Berlibur

1106 Kata
Hari ini Nathan, Jenny, Nia dan Natta menuju pulau terpencil untuk merayakan ulang tahun Natta yang pertama. Nathan bilang sih tempatnya Indah banget pasti Jenny dan anak-anak suka, mereka sengaja tidak membawa Bi Uti dan Mba Ati. Nathan bilang ingin menghabiskan waktu bersama ketiga orang terdekatnya itu.   Dan benar saja tempatnya sangat indah dan bersih, mungkin karena masih sedikit turis yang datang. Hanya ada satu penginapan di pulau ini dan setiap pagi aka nada room service yang akan membersihkan penginapan itu. Sedangkan urusan makanan harus datang langsung ke ruang makan yang terletak 200m dari penginapan yang mereka tempati.   Memasuki penginapan, kesan Nature but luxury langsung dapat dirasakan. Terdiri dari 3 kamar. 1 kamar utama dengan kamar mandi yang bisa langsung menuju kolam berenang, bathtub menghadap kolam berenang sedang dua kamar lainnya dilengkapi kamar mandi dengan shower hanya tidak terdapat bathtub disana.Nuansa kaca dengan atap yang tinggi membuat penginapan ini sangat elegan dengan rooftop dilantai kedua sehingga dapat menikmati pemandangan hijau dari arah yang berlawanan dengan pantai.   Mereka akan tinggal selama tiga hari di beautiful island ini. Jenny segera merapikan pakaian dan perlengkapan yang mereka bawa. Agar lebih mudah jika ingin menggunakannya. Setelah hampir semua selesai Jenny tidak menemukan peralatan pompa ASInya. Semua akan baik-baik saja, Jenny menenangkan pikirannya.   Berhubung mereka sampai agak sore, Jenny memandikan anak-anak. Mereka akan explore pulau besok setelah merayakan ulang tahun Natta. Jenny segera menyusui Nia dan meletakkan ditengah ranjang saat sudah selesai menyusui. Kemudian Nathan datang membawa Natta yang sudah meminta jatah ASInya. Jenny meraih Natta dari tangan Nathan.   “Nia langsung tidur, cepet banget” ujar Nathan “Anak-anak pasti cape habis perjalanan jauh, Natta pasti juga langsung tidur abis nyusu” “Selama kita disini kita satu kamar aja ya, kalau anak-anak rewel aku bisa bantu” ucap Nathan “Terserah kamu, baik banget sih” goda Jenny “Iya makanya kamu bersyukur punya sahabat kaya aku ” Nathan berbangga akan dirinya sendiri “Iya-iya..Nath...Oops sorry Daddy” Jenny segera memperbaiki panggilannya karena ada Nia sekaligus pelototan dari Nathan “ tolong ambilin kain yang di bangku” sambungnya Nathan mengikuti instruksi Jenny dan memberikannya pada Jenny. “Sabar dong anak ganteng mommy” ucap Jenny melihat Natta yang terus menepuk-nepuk dadanya. Jenny membuka kancing bajunya, menaruh kain yang Nathan berikan dibahunya sampai menutupi dadanya kemudian mengeluarkan payudaranya dari bawah kain itu dan mengarahkan ke mulut mungil Natta. Nathan menyaksikannya dengan takjub, salut pada Jenny yang mampu menjadi ibu yang luar biasa secara mandiri. “Kamu terbaik Jen, aku gak nyangka kamu bisa jadi ibu hebat” ungkap Nathan “Baru tau kamu” Jenny sambil terkekeh kemudian menyandarkan diri pada kepala ranjang Hening “awwh, jangan begitu ya sayang” Jenny bicara pada Natta “Kamu kenapa?” tanya Nathan yang ambigu atas perkataan Jenny “Nih anak aku main gigit aja, mereka berdua sekarang sudah ada gigi jadi bagian ini sering jadi korban gigitan” ucap Jenny sambil menunjuk dadanya “hahaha, sakit dong”   "ya, iyalah. Pake ditanya” “Eh diralat tuh, Natta kan anak aku” “Tapi kan kontribusi aku paling banyak, aku susuin dia, kasih Nutrisi sampe gembul begini” gemas Jenny sambil mengusap lipatan kaki Natta sangkin gembulnya “Tapi kontribusi aku lah paling kuat makanya bisa jadi” “Maksudnya?” “Aku penghasil s****a dengan kualitas terbaik, makanya jadi produk terbaik” “PD banget ya” Jenny memutar bola matanya “Loh terbukti kok, liat tuh hasilnya dipangkuan kamu” Nathan menunjuk Natta "Iya...iya...ga mau banget sih kalah"  "Harus dong" jawab Nathan yang sekarang mengalihkan pandangannya pada Nia. Membelai rambutnya, mengusap pipinya kemudian membawa Nia dalam pelukannya. "Duuh, jangan diisengin gitu nanti nangis" ucap Jenny ketus "Ck...aku tuh lagi inget waktu dia baru dilahirin Jen. Kecil terus merah gitu kan. Aku aja takut gendong pertama kali. Sekarang udah bisa jalan" "Iyalah, masa mau jadi bayi terus"  "Kamu merusak suasana melow aku aja sih. Lagian walaupun dia nanti udah besar bagi aku dia tetep bayi se.la.ma.nya" ucap Nathan sambil mengusap jemari Nia yang sedang menggenggam telunjuknya. Jenny tersenyum haru mendengar ucapan Nathan. Aku harap kamu mengingat kami selamanya, walau nanti kita sudah tak saling menyapa - Jenny ------- Pagi hari mereka melakukan perayaan bagi Natta, Jenny sudah mempersiapkan baju bertema pantai untuk mereka berempat. Mengabadikan moment dengan beberapa foto yang diambil dengan bantuan staff penginapan. Mereka mengelilingi pantai, bermain air dan saat ini Nia sedang membangun istana pasir bersama Nathan sedangkan Jenny duduk di gazebo sambil menyusui Natta dan memperhatikan tingkah lucu Nia dan Nathan.   Jenny memandangi Natta   Ta, sekarang anak kamu sudah satu tahun. Dia tumbuh dengan baik dan sangat tampan. Dia juga sangat mirip denganmu. Ta, maafin aku sudah berani mencintai Nathan bahkan saat itu aku tahu hatinya bukan untukku. Tapi kamu perlu tahu aku sudah mencoba membunuh perasaan ini tapi justru aku terjebak semakin dalam. Nathan memberiku sejuta kasih sayang saat aku mengandung Nia, saat itu pertama kali jantungku berdebar tidak biasa. Awal dimana ada rasa yang tak biasa saat dia mengecup keningku dan memelukku. Aku semakin menyadari bahwa aku mulai mencintainya dan takut kehilangan dia. Dan kau datang kembali, membuatku tersadar bahwa kamulah yang dicintainya. Aku memutuskan mundur dari percintaan ini. Namun takdir seperti mempermainkanku saat aku menerima pesan darimu. Aku harus bertemu dengannya lagi disaat hatiku masih sangat mencintainya. Ta...   “Hei Jen, kamu kenapa” Nathan yang datang bersama Nia bingung melihat mata Jenny berkaca-kaca “Mommy...cup...cup” Nia menepuk pipi Jenny membuat Jenny semakin sedih dengan hanya memikirkan saat putrinya harus dipisahkan dengan ayahnya nanti.   Nathan membawa Jenny kedalam pelukannya dengan Natta yang masih berada dipelukan Jenny. Nathan mengusap-usap punggung Jenny tanpa dia sadari Jenny semakin tersakiti. Wanita itu berusaha menahan tangisnya. Menutup mulutnya dengan sebelah tangannya sambil meyakinkan dirinya kamu bisa Jen, kamu sanggup dan kamu kuat. Jenny mengurai pelukan Nathan. “Aku terharu sekarang Natta sudah 1 tahun, sehat, lucu, ganteng. Ga nyangka dulu aku ketemu dia masih di incubator bahkan belum bisa merespon saat inisiasi dini. Sekarang dia menyusu dengan baik dan tumbuh dengan baik” ini bukan saja kilahan Jenny atas pertanyaan Nathan tapi Jenny memang bersyukur bayi ini dapat melalui masa sulitnya saat baru lahir dan lihat dia sekarang sangat sehat. “Iya ini juga berkat kamu, kamu merawatnya dengan baik” Nathan sangat sadar bahwa Jenny yang membuat Natta bisa terus bertahan sampai saat ini. Kasih sayang yang Jenny berikan tanpa membedakannya dengan Nia yang merupakan anak kandungnya. “Udah jangan nangis lagi ya, malu diliatin Nia” Nathan melanjutkan sambil menghapus airmata Jenny dengan ibu jarinya.  Aduh-aduh makin pengen mereka sama-sama terus gak sih Ikutin terus deh ceritanya jangan sampai ketinggalan Please Follow, Comment and Loves
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN