Leoni memehang dahi Geovani, merasa khawatir akan kondisi kesehatan anaknya. Wajah dan matanya merah sekali. Sedari tadi Leoni sudah menyuruh mereka berhenti tapi mereka tidak mau mendengarkannya. Sekarang,, dengan alasan sudah terlalu lapar, Geovani meminta dibelikan pop mie.
Geovani memakan pop mie itu dengan sangat lahap. Meski asap sudah tidak mengepul lagi dari mangkuknya, tetap saja Leoni merasa geram. Ingin sekali rasanya dia merebut pop mie itu dan membuangnya.
Leoni tau, dari tadi Gerald menatapnya. Tapi dia tidak mau membalas tatapan pria itu. Semalam dia sudah mewanti wanti agar mereka jangan berenang terlalu lama. Firasatnya yang berkata Gerald akan mengabaikan peringatannya benar. Tadi, dia tidak bisa fokus menjaga toko. Dia akhirnya mempercayakan toko itu, sehari ini saja, pada pekerjanya. Dia menyusul Gerald dan Geovani ke kolam renang.
“Demam?” tanya Gerald.
Geovani menarik sudut bibirnya menunjukkan kejengkelannya, tidak mau menjawab.
“Dia anak laki-laki.” Ucap Gerald lagi.
Leoni menatap Gerald tajam. Ini bukan masalah jenis kelamin. Untuk dirinya sendiri saja, Leoni tidak pernah manja. Dia tidak merasa jenis kelaminnya yang perempuan, menjadikannya berhak untuk hidup apa adanya dan mengeluhkan semua masalahnya. Dia bekerja siang dan malam untuk mendapatkan kondisi finansial yang aman. Tapi, Geovani memiliki masalah kesehatan. Dia gampang sakit. Jika dia sakit karena lemahnya pengawasan Leoni, maka dialah yang patut disalahkan. Di usianya yang masih kecil, Geovani belum bisa mengerti yang mana yang baik dan mana yang buruk. Biasanya dia patuh. Geraldlah yang membuatnya melanggar aturan.
“Kamu nggak makan?”
Habis sudah kesabaran Leoni. “Kalau mau makan, ya makan aja. Nggak usah banyak bicara. Nanti tersedak, baru tau!” ucapnya ketus.
Gerald tersenyum masam. Berusaha menyenangkan anak sekaligus mencari simpati mantan istri itu, ternyata sangat sulit untuk dilakukan bersamaan. Melihat Geovani begitu bersemangat bermain air, dia merasa berhak memberi izin untuk berenang lebih lama. Geovani baik-baik saja. Mata merah, itu biasa. Apalagi wajah yang memerah. Geovani berkulit putih, sama seperti ayah dan ibunya. Tentu saja kulit itu akan memerah jika terkena paparan matahari. Gerald juga mengalaminya.
“Besok mainnya yang indor aja deh, Mas. Jangan ngajak Gerald ke tempat yang terbuka. Cari yang ada tempat makannya juga. Yang higenis. Kalau begini, mending dia sama aku aja di rumah.”
“Maaf, Ma” cicit Geovani tampak merasa bersalah karena menjadi sumber perkelahian orang tuanya.
“Geo kan tau, Geo nggak boleh berenang lama-lama. Airnya suka keminum kan. Terus nanti sakit perut.”
Geovani yang sudah memasang wajah masam, menyodorkan pop mienya pada Leoni.
“Udah?” tanya Leoni.
“Nanti sakit perut,” ucap Geovani pelan.
Leoni menghela nafas panjang. Satu sisi dia merasa dia terlalu keras. Di sisi lain, dia merasa dia harus tegas. Dia terjepit dalam situasi yang serba salah.
“Habis ini kita makan di luar, gimana? Kan mama juga belum makan. Geo mau makan apa?” Gerald ikut-ikutan menyudahi makan pop mienya yang masih tersisa banyak.
“Mubazir!” ejek Leoni melirik ke wadah pop mie Gerald.
Gerald mengambil lagi wadah itu, dan melahap mienya. “Lupa, yang kamu khawatirin itu Geo, bukan aku” ucap Gerald lalu tertawa pelan.
Leoni membuang pandangannya. Dulu, dulu sekali, dia selalu bersungut-sungut kalau Gerald terlalu banyak makan pop mie. Pria itu memang membelinya satu dus dan menyimpannya di rumah Leoni. Saat dia datang, dia akan meminta Leoni menyeduhkannya dan memakannya dengan lahap. Dulu Gerald sangat suka makan, dan gampang merasa lapar. Melihat bagaimana tubuhnya jadi seproporsional sekarang, Leoni mengacungkan jempol. Saat awal mereka menikah Gerald memang diet dan fitnes agar saat resepsi dia tampil berbeda. Tapi, itupun tubuhnya tidak seperti sekarang.
Mungkin terlalu lelah bekerja atau dia telah mengganti jenis makanannya sehingga pipinya sudah menirus, membuat rahangnya terlihat lebih tegas. Matanya pun terlihat jadi lebih serius karena ada lingkaran mata hitamnya, yang entah bagaimana membuat tatapannya terlihat lebih seksi. Hanya saja, Leoni menolak mengakui semuanya saat mereka bertemu. Dia hanya menganggap dirinya baru sadar semuanya setelah mereka berpisah. Karena dia menyesal telah kehilangan, dan menegur dirinya sendiri kalau bukan haknya lagi untuk menikmati ketampanan Gerald. Mereka bukan siapa-siapa lagi.
Leoni mengerjapkan matanya saat pemikirannya berkelana mencermati penampilan fisik Gerald. Jangan biarkan pesona fisik membutakanmu, Leoni. Tegurnya dalam hati. Ketampanan tidak ada gunanya untuk wanita dewasa. Itu kenapa banyak wanita cantik memilih pria yang tidak menarik. Ada yang lebih memilih karena kekayaan, kesabaran, kesetiaan, dan alasan-alasan lain. Leoni pun sama. Dia dulu menerima Gerald bukan karena fisiknya. Tapi karena pria itu bertutur lembut dan berbudi pekerti baik. Dia tidak pernah meminta Leoni melakukan hal-hal yang melewati batas. Selaput daranya masih utuh saat mereka menikah.
“Kita pulang sekarang?” Suara Gerald menarik perhatian Leoni yang tadi sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Leoni mengangguk, menutupi kegugupannya. Dia sedang marah tapi malah memikirkan keunggulan pria itu.
***
Anak adalah senjata terampuh untuk meluluhkan hati seorang wanita. Gerald berterima kasih pada kehadiran Geovani diantara mereka, yang berhasil membuat Leoni mau menyerah dan akhirnya bergabung dengan mereka.
Tadinya, Leoni ingin kembali ke toko. Tapi hari mulai hujan dan Gerald tidak mungkin membiarkan Leoni pulang naik sepeda motornya. Pilihan yang diberikannya, Leoni terus di hotel bersama mereka, atau Gerald yang dibiarkan menginap karena tampaknya hujan akan bertambah deras dan bertahan lama.
Leoni memilih opsi pertama. Dia setuju untuk tidak pulang meski bersungut-sungut. Katanya dia bisa bangkrut karena terlalu lama meninggalkan toko. Saat Leoni marah, dia terlihat menggemaskan. Wajahnya akan memerah dan nafasnya akan menggebu, persis seperti saat dia sedang b*******h.
Gerald mengejek dirinya sendiri. Tampaknya dia sudah terlalu rindu hingga pikirannya lagi kemana-mana.
Ponselnya berdering. Dia mengerutkan kening. Wina.
Melihat nama yang terpampang di layar, dia langsung membalikkan ponselnya layaknya seorang suami yang sedang mendapat panggilan dari selingkuhannya.
Jika Leoni tau, itu hanya akan menambah dinding pembatas wanita itu. Bisa-bisa nanti dia berpikir kalau Gerald dan Wina masih berhubungan. Mana mungkin. Hubungan mereka telah lama berakhir. Apa yang terjadi hanya sebuah kesalahan, yang akhirnya menjadi bumerang dan merusak semuanya.
Gerald selalu iri dengan rekan kerjanya yang bisa berselingkuh dan ketika ketahuan sang istri justru mati-matian merebut kembali perhatian suaminya agar tidak selingkuh lagi. Dia hanya khilaf, benar-benar khilaf, dan kehilangan semuanya. Berkat kekerasan hati Leoni, hasutan sang mama, dan kebodohannya yang mau menuruti egonya. Ucapan talak telah terucap, surat cerai telah keluar. Saat itu terjadi, dia baru merasakan kehilangan tapi sudah terlambat untuk menghentikan semuanya.
“Kamu nggak mau ke kamar kami dulu?” tanya Gerald karena Leoni langsung menempelkan slot di pintu kamarnya.
“Ha? Oh, nanti deh. Mau tidur. Habis makan tadi, ngantuk.”
Gerald tampak heran. Matanya spontan melirik ke perut Leoni yang datar. Sejak kapan Leoni suka tidur setelah makan? Kalau itu kebiasaannya kenapa tubuhnya bisa selangsing itu?
Leoni telah masuk ke dalam kamarnya. Gerald menempelkan slot, kemudian ia dan Geovani masuk ke dalam kamar.
“Mama sering tidur habis makan ya Ge?” tanya Gerald.
Geovani yang sudah berbaring di ranjang dengan wajah lelah menggelengkan kepalanya. “Memangnya kenapa, Pa?”
“Kok mama langsung tidur ya? Katanya ngantuk habis makan.”
“Mungkin karena hujan, Pa. Dingin.”
Gerald tergelak dengan jawaban itu. Hujan atau tidak tentu saja kamar mereka dingin. Ada AC. Mungkin Geovani mengingat situasi di rumahnya dimana jika hujan turun maka suhu ruangan akan menjadi dingin.
Gerald berbaring di sebelah Geovani, memeluknya. “Seandainya papa bisa membawa kalian pulang,” ucapnya berbisik sambil menatap wajah anaknya yang mulai lelap.
Mata itu terbuka. Menatap Gerald. “Kata mama, Papa udah punya keluarga baru. Udah ada adik baru. Jadi, kami nggak akan pernah pulang” ucapnya.
Gerald terdiam. Hatinya terasa sakit dengan perkataan anaknya itu. Dia merasa marah pada Leoni yang berkata sejujur itu pada anak mereka yang masih sangat kecil. Tapi, hatinya menegurnya. Mungkin Leoni berkata seperti itu karena Geovani sering meminta pulang. Gerald membayangkannya. Saat wanita itu resmi menyandang status janda, pindah ke tempat sesunyi ini, pasti anaknya rewel meminta pulang. Saat itu pasti berat sekali untuknya apalagi Leoni tipe wanita yang gampang panik.
Gerald menutup matanya, berusaha untuk tidur juga. Berharap saat ia bangun nanti, suasana hatinya telah membaik. Kalau bisa juga, hati Leoni telah terbuka untuknya. Seansainya...
***
“Masih nggak diangkat?” tanya Ewie pada Wina.
Wina yang wajahnya kini lesu, menyiratkan kekecewaannya, menggelengkan kepalanya.
Dia sedang sibuk dengan keluarganya, Ma, jawab Wina dalam hati. Keluarganya yang seharusnya.
“Itu anak ya, makin jauh dari mama. Mama bingung ngehadapin dia gimana. Maunya apa aja mama nggak tau. Susah ditebak dia sekarang,” sungut Ewie.
“Mungkin dia nggak mau menyusahkan mama,” hibur Wina.
Ewie menggelengkan kepalanya. “Justru dengan dia begini, mama makin susah. Mama jadi kepikiran terus. Dia tuh laki-laki, udah kodratnya nggak akan bisa sendiri. Mau sampai kapan dia menduda, coba? Mama takutnya dia malah nanti ketemu sama cewek nggak bener. Morotin dia doang. Mama nggak mau dia salah jalan.”
Wina menggenggam tangan Ewie, menenangkannya. “Gerald itu dewasa, Ma. Dia juga bijaksana. Selama ini kesalahan yang dia buat hanya menikahi Wina. Wina yakin, setelahnya, dia nggak pernah membuat keputusan yang salah lagi. Dia pasti baik-baik aja.”
“Hush! Kok ngomong gitu. Dia niat nikahin kamu kan baik. Ya namanya laki-laki, kalau khilaf ya biasa. Bukan zinah namanya karena kalian suami istri. Biasa kok laki-laki begitu. Leoni aja yang sensian. Sengaja dia mau nyerang mama. Dia itu nggak pernah cocok sama mama.”
“Tapi dia itu wanita yang Gerald cintai, Ma.”
Ewie menarik nafas panjang, merenung. “Mama juga heran kenapa dia malah cintanya sama perempuan begitu. Kenapa tidak dengan kamu saja. Toh sudah punya anak begini.”
Wina menundukkan pandangannya. Dia juga bertanya hal yang sama. Dia juga dulu menganggap Gerald sahabat, tapi lama kelamaan dia merasakan getaran cinta itu tumbuh. Wanita mana yang tidak luluh dengan pria sehangat dan sebaik Gerald?
Dia juga berharap hubungan mereka membaik. Saat Leoni dan Gerald bercerai, harapan itu semakin besar. Dia semakin rajin merawat diri, menyambut Gerald semakin hangat, tapi Gerald justru tidak pernah memasuki kamarnya. Kesempatan itu tidak pernah didapatkannya.
“Padahal kamu cantik,” tambah Ewie lagi.
“Leoni juga cantik, Ma. Mama kan nggak tau dulu Gerald dapetin Leoni itu susah. Dia cerita ke Wina, kalau dulu itu, Gerald saingannya banyak. Kadang perempuan yang ketus dan nggak ramah justru banyak peminatnya.”
“Halah, perempuan nggak ada ayu-ayunya begitu apa bagusnya. Tapi, kalau memang Gerald maunya dia, mama mau kok melamar dia lagi. yang penting jangan duda. Mama nggak mau anak mama duda terus.”
Wina memeluk Ewie. Menghentikan wanita itu mengeluh lebih banyak. Kadang dia berpikir, jangan jangan Gerald membencinya karena ia terlalu dekat dengan Ewie. Bisa saja, pria itu menganggap mereka bersekutu dan Wina menjadi sumber utama kebencian Ewie pada Leoni. Padahal tidak, menjadi wanita kedua saja dia sudah sangat bahagia.