Hari tidak akan terasa berlalu saat setiap detiknya memberikan kesan yang menyenangkan. Itulah yang dirasakan Gerald. Sudah lima hari dia menghabiskan waktu bersama Geovani dan dia masih merasa kurang. Dia enggan pulang.
“Mas kenapa?” tanya Leoni yang sibuk memeriksa pembukuan tokonya.
Harusnya ayah anak itu sekarang ini bermain, berlibur kemana saja. Tapi, mereka datang di siang hari berkata kalau hari ini mereka ingin di rumah saja. Leoni sebenarnya keberatan. Keberadaan Gerrald di sekitarnya membuatnya gugup.
Gerald yang sedang duduk di depannya dengan bertopang dagu, tersenyum. “Kamu kerjanya telaten banget. Dari dulu, sempurna.”
Leoni mendengus lalu tertawa pelan. Dipaksakan. Hanya demi ramah tamah. Apa gunanya pujian itu? Tidak ada. Setiap dia mendengar pujian dari mulut Gerald, dia malah semakin sakit hati. Karena mulut itu, gampang sekali memuji semua wanita. Mulutnya itu yang membuat dia gampang akrab dengan wanita, termasuk Wina.
“Kamu mau aku buatin minuman? Atau, kamu mau makan sesuatu?”
“Enggak, Mas. Udah. Kamu ke kamar aja. Temenin Geovani tidur siang.”
“Aku nggak ngantuk. Kamu, nggak capek?”
Leoni merasa semakin terganggu. Tangannya mulai gemetar. Dia menyembunyikannya dengan tidak lagi memegang pinggiran buku. Dia meletakkan saja buku itu diatas meja dan melihatnya. Setelah selesai, dia membalik halaman dan kembali menarik tangannya.
Meski Leoni berusaha fokus, tapi ia tidak bisa. Jantungnya sudah berdetak semakin kencang dan ia merasakan kalau wajahnya memanas.
“Bu, ada Mas Gilang di depan,” ucap Fitri dari depan pintu ruangan Leoni.
Leoni mengangkat pandangannya, mengernyit bingung. “Gilang?” tanyanya.
“Anak Pak Edi, Bu. Yang ganteng itu.” Senyum lebar tersungging di wajah Fitri. Menunjukkan kekagumannya pada Gilang.
“Eum, yang Rumah Bambu bukan?”
“Nah, itu. Yang itu. Gimana? Saya suruh masuk? Tunggu di luar? Apa pulang aja?”
Leoni tertawa. Mana mungkin tamunya diusir. Bisa saja dia membawa berita baik. Permintaan kerjasama misalnya.
Gerald menatap Leoni, merasa terganggu. Kata Rumah Bambu, Ganteng, sepertinya membawa firasat buruk.
“Suruh masuk aja.” Ucapan Leoni terhenti. Dia melirik Gerald yang duduk di seberangnya, di kursi yang ditujukan untuk tamu. “Ambil kursi satu lagi ya?” ucap Leoni pada Fitri.
Fitri menganggup. Dia beranjak secepat kilat.
Gerald menatap Leoni heran. “Kenapa ambil kursi lagi? kan ini kosong.” Ucapnya sambil menunjuk kursi di sebelahnya.
“Kursinya Cuma dua, dua-duanya didudukin gitu. Kesannya pelit banget. Bisa jadi dia nanti malah nggak nyaman.”
“Kayaknya kamu berlebihan deh.”
Leoni tersenyum miring. “Coba Mas pikir. Siapa di sini yang berlebihan.”
“Assalamu’alaikum” ucapan salam itu menghentikan perdebatan mereka.
Leoni dan Gerald sama-sama menoleh ke arah pintu. Di sana, Gilang berdiri dengan tampilan yang sangat rapi jika dikaitkan dengan kunjungan ke toko sembako.
Mungkin dia baru dari Rumah Bambu atau usahanya yang lain, atau mungkin dari tempat lain yang membutuhkan penampilang yang rapi. Balutan kemeja berwarna biru muda membungkus tubuhnya dengan ukuran yang pas, membuat yang memandang bisa tahu kalau badannya proporsional. Warnanya yang cerah, serta kulitnya yang putih, membuat mata yang memandang terasa segar. Belum lagi aroma parfumnya yang maskulin tapi tidak menyengat. Rambutnya tertata rapi. Dan yang paling penting, sikap berdirinya mencerminkan pribadi pria yang berpendidikan.
Gilang sendiri merasa canggung dengan mata Leoni dan Gerald yang menatapnya lekat. Dia sudah dua jam mempersiapkan tampilannya. Dia memang merasa kalau dia terlalu rapi tadi. Tapi dia takut, kalau dia hanya mengenakan kaus oblong, Leoni akan menganggapnya bocah. Dia ingin tampil seperti laki-laki. Seperti pria dewasa. Agar Leoni menganggapnya lebih. Siapa tau, Leoni langsung jatuh cinta dan mereka bisa menjalin kisah romantis.
“Maaf, saya beneran udah boleh masuk ini?” tanya Gilang kikuk.
Leoni sadar akan kelancangannya. Membiarkan tamunya berdiri lama. Dia memalingkan wajahnya sebentar lalu kembali menatap Gilang sambil tersenyum.
“Silahkan duduk” ucapnya menunjuk kursi di sebelah Gerald. Fitri lelet sekali. Atau mungkin dia lupa dengan perintah Leoni tadi karena terlalu menggebu ingin menghampiri Gilang.
Gilang mengangguk. Masuk. Duduk di sebelah Gerald dengan jantung berdegup kencang. Dia tau pria itu. Tadi dia bertanya pada Fitri tentang Leoni dan kata Fitri, Leoni sedang di ruangannya bersama mantan suaminya. Mau dibilang tampan atau menawan, pria itu kan Cuma mantan. Gilang merasa dia lebih unggul karena dia berpotensi menjadi calon. Bisa menjadi mantan kan pasti ada masalah.
“Silahkan minum” ucap Leoni mengambil air putih kemasan dan meletakkannya di depan Gilang.
“Oh, terima kasih.”
“Eum, ada apa ya?”
Gilang menarik nafas, menghirup udara banyak-banyak. Dia mendoktrin dirinya sendiri untuk lebih percaya diri. Dia mengangkat kedua tangannya, meletakkannya diatas meja dengan jemari saling bertaut. Dalam hati kecilnya dia mengejek diri sendiri. Dia merasa seperti sales yang sedang ingin promosi.
“Begini Mbak. Sama seperti kunjungan saya yang pertama, saya ingin mengajukan kerjasama. Mbak tau sendiri kan, kalau saya punya usaha rumah makan. Atau cafe. Atau___intinya Rumah Bambu. Ya, punya papa saya sih Cuma sekarang saya yang mengelolanya. Nah, saya datang untuk mengajukan kerjasama pengadaan bahan-bahan masakan ke Mbak. Jadi, setiap harinya nanti, toko Mbak mengantarkan pasokan bahan masakan sesuai pesanan kami.”
“Oh, begitu. Tapi___makanannya kemarin kan banyak jenisnya. Toko saya Cuma jualan sembako. Saya paling Cuma bisa memasok beras, gula, teh, kopi, dan bahan makanan kering lainnya.”
“Ya, itulah Mbak poin pentingnya. Kalau yang kering-kering, itu dari Swalayan saya udah bisa memasok. Justru saya membutuhkan bahan-bahan lain. kemarin kan saya pernah ke sini, yang waktu itu, yang Mbak lupa, dan saya menawarkan pengadaan semua bahan. Sayang waktu itu harganya nggak cocok. Sekarang sudah terlanjur kerjasama sama Swalayan saya kan.”
Leoni tertawa lucu. Dia menatap Gilang dengan pandangan yang seakan ingin berkata banyak.
Gilang menerka-nerka. Wanita ini sedang tertawa mengejek atau bagaimana.
“Tunggu, saya nggak ngerti. Kalau kamu punya swalayan, dan kamu butuh bahan masakan yang sebenarnya ada di swalayan kamu, kenapa kamu mengajukan kerjasama dengan toko saya?” tanyanya.
“Begini Mbak, meski ownernya satu, kan kami memakai prinsip kalau setiap usaha kami itu entitas terpisah. Rumah Bambu ya Rumah Bambu, Swalayan ya Swalayan. Kalau kami mengambil barang dari Swalayan ya harganya harganya harga swalayan. Beda 500rupiah saja dikalikan sekian sudah banyak itu.”
“Lah, kenapa kalian tidak memisahkan produk sebelum dimasukkan ke pembukuan swalayan. Atau, kenapa kalian tidak memesan kepada pemasok barang di Swalayan kalian? Ke distributor langsung?”
Kali ini Gerrald yang menjawab. Suaranya terdengar sinis, menunjukkan ketidak sukaannya yang nyata. Pasalnya, dia curiga. Gilang pasti memiliki niat tertentu pada Leoni. Kekaguman pria itu pada Leoni tergambar jelas dari caranya menatap ke depan. hampir tidak berkedip dan bibirnya terus tersenyum. Saat Gerrald berbicarapun dia hanya menoleh sebentar.
“Begini. Selama ini kan saya kuliah. Saya tidak tinggal di sini. yang mengelola semua usaha ya papa saya. Sebagai orang kampung biasa yang tiba-tiba buka usaha, papa saya masih buta. Dia beberapa kali kena tipu sehingga biasanya dia mengambil barang langsung ke kota besar. Waktu saya mengajukan kerjasama itu, saya baru tiba di sini. saya melihat memang kacau sekali pengelolaan usaha papa saya. Tapi, benar kata Bapak tadi,” Gilang melirik ke Gerrald, “ bahwa lebih untung ke distributor langsung. Sekarang memang sudah seperti itu. Makanya sekarang saya mengajukan kerjasamanya untuk penyediaan bahan lain. kalau harus berbelanja sendiri, kami harus menambah orang di bagian belanja bahan dapur. Iya kalau dia bertanggung jawab. Kalau tidak? Belum lagi resiko pergantian pekerja. Saya hanya ingin meminimalisir itu semua.”
“Ya, kenapa kamu tidak langganan dengan orang pasar?” sanggah Gerrald lagi.
Leoni menatap Gilang dengan tatapan yang sama herannya dengan Gerrald.
Gilang menghela nafas panjang. “Sepertinya ide saya tidak diterima di sini. dengan berat hati saya katakan, baiklah. Saya tarik kembali penawarannya. Terima kasih atas waktunya. Selamat siang.”
Gilang berdiri. Wajahnya memerah karena malu. Dia marah, tentu saja marah. Tapi pada Gerrald. Apa tujuannya ikut campur urusan orang lain? mantan ya mantan saja! Jangan jadi seperti orang kurang kerjaan yang suka mencampuri kehidupan mantannya. Dasar pria! Sudah jadi mantan masih saja posesif! Cikal bakal penghianat!
Gilang menuduh seperti itu karena dia mendengar dari Fitri, Gerald telah menikah dan memiliki anak dengan wanita lain. Harusnya sebagai pria dia menjaga keutuhan keluarganya setelah sekali gagal.
Gilang menatap map di tangannya dan meletakkannya di dashboard mobilnya kesal. Apa benar penawarannya begitu aneh? Ya, benar sih, dia bisa berlangganan dengan orang pasar. Tapi kan harus dengan beberapa pedagang. Tidak bisa sekaligus. Dan lagi, yang paling penting, kalau dia bekerjasama dengan orang pasar, dia tidak bisa bekerjasama dengan Leoni. Padahal ini salah satu bentuk modus yang sedang digunakannya.
Leoni tercengang. Dia telah mengabaikan calon pelanggan. Wajahnya menegang marah, matanya menyipit sinis. Dia menatap Gerrald. “Lihat! Lihat apa yang kamu perbuat!” ucap Leoni kesal.
Gerrald mengerutkan keningnya tidak terima dengan tuduhan itu. “Loh, memang benar kan? Aku bicara apa adanya. Dia itu nggak benar-benar mau kerjasama! Dia itu lagi modus sama kamu!”
Leoni menggelengkan kepalanya lalu tertawa geram. Dia memilih diam karena tau berdebat dengan orang yang tidak terima disalahkan itu percuma. Dia kembali menekuni laporan pembukuan di atas mejanya. Nanti, dia akan mendatangi Gilang dan meminta maaf. Masuk akal atau tidak kalau kerjasamanya menguntungkan tentu saja dia akan setuju. Selama Gilang tidak mengajukan penawaran wajar.
***
Gilang memasuki ruangannya di Rumah Bambu lalu membuka kemejanya. Menyisakan kaos putih tipis yang membalut ketat tubuhnya. Dia membuang kemeja itu sembarangan. Setelah melihatnya teronggok di lantai, dan merasa tidak etis kemeja sebersih itu teronggok begitu, dia mengambilnya dan menempelkannya digantungan paku yang menempel di dinding.
Dia duduk di kursinya dengan kaki yang diangkat ke atas meja. Dia menatap dinding sambil berpikir, bagaimana caranya memasuki kehidupan Leoni. Pria tadi tampaknya pria yang berpendidikan dan mapan. Wajahnya tampan, tubuhnya maskulin dan sepertinya kantongnya tebal. Gilang merasa ia juga tampan, tapi dia tidak maskulin. Sepertinya dia harus mendaftarkan diri di tempat fitness.
Brengsek, batin Gilang. Pria itu sebenarnya termasuk saingannya atau tidak? Tapi mana mungkin Leoni bersedia terlibat dengan pria yang sudah menikah meski pria itu adalah mantan suaminya sendiri.
Anak! Ya, untuk mendapatkan simpati ibunya maka kita harus mendapatkan pujian dari anaknya. Gilang tersenyum lebar. Sepertinya dia harus mulai mencari tau tentang anak Leoni.