Seusai makan malam Jenny dan Nathan memandikan anak-anak dengan air hangat. Jenny menyusui Natta sedang Nia bermain diatas kasur. Nathan sedang mandi.
Hari ini p******a Jenny terasa kencang sekali ada rasa nyeri apalagi saat sedang menyusui. Rasa sakit pada payudaranya sudah dirasakan dari kemarin, tapi hari ini nyerinya teramat sangat. Mungkin karena sudah dibiarkan dua hari tak dipompa.
“Nia dan Natta bantu mommy ya, minum s**u yang banyak” Jenny menyusui Natta sambil memejamkan matanya menahan nyeri. Jenny membuka matanya saat tidak mendengar celotehan Nia.
Jenny segera berlari menuju sofa saat melihat Nia berdiri dengan kaki berada di ujung sofa sedang didekat sofa itu ada terdapat siku meja yang terbuat dari kayu.
“Niaaaa” Jenny menangkap Nia dengan tangan kanannya dengan Natta masih berada ditangan kirinya.
Nathan segera keluar dari kamar mandi dengan handuk dipinggangnya mendengar teriakan Jenny “ada apa” menyadari situasi Nathan meraih Nia dari tangan Jenny.
“awww” Jenny merasakan nyeri pada pergelangan tangannya saat mencoba mengangkat tangannya.
“kenapa” tanya Nathan
“kayanya tangan aku keseleo” Jenny mencoba menggerakkan tangannya sekali lagi “ahhh” fix tangannya keseleo, mungkin salah posisi saat menangkap tubuh Nia tadi
“Disini ga ada RS Jen, jaringan juga tidak ada, staff penginapan baru datang besok pagi. Sakit banget?” tanya Nathan panik
“Jangan panic Nath, aku ga papa. Besok kan kita sudah kembali ke Jakarta”
“kamu yakin?” Nathan tetap tak tenang
“iya” sebenarnya Jenny tidak yakin tapi dia tidak mau merusak mood liburan mereka toh besok mereka pulang. Jenny kembali menuju ranjang sedangkan Nathan membawa bajunya dan memakai dikamar agar dapat mengawasi Nia.
Tepat pukul 22.00 Jenny merasakan panas dingin pada tubuhnya, payudaranya semakin nyeri. Rasanya sama seperti saat dulu Jenny masuk rumah sakit karena mengalami mastitis. Nathan yang merasakan pergerakan kasurnya bangun dan mendengar rintihan Jenny. Nathan beranjak, menyalakan lampu tidur yang ada disebelah Jenny.
“Kenapa Jen” khawatir melanda Nathan
“Kamar mandi, aku perlu ke kamar mandi” ucap Jenny dengan bibir bergetar
Nathan memapah Jenny menuju kamar mandi. Jenny masuk ke kamar mandi, menutup pintu, siku tangannya dipakai untuk menahan tubuhnya yang lemas. Membuka branya menggunakan tangan kiri kemudian mengarahkan p******a sebelah kanannya ke wastafel. Jenny memompa ASInya menggunakan tangan kirinya.
“ahhh...sakiiiit” Jenny terus memompa ASInya sambil mengeluarkan airmata menahan rasa nyeri teramat sangat pada payudaranya. Kemudian berganti dengan p******a sebelah kirinya. Hingga 15 menit Jenny menyerah, tangan kirinya lemas sedangkan tangan kanannya masih keseleo.
“Jen, are you ok” Nathan yang masih menunggu Jenny didepan pintu kamar mandi mulai mengkhawatirkan Jenny
“kasih aku waktu 20 menit lagi” ucap Jenny dari dalam kamar mandi, Jenny mengisi bathtub dengan air hangat kemudian berendam sambil memijat payudaranya “mom, jenny sakiiit. Toloong” rintihnya pelan.
Masih sakit, itu yang dirasakan Jenny setelah 20 menit berendam. Meraih bathrobe, memakainya dan berjalan menuju pintu.
“Naath sakiiit” ucap Jenny saat netranya melihat Nathan, ia frustasi seperti mengalami jalan buntu.
Nathan memegang bahu Jenny “apa yang sakit, tangan kamu?” Jenny menggelengkan kepalanya
“My breasts” kaki Jenny lemas, Nathan refleks menahan tubuh Jenny dengan kedua tangannya. Menggendongnya ala bridal menuju ranjang namun Jenny menahan langkahnya “bawa aku ke kamar sebelah” ucap Jenny memohon, Nathan segera membawa Jenny ke kamar sebelah kemudian membaringkannya di ranjang.
“Nath, anak-anak kasih pembatas di ranjang takut jatuh” Nathan benar-benar salut dengan sifat keibuan Jenny, saat dia kesakitan pikirannya masih tertuju pada anak-anak. Nathan menuju master room menaruh bantal mengelilingi anak-anak kemudian kembali ke kamar Jenny.
Jenny terduduk dengan bersandar pada kepala ranjang. Memegang dadanya, wajahnya pucat penuh keringat. Rambutnya setengah basah akibat berendam. Rintihan kecil keluar dari mulut Jenny. Nathan akhirnya mengerti kenapa Jenny meminta dibawa ke kamar ini. Jenny tidak mau mengganggu tidur anak-anaknya.
Hati Nathan sakit melihat penderitaan Jenny.
Nathan memeluk Jenny “akkh” rintih Jenny saat payudaranya berhimpit dengan d**a Nathan. Nyeri teramat sangat. Nathan segera melepaskan pelukannya.
“Jen apa yang bisa aku lakukan” ucap Nathan namun hanya mendapat gelengan dari Jenny
“Gak ada, Pompa ASI tertinggal dan sekarang payudaraku sakit Nath” ucap Jenny sambil menangis
Tiba-tiba Nathan teringat isi buku yang pernah ia baca “Jen, kamu percaya aku kan?”Jenny mengangguk
Tangan Nathan ingin melepas bathrobe Jenny, namun Jenny menahannya “kamu mau apa Nath?” tanya Jenny.
“Ini jalan terakhir Jen, aku tau kamu pasti sudah melakukan yang kamu bisa dan hasilnya pasti nihil. Aku pernah membaca buku mengenai masalah ini. Kita akan coba cara itu”
Jenny mengerti maksud Nathan namun tak menjawabnya. Ini tidak benar, aku tidak mungkin membiarkan Nathan melakukan hal itu. Saat Jenny sedang larut dalam pikirannya tangan Nathan sudah meraih bathrobe Jenny dan ingin membukanya. Jenny menahan tangan Nathan “aku ga pakai apa-apa Nath” ucapnya sambil menahan sakit.
Nathan mengerti maksud Jenny. Nathan membaringkan Jenny kemudian menarik bed cover menutupi kaki hingga perut Jenny. Nathan duduk disamping kiri Jenny “maafin aku, kamu pasti mengerti niat aku” kemudian membuka bagian atas bathrobe menampilkan p******a Jenny dengan putting yang sudah memar kemerahan membuat Nathan dapat menebak kesakitan yang Jenny alami.
Nathan menarik nafasnya dalam hatinya ada rasa tak menentu yang tak dapat dijelaskan. Namun dia harus mengesampingkan rasa yang bercampur aduk dalam benaknya demi menghilangkan kesakitan yang Jenny alami.
Telapak tangan Nathan sudah mendarat di p******a Jenny “Ah...Saakiith Nath” rintih Jenny saat tangan Nathan memijat payudaranya, jujur Nathan tidak tahu cara yang tepat untuk melakukan pijatan kecuali pijatan saat bercinta. Entah pijatannya yang salah atau apa tapi ASI yang dikeluarkan sangat sedikit padahal tangan Nathan dapat merasakan penuhnya ASI pada p******a Jenny.
Nathan menyerah dengan metode pemijatan, sudah berulang kali dilakukan namun tidak membuahkan hasil, yang ada dia semakin menyakiti Jenny.
Apakah harus melakukan hal terakhir yang pernah dia baca. Menjamah p******a Jenny saja dia sudah merasa bersalah, apalagi menghisapnya secara langsung. Nathan memandang Jenny yang menutup matanya menahan sakit dengan airmata yang terus mengalir disudut matanya. Sudah sejauh ini Nath, kamu harus melakukannya ini jalan terakhir. Bukankah kesakitan Jenny juga karena demi minuman pokok anakmu. Kamu bisa, kamu harus bisa membantu Jenny Nath.
Kira-kira mereka mendapat jalan keluar apa ya dari masalah ini.
Ikutin terus ceritanya.
Jangan lupa Follow, Comment and Loves