Leoni menatap tampilannya di cermin bedak padatnya. Matanya masih terlihat merah tapi tidak lagi semerah tadi. Dia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri dan menghapus perasaan sendunya. Dia memasukkan lagi bedak padatnya tadi ke tas dan keluar dari toilet.
“Mbak Leoni?”
Leoni memutar tubuhnya. Di depannya berdiri seorang pria muda yang rasanya familiar dalam ingatannya, tapi dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
“Kamu___?”
“Saya Gilang. Mbak lupa ya? Saya yang pernah ke toko Mbak untuk mengajukan kerjasama.”
Leoni mengerutkan keningnya karena benar-benar melupakan kejadian itu. Dia tersenyum malu, lalu berkata “Serius aku lupa. Maaf, sepertinya karena usia.”
“Wah, jangan gitu. Mbak kan masih muda. Saya malah wajar kalau Mbak nggak ingat saya. Mbak kan pelanggannya banyak banget. Ke sini ngapain Mbak? Makan? Sama keluarga?”
Leoni mengangguk. “Sama anak saya dan____” Leoni menundukkan wajahnya karena bingun sendiri harus berkata apa tentang statusnya dengan Gerald. Tidak mungkin dia pamer kalau dia sedang makan malam bersama mantan suaminya. Hal itu terdengar aneh bagi masyarakat kota kecil seperti ini.
“Wah, kehormatan untuk saya Mbak. Untung ketemu jadi saya tau kalau Mbak ke sini. Nanti saya bilangin kasir supaya kasih Mbak diskon spesial. Saya kembali ke dalam dulu ya Mbak.”
Leoni mengangguk. “Terima kasih diskonnya ya, eum maaf tapi nama kamu siapa? Atau, setidaknya, saya harus manggil kamu apa? Masak saya makan diskon dari kamu tapi saya nggak tau sama sekali kamu siapa.”
“Oh,” pria itu tersenyum malu. Dia mengelap tangannya di celananya untuk membersihkan telapaknya lalu mengulurkannya ke depan Leoni. “Saya Gilang, anak dari pemilik Rumah Bambu ini, Mbak. Saya baru tamat kuliah jadi di sini bantu kelola Rumah Bambu ini sampai saya dapat kerjaan lain yang lebih ___ gergengsi.”
“Saya Leoni,” ucap Leoni dengan wajah bersemu merah. Tadi Gilang sudah mengatakan namanya dan dia menanyakannya lagi. Dan mereka sudah terlalu lama berjabatan tangan.
Leoni menarik tangannya. Mereka saling tersenyum sopan, terlihat kikuk satu sama lain.
“Eum, anak saya udah nunggu” ucap Leoni.
Gilang mengangkat tangannya, memberi kode untuk mempersilakan Leoni kembali ke meja makannya. Leoni mengangguk ramah untuk berpamitan lalu meninggalkan Gilang.
Gilang menatap punggung Leoni lalu menggelengkan kepalanya dengan bibir yang masih tersenyum. “Cewek jaman sekarang makin tua kok makin cantik ya? Aneh,” ucapnya lucu lalu pergi ke tempat yang ditujunya tadi.
Leoni sendiri langsung melupakan kejadian tadi saat melihat betapa akrabnya Geovani dengan Gerald. Mereka masih makan sambil bercanda.
“Kenapa lama?” tanya Gerald pelan. Menatap Leoni khawatir.
Leoni menggelengkan kepalanya lalu kembali duduk di seberang Gerald. Senyumnya bertambah lebar karena ia ingin meyakinkan Geovani bahwa ia baik-baik saja. Mungkin karena Gerald bertanya, Geovani pun ikut penasaran.
“Tadi mendadak sakit perut. Tapi, udah mendingan kok.”
“Kepedesan ya Ma, seblaknya? Mama pesan aja lagi. ganti jadi steak biar mama nggak sakit perut. Kan papa yang bayar. Papa banyak uang. Ya kan Pa?”
Gerald mengangguk. “Ganti makanan?” tanyanya.
Leoni menggelengkan kepalanya. “Udah nggak kenapa-napa kok perutnya. Udah lega. Steaknya udah habis, mau tambah nggak?” tanya Leoni pada Geovani.
Geovani melebarkan senyumnya, memamerkan deretan gigi putihnya. “Kalau boleh, Geo mau nambah” ucapnya.
Gerald mengelus rambut Geovani dengan perasaan haru. Leoni berhasil, sangat berhasil mendidik Geovani menjadi anak yang disiplin dan tidak membangkang. Melihat bagaimana dalam setiap mengambil keputusan, Geovani selalu bertanya pada Leoni, membuat Gerald merasa perannya tidak ada apa-apanya. Mungkin jika ia tidak datang, anaknya itu tidak akan pernah mempermasalahkannya. Leoni telah menjelma menjadi sosok ayah dan ibu untuk Geovani.
***
Wina melihat postingan i********: dan f*******: Gerald dengan perasaan tidak menentu. Dikatakan sudah mantan, nyatanya dia sudah berangan-angan. Dalam hidupnya tidak pernah dia bertemu dengan pria sebaik Gerald. Awalnya dia memang merasa bersalah karena telah membuat Gerald dan Leoni berpisah. Apalagi setelah mereka bercerai, tetap saja ia tidak pernah bisa memasuki kehidupan Gerald sebagai seorang istri yang sesungguhnya. Seperti yang orang katakan, gairah pria bisa dilampiaskan pada siapa saja. Tapi hatinya, hanya ia berikan pada wanita yang istimewa. Mereka tidak b******a, mereka b*********a. Dan tidak semua kegiatan persenggamaan membutuhkan cinta. Hanya diperlukan dua orang berbeda jenis kelamin, situasi yang mendukung dan gairah.
Wina membuang nafas lelah. Sekarang dia sudah dua kali gagal membina rumah tangga. Harusnya ia setuju saja saat Ewie, sang mantan mama mertua, menghalangi perceraian mereka. Dia waktu itu terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan. Coba kalau ia bertahan, bukan tidak mungkin akhirnya Gerald menyerah dan mereka membangun semuanya dari awal.
Dalam situasi sekarang ini, ia dan Leoni sama sama mantan. Satu mantan dari pernikahan yang melibatkan cinta, dan satu lagi mantan yang melibatkan rasa belas kasihan. Tentu saja Leoni menang.
“Kenapa melamun?” tanya Ewie yang baru saja memasuki pekarangan rumah Wina.
Wina menutup tampilan layar ponselnya dan berdiri untuk menyambut kedatangan Ewie.
“Sendirian, Ma?” tanya Wina basa basi.
“Iya. Gerald lagi liburan, nggak tau kemana.”
Berarti dia merahasiakan kunjungannya dari ibunya. Tapi kenapa?
“Mana Gina?” tanya Ewie tidak sabaran.
“Eh, ada Oma!” seru anak pertama Wina, Bima.
Senyum Ewie memudar sedikit. Dengan wajah yang tidak seramah tadi, ia menerima uluran tangan Bima.
“Gina baru aja tidur, Ma. Bentar ya, Wina bawa keluar. Atau mama mau masuk ke dalam?”
“Duh, gimana ya? Di dalam apa di luar? Kamu udah jadi pasang AC? Ruang tamu kamu itu sumpek. Mama kan nggak tahan panas. Di luar juga udah mulai panas jam segini.” Ewie mengelap dahinya yang mulai basah karena keringat.
“Masih belum, Ma. Kemarin Wina habis beli mobil. Susah kalau naik motor. Kemana-mana susah karena Gina kan masih kecil.”
“Duh, kamu kalau dikasih uang pakainya sesuai dengan pesanan dong. Mama kasih uang kan untuk beli pasang AC.”
Wina menundukkan pandangannya, merasa malu dengan teguran itu. Mana mungkin dia jujur kalau uangnya diambil mantan suaminya. Bisa-bisa Ewie akan berhenti mengunjunginya karena marah besar. Padahal, hanya Ewie yang sekarang ini benar-benar perduli padanya.
“Nanti habis gajian Wina beli, Ma. Kan tinggal nunggu seminggu lagi.”
“Ya udah deh. Eh, mama ada ide. Kan Gerald pergi tuh seminggu. Kamu nginap di rumah aja. Jadi kalau mama rindu sama Gina kan enak. Ya?”
Wina memainkan jemarinya ragu.
“Wah, ayuk Ma! Kita ke rumah oma!” seru Bima bersemangat.
Wina melirik anaknya. Perasaannya terenyuh. Dia tidak mampu memberikan kehidupan yang sama mapannya saat ia menjadi istri Gerald. Pekerjaannya sebagai tenaga admin di sebuah perusahaan tidak akan mampu untuk kehidupan semewah itu.
“Tapi, apa Gerald nanti nggak marah Ma?”
“Mama yang tanggung jawab. Ya?”
Wina mengangguk. Ewie menarik Wina ke dalam rumah, menyuruhnya dengan segera mengemas apapun yang dibutuhkan selama Wina akan menginap nanti.
Setibanya di rumah, Bima langsung berkeliling rumah. Wina sudah melarang. Sejujurnya ia merasa malu dengan reaksi anaknya yang terlihat berlebihan. Tapi Ewie menahannya, menyuruhnya membiarkan saja Bima melakukan apa yang ia mau. Ewie kemudian berceloteh panjang lebar menceritakan semua yang mengganggu pikirannya, termasuk keresahannya karena Gerald kini sudah banyak berubah.
“Mungkin dia butuh istri. Dia itu terlalu keras sama dirinya sendiri,” ucap Ewie tampak lelah.
Wina tidak menanggapinya. Dia tidak boleh mengatakan kalau Gerald sedang pendekatan dengan Leoni atau Gerald akan semakin membencinya.
“Win,” ucap Ewie memegang tangan Wina. “kamu coba dong deketin Gerald lagi. Kamu kan deket banget sama dia. Coba ajak dia bicara. Coba jadi teman dia lagi. siapa tau, dia mau rujuk sama kamu. atau kalau memang kalian nggak bisa rujuk, bujuk dia untuk menikah lagi.”
“Ya nggak segampang itu, Ma. Gerald kan dua kali menduda. Mungkin dia Cuma ingin lebih hati-hati untuk pernikahan ketiganya. Nggak ada yang mau terus-terusan gagal, Ma” ucap Wina berusaha mengelak dari tugas itu.
“Halah, anak mama itu laki-laki. Beda sama perempuan. Kalau laki-laki, mau berapa kali duda nggak ada bekasnya. Sama aja. Apalagi sekarang ini, gajinya naik. Kerjanya makin bagus. Bonusnya makin besar. Dia aja udah mulai join bisnis sama temannya. Mama yakin, sebentar lagi, tanpa bekerjapun dia bisa memenuhi semua kebutuhannya.”
“Gerald memang begitu, Ma. Dia kan memang cerdas.”
“Iya. Sayang, kalau masalah perempuan dia kurang cerdas. Hmmmm, apa gunanya uang sebanyak itu kalau dia selalu sendiri coba?”
Wina hanya bisa tersenyum. Untuk apa? Jelas untuk memenuhi semua tuntutan Ewie yang tidak murah, dan menafkahi dua perempuan yang mengasuh anak-anaknya. Wina mendapatkan nafkah lima juta perbulan. Bukan jumlah yang sedikit. Harusnya, kalau ia bisa menggunakan uang itu untuk kebutuhan yang normal, uang itu sudah sangat cukup. Tapi ada mantan suaminya yang datang sewaktu-waktu dan mengambil uang itu. Wina memang merasa bodoh karena ia tidak sanggup melawan. Dia lebih memilih memberikan apa yang mantan suaminya inginkan daripada harus berkelahi. Ia ingin kehidupan yang damai, sedamai saat ia menjadi bagian dalam kehidupan Gerald.
Prang!!!!
Terdengar bunyi benda pecah dari lantai atas.
Wina dan Ewie sama-sama memejamkan mata dengan alasan yang berbeda. Wina merasa takut karena seperti biasa anaknya pasti membuat ulah, dan Ewie merasa kesal karena pasti Bima telah memecahkan salah satu koleksinya.
“Biar Wina yang tegur, Ma” ucap Wina menyerahkan Gina yang tadi digendongnya ke Ewie.
Ewie menahan tangan Wina dan menggelengkan kepalanya. “Sudahlah. Tidak apa-apa” ucapnya.
“Bikkkkk” teriak Ewie kencang. Tidak lama kemudian asisten rumah tangga menghampiri wanita tua itu.
“Lihat di atas, si Bima mecahin apa. Bersihin. Jangan sampai ada pecahan yang tersisa. Ngerti?” ucapnya ketus. Terlihat jelas sekali ia sedang menahan kemarahannya.
Asisten rumah tangga itu mengangguk. Dia memutar tubuhnya lalu berjalan cepat menaiki tangga. Dalam hati dia bertanya-tanya, kenapa berbeda sekali sikap Ewie kepada Wina dan anak-anaknya dibanding sikap Ewie kepada Leoni?
Ah, sudahlah, pikirnya. Tidak ada gunanya memikirkan perlakuan Ewie kepada kedua wanita itu karena keduanya bukan lagi bagian dari rumah ini.
***
Di kamarnya, Gilang menatap langit-langit dengan wajah yang terlihat ceria. Dia tidak habis pikir bagaimana ia bisa terbayang-bayang wajah seorang wanita yang sudah memiliki anak. Jika dilihat dari umur anaknya, kemungkinan perbedaan usia mereka itu sekitar delapan tahun karena anak wanita itu sudah duduk di kelas satu SD. Tapi, bisa saja dia menikah muda kan? Soalnya, jika dilihat dari wajahnya, wanita itu terlihat sebaya dengannya.
Gilang mengejek diri sendiri. Mungkin tidak semuda itu. Mungkin karena ia menyukai wanita itu, matanya jadi tidak bisa melihat dengan objektif.
Gilang bukan pria yang gampang menyukai wanita. Di usianya sekarang dia baru tiga kali menyukai wanita, dan dua diantaranya memang pernah menjadi kekasihnya. Di yang ketiga kalinya ini, dia merasa perasaannya sudah bukan lagi rasa suka anak remaja. Dia merasa perasaannya ini lebih serius. Tapi, untuk mendekati Leoni sebagai seorang pria, dia belum mampu. Wanita itu begitu mandiri dan dia masih berstatus pengangguran.
“Gilang!” teriak Fitri, ibu Gilang, sambil mengetuk pintu yang Gilang kunci.
Gilang mendecak kesal. Baru saja dia pulang dari Rumah Bambu, dan merebahkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa penatnya, kini ia sudah mendapat gangguan.
“Haaaa?” tanyanya tanpa mau beranjak.
“Nak, papa manggil kamu. Papa mau bicara katanya. Keluar dong, Gilang!” teriak Fitri lagi.
“Ngomong apa coba? Tadi nggak ada bicara apa-apa. Orang lagi santai, malah diganggu. Dasar orangtua jaman sekarang,” gerutu Gilang dengan suara pelan.
Dia turun dari ranjang dan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, sang ibu langsung beranjak. Gilang mengikutinya dari belakang. Di ruang keluarga sekaligus ruang tamu itu, Edi, sang papa, telah duduk sambil menghisap rokoknya.
“Kenapa Pa?” tanya Gilang, mengambil posisi duduk di sofa sebelah Edi.
Edi menarik satu hisapan lagi, menghembuskan asapnya ke arah lain agar tidak mengenai anaknya karena Gilang selalu protes dengan asap rokok. Edi bangga Gilang tidak merokok tapi ia sendiri sudah terlanjur candu, tidak bisa menghentikan kebiasaan buruknya, merokok.
“Ayah mau bicara serius sama kamu.”
“Papa, Pa!” tegur Fitri. “Udah keren-keren anaknya manggil papa, Papa terus aja manggil diri sendiri ayah. Buat bingung anak sendiri aja.”
“Namanya juga lidah kampung, dipaksa sok kota. Sudahlah. Begitu aja diributin. Terserahlah mereka manggil apa, terserah juga lah aku manggil diri sendiri apa. Asal jangan manggil pakai nama, itu kan nggak sopan!” gerutu Edi.
Fitri menggelengkan kepalanya bosan menegur suaminya. “Kamu mau minum apa? Biar mama buatin,” ucap Fitri pada Gilang.
“Buatin es teh aja, Ma. Gelas besar ya?” ucap Gilang sambil tersenyum lebar.
Fitri mengangguk, lalu memutar tubuhnya hendak beranjak.
“Lah, aku nggak ditanya?” tanya Edi.
“Kopi kan? Minumanmu itu loh, Pa, dari jaman dulu sampai sekarang ya itu-itu aja. Kopi tapi gulanya buanyak. Udah dibilang kurangin gula, udah tua, masih aja ngeyel.”
“Udah sana buatin aja. Kami mau ngomong serius,” usir Edi.
Gilang hanya terkekeh pelan melihat orangtuanya yang selalu saja tidak akur. Dia tau, keduanya memang sering ribut tapi tidak pernah benar-benar berkelahi. Mereka berdua saling mencintai, atau mungkin memang tidak pernah terpikir untuk mencintai orang lain sehingga rumah tangga keduanya tetap harmonis sampai saat ini.
“Jadi, gini loh Lang. Kan kamu tau, abangmu Heru kan masih aja kayak begitu. Udah tua tapi kelakuannya masih aja nyusahin.”
Gilang mengangguk setuju. Heru memang satu-satunya sumber masalah dalam keluarga mereka. suka mabuk-mabukan dan berfoya-foya layaknya anak orang kaya yang tidak sayang uang.
“Jadi, tolong batalkan lah niatmu untuk merantau. Ayah udah tua, Nak. Ayah butuh kamu untuk membantu ayah. Belum Rumah Bambu, belum Gilang swalayan, belum Heru elektronik, belum sawit bapak yang seluas mata memandang.”
Gilang tertawa geli mendengar penuturan Edi yang berlebihan. Edi memang lelaki yang humoris, tapi sangat giat bekerja. Tampilannya sangat sederhana, membuat orang-orang tidak akan menyangka kalau dia termasuk orang terkaya di kota kecil ini. Itulah alasan mengapa Heru merasa tidak perlu beekerja karena harta orangtuanya sudah lebih dari cukup, dan sebagian besar dari harta itu adalah haknya sebagai anak lelaki tertua.
“Papa ini ada-ada aja. Lagipula kan usaha Papa semuanya ada pekerjanya. Aku ngerjain apa dong?”
“Ya, kamu bantu awasin, kembangkan, kelola. Ayah udah tua. Kesana kesini, dengar karyawan bilang ini itu kuping ayah udah capek. Kan kamu masih muda. Lebih ngerti dari pada ayah. Baca laporan dari mereka aja ayah sakit kepala.”
Gilang kembali tertawa. Tapi, tawanya terhenti saat pemikiran cemerlang merasuki otaknya. Kalau dia mulai mengelola usaha papanya, itu artinya dia akan tinggal di rumah orangtuanya. Artinya dia akan segera menjadi pebisnis muda. Dengan begitu, dia terlihat lebih layak di mata Leoni.
Gilang memukul kepalanya. Ternyata pemikirannya sangat ngawur. Bisa-bisanya dia sudah berpikir sejauh itu padahal mereka pelum bernah berbicara secara akrab sama sekali. Mungkin dia bisa memulai pendekatan dengan kembali datang, memberikan penawaran kerjasama dengan harga yang lebih layak, dan menjadi pelanggan tetap.