limpahan ASI masuk ke dalam mulutnya, rasanya manis seperti s**u almond. Jenny meremas lengan Nathan hingga yang diremas pun merasakan sakit akibat kuku-kuku Jenny. Nathan menahan perih dilengannya.   Dia terus menghisap p******a Jenny kiri dan kanan dan menelan ASI tersebut. Glek...glek...glek suara tenggorokan Nathan saat menelan ASI Jenny. Sedangkan Jenny terus merintih kesakitan “ssshh...akkh...saa...kiith” sambil terus meremas lengan dan bahu Nathan sesekali memeluk Nathan dengan airmata yang terus mengalir.  Jenny terus merintih menahan sakit payudaranya maupun hisapan Nathan "Sakith,,Nath,,huuuh" Jenny menarik nafasnya membuatnya membusungkan dadanya. “Sebentar lagi Jen kamu tahan ya” ucap Nathan sambil menghapus air mata Jenny dengan ibu jarinya. Mengusap kening Jenny yang penuh dengan keringat “semoga rasa sakitnya segera hilang” Nathan mengecup kening Jenny dan memulai kembali aksi hisapannya.   Nathan menghentikan hisapannya saat dirasakan ASI itu mulai sedikit masuk ke mulutnya. Jennypun merasa lebih baik, merasa payudaranya lebih ringan, nyerinya pun berkurang.  “You did a great job Jen, kamu berkorban banyak untuk kami” bisik Nathan ditelinga sahabatnya itu kemudian mendudukkan tubuhnya. Menarik bed cover sampai menutupi d**a Jenny  "Bathrobenya dilepas aja ya” Nathan melepaskan bathrobe Jenny tanpa membuka bed cover. Bathrobe Jenny lembab akibat sisa air berendam dan keringat Jenny.   Nathan melangkah menuju master room, mengecek keadaan anak-anak kemudian menuju kamar mandi. Ya dia melakukan pelepasannya disana. Nathan tetap manusia biasa yang punya hasrat yang sedari tadi ditahannya. "Aaakkkhh....Jenny" teriak Nathan saat mendapatkan pelepasan akibat permainan solonya. s**t kenapa aku meneriakkan nama Jenny. Aku benar-benar FUCKIN JERK...ahhh Nathan menyugar rambutnya.   Nathan menjejakkan kaki kembali ke kamar Jenny dengan membawa piyama ditangannya. Membantunya memakai piyama dengan Jenny yang masih menahan bed cover menutupi dadanya. Mengambil hair dryer, mengeringkan rambut setengah basah Jenny.   “Sudah lebih baik?” tanya Nathan, Jenny mengangguk “maafin aku” lanjutnya sambil membelai surai Jenny “tidurlah” Nathan meninggalkan kamar Jenny kemudian menuju master room.   Jenny menatap punggung Nathan yang kian menghilang dari pandangannya. Jenny langsung berlari menuju kamar mandi, menyalakan shower dan meringkuk dibawah siraman shower dengan kepala tertunduk diatas kedua lutut dan satu tangannya. Sedangkan satu tangan yang lain membekap mulutnya menahan isakan yang tertumpah agar tak terdengar keluar.   Mom...Jenny butuh mommy. Jenny bingung harus bagaimana. Jenny sangat menjijikkan. Jenny bahkan menikmati sentuhannya seperti w************n. Sedangkan dia melakukannya karna ingin menolongku. Mom kenapa hidup Jenny seperti ini, mencintainya sungguh menyakiti aku teramat dalam. Beri aku kekuatan untuk bertahan dan melepaskannya saat tiba waktunya. Karena berdekatan dengannya sungguh menyiksa dan menyadari bahwa akhirnya kami tak bisa bersama sungguh membunuhku secara perlahan.   Saat dirinya kembali tenang, Jenny memakai piyamanya mengeringkan rambutnya. Berjalan menuju master room, memandang tiga orang yang dicintainya sedang tertidur pulas. Jenny meraih tubuh Nia dan membawanya ke kamar lain. Jenny tidak sanggup kembali ke kamar sebelumnya. Membuatnya merasa jijik akan dirinya sendiri.   Merebahkan dirinya dan Nia diatas ranjang. Memandang wajah Nia yang semakin hari mulai menyerupai Nathan. Sampai akhirnya Jenny terlelap dengan airmata disudut matanya.  ------- Nathan membuka matanya saat merasakan wajahnya ditepuk-tepuk.   “Dad...dad...cucu” Natta berceloteh meminta susu   Nathan mengecupi wajah anaknya, tapi kemana Nia. Nathan menggendong Natta, menyusuri semua ruangan mencari Nia. Dirinya semakin dikejutkan melihat kamar yang ditempati Jenny kemarin kosong. Laju jalannya semakin cepat terus memperhatikan sekeliling sampai tiba dikamar ketiga mendapati Nia dan Jenny sedang terlelap.   “Mom...mooom...cucuuuu...mom”mata Natta berkaca-kaca kemudian menangis saat Jenny masih tetap tidur   Jenny terbangun mendengar tangisan Natta, kemudian tersenyum.   “Na...eh Daddy coba kamu taruh Natta disana” Jenny turun dari ranjangnya kemudian merentangkan tangannya   “Coba kesini kalau mau s**u” ucap Jenny yang berada 3 langkah di depan Natta. Bayi laki-laki itu mengangkat bokongnya mencoba berdiri sempurna dan sesuai dugaan Jenny anak itu sudah mampu berjalan.   Saat Natta sudah hampir mendekat, Jenny kembali menjauhkan jarak mereka. Melakukan itu lagi dan lagi membuat Natta menangis karna dia sungguh ingin minum s**u. Jenny tertawa dan akhirnya membawa Natta dalam pelukannya “anak mommy udah bisa jalan ya” mengecupi pipi Natta. Tak menyadari bahwa Nathan kembali ke master room untuk mengambil ponselnya dan mengabadikan moment berharga tadi sambil tersenyum.   Mendengar keributan itu Nia terbangun. Berdiri dari ranjangnya dengan nyawa yang belum terkumpul seluruhnya membuatnya oleng dan jatuh kembali diatas ranjang kemudian menangis memanggil Nathan “daddy...endoong”   Nathan berlari untuk menggendong Nia. Jenny memperhatikan interaksi daddy and daughter didepannya itu ‘Nia harus rela ya jika nanti ga bisa sama daddy lagi'   Mereka berfoto ria sebelum akhirnya kembali ke Jakarta. Aduh susah ya cinta bertepuk sebelah tangan, gimana nih kelanjutannya. Ikutin terus ya ceritanya Jangan lupa Follow, Comment and Loves
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN