Part 10

1515 Kata
“Dia sudah tidur?” tanya Gerrald. “Iya, sudah. Sudah jam sembilan.” Gerrald sebenarnya hanya ingin mendengar suara Leoni, tapi otaknya sangat sulit diajak bekerja sama. Dia tidak tau harus berkata apa untuk mengulur waktu agar ia bisa mendengarkan suara Leoni lebih lama lagi. Kunjungannya sepertinya kurang lama karena kini hubungan mereka tidak mengalami perkembangan berarti. “Mas?” panggil Leoni dari seberang sana. “Aku capek, Ni.” “Ha?” “Aku capek. Aku___aku butuh kamu.” “Apaan sih,” Leoni tertawa geli. “Aku sungguh-sungguh. Atau, kalau aku berhenti kerja dan pindah ke sana, kamu mau  memberi aku kesempatan lagi?” “Aku rasa kamu mabuk, Mas, kamu ngaco!” “Aku nggak mabuk, Ni! Aku Cuma__aku gila karena aku merindukan kalian!” “Rasa rindu dari orang yang salah, nggak ada gunanya. Simpan rindu kamu untuk orang lain yang membutuhkan.” “Memangnya kamu pikir, rasa cinta dan rindu itu bisa diatur, Ni? Dia sendiri yang menentukan tujuannya. Seandainya bisa, cinta dan rindu ini sudah aku kasih ke perempuan lain. Seandainya bisa.” Leoni tertawa. “Gina itu apa?” “Ni! Aku khilaf, dan aku sangat menyesal. Oke?” “Untuk hamil Geovani, kita butuh beberapa bulan. Jadi khilaf kamu ke Wina itu, khilaf berkepanjangan?” “Ni, aku dan dia sudah bercerai.” “Kita pun sama. Sekarang sudah malam. Kalau kamu butuh teman bicara, kamu coba aja hubungi dia. Firasatku, dia masih mengharapkan kamu.” “Kami hanya berteman, Ni!” “Teman? Ya sudahlah. Intinya, apapun hubungan kalian itu terserah kalian. Aku mau tidur dulu karena besok aku harus bangun pagi-pagi sekali. Selamat malam.” Gerrald berteriak kencang, tidak perduli seisi rumah akan terbangun karenanya. Wina! Wina! Gina! Kenapa harus ada mereka dalam hidupnya? Kenapa dia dulu begitu keras kepala? Kenapa dulu dia begitu buta? Dulu dia selalu berkeras bahwa ia berhak bersikap baik dan selalu membantu Wina, sahabatnya. Kehidupan pernikahan tidak menghentikan persahabatan mereka, bahkan ia berhak menikahi Wina meski secara siri demi mendapatkan hak untuk memberikan perlindungan secara penuh. Sekarang semua kearoganannya sirna. Keinginannya untuk berhubungan baik dengan Wina pun sirna. Bahkan, dengan menyesal ia mengakui bahwa ia membenci Gina karena Ginalah wujud dari kesalahannya. Karena Gina ada, Leoni dan Geovani menghilang dari kehidupannya. “Aku rindu kalian, sayang. kenapa kamu nggak bisa ngerti?” ucap Gerrald sambil menitikkan air matanya. Ia membaringkan tubuhnya, memejamkan matanya. Pikirannya berkelana ke masa saat mereka masih bersama. Di kamarnya, Ewie yang sudah tertidur pulas langsung terjaga. Ia langsung duduk dan menatap sekitar, menunggu suara kuat itu datang lagi agar ia bisa memastikan yang didengarnya tadi semu atau nyata. “Apa jangan-jangan Gerrald?” gumamnya khawatir. “Tapi jam segini masak iya?” Ewie menunggu hingga beberapa saat karena ia tidak mendengar suara itu lagi, ia pun memutuskan untuk kembali tidur. Ini kesempatan langka karena jarang sekali Gerrald pulang cepat hingga ia bisa tidur dengan cepat pula. Biasanya ia akan menunggu sampai jam berapapun Gerrald pulang, strategi ampuh agar Gerrald tetap pulang ke rumah bukan ke tempat lain. *** Sepasang adik kakak itu berubah dan Leoni yakin pendapatnya itu masuk akal. Tubuh Gilang sekarang semakin berisi. Ia semakin terlihat maskulin, seperti pria-pria di tv, ia terlihat rapi, bersih dan macho. Si abang yang bernama Hernu, terlihat lebih cerah dari pada sebelumnya. Lingkaran hitam di matanya sudah berkurang dan tampilannya sedikit lebih rapi. Sayang, auranya masih terasa seperti aura penjahat. Membuat Leoni merasa gugup ketika pria itu melihatnya. Dalam sorot matanya terlihat tatapan tajam yang terlihat seperti sedang mengancam. Belakangan ini Leoni memang lebih banyak bergaul dengan orang-orang dari pada sebelumnya. Ia sudah mulai berani meninggalkan toko karena merasa dampak dari menjalin hubungan baik dengan orang lain mulai terasa. Kerja samanya dengan keluarga Gilang semakin baik bahkan ada beberapa orang baru yang menjadi pelanggannya juga. Ia berpikir, biarlah ia mempercayakan pengelolaan toko pada Fitri sedang ia sebagai pemilik bertugas memastikan bahwa orang-orang semakin mempercayai tokonya dengan seringnya ia terlihat di depan mata mereka. Lagi pula, sering berkomunikasi dengan orang-orang baik membuatnya merasa lebih baik. “Jadi Pak Slamet udah langganan juga?” tanya Gilang. Leoni mengangguk. Dia sedang mengadakan kunjungan ke Rumah Bambu sekaligus mengantarkan rekapan tagihan, tentu saja. Sesuai permintaan Gilang, rekapan tagihan alias piutang Rumah Bambu dikirim perminggu. Katanya, kalau perhari terlalu cepat tapi perbulan terlalu lama. Takut kalau perbulan nanti biayanya malah terlihat sangat besar. Leoni datang bersama Geovani. Dia sengaja mengambil hari minggu sebagai jadwal tagihan agar ia bisa sekalian menghabiskan waktu bersama Geovani meski sekedar makan siang bersama. “Makasih ya, bantu promosi.” Gilang tersenyum lebar. “Namanya sama-sama usaha. Ya gitu, harus saling membantu. Kecuali kamu bukanya rumah makan kan, aku nggak akan promosi. Nanti kalah saing.” Leoni tergelak dengan wajah merona. Dia masih merasa gamang saat Gilang mengganti panggilannya dari ‘mbak’ ke ‘kamu’. alasan Gilang masuk akal, dulu dia memanggil mbak karena mengikuti sopan santun sedang sekarang mereka sudah akrab. Mereka sudah sering berbicara sebagai teman, bukan hanya teman kerja tapi benar-benar teman. Leoni tidak mengerti apa bedanya tapi Gilang berkata seperti itu. “Geo mau makan apa hari ini? Om boleh gabung kan? Om juga belum makan siang,” ucap Gilang sambil menghitung uang yang dikeluarkannya dari lacinya. “Geo mau makan udang goreng Om, sama steak ayam.” “Ah, payah. Kamu makannya steak terus. Yang lain dong.” “Iya nih Geo, makannya steak terus” timpal Leoni dengan nada menghasut. “Yaahhh, kan steak enak. Nggak apa-apa dong. Geo suka steak.” “Eh, Om ada menu baru. Sate vegetarian. Mau coba nggak?” Geovani menatap Gilang bingung. “Sate vegetarian?” tanyanya. Setelah melihat Gilang menganggukkan kepalanya, Geovani memutar kepalanya menghadap Leoni. “Ma, Vegetarian itu yang makan sayur itu kan?” Leoni mengangguk. “Masak sayur disate, Ma” Geovani tertawa lucu. “Eh jangan salah. Ini dari bahan sayuran tapi rasanya kayak sate beneran. Om tantang deh, kalau habis dua porsi Om kasih gratis, nggak bayar.” “Ya jangan dua porsi dong, Lang. Kekenyangan nanti Geonya,” ucap Leoni. “Santai aja. Dua porsi sate itu sedikit untuk anak laki-laki. Masa pertumbuhan begini dia memang harus makan banyak apalagi ini sate doang nggak pakai lontong.” “Oh...” Leoni mengangguk. “Berani nggak?” Gilang kembali menantang Geovani. “Ya, jangan dua porsi dong Om, satu aja. Siapa tau nggak enak.” “Ya udah, gini aja, kalau sampai kamu minta tambah satenya, kamu harus kena denda. Gimana?” “Denda apa? Geo kan nggak bawa uang. Uang Geo di celengan semua, Om.” Gilang dan Leoni sama-sama tertawa. Mereka terhibur dengan polosnya Geovani. Leoni bersyukur anaknya bisa akrab dengan Gilang, jadi pertanyaan kapan papa datang lagi kesini belakangan sudah berganti menjadi kapan kita ke tempat Om Gilang lagi. “Dendanya, minggu depan kamu harus makan siang di tempat om pakai cah kangkung satu porsi.” “Yaaa... nggak apa-apa deh.” Leoni dan Gilang kembali tertawa melihat Geovani yang bimbang tapi akhirnya setuju. Gilang memberikan uang kepada Leoni lalu mereka makan siang di meja yang sama. Leoni tidak merasa risih karena dia sudah menganggap Gilang sebagai temannya. Dulu sewaktu kuliah dia juga memiliki beberapa teman pria dan dia sekarang ini menekankan pada diri sendiri Gilang sama seperti mereka. mana mungkin pria sepotensial Gilang menaruh hati padanya. Ada banyak wanita lain yang muda, cantik, dan masih lajang di sekitar mereka. seandainya Gilang sedang mencari pasangan hidup tentulah mereka yang diincarnya, bukan dia. “Eh, enak Ma” adu Geovani saat memakan tusukan pertama. “Oh ya? Sini mama cicip” Leoni membuka mulutnya. Tusuk sate itu sudah hampir sampai ke mulutnya saat kemudian Gilang menginterupsi. “Eh, nggak boleh curang. Satu porsi itu Cuma buat Geo sendiri.” “Masak nggak boleh kasih mama sih, Om! Om pelit” ejek Geovani. “Ini kan tantangan dari Om. Yang ditantang kan bukan mama, tapi kamu” Gilang menyolek hidung Geovani. “Tapi kan mama mau, Om.” “Mau?” Gilang bertanya pada Leoni. Setelah Leoni mengangguk, Gilang memanggil pelayan. “Beneran enak ya, rasa sate beneran. Kamu yang masak?” Gilang menggelengkan kepalanya. “Aku cari resepnya aku suruh tukang masak pelajarin. Waktu rasanya udah pas baru dimasukin ke buku menu.” “Kamu kreati banget. Enak nih.” “Iya enak. Ma, Geo boleh minta?” Geovani sudah mengulurkan tangan hendak mengambil sate Leoni tapi tangannya langsung ditepuk Gerrald. “Ingat tantangannya loh, kalau lebih dari satu porsi___?” “Nggak kok, Geo nggak nambah. Minta punya mama.” “Sama aja. Udah lebih satu porsi.” “Ck,” Geo menyilangkan tangannya di d**a. “Satu porsi itu sedikit Om, Cuma sepuluh tusuk. Dagingnya kecil kecil,” keluh Geovani. Leoni menahan tawanya. Porsi sate yang disajikan Gilang itu porsi sate normal. Hanya saja memang tidak ada tambahan lontongnya. Biasanya Geovani pasti sudah kenyang apalagi tadi dia juga memesan udang goreng dan lumpia keju. “Bilang aja kamu suka. Enak kan? Mau nambah nggak? Om kasih gratis tapi sebagai hukuman, minggu depan kamu harus makan cah kangkung satu porsi. Setuju?” Geovani mengangguk. “Nggak apa-apa deh. Kangkung nggak pahit kok,” ucapnya menghibur dirinya sendiri. Leoni tertawa lagi. Dia tampaknya harus bersyukur karena dalam setiap kunjungannya, Gilang selalu mengajak anaknya bercanda. Geovani menemukan sosok laki-laki dewasa untuk dijadikan panutan. Anak kecil memang sering mengikuti laki-laki dewasa yang dia kagumi. Untuk kasus umum, anak akan meniru ayahnya sedang dalam kasusnya dia tidak mau Geovani meniru Gerrald. Bukan karena karakter Gerrald yang tidak baik. Satu-satunya hal buruk dari Gerrald yang ia ingat hanya kekhilafannya yang berbentuk perselingkuhan. Tapi, semakin Geovani meniru Gerrald maka semakin Leoni sulit melupakan pengkhianatan itu, dan semakin sulit juga bagi Geovani untuk hidup berjauhan dengan Gerrald. Kalau begini, Leoni yakin, dalam jangka setahun Geovani akan terbiasa hidup tanpa Gerrald. Gerrald masih ayah Geovani, Leoni tidak akan menampik hal itu, tapi dia berhak mengajarkan pada anaknya bahwa meski Gerrald ayahnya, Geo tidak boleh terlalu menggantungkan kehidupannya pada kehadiran Gerrald. Perpisahan orangtua sudah pasti membuat porsi kehadiran mereka dalam kehidupan anak mereka juga berkurang apalagi jika salah satunya telah menemukan pasangan hidup yang baru. Tentu saja, Leoni yakin sekali Gerrald akan segera mendapatkannya. Toh, saat mereka masih bersama saja, Gerrald sudah membawa wanita baru dalam kehidupan mereka. apalagi sekarang saat pria itu sudah mendapatkan status merdeka.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN