Part 8

2178 Kata
Merasakan kehilangan itu berat, tapi rasanya, rasa cemburu jauh lebih berat. Jika saat ia kehilangan Leoni, dia merasakan perasaan sedih yang membuatnya kehilangan gairah untuk melakukan apapun, perasaan cemburu ini membuat dia ingin melakukan sesuatu tapi ia tidak tau apa. Dia ingin marah, tapi pada siapa? Dia ingin melarang Leoni bertemu Gilang, memangnya dia siapa? Dia ingin segera mempersunting Leoni lagi, dia sangat sadar dia siapa! Mantan suami yang memberikan kenangan pahit selama mereka menikah. Gerrald tau Leoni tidak sadar Gilang mengincarnya. Dari dulu, Leoni itu tidak peka. Saat dia mendekati Leoni dulupun dia harus berjuang ekstra karena wanita itu sangat dingin sekali. Sudah berpacaran pun, Leoni masih suka menganggap Gerrald orang asing. Katanya, pacar kan masih bisa putus. Jadi dia tidak mau menyampurkan semua sisi kehidupan mereka. Terlalu dini, katanya. “Papa kenapa?” tanya Geovani yang terbangun dari tidurnya. Gerrald memutar tubuhnya. Melihat wajah mengantuk Geovani yang tampak khawatir padanya justru memperkuat ketidak relaannya membiarkan pria lain masuk ke kehidupan Leoni. Leoni dan Geovani hanya miliknya. Selamanya harus begitu. Gerrald melangkah mendekat, duduk di tepi ranjang. Tangannya mengelus kening Geovani lembut. “Papa ganggu kamu ya?” tanyanya. Geovani menggelengkan kepalanya. “Terus, kenapa bangun?” “Geo mimpi papa pergi. Nggak datang-datang lagi.” Gerrald merasa terenyuh. Geovani masih kecil dan dia tidak pernah tau apa yang terjadi pada orangtuanya. Kasih sayangnya masih begitu besar pada Gerrald. Rasanya, mata Gerrald memanas. Dia ingin menangis tapi dia seorang pria. Dia harus mengajarkan pada anaknya arti ketangguhan. “Itu Cuma mimpi,” ucap Gerrald. “Mimpi itu bunga tidur. Nggak nyata. Papa selamanya akan jadi papa kamu. akan selalu ada untuk kamu.” Geovani menatap Gerrald dengan mata membesar. Jelas-jelas dia mempertanyakan ucapan Gerrald, karena selama ini Gerrald tidak pernah ada untuknya. Yang dia rekam dalam ingatannya hanya Leoni, Leoni dan Leoni. Saat terakhir dia melihat wajah ayahnya, wajah itu berpaling. Rahangnya mengeras, dan berbicara dengan Leoni dengan suara yang kuat. Geovani menyimpan ketakutan di dalam hatinya. Dia takut mendapat bentakan yang sama jika sewaktu-waktu ayahnya marah. Dia anak sang nenek, tentunya cara mereka marah kurang lebih sama. “Hey, kamu kenapa? Mikirin apa?” Gerrald tersenyum lebar. Berusaha menepis perasaan gundahnya, berusaha kuat membuat anaknya merasa tenang. “Kalau___kalau papa punya mama sama adik baru, Geovani boleh punya juga Pa? Biar nggak rebutan. Biar Geovani punya papa yang di sini. yang nemenin mama?” Gerrald terdiam. Dia benar-benar kaget dengan pertanyaan itu. Dia merasakan sesak luar biasa di dadanya, dan rasa panas di seluruh tubuhnya. Pertanyaan ini, pertanyaan paling tidak disukainya. “Dengar,” ucapnya berusaha menjelaskan perlahan agar pemikiran itu sirna dari kepala Geovani. “seorang anak, hanya akan memiliki satu ayah dan satu ibu. Ayah kamu itu papa, ibu kamu itu mama. Nggak ada papa dan mama baru, sayang. Selamanya, papa yang akan jadi papa kamu. Nggak ada mama baru, selamanya mama yang akan jadi mama kamu.” “Tapi, papa kan ada istri baru. Ada adik bayi baru.” Gerrald mengalihkan pandangannya. Ternyata berbicara dengan anak kecil itu sangat sulit. Dia harus bisa menjelaskan agar sang anak tau tanpa menjelaskan dengan fakta-fakta yang hanya bisa dimengerti orang dewasa. Gerrald menghembuskan nafas panjang. Dia harus bisa menjelaskan karena ini malam terakhirnya bersama Geovani. Besok sore dia akan berangkan ke kota karena jarak tempat tinggal Leoni ini empat jam dari bandara. Sedang ia mendapat penerbangan jam sembilan pagi. “Nggak ada, sayang” ucap Gerrald. “Semua itu hanya salah paham. Kamu harus tau, sekarang ini papa nggak punya istri baru. Papa sekarang sendirian. Kalau kamu nggak percaya, kamu ikut pulang sama papa. Di rumah, Cuma ada papa sama nenek.” “Oh ya? Tante Wina kemana?” Ternyata dia sudah tau, bahwa wanita lain itu Wina. Padahal, saat Gerrald membawa Wina dulu, seisi rumah sepakat untuk mengatakan pada Gerrald kalau Wina adalah tante, saudara jauh keluarga Gerrald. Geovani waktu itu masih sangat kecil dan tujuan awal Gerrald menikahi Wina memang hanya sekedar memberikan perlindungan. Tidak ada yang tau garisan hidup. Tapi, semua memang jadi sangat berantakan. “Tante Wina kembali ke rumahnya, sayang. Kan Tante Wina memang Cuma numpang. Rumah itu kan rumah nenek, rumah papa, rumah kamu dan rumah mama.” “Tapi____” Geovani tampaknya masih memiliki ribuan pertanyaan yang tersimpan di kepalanya. Gerrald mengecup kening Geovani lalu berbaring sambil memeluk anaknya itu. “Makanya kamu bujuk mama supaya mau pulang. Supaya kamu bisa lihat kalau nggak ada siapapun di rumah selain papa dan nenek. Memangnya kamu nggak kangen pulang ke rumah?” “Kan ini rumah Geo, Pa. Ini rumah mama, rumah Geo juga. Kenapa nggak papa yang tinggal di sini?” “Papa kan kerja, sayang.” “Mama juga kerja.” Gerrald tersenyum di atas kepala Geovani. Anaknya yang cerdas, persis seperti Leoni. Oh, Tuhan, batin Gerrald. Bagaimana aku bisa menyia-nyiakan anugrahmu yang seindah ini. Tampaknya mataku memang sudah buta saat itu. Padahal, hanya karena ego yang tersentil, aku sanggup mengambil keputusan yang membuatku kehilangan seluruh kebahagiaanku. Gerrald memejamkan matanya. Hatinya terasa perih. Perih sekali. Penyesalannya sangat terlambat. Ini bukan lagi masalah salah dan benar. Tapi masalah memperjuangkan untuk mendapatkan apa yang telah dibuang. Meski seluruh dunia mengatakan kesalahannya itu biasa, bahwa harusnya Leoni memaafkannya, kalau Leoni tidak mau membuka hatinya maka semua itu tidak akan ada gunanya. Geovani menggerakkan kepalanya. Dia mengadah, ingin melihat wajah Gerrald. Gerrald menjarakkan kepala mereka agar Geovani bisa melakukan apa yang ia inginkan. “Papa sedih?” tanyanya. Gerrald menggelengkan kepalanya, berdusta. “Mana mungkin papa sedih. Papa bahagia sekali bisa berlibur bersama kamu. Papa cuma nggak nyangka ternyata seminggu itu cepat.” “Seminggu?” “Iya. Papa kan dapat libur dari kantor itu seminggu.” “Seminggu itu tujuh hari, Pa. Papa baru lima hari main sama Geonya.” Gerrald terkekeh. “Ya kan, ada masa papa di perjalanan. Udah ah, kamu bobok. Udah jam berapa ini. Nanti mama marah kalau tau kamu begadang.” Geovani mengangguk patuh. Dia menundukkan lagi kepalanya, memeluk erat ayahnya dan memejamkan matanya. Nafasnya yang terdengar kasar oleh Gerrald membuat Gerrald tau, Geovani masih terjaga. Gerrald menatap ke depan, lebih tepatnya ke tembok, dengan pandangan kosong. Pikirannya berkelana, mengenang masa-masa indahnya bersama Leoni. Saat ini, kilasan masa itu terasa jauh lebih indah dari saat peristiwa itu benar-benar terjadi. Mungkin karena saat ini dia hanya bisa membayangkannya dengan perasaan rindu yang membuncah. *** Seperti biasa, Leoni sudah siap untuk ke toko di pagi harinya. Sehabis sarapan dia langsung pergi ke toko. Dia sedikit tergesa-gesa karena sudah memiliki agenda penting yang harus segera dilaksanakannya. Dia harus ke Rumah Bambu mengklarifikasi kesalah pahaman yang terjadi. Rumah Bambu beroperasi mulai dari jam sebelas siang. Leoni datang jam sembilan pagi. Saat melihat hanya ada dua karyawan yang sedang beres-beres, Leoni merasa kecewa. Dalam hati dia hanya bisa berdoa semoga saja Gilang sudah sampai di tempat itu. “Permisi,” ucapnya pada seorang wanita yang sedang mengelap meja. Wanita itu menoleh. “Ya?” tanyanya. “Eh, Mbak Leoni kah?” Senyum Leoni mengembang. Tampaknya dia lumayan populer di daerah ini. “Ada apa ya Mbak? Mau ketemu Bapak?” “Bukan. Tapi Gilang. Ada nggak?” “Yah, jam segini ya nggak ada Mbak. Dia ke swalayan dulu. Kan Mas Gilang kesana kemari setiap harinya. Kalau mau ketemu ya ke swalayan tapi itupun dia di kantornya. Di lantai dua. Kalau mau ketemuan di sini ya jam dua.” “Jam dua? Lewat jam makan siang dong?” Pelayan itu menganggukkan kepalanya. “Mas Gilang baru datang ke sini dan makan jam segitu. Kadang mau juga sih datangnya dari pagi tapi biasanya siang. Mbak nggak ada nomor hpnya? Kan lebih enak janjian langsung.” Leoni menggelengkan kepalanya. “Kamu punya? Kalau boleh, saya mau minta nomor hpnya.” “Ada-ada,” ucap pelayan itu semangat. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menggerakkan jemarinya. Dia menyebutkan nomornya. Leoni sudah menyimpan nomor itu. Dia kemudian pamit dan kembali ke tokonya. Setibanya di toko, dia langsung menelepon Gilang. Masuk, tapi tidak diangkat. Leoni merasa khawatir, jangan-jangan Gilang sengaja tidak mau mengangkat panggilannya karena tersinggung dengan sikapnya dan Gerrald kemarin. Dia pun salah, kenapa mau mengikuti gaya sombong Gerrald saat mendengar penawaran dari Gilang. Padahal mau alasannya masuk akal atau tidak selama kerjasama itu menguntungkan dia harus menerimanya. Geovani semakin lama akan semakin besar. Kebutuhannya akan semakin bertambah. Sebagai seorang ibu, dia harus mempersiapkan tabungan untuk semua kebutuhan Geovani di masa yang akan datang itu. *** “Ini sudah minus sebanyak ini, masih tidak mau mengaku?” Gilang melempar laporan pembukuan swalayan ke atas meja. Di depannya berdiri sang kasir yang merangkap sebagai petugas pembukuan swalayan itu. Wanita setengah baya itu hanya diam dengan kepala menunduk. Bukannya merasa dihargai, Gilang justru merasa diamnya wanita itu sebagai bentuk pengabaian akan amarah Gilang. “Kenapa kamu diam? Bisu? Kalau papa saya, dia udah tua! Bisa kamu tipu! Tapi saya ini masih muda! Mata saya masih jeli! Laporan yang selama ini kamu buat, ngaco itu angkanya! Koruptor kamu ini!” Gilang menunjuk wanita itu dengan penuh amarah. “Saya tidak mau tau, laporan ini harus dibuat dari awal dengan benar. Saya tidak mau terima alasan apapun! Saya juga tidak akan mencairkan gaji kamu sebelum laporan ini selesai! Jangan bilang saya makan uang gaji kamu yang nggak seberapa itu! Saya Cuma menahan sampai kamu menyelesaikan tanggung jawab kamu, bukan menghanguskan gaji kamu! mengerti?!” Wanita itu mengangguk. Gilang masih belum merasa puas tapi sedari tadi wanita itu hanya mengangguk dan diam. Tidak ada gunanya berbicara lebih banyak lagi. Gilang yang merasa semakin muak, mengibaskan tangannya mengusir wanita itu. Wanita itu mengerti kode yang diberikan Gilang. Dia memutar tubuhnya dan melangkah menuju pintu. “Satu lagi,” ucap Gilang membuat wanita itu menghentikan langkahnya. “Jangan sekali-kali kamu berpikir lari dari tanggung jawab. Saya sudah mengantongi identitas kamu, termasuk keluarga kamu! sekali kamu lari, saya kejar kamu sampai ke lubang semut! Saya lebih baik rugi banyak dari pada ditipu seperti ini. Mengerti?” Wanita itu mengangguk sekali lagi. Gilang kembali mengibaskan tangannya, wanita itu melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan. Gilang mengurut keningnya frustasi. Awalnya dia pikir penyerahan tugas ini akan menyenangkan. Nyatanya tidak, semua sistem sudah lemah dari awal. Sekarang dia harus membenahi semua hal agar usaha yang dimiliki ayahnya ini bisa berjalan dengan baik. Gilang duduk. Saat dia melirik ponsel yang terletak di mejanya, dia melihat tiga panggilan tidak terjawab. Nomor baru. Paling juga sales atau penipu berkedok undian berhadiah, batinnya. Dia merebahkan kepalanya, melemaskan punggungnya. Dia berusaha menenangkan pikiran sebelum pergi ke kebun sawit ayahnya, memeriksa bagaimana perkembangannya. *** Leoni menunggu. Sudah jam makan siang tapi Gilang belum juga membalas pesannya atau meneleponnya balik. Mungkin belum rejekinya untuk mendapatkan respon Gilang hari ini. Sayangnya, Gerrald menolak usulannya untuk makan siang di Rumah Bambu. Katanya dia ingin makan di rumah makan lain. Karena ini adalah hari terakhir Gerrald mengganggu hidupnya, Leoni menurut. Saat ia tiba di rumah makan yang dipilih Gerrald, kedua laki-laki itu sudah menunggunya dengan wajah masam. “Maaf ya...” ucap Leoni. Dia menghampiri Geovani, mengecup pipinya singkat. “”Udah lapar?” tanya Leoni pada Geovani. “Udah, Ma. Mama kemana aja? Udah jam dua!” rajuk Geovani. “Tadi di toko kebetulan lagi ramai. Kenapa nggak pesan duluan?” tanya Leoni pada Geovani, lalu menggeser pandangannya ke Gerrald. “Kata papa, makannya harus sama-sama.” Gerrald tersenyum saat Geovani menjawab. Leoni mengalihkan pandangannya karena merasa Gerrald memiliki tujuan dibalik kata-kata itu. “Ya udah, mama kan udah datang. Pesan makan sekarang.” “Kamu makan apa?” tanya Gerrald. “Aku___” “Tadi ada ikan bakar. Kayaknya ikannya segar. Mau?” Leoni tersenyum dan mengangguk. Mendengar ikan bakar yang segar membuatnya lapar. Gerrald langsung berdiri menuju ke etalase makanan untuk memesan. Leoni menatap punggung Gerrald sebentar lalu mengajak anaknya berbincang. Seandainya saja semua baik-baik saja,, sikap Gerrald tadi akan sangat menyanjungnya. Sayang sekali, saat ini dia sedang dikuasai perasaan kecewa yang begitu besar sampai-sampai setiap rasa simpati atas kebaikan Gerrald muncul, maka secara langsung sisi kecewa dalam dirinya menegur. Tidak ada satupun perlakuan Gerrald yang membekas di hatinya. Dia melarang keras hal itu terjadi. Kelemahan wanita adalah terlalu gampang merasa iba, terlalu mudah percaya, dan terlalu pasrah menghadapi keadaan. Satu lagi, begitu mudah memaafkan meski merasa sulit melupakan. Meski bibirnya berkata dia sudah memaafkan tapi jika ditelisik, dia belum benar-benar memaafkan karena sampai saat ini ingatan akan penghiatanan Gerrald masih menguasai hatinya. Mungkin dia sedikit berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gerrald kembali dengan tangan memegang dua piring makanan. Satu diletakkannya di depan Geovani dan satu di depan Leoni. “Kamu, Mas?” tanya Leoni heran. “Aku ambil lagi. sebentar ya,” ucap Gerrald lalu kembali ke etalase. “Sudah, yuk makan” ucap Gerrald saat kembali ke meja dengan membawa makanan untuknya. “Berdoa!” seru Geovani. Gerrald dan Leoni saling melempar senyum, lalu menyatukan tangan mereka, berdoa. Gerrald merekam detik demi detik perpisahannya dengan dua orang yang dicintainya. Entah kapan lagi ia bisa datang melihat mereka. Tapi ia akan mengusahakannya. Dia tidak mau membuang waktu terlalu lama, memberi celah pada orang asing mengambil peran yang harusnya disematkan padanya. Suami, dan ayah.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN