part 9

1154 Kata
Semenjak kepulangannya dari berlibur, Gerrald lebih banyak diam. Dia sering melamun. Pergi meninggalkan Leoni dan Geovani, seperti ikut meninggalkan gairahnya menjalani hidup. Dia mencoba menjalin komunikasi lagi dengan Leoni tapi Leoni menegurnya. Dia berkata Gerrald harusnya mengerti kalau apa yang dilakukannya hanya semakin membuat Geovani sedih. Jika suatu saat nanti Gerrald tidak lagi bisa memberikan perhatian yang sama, Geovani akan merasa kehilangan yang lebih besar lagi. Gerrald sempat membantah, berkata bahwa dia berhak bahkan justru wajib memberikan perhatiannya. Berkata, jika memang Geovani merindukannya, dia akan datang lagi atau Geovani yang mendatanginya. Tapi, Leoni memang selalu keras kepala. Dia membantah dengan mengatakan semua tidak semudah itu. Bahwa, sentimentil yang Gerrald ajarkan pada Geovani hanya membuat Geovani menjadi pria yang lemah. Biasa bagi anak laki-laki untuk hidup jauh dari keluarga. Banyak anak yang tidak dibesarkan dengan orangtua yang lengkap dengan berbagai alasan. Bukannya menunjukkan kalau posisi si anak menyedihkan, orang sekitar harus membuat si anak mengerti alasannya. Jika sang anak mengerti, lambat laun dia akan terbiasa. Berbeda dengan jika orang terus menganggap dia iba, bukannya merasa membaik sang anak justru semakin percaya bahwa nasibnya menyedihkan. “Pulang malam lagi?” sambut Ewie dengan wajah masamnya. Semakin lama Gerrald semakin jauh darinya. Gerrald menatap Ewie malas. Dia merebahkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan matanya lelah. Ewie merasa miris melihatnya. Gerrald malas pulang karena ia tidak memiliki anak dan istri di rumah. Akibatnya, dia lebih mencintai pekerjaannya. “Kamu harus perduli sama diri kamu sendiri, Ge. Sudah mama bilang, sebaiknya kamu menikah. Kalau ada istri kan__” “Udah Ma,” jawab Gerald dengan nada malas tanpa membuka matanya. “Gerrald udah nikah, udah dua kali malah, dan gagal.” “Ya beda dong___” Gerrald membuka matanya. Ia menatap Ewie dengan mata menyipit. “Mama mau Gerrald nikah? Iya? Mama kan udah tau, syaratnya Cuma satu!” “Apa? Harus sama Leoni?” Ewie menatap Gerrald tidak percaya. “Memangnya kamu nggak mau coba membuka diri sama perempuan lain dulu? Banyak loh___” “Ma!” potong Gerrald. “Yang jalanin pernikahan itu Gerrald, yang tau selera Gerrald ya Gerrald! Kalau mama suka sama perempuan lain, ya mama jodohin sama orang lain jangan sama Gerrald. Gerrald nggak mau!” Gerrald berdiri, lalu melangkah menuju kamarnya. “Leoni, sepertinya memang aku harus berbicara dengan dia,” gumam Ewie dengan wajah lesu. Pagi sekali, Ewie sudah menyiapkan berbagai cara untuk menyapa Leoni. Rasanya memalukan memang. Padahal saat Gerrald dan Leoni sah bercerai, Ewie sudah mengangkat dagunya tinggi-tinggi saat melihat Leoni. Bukan karena dia sangat membenci Leoni, dia hanya bangga saat ucapannya bahwa jika Leoni tidak berubah maka lama-lama Gerrald akan muak dan menceraikannya. Ewie sudah mendapatkan nomor ponsel Leoni dari Wina. Semoga saja, Leoni belum mengganti nomor ponselnya. Rasanya seperti sedang olahraga jantung, jantung Ewie terus berdentum kencang saat mendengar nada terhubung di panggilannya. “Halo?” Suara di seberang sana membuat Ewie membuang nafas untuk mengisi oksigen di parunya. Dia gugup sekali. “Halo, Leoni, ini saya.” Bahkan dia merasa canggun untuk mengucap kata mama. “Oh, kenapa?” “Eum__kamu apa kabar?” “Baik. Mama?” Dan dia masih memanggilku mama, batin Ewie. Ketegangan yang dirasakannya memudar. Dia merasa lebih baik karena sambutan Leoni tidak sekasar yang dia bayangkan. “Mama baik. Cucu mama bagaimana kabarnya?” “Baik juga Ma.” “Oh….” Ewie kembali merasa gugup. Dia harus bilang apa selanjutnya? Langsung ke pokok permasalahan atau bagaimana? Ewie baru saja akan berbicara namun tidak jadi karena ia mendengar Leoni berbicara dengan orang lain. Dia menunggu, dan sedikit kesal tentu saja karena harusnya LEoni mengabaikan orang itu sampai komunikasi mereka di telepon selesai. “Ma?” tanya Leoni. “Tadi suara laki-laki?” tuduh Ewie. “Ha? Oh, iya Ma.” “Kamu sekarang sama laki-laki lain?” “___” “Kamu sudah dapat penggangi Gerrald ya?” “Maaf Ma, saya ini jawab teleponnya sambil bekerja. Nanti kalau saya senggang saya hubungi Mama balik. Maaf ya Ma.” “A___” Tut tut tut Ewie membuka mulutnya tidak percaya. Leoni sudah mendapatkan pengganti makanya Gerrald lesu! Astaga! Padahal Leoni yang berkoar-koar kalau ia sedang dikhianati! Harusnya kalau dia memang sosok setia, dia tidak akan mendapatkan pengganti secepat itu! Apa jangan-jangan dia sudah berselingkuh sewaktu masih menikah dengan Gerrald? Apa gugatan cerai itu dilayangkan karena dia ingin bersatu dengan kekasihnya itu? Atau bahkan, ternyata dia sudah menikah? Astaga! Astaga! Astaga! Ewie memegang dadanya karena dadanya semakin sesak. Air matanya mengalir, merasa kasihan pada anaknya, Gerrald. PAdahal Gerrald sangat mencintai wanita itu tapi ternyata… ***   “Dia masih di sini?” tanya Edi pada Fitri, istrinya. Fitri mengangguk, menyajikan ubi goreng ke meja di depan suaminya. “Kenapa memangnya? Bagus toh dia lama di sini. Di kota dia malah nggak bener kerjaannya.” “Ini mencurigakan ini! Pasti ada apa-apa!” “Hush! Malah nuduh anak! Nggak baik tau, Pa!” “Ck, feeling Bu” “Ma!” potong Fitri cepat. “Anak-anakku manggil aku mama! Apa susahnya sih manggil mama!” “Heleh, sama aja. Gini lo Ma,” Senyum Fitri mengembang saat kata Ma terucap dari bibir suaminya. Saat melihat senyum itu, Edi memajukan bibirnya mengejek. “Jadi gini,” ulang Edi tanpa embel-embel panggilan lagi, “dia itu biasanya ke sini minta uang aja kan? Kalau enggak ditambah sama buat rusuh makanya setiap dia ke sini aku standbye obat tensi. Nah ini enggak. Banyakan diam dia. Antara dia diburu musuh di kota sana makanya banyak diam atau dia punya alasan untuk betah di sini.” “Ih, amit-amit anakku ada musuh. Nggaklah. Ngaco. Berandalannya dia kan Cuma suka keluar malam.” “Ya keluar malam itu udah semuanya. Yang minum-minum, ngegeng, main perempuan, ya semuanya malam. Kalau siang kan dia tidur.” “Ck, bapak ini__” “Tuh kan, sok sok papa ujungnya bapak!” Fitri tertawa terbahak-bahak. “Udah ah! Ini bercanda apa serius?” “Ya serius. Masalah anak kok dibercandain. Ini bapak curiga ya Bu, dia ini naksir siapa gitu.” “Kok mikir gitu?” “Kemarin dia datang, mandi itu dua hari sekali. Sekarang dia mandi dua kali sehari.” “Oh, iya juga__” Sesi perbincangan antara suami dan istri itu berhenti karena sosok yang mereka perbincangkan muncul. Heru dengan pakaian serba hitamnya melangkah canggung. Dia melirik Edi seperti ingin berbicara. “Kenapa?” tanya Heru yang bisa membaca niatan Heru. “Eum, Heru mau bicara, Pa.” “Duduk,” ucap Edi menunjuk Sofa di sampingnya. Heru duduk lalu menggaruk kepalanya sebentar. “Kutuan kamu?” tanya Edi. Fitri langsung mencubit suaminya dan membesarkan mata, menegur. “Orang nanya kok bukan nuduh,” ucap Edi tidak terima. “Mau bicara apa?” tanya Edi pada Heru. “Gini, Pa. Heru___Heru mau minta hak Heru, boleh?” “Hak? Apa? Uang jajan?” “Bukan!” ralat Heru cepat. “Lah, main hak-hak gini kewajiban kamu sudah? Ijazah kamu mana? Katanya udah lulus tapi nggak pernah setoran ijazah.” “Ya, kan papa datang waktu wisudaan Heru.” “Oh iya juga. Jadi, mau minta hak apa?” “Heru, Heru mau minta swalayan untuk Heru kelola.” “Ha???”” Sepasang suami istri itu kaget mendengar permintaan anaknya. Firti melirik suaminya. Dia merasa ada benarnya, Heru telah terpikat pada seorang wanita. Kalau tidak, mana mungkin dia meminta tanggung jawab itu. Kalau ia butuh uang, biasanya dia hanya akan membuat keributan sehingga terpaksa Edi memberikan uang sesuai permintaannya. Gilang yang baru saja sampai di rumah karena permintaan sang mama agar ia makan siang di rumah mendengar semuanya. Benar firasatnya kalau Heru mencintai wanita incarannya, Leoni. Kenapa susah sekali mendapatkan wanita itu? Apa memang sekarang sudah jamannya janda menjadi bahan rebutan? Gilang memukul kepalanya. Bisa-bisanya dia mengungkit status wanita itu meski hanya dalam hati. Siapa yang mau gagal? Semua orang memiliki batasan masing-masing dan perceraian terjadi karena batasan itu dilanggar. Baik Leoni atau mantan suaminya yang melanggar itu tidak masalah karena Gilang mencintai Leoni yang utuh dengan segala sisi dalam dirinya. Permasalahannya, bagaimana caranya membuat wanita itu mau membalas perasaannya? Atau paling tidak, menerima cintanya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN