Part 4

2724 Kata
“Cepat Ma!” pekik Geo tidak sabaran. Dia menekan klackson berulang kali dari pangkuan Gerald Leoni menggelengkan kepalanya sambil mengunci tokonya. Seandainya Geovani tidak sedang bersama Gerald, maka dia akan menjewer telinga anaknya itu. Sepertinya Geovani sedang lupa diri karena perlakuaan Gerald yang sangat memanjakannya. Dia tau Geovani sedang menikmatinya karena momen ini jarang terjadi, tapi dia takut ini akan menjadi kebiasaan. Dia akan menjadi sosok seperti Gerald, manja dan tidak pernah dewasa meski usianya semakin tua. “Kenapa nggak sabaran sih,” gerutu Leoni. Gerald menegurnya lewat pandangannya, bahwa Leoni merusak suasana menggebu yang dirasakan Geovani untuk menghabiskan waktu bersama orang tuanya, yang lengkap. “Nanti mama gigit pipinya sampai habis kalau jadi anak yang nggak sabaran,” tambah Leoni sambil menyubit pipi Geovani gemas. Geovani yang tadinya sudah takut kena marah kembali tersenyum bahkan terkekeh geli. Dia memundurkan tubuhnya, merapat ke Gerald. “Nggak mau sama mama aja?” tanya Leoni menepuk pahanya. Dia tidak tau kenapa Geovani harus dipangku di usianya yang sudah hampir tujuh tahun itu. “Udah biar sama aku aja. Kita makan dimana?” Leoni mengangkat bahunya. Dia tidak tau tempat makan yang cocok dengan lidah Gerald di sekitaran tempat tinggalnya. Dia tidak pernah makan di luar karena tokonya buka sampai jam sembilan malam di setiap harinya. Ini saja dia sebenarnya kesal karena Gerald memaksanya ikut makan malam dengan mereka. Tokonya tutup lebih cepat, artinya rejekinya berkurang. Pria yang mendapatkan gaji bulanan secara pasti tidak akan mengerti perasaannya. “Ma, makan di Rumah Bambu ya Ma? Kata teman Geo ada steaknya.” “Steak?” tanya Leoni kaget. Ternyata orang di kota kecil seperti ini sudah mulai tertarik akan steak? “Nah, boleh tuh. Papa juga suka. Kita ke saya ya?” Gerald bertanya pada Geovani. “Hayuk Pa. Boleh kan Ma?” Leoni mengangguk. Rumah Bambu merupakan perpaduan antara tempat makan yang bernuansa sederhana dengan padanan makanan modern. Leoni baru sekali ke tempat ini dan pantas saja dia tidak ingat. Penampilan luar Rumah Bambu terlihat seperti rumah makan biasa yang dindingnya terbuat dari bambu. Dia tidak menyangka isinya justru terlihat sangat mewah. Tatanan lampu dan hiasan lukisan di dindingnya membuat Leoni merasa, pemiliknya sengaja menjebak tamu dalam kebingungan akan konsep yang diusungnya. “Kamu makan apa?” tanya Gerald saat pelayan memberikan buku menu. Leoni tersenyum geli, sadar bahwa dia sangat ketinggalan akan perkembangan sekitar. Dia berpikir kota kecil yang ditempatinya tidak semaju ini. Ternyata dia salah. Ternyata dia terlalu banyak bergaul dengan beras dan gula. “Apa aja menunya?” tanya Leoni mengintip ke buku menu yang dipegang Gerald. “Nggak ada kuah-kuahan. Eummm, eh ada seblak nih. Mau?” Leoni mengangguk bersemangat. “Geo mau ayam Pa. Steak ayam.” “Kalau gitu, Chicken steaknya dua, seblaknya satu, terus minumnya cappuchino float satu, coffee latte satu, air putih tiga, terus... kamu minumnya apa Ge?” Gerald menatap Geovani bertanya. “s**u___” mata Geovani melirik Leoni. Leoni langsung menggelengkan kepalanya. “Minumnya air putih aja.” “Loh kok? Nggak apa-apa. Geo mau minum apa, Nak?” Gerald mengelus kepala Geovani lembut. “Perutnya nggak bisa diajak kompromi, Mas. Setiap minum s**u kental manis dia pasti sakit perut. Jus juga nggak tahan kecuali buatan rumah. Kan udah aku bilang lambungnya sensitif.” Gerald mengangguk mengerti, sedikit menyesal telah melupakan peringatan penting yang dipesankan Leoni padanya saat ia meminta izin untuk membawa Geovani bersamanya. “Ya udah nggak apa-apa. Geo minumnya air putih aja.” Wajah Leoni memanas. Situasi ini, kembali mengingatkannya pada tuduhan bahwa ia seorang wanita yang nyinyir dan terlalu banyak mengatur. Seperti yang dituduhkan Ewie, sang mama mertua. Dia menutup rapat mulutnya, menundukkan pandangannya. Rasa sakit hatinya sudah banyak berkurang tapi semenjak Gerald datang, semua yang berhasil terhapus itu terkilas kembali, membuat hatinya terasa perih. “Kamu baik-baik aja?” Leoni segera menarik tangannya mundur saat tangan Gerald menyentuhnya. Matanya tidak mau membalas tatapan mata Gerald. Dia baik baik saja. Kenapa harus ditanyakan lagi? “Tadi Geo main apa aja?” tanya Leoni mengalihkan pembicaraan. Geovani menyengirkan bibirnya. “Tadi Geo main basket, mobil-mobilan, terus main tembak-tembakan, terus ___pokoknya Geo dapat banyak tiket. Terus tiketnya ditukar sama panah-panahan.” Leoni ikut tersenyum gembira. Seandainya Geovani memiliki kesibukan agar dia tidak bosan terus terkurung di rumah. Baru pergi ke tempat bermain yang sesederhana itu saja raut gembiranya sangat terlihat jelas. Suatu saat nanti, dalam hati Leoni ia berjanji, dia akan mengajak anaknya itu ke wahana bermain yang lebih besar. Agar anaknya itu bisa merasakan apa yang anak-anak lain rasakan. “Besok aku berencana mengajak Geo ke kolam renang. Nggak apa-apa ‘kan?” Leoni mengangguk. “Asal jangan terlalu lama ya, Mas. Terus jangan dikasih beli pop mie. Dia nggak akan tahan itu. Bawa bekal nasi aja biar aman soalnya kalau di tempat umum begitu kadang makannya nggak terjamin. Terus kesananya jangan terlalu siang. Pagi atau sore aja sekalian. Biar nggak demam.” Sadar ia sudah terlalu banyak bicara, Leoni kembali menutup rapat bibirnya. “Kalau aku?” tanya Gerald. “Ha?” “Kalau aku, gimana?” “Maksudnya?” “Aku rindu kamu khawatir sama aku kayak kamu sekarang khawatir sama Geo.” Gerald tersenyum getir, berharap Leoni melihat kesungguhan dalam ucapannya. Leoni mengalihkan pandangannya, saat ia melihat Geovani, anaknya itu sedang tersenyum menggodanya. Leoni tidak suka dengan perkataan Gerald tadi. Dia seakan memberi harapan palsu pada anaknya bahwa mereka akan bersatu lagi. sesuatu yang tidak akan terjadi. “Permisi,” pelayan datang membawa makanan pesanan mereka. Leoni mengambil cappuchinonya. Gerald masih mengingat minuman kesukaannya, dan itu sedikit menyentil egonya. Tapi, Gerald memang begitu. Perlakuannya selalu membuat wanita tersanjung. Dia baik pada siapapun dan itu membuat semua wanita menyukainya. Pria yang baik, namun belum tentu pasangan yang tepat. Buktinya mereka. saat berpacaran mereka sangat cocok. Tidak pernah berkelahi, bahkan saat itu Leoni merasa dia diperlakukan seperti ratu karena Gerald selalu sabar menghadapi sikap kerasnya. Siapa yang menyangka bahwa status bisa mengubah sikap seseorang. Saat menjadi suami, sikap Gerald sangat berbeda. Dia bersikap layaknya seorang suami seperti yang diajarkan ibunya. “Berdoa dulu!” sorak Geovani. Dia menyatukan telapaknya lalu mulai memejamkan matanya. “Amin!” sorak Geovani lagi. ia mengambil garpu dan pisaunya, mulai menyantap steaknya. Suasana hening. Leoni lebih memilih diam, sedang Gerald merasa mati kutu. Dia tidak tau harus membahas apa padahal keinginan untuk mengobrol bersama Leoni begitu kuat. Berbagai kata yang memberontak ingin terucap justru membuatnya bingung harus mengucapkan yang mana terlebih dahulu. Rindu yang terlalu menggebu membuatnya menjadi bodoh. Dan ternyata, rindu setelah kehilangan itu membuatnya sadar kalau rasa rindu yang dulu dirasakannya belum ada apa-apanya. “Makan, Mas” tegur Leoni tanpa menoleh. Gerald tersenyum malu. Dia sibuk berpikir sehingga sedari tadi hanya mengunyah makanannya dengan lamban. Dia melirik steak Geovani yang hanya tinggal setengah padahal ia masih mengunyah potongan daging pertamanya. “Dia persis sekali seperti aku, ya” ucap Gerald bangga. Tentu saja dia bangga. Gennya lebih melekat di tubuh Geovani, membuatnya berterima kasih pada Tuhan karena dengan begitu, setiap Leoni melihat buah hati mereka itu, ia akan mengingat Gerald. Sama seperti ia yang selalu mengingat Leoni saat melihat dagu anaknya yang berbelah. Meski Leoni itu pemarah, dan terkadang membuat kesabarannya habis, tapi itu sangat menggemaskan saat amarah itu tidak pernah didapatkannya lagi. Dia rindu wajah Leoni yang memerah saat sedang marah karena berikutnya, mereka akan b******a dengan panas. Gerald berdeham. Mengingat b******a, ternyata sudah lama sekali dia tidak pernah merasakan kepuasan lagi. Dia merasa malu pada ketidak mampuannya menahan birahinya sehingga harus ada benihnya yang tertampung di rahim wanita lain. Tidak sekali. Tapi, berapa kalipun itu tetap saja namanya perselingkuhan. Secara hukum dan agama apa yang dilakukannya memang sah sah saja karena ia meniduri istri keduanya. Tapi saat dikaitkan dengan sumpah setianya, itu salah. Dia sendiri yang berkata bahwa Wina hanya seorang sahabat dan akan selamanya seperti itu. Keberaniannya membawa Wina ke rumahnya membuktikan bahwa ia memang tidak sedang bermain api. “Dia anak kamu, Mas. Tentu saja dia seperti kamu.” Gerald mengangguk. “Pastinya Gina juga seperti kamu karena dia juga anak kamu.” Seketika senyum Gerald memudar. Tenggorokannya mengering. “Ni, aku mohon, selama aku di sini biarkan aku dekat dengan kalian. Seminggu aja, jangan bahas mereka. aku mohon,” ucap Gerald dengan suara pelan. Leoni melirik Geovani. Menerka-nerka, sudah mengertikah dia dengan apa yang diucapkan orangtuanya? Geovani tahu dia memiliki seorang adik dari ibu yang berbeda tapi tidak pernah bermain bersama adiknya. Saat tau Gerald menghamili Wina, mereka jadi lebih sering bertengkar. Puncaknya saat kehamilan Wina menginjak usia tujuh bulan, Leoni yang muak menantang Gerald menceraikannya. Saat pertengkaran itu terjadi, Geovani mendengar semuanya dan bertanya. Apa maksudnya Wina juga ibu untuk Geovani? Bahwa yang sedang dikandung Wina juga akan menjadi adik Geovani? Bukan Leoni yang salah karena menjelaskan karena ia hanya ingin anaknya paham. Geraldlah yang salah, karena ia telah menyajikan kehidupan yang tidak normal di depan mata anak mereka yang masih kecil. “Kenapa sayang? mau ganti makanan?” tanya Gerald karena Geovani terlihat tidak selera dengan makanannya. Leoni tau, anaknya itu sedang sedih melihat orangtuanya masih tidak akur padahal sudah jarang sekali bertemu. Airmatanya menggenang. Ia segera membuang pandangannya dan berusaha menahan tangisnya. Jika ia terus menuruti egonya untuk menyerang Gerald dengan semua kesalahannya, dia hanya akan membuat anaknya semakin tersiksa. Geovanilah yang akan jadi korban. “Dia itu mau disuapin kamu, Mas. Dia rindu papanya. Ya kan? Dulu waktu Geo masih kecil kan dia suka minta suap.” Gerald mengernyit, merasa bingung dengan perubahan suasana hati Leoni yang begitu cepat. Dia mengerti saat Leoni mengirimkan kode dengan matanya bahwa dia sedang menghibur putra mereka. “Wah, kangen disuap papa ya? Sini.” Gerald menarik alas hot plate dari hadapan Gerald, memotongkan dagingnya dan menyuapkan potongan itu ke mulut Geovani. “Enak?” tanya Leoni. Geovani menganggukkan kepalanya tapi menundukkan wajahnya. Leoni melempar pandangan merasa bersalahnya pada Gerald. Anak mereka terlalu banyak mengerti. Dia tau bahwa keceriaan itu hanya sandiwara. Leoni menarik tangan Gerald, menggenggamnya. Dia butuh peran Gerald sebagai seorang pria untuk menghadapi jiwa anaknya yang sedang sendu. Geovani tidak biasanya seperti ini. “Ih, mama pegang tangan papa, Ge. Lihat deh,” ucap Gerald jenaka. Leoni merasa kesal Gerald menyalah artikan tindakannya. Saat ia hendak menarik tangannya, Gerald menahannya. Geovani melirik dari sudut matanya, melihat ke arah tangan Leoni dan Gerald yang bergenggaman. Dia mengangkat pandangannya melirik Leoni. “Ih, buat malu aja. Lepas!” ucap Leoni sengaja menunjukkan kejengkelannya. “Mama kamu kalau marah cantik kan?” tanya Gerald. “Mana ada perempuan yang kayak mama kamu cantiknya, kalau lagi marah.” “Apa sih!” Leoni masih berusaha melepaskan tangannya. Wajahnya sudah bersemu merah. Geovani tersenyum lucu, menertawai keterpojokan Leoni. “Eh, kok kamu bela papa kamu? kok sekongkol?” mata Leoni membesar, pura-pura marah pada Geovani. Tawa Geovani menggema. “Mamanya tambah marah, Pa” adunya. Menggeser duduknya mendekat ke arah Gerald, seakan mencari perlindungan. “Iya nih, tambah marah. Tapi tambah cantik juga.” Kali ini Gerald mengucapkan setiap kata sambil menatap mata Leoni. Menekankan bahwa ucapannya bukan hanya sekedar ucapan, tapi juga ungkapan dari dalam hatinya. Leoni membuang pandangannya. Benci dan cinta itu tipis. Rasa benci yang dirasakannya kuat, sekuat rasa cintanya. Meski rasa sakit terus terasa ketika ia mengingat masa lalu mereka, tetap saja saat ini, saat melihat tatapan memuja yang dilayangkan mata hitam pekat Gerald, jantungnya berdetak kencang. Gerald menatap tangan Leoni yang masih digenggamnya. Wanita itu sudah berhenti berusaha menarik tangannya. Setidaknya, malam ini ia bisa merasakan lagi kehangatan dari tangan Leoni yang sudah tidak lembut lagi. Dia bekerja terlalu keras. Gerald menerka, tangannya itu sudah banyak berkutat dengan pekerjaan rumah ditambah dengan pekerjaan toko sehingga membuat ujung jemarinya mulai mengeras. Gerald gagal memberikan Leoni kehidupan yang nyaman dan berkecukupan. “Eum, Mas, lepas. Mau makan,” ucap Leoni masih tidak berani menatap mata Gerald. “Tangan kamu yang dipegang sama tanganku itu sebelah kiri. Seingatku kamu nggak kidal.” Geovani tertawa lagi. Gerald bisa merasakan kegugupan Leoni dari tangannya yang mendingin dan membasah. Wanitanya ini, kalau gugup, tangannya suka mengeluarkan keringat. Sangat mudah menerkanya. “Ge, mama kamu nggak bisa makan tuh. Suapin dong,” ucap Gerald. Geovani keluar dari persembunyiannya, dari balik punggung Gerald, lalu menarik mangkuk seblak dari depan Leoni. “Eh udah, bisa kok” ucap Leoni hendak merebut kembali mangkuk itu. Gerald menegur Leoni. Tau akan maksud Gerald, Leoni menarik lagi tangannya. Semoga benar, batin Leoni, bahwa tujuan Gerald atas semua keanehan ini hanya untuk menghibur Geovani. Agar anaknya itu melihat kalau meski telah berpisah tapi mereka tetap akur. “Geo suap mama ya?” pinta Geovani. “Awas tumpah ya,” ucap Leoni mengingatkan. Geovani mengangguk. Dia menyendok mie dengan hati-hati dan mengangkatnya. Leoni mendekatkan kepalanya agar suapan itu segera sampai ke mulutnya. “Papa mau disuap juga?” tanya Geovani bersemangat. “Loh, iya dong. Mama aja yang pegangan sama papa pakai tangan kiri disuap, masak papa yang pegangan sama mama pakai tangan kanan nggak disuap? Tapi, emangnya Geo bisa motongin steak untuk papa? Nggak capek?” “Enggak Pa! Geo kuat!” Geo menarik alas hot plate dari hadapan Gerald dan mulai mengiris steaknya. Gerald dan Leoni tertawa melihat kegigihan Geovani, yang sangkin seriusnya membuatnya tidak sadar kalau ia sudah menekuk wajahnya saat mengiriskan daging. “Huh, nih Pa” ucap Geovani sambil membuang nafas lelah. Dia menyuapkan potongan daging itu ke Gerald. “Udah-udah,” ucap Leoni masih sambil tertawa. “biar mama deh yang suap semuanya biar cepat. Kalau Geo terus yang nyuap, bisa-bisa kita selesai makannya subuh,” ucap Leoni. “Yahhhh, bisa kok” gerutu Geovani. “Biarin aja, Ge. Biar mama yang capek. Ini hukuman kan, soalnya mama tadi nggak ikut kita main. Jadi, biar aja mama yang suapin kita. Papa juga kangen disuapin sama mama.” Geovani kembali terkikik geli mendengar Gerald menggombali Leoni. Leoni harusnya marah, tapi dia menahannya karena ini demi kembalinya senyuman anaknya. “Sini semuanya,” ucap Leoni menarik tangannya dari genggaman Gerald dan mengumpulkan semua wadah makanan di meja mereka. lebih baik menyuapi memang daripada terus bergenggaman tangan. Wanita itu lemah, dan dia benci saat menjadi lemah. Sentuhan fisik berarti banyak bagi seorang wanita. Membiarkan anggota tubuhnya disentuh artinya dia membiarkan hatinya disentuh. Padahal dia sudah menutup rapat hatinya. “Siapa dulu yang mau disuap?” Gerald melihat ke samping, bertemu pandang dengan Geovani yang juga menatapnya. “Ah, papa dulu dong. Kan Geo bisa minta suap kapan aja,” jawab Gerald dengan gaya kekanakan. Geovani tertawa. “Enggak! Geo duluan! Papa kan udah besar, Geo masih anak-anak!” “Ah, papa duluan! Aakkk!” Gerald membuka lebar mulutnya. Geovani semakin tertawa. Dia naik ke atas pangkuan Gerald dan mengangkat tubuhnya mendekat ke arah Leoni. “Geo duluan, Ma” ucapnya. Leoni harusnya senang melihat anaknya bisa tertawa lepas. Tapi hatinya malah terasa sakit. Dia terlalu sibuk mencari uang sehingga sudah jarang sekali menghabiskan waktu bersama dengan Geovani. Momen kebersamaan seperti ini sudah langka terjadi. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Geovani, rasa keibuannya menegurnya. Ibu seperti apa dia, berkoar mampu memberikan semuanya pada Geovani padahal selama ini dia hanya bisa memberikan makanan, pendidikan dan uang. Tapi untuk waktu dan kasih sayang, sudah banyak berkurang. Leoni mengangguk, mengiriskan daging untuk anaknya. “Besok,” ucapnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar. “Besok mama boleh ikut jalan-jalan nggak?” tanyanya sambil mengangkat tangannya yang menggenggam garpu, menyuapkan daging itu ke mulut anaknya. “Mama ikut?” tanya Geovani dengan mata membesar, dan mulut tersumpal daging. Leoni mengangguk, tersenyum dengan bibir yang bergetar menahan haru saat melihat reaksi Geovani. “Serius?” tanya Geovani kali ini serempak dengan Gerald. Leoni terkekeh beriringan dengan menetesnya airmatanya. Dia mengangguk. “Kalau nggak boleh___” “Boleh-boleh!” potong Geovani cepat. “Yeeee, mama ikut Pa! Mama ikut! Besok kita jalan jalan sama mama!” soraknya. Leoni tidak sanggup lagi. Dia segera beranjak dari tempat itu, berjalan dengan cepat menuju toilet. Dia tidak perduli orang orang akan menganggapnya aneh karena melihatnya menangis. Kenapa ia begitu buta akan kebutuhan Geovani atas perhatiannya? Kenapa ia tidak pernah berpikir bahwa sedikit banyaknya, Geovani meniru dirinya. Memendam apa yang diinginkannya hanya karena dia tau kalau tidak akan ada gunanya mengatakannya. Ternyata selama ini anaknya ingin bermain bersamanya hanya saja karena ia terus menolak, Geovani berhenti meminta. Aku adalah seorang ibu yang gagal, batin Leoni sambil membasuh wajahnya di kamar mandi. Dia benar-benar seorang ibu yang gagal.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN