Hari ini Jenny spent semua waktunya focus pada anak-anak dan dua orang yang selalu membantunya Bi Uti dan Mba Ati. Jenny benar-benar mentreat asistennya itu dengan baik. Bahkan saat di Taman Safari Jenny meminta mereka bergantian menjaga anak-anak sedangkan Jenny tak pernah beristirahat. Jenny tau Mba Ati pertama kali datang ke Jakarta pasti sangat penasaran masuk Taman Safari. Setelah dari Taman Safari Jenny mengajak mereka shopping, membelikan barang untuk keluarga Bi Uti dan juga Mba Ati. Sebelum pulang Jenny mentraktir mereka makan malam. Jenny mengantar Bi Uti pulang ke rumahnya baru kembali ke apartment.
Jenny yang seumur hidupnya hanya tinggal berdua dengan Ibunya merasa senang dengan kehadiran bi Uti dan Mba Ati yang semakin meramaikan suasana di Apartment. Jenny sudah menganggap mereka sebagai keluarga. Maka dari itu Jenny sampai lupa waktu dan kembali ke apartment sangat terlambat dari waktu yang dia pikirkan semula.
Sesampainya di Apartment jam sudah menunjukkan pukul 19.30 memasuki apartment disambut oleh Nathan yang bersedekap tangan di ruang tamu, dari ekspresinya Jenny tau Nathan sedang marah.
Jenny dan mba Ati masuk ke kamar menidurkan Nia dan Natta di ranjang.
"Bu, bapak marah ya?" tanya Mba Ati merasa tidak enak
Jenny tersenyum "Iya sedikit, bukan salah Mba Ati. Tadi saya lupa kasih tau bapak kita pulang malam" mencoba menenangkan Mba Ati.
"Saya ga enak kalau karna membelikan saya barang-barang bapak jadi marah sama ibu" ucap Mba Ati.
Di usia Mba Ati yang masih sangat muda, Jenny mengerti akan ketakutan Mba Ati.
"Ih bapak ga mungkin marah karna itu Mba, ada-ada aja" Jenny menjawab masih dengan senyumannya walau dia tau Nathan sekarang dalam amarah yang memuncak.
"Bapak sama Ibu ga akan bertengkar kan" ucap Mba Ati dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak dapat membayangkan kedua orang yang selalu terlihat sweet itu akan bertengkar.
"Ya enggak dong, lagian ribut kecil kan biasa Mba namanya juga manusia. Mba tenang aja ya" ucap Jenny sambil mengusap kedua tangan Mba Ati
“Mba Ati, tolong anak-anak dibersihkan badannya dengan air hangat pakai waslap. Kalau ada masalah saya ada di kamar bapak” Jenny memberikan instruksi yang diangguki oleh Mba Ati tanda mengerti. Jenny menuju ruang tamu, dengan misi menenangkan Singa yang sedang marah.
Jenny sadar penuh akan kesalahannya yang lupa waktu sehingga tidak menyadari ponselnya lowbat dan diapun lupa mengabari Nathan. Tapi tenang saja anak-anak terjaga dengan baik.
Saat Nathan akan mengeluarkan suaranya “kita ke kamar kamu ya, kalau disini nanti anak-anak kebangun” ucap Jenny menghentikan Nathan. Jenny tahu watak Nathan, bisa jadi dia akan membuat keributan saat amarah menyelimutinya. Selain tidak mau anak-anak terbangun, Jenny tidak mau Mba Ati mendengar Nathan marah. Itu akan membuat Mba Ati merasa tidak enak. Jenny memimpin jalan ke kamar Nathan, saat Nathan sudah masuk ke dalam kamar Jenny menutup pintunya dan bersiap mendengar amukan Nathan.
“Are you lost your mind!!!! Ponsel kamu kenapa mati, kamu ga mikirin gimana paniknya aku. Aku ga bisa hubungin siapa-siapa. Aku sudah pengertian memberikan izin bepergian tanpa supir, tapi kamu malah begini. Aku panik asal kamu tahu. Kamu pergi ga sendiri ada Nia dan Natta bersama kamu. Kalau terjadi sesuatu dan aku ga tau dan ga bisa berbuat sesuatu kamu pasti tau aku pasti menyesal seumur hidup. Kalau ponsel kamu lowbat kamu bisa mampir ke café atau resto untuk charge JEN, BANYAK CARA UNTUK MENGHUBUNGI AKU” ucap Nathan dengan rahang mengeras dan urat-urat yang keluar di lehernya.
“Maaf” ucap Jenny sambil menatap Nathan. Jenny meraih tangan Nathan berusaha menenangkannya namun Nathan menghentakkan tangan Jenny kasar membuat Jenny terhuyung membuat pinggang Jenny membentur lemari kecil yang ada didekatnya “aah” Jenny meringis.
Nathan mengepalkan tangannya tanda amarah yang masih menguasainya. Seakan Jenny sudah tau apa yang akan dilakukan Nathan, Jenny memeluk Nathan dari belakang kemudian memegang kedua tangan Nathan yang mengepal. Pasti Nathan akan memukul tembok.
“Bukan salah kamu, aku yang salah. Aku minta maaf..hmmm” Jenny tau Nathan mendengar rintihannya saat terbentur dan pria itu pasti merasa bersalah telah menyakiti Jenny. Tangan Nathan mulai meregangkan kepalannya, Jenny seperti pawang bagi amarah seorang Nathan.
“Kamu sudah makan” tanya Jenny lembut, namun tak mendapat jawaban “Nath, kamu ga mau jawab” kembali Jenny meminta jawaban dari Nathan
Nathan memutar tubuhnya “menurut kamu aku bisa makan dengan kondisi khawatir begitu” ucap Nathan dengan tegasnya
Jenny memeluk tubuh itu kembali “maaf, aku benar-benar minta maaf. Jangan marah lagi ya” Jenny mengusap-usap punggung Nathan.
Saat merasakan deru nafas Nathan sudah normal “makan dulu yuk, aku masakin” Jenny menggenggam tangan Nathan membawa dia menuju meja makan
“Kamu tunggu disini, aku masak dulu” saat Jenny beranjak, Nathan meraih tangan Jenny mengingat apa yang sudah ia lakukan pada wanita itu “kamu gak apa-apa?” tanya Nathan dengan cemasnya
Jenny tersenyum “aku gak apa-apa, percaya aku ya” Nathan kemudian melepaskan tangan Jenny
Jenny menyajikan steik dihadapan Nathan dengan air putih dan wine.
“Selamat menikmati” ucap Jenny dengan senyum merekahnya
“Kamu sudah makan?” tanya Nathan
“Sudah” jawab Jenny. Jenny menuang wine untuknya dan juga Nathan, menyesapnya sambil menyaksikan Nathan menikmati steiknya.
“Nath, kamu harus ubah kebiasaan pukul-pukul tembok jika marah. Itu gak baik Nath”
“Kan ada kamu yang akan menghentikan aku”
“Kalau aku ga ada, bagaimana?”
“Kamu ngomong apa sih, baru minum wine aja udah drunk begitu”
Jenny tersenyum sambil terus memperhatikan Nathan. Gak selamanya aku akan terus disisi kamu Nath, suatu saat kamu akan bersama orang lain dan aku harus pergi meninggalkan separuh jiwaku, kamu dan Natta.
Setelah selesai menemani Nathan makan malam Jenny kembali ke kamarnya, mendapati Mba Ati tertidur di lantai.
“Mba..mba Ati bangun” menggoyangkan bahu Mba Ati
“Eh Ibu” ucap Mba Ati sambil mengucek kedua matanya
“Kenapa ga tidur di ranjang saya saja atau di sofa, malah tidur di lantai” bagi Jenny tidak masalah jika mba Ati tidur diranjangnya toh Jenny belum bersuami
“Saya ga enak toh bu”
“Ya sudah, ya sudah. Terima kasih ya. Mba boleh kembali ke kamar”
“Sama-sama bu” Mba Ati melangkah menuju kamarnya
Jenny mengambil cream berwarna hijau dari laci nakas dan mengoleskan dipinggangnya “awww...aahh” rintih Jenny, selesai mengoles cream itu Jenny tidur menghadap samping menghindari luka lebamnya tertimpa oleh berat tubuhnya
Jenny ngerti banget Nathan ya, kenapa sih mereka ga nikah aja.
Ikutin terus ya ceritanya mumpung free
Update setiap hari
Jangan lupa Follow, Comment and Loves