Leoni sedikit tenang saat Ewie dibawa kembali ke kamarnya. Ucapan wanita itu, entah kenapa, terdengar seperti selalu diucapkan untuk mengkonfrontasinya. Dia ingin menangis tapi sekarang dia bukan lagi seorang wanita, tapi dia seorang ibu. Menunjukkan kesedihan hanya membuat anaknya merasa sedih juga. Percuma ia terus berkata Geovani harus kuat jika ia tidak bisa memberi contoh bagaimana menjadi pribadi yang kuat.
“Maafkan mamaku,” bisik Gerrald lagi. Suaranya menyiratkan penyesalan.
“Bukan salah mama kamu, Mas. Aku aja yang terlalu sensitif, mungkin” Leoni berusaha tersenyum meski ia tau ia gagal.
“Mama memang begitu. Maaf, selama ini pasti kamu banyak mendapat tekanan dari dia.”
Dari dulu kamu kemana saja? Batin Leoni. Dia menarik nafas panjang lalu mengambil ponselnya. Lebih baik dia mengalihkan perhatian dengan memantau tokonya. Orang-orang suka sekali berbasa basi saat semua sudah berlalu. Saat itu terjadi, entah kemana semua basa basi itu. Padahal Leoni sudah mengatakan apa yang ia rasakan dulu, tapi kata Gerrald, ia harus menghargai Ewie seperti ia menghargai ibunya sendiri. Dan seorang ibu memang seringkali bersikap menyebalkan pada anak-anaknya tapi tujuannya pasti baik.
Bagaimana toko?
Leoni mengirimkan pesan kepada Gilang.
Aman. Aku pun aman. Jadi, kapan pulang? Sudah banyak yang menanti.
Leoni berdeham. Dia pasti sudah sinting karena mengartikan kata ‘menanti’ itu artinya menanti dalam artian lain. Leoni merasa salah tingkah, ia menatap ke arah Gerrald yang dirasanya mengawasinya dan benar saja mata mereka bertemu.
“Dari siapa?” tanya Gerrald.
“Fitri,” jawab Leoni. Dan dia tidak mengerti kenapa dia harus berbohong.
“Oh.”
Minggu sore, jangan lupa dijemput ya. Agak siang biar sekalian makan siang. Kata Geovani, dia mau ngajak kamu makan di rumah makan vegetarian. Mau lomba makan sate.
Boleh. Aku juga udah kangen sama Geo. Cubit pipi Geo buat aku ya. Jangan lupa oleh-oleh.
Senyum Leoni melebar. Dia membalas dengan cepat tapi menghapusnya lagi. menyisakan dua huruf sebagai penutup perbincangan via pesan mereka.
Ya
“Kalau misalkan kalian pindah ke sini, susah ya Ni?” tanya Gerrald.
Leoni memasukkan ponselnya ke tas lalu menopang kepalanya dengan tangannya yang menekuk dan bertumpu di pinggir sofa. “Ya susah. Tokoku sudah mulai ramai. Lagipula mana bisa aku saingan sama toko-toko di kota ini. Orang-orang malas tau belanja di toko. Mereka belanja di supermarket.”
“Kamu bisa buka toko lain. Butik misalnya?”
Leoni tertawa. Sebenarnya alasan dia menjauh itu demi ketenangannya. Dan jelas jika ia pindah ke kota yang sama dengan Ewie, Gerrald, dan Wina, ketenangan itu tidak akan pernah ada. Mereka keluarga penuh drama. Mereka suka mengusik hidup Leoni yang sudah mulai damai. Memaksakan konsep cinta juga rumah tangga versi mereka yang bertentangan dengan prinsip Leoni.
Sebenarnya Leoni tau banyak orang yang menyalahkannya. Di jaman di mana pria sudah terbiasa berbuat salah, wanita disalahkan jika tidak bisa menerima kesalahan itu apalagi sang pria sudah mengaku salah dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kata Ewie saat itu, Leoni itu terlalu terpaku pada prinsip emansipasi.
Bukan begitu. Jika memang benar ia terlalu memuja emansipasi mana mungkin ia mau jadi ibu rumah tangga biasa padahal ia menyandang gelas sarjana. Dia bahkan memendam keinginannya untuk melanjutkan kuliahnya ke jenjang s2 agar ia bisa menjadi ibu yang baik untuk Geovani. Tapi dia tidak terima jika, hanya karena pria biasa berbuat salah, kesalahan itu dianggap biasa. Salah tetap saja salah. Dia mati-matian menjadi istri yang setia dan mendukung semua keputusan Gerrald maka dia menginginkan hal yang sama, kesetiaan dan dukungan. Memangnya, Gerrald mau menerimanya jika ia sudah tidur bersama pria lain dan memiliki anak dari pria itu padahal mereka masih terikat pernikahan?
“Ma, kata papa besok papa udah bisa pulang. Kita jalan-jalan ke mall ya Ma?” tanya Geovani, lebih seperti meminta izin.
Leoni menatap Gerrald. Memang kondisi Gerrald sudah lebih baik. Rona di wajahnya mulai terpancar. Leoni mengejek dalam hati, penyakitnya kan memang bukan penyakit mematikan. Hanya penyakit yang menjadi parah karena sang pemilik tubuh memang ingin sakit. Masalah sibuk semua manusia sibuk tapi memangnya kesibukan itu membuatnya sampai tidak bisa meluangkan waktu untuk makan?
“Kalau belum sehat betul jangan dipaksakan, Mas. Istirahat aja. Nanti kan kalau Geo libur sekolah kami datang lagi. Jangan terlalu__”
“Aku yang mau, Ni. Aku yang mau menghabiskan waktu dengan ‘anak kita’”
“Tapi kamu sakit dan jalan-jalan di mall itu pasti melelahkan.”
“Nggak apa-apa. Aku kuat kok. Lagipula, aku mau membelikan kamu sesuatu yang sudah kujanjikan dulu.”
Kening Leoni berkerut memikirkan ucapan Gerrald.
Gerrald tersenyum miris. Tidak mungkin Leoni lupa kan? Atau dia memang sengaja melupakannya?
***
Akhirnya Gerrald benar-benar melaksanakan janjinya. Ia memaksa pulang dari rumah sakit, yang ternyata dilakukan Ewie juga, lalu ia mengajak Leoni dan Geovani jalan-jalan ke salah satu mall yang memiliki wahana bermain yang cukup luas.
“Nanti Geo mau main apa?” tanya Gerrald.
Geovani yang jalan dengan tangan menggandeng tangan Leoni dan Gerrald di tangan kanan dan kirinya, menatap Gerrald lalu mengangkat bahunya.
“Geo nggak tau, Pa. Main apa ya?”
“Lomba main basket sama papa, pasti kamu kalah.”
“Yahhh, Geo nggak tau main basket. Mama bisa, Ma?”
Leoni menggelengkan kepalanya. “Mama juga nggak pinter sih.”
“Ya udah, papa, kamu, sama mama tanding deh ya. Siapa yang kalah harus makan sayur dua porsi! Gimana?”
“Yahhh, masak taruhannya makan sayur sih Pa” keluh Geovani.
“Terus maunya apa?”
“Makan steak.”
“Yeee, itu sih maunya kamu. nggak kalah juga kamu pasti mau aja makan steak. Deal nggak nih? Kalau nggak deal berarti anak papa cemen.”
“Ya udah deh. Mama mau, ma?”
Leoni menatap Geovani dan Gerrald bergantian lalu ia mengangguk. Demi anaknya, tidak apa-apa menjadi akrab lagi dengan Gerrald. Hanya selama kunjungan mereka kan?
Gerrald mengisi saldo yang tidak tanggung-tanggung menurut Leoni. Lima ratus ribu hanya untuk bermain saja? Boros sekali.
“Satu... dua... tiga” sorak Geovani lalu mereka bertiga menekan tombol untuk memulai permainan basket.
Gerrald dengan mudah memasukkan bola-bola itu ke keranjang, sedang Geovani sangat sering meleset. Tapi ia tertawa, menikmati momen berlomba dengan orang tuanya. Leoni sendiri juga mulai lupa diri. Dia terpacu untuk mendapatkan skor yang tinggi.
“Yaahhh,” keluh Geovani saat ia tidak bisa melanjutkan permainan.
Leoni dan Gerrald mendapatkan tambahan waktu. Mereka saling menatap lalu mengirimkan pesan saling menantang. Meski Leoni tau ia akan kalah tetap saja ia bersemangat mendapatkan skor yang tinggi.
“Tiga.. Dua.. Satu” sorak Geovani dan bola pun tertahan.
Leoni dan Gerrald sama sama tertawa dengan nafas terengah engah. Tiket bonus keluar. Geovani dengan semangat menariknya.
“Udah lama banget ya?” ucap Gerrald.
Leoni tidak mau menatap Gerrald. Ia hanya mengangguk sambil menarik nafas dalam-dalam. Dulu hidup mereka memang terasa mudah, saat mereka masih sepasang muda mudi dengan status ‘berpacaran’. Saat itu mereka hanya memikirkan kesenangan. Apapun itu sudah membuat mereka bahagia yang penting mereka bersama. Tidak bisa makan enak, mereka akan makan makanan apa saja yang ada berdua.
Tapi rumah tangga memang tidak sesederhana kehidupan berpacaran. Ada banyak hal yang harus ia pikirkan.
“Main apa lagi, Pa? Ini buat Geo ya?” Goevani melipati tiket bonus dan menghitungnya. “Ini bisa dapat apa ya?” tanyanya.
“Kita cari lagi, Ge. Kita main apa ya biar banyak tiketnya?” Gerrald melihat-lihat, mencari jenis permainan yang menawarkan tiket banyak.
“Hayuk, Pa!” Geovani mengangguk bersemangat.
“Di sana! Itu kayaknya hasilnya banyak deh!” Leoni menunjuk wahana yang seperti bermain undian.
Gerrald menarik tangan Geovani dan tangan Leoni. Leoni hendak menepis tapi dia berpikir bukan saatnya menjadi terlalu menjaga jarak karena situasinya memang sedang baik.
Leoni ikut tertawa setiap kali ia melihat Geovani tertawa. Dengan tangan yang memegang banyak tiket, Geovani berjalan cepat menuju konter penukaran tiket.
“Geo mau apa, sayang?” tanya Gerrald.
Geovani menoleh ke belakang, menatap Leoni bertanya. Leoni membalasnya dengan menaikkan alisnya dan mengangkat bahunya. Menyerahkan sepenuhnya pada Geovani.
Geovani melihat hadiah-hadiah yang tersedia. “Pa, yang bisa buat dipakai mama yang mana?” tanya Geovani seperti berbisik.
Gerrald menatap Geovani lalu menatap Leoni bergantian. Dia merasa cemburu. Dia cemburu dengan bagaimana Geovani terus memikirkan Leoni dalam mengambil keputusan, juga bagaimana Leoni selalu memikirkan Geovani setiap saat. Mereka seperti satu bagian yang tidak terpisahkan, dan hanya sedikit celah yang tersisa untuknya.
“Eum, mungkin____itu” Gerrald menunjuk boneka beruang coklat yang ukurannya besar.
“Tante, tukar sama yang itu” ucap Geovani.
“Kok boneka? Kamu mau main boneka, Ge?” tanya Leoni.
“Buat mama,” ucap Geovani lalu tersenyum lebar.
“Maaf ya, pointnya tidak cukup. Mau tukar dengan boneka yang lebih kecil?” tanya petugas penukaran hadiah.
Wajah Geovani berubah lesu.
“Tidak bisa ditambah dengan uang?” tanya Gerrald. Tangannya sudah terulur ke belakang hendak mengeluarkan dompet dari sakunya.
“Maaf Pak, hadiahnya tidak bisa dibeli.”
Gerrald dan Geovani sama-sama membuang nafas kecewa.
“Yang itu aja Ge, yang boneka minions. Mama mau yang itu dong.”
“Mama mau yang itu? Itu kecil, Ma” keluh Geovani.
“Tapi lucu. Kamu sih belum nonton filmnya. Kalau boneka beruang mama nggak suka juga, warnanya juga coklat, kesannya jorok. Mama mau yang minion dong. Cukup nggak?”
“kalau yang minion cukup nggak, tante?” tanya Geovani.
“Cukup.”
Geovani tersenyum lagi dan begitu mendapatkan bonekanya ia langsung memberikannya pada Leoni.
Leoni menerimanya lalu mengacak rambut Geovani lembut.
“Makasih ya,” ucap Leoni. Geovani langsung memeluk kaki Leoni erat.
“Selamat ulang tahun, Ma” ucap Geovani.
Leoni melongo. Dia sama sekali tidak mengingat ulang tahunnya. Gerrald juga sama tercengangnya. Bukan karena ia tidak ingat, tapi karena Geo sudah berniat memberi hadiah untuk Leoni. Sekarang, salahkah ia terlalu menurut pada ibunya? Lalu, bagaimana jika nanti Geovani menjadi pria yang sama sepertinya? Hidup dengan campur tangan sang ibu bahkan ketika ia telah memiliki keluarganya sendiri.
“Selamat ulang tahun,” ucap Gerrald pelan. Matanya menatap Leoni intens.
Leoni mengangguk. ia membelalak kaget saat Gerrald juga memeluknya.
“Mas, ini tempat umum” bisik Leoni menggeram kesal meski ia cukup tersentuh dengan perlakuan manis kedua pria yang sedang bersamanya ini.
“Aku alay ya?” canda Gerrald melepas pelukannya.
Leoni tertawa. Dia mengangguk mengiyakan.
“Ayo, tujuan berikutnya giliran papa beliin mama hadiah!” ucap Gerrald bersemangat.
Geovani menatap Gerrald bertanya. “Papa mau beliin mama hadiah juga? Apa pa? Geo dapat hadiah nggak?”
“Semua dapat hadiah. Yuk?”
Gerrald memegang tangan Geovani dan hampir saja memegang tangan Leoni juga. Tapi Leoni lebih cepat memegang tangan Geovani sehingga Geovani kini menggenggam kedua tangan orang tuanya.
“Loh kok?” tanya Leoni heran saat mereka menuju sebuah toko perhiasan.
“Kalung mutiara seperti kalung berlian seperti kalung seorang putri,” ucap Gerrald.
Leoni bersemu merah. Itu bahan candaan mereka. dulu, Gerrald pernah bertanya hadiah apa yang Leoni sangat inginkan. Karena muak ditanya hal yang sama terus menerus, Leoni berkata bahwa ia ingin kalung berlian yang sangat mahal agar ia memiliki kalung yang sama dengan seorang putri bangsawan.
“Itu___itu nggak perlu,” ucapnya.
“Janji adalah janji. Tolong ijinkan aku menepati janjiku yang satu ini.”
Leoni mengalihkan pandangannya. Air di matanya sudah menggenang. Seandainya, seandainya saja kesalahan Gerrald selain dari melanggar sumpah setia mereka, maka mungkin mereka masih menjadi keluarga yang bahagia.
***
Flashback
Leoni merasa ada yang aneh dengan Gerrald. Dia pulang lebih lama dan sikapnya lebih cuek dari biasanya. Menurut teman Leoni yang mendadak dia dekati karena ia butuh teman berbagi cerita, itu adalah ciri-ciri pria berselingkuh. Tidak mungkin itu benar karena Gerrald sangat mencintainya. Iapun selalu berusaha memenuhi semua kebutuhan Gerrald terutama masalah ranjang. Tidak ada satu malampun ia menolak Gerrald karena kebutuhannya sendiri juga sama besarnya.
“Tapi pria selingkuh itu bukan hanya karena masalah seks,” ucapan salah satu temannya itu membuatnya merasa khawatir.
Leoni membayar seseorang untuk membuntuti Gerrald. Benar saja, setelah pulang kerja ia sering singgah di rumah seseorang. Namanya Wina. Teman baik Gerrald. Leoni mengenalnya. Tapi, apa benar mereka masih hanya sekedar teman baik?
Leoni mendapat hasutan. Mati-matian dia menepisnya tapi lama-lama dia terbakar juga. Cara terampuh menepis hasutan itu adalah membuktikannya. Saat itu, dengan hati dipenuhi kegelisahan, ia menitipkan anaknya pada orang yang bisa dipercayainya, lalu ia pergi ke rumah itu.
“Apa maksudnya ini, Ge?” teriak Leoni penuh amarah.
“Leoni, ini tidak seperti yang kamu bayangkan!” bentak Gerrald.
“Oh, terus apa yang terjadi? Kenapa perempuan itu pakai pakaian seksi? Kenapa kamu masih di sini jam segini?” teriak Leoni habis akal.
“Leoni, saya bisa jelaskan. Ini__”
“Diam kamu, b******k!” maki Leoni. Dia memajukan tubuhnya lalu mencakar wajah Wina.
“Leoni!” bentak Gerrald lalu menarik tubuh Leoni kasar.
“Apa? Kamu lebih membela dia? Dasar gila!” maki Leoni. Dia meronta ingin melepaskan diri. Dia marah. Sangat-sangat marah. Dia tertipu.
“Pulang! Malu-maluin kamu!” geram Gerrald lalu menyeret Leoni pulang. Sepanjang jalan Leoni menangis dan Gerrald diam saja. Sesampainya di rumah Gerrald menarik Leoni kasar lalu mereka bertengkar hebat. Gerrald merasa tidak terima Leoni mencurigainya. Dia marah. Bertambah marah saat sadar kalau anak mereka sedang bersama orang lain.
“Dasar tidak becus kamu! ayo jempur Geo!” bentak Gerrald, kembali menyeret Leoni.
“Lepas! Aku bisa jemput sendiri!” teriak Leoni.
“Apa-apaan! Kamu pikir ini jam berapa?”
“Selama ini kamu kemana? Ha? Nggak usah bahas jam kalau biasanya juga kamu jam segini nggak di rumah!”
“Jaga suara kamu! kamu pikir ini jam berapa? Kamu pikir ini di mana? Di hutan?”
“Kamu____” Leoni menunjuk Gerrald kasar. “Kamu b******k, Ge! b******k!” maki Leoni lalu ia memukuli d**a Gerrald. “Lihat aja, perempuan itu pasti akan dapat balasannya!” teriaknya.
“Jangan macam-macam kamu!” geram Gerrald. Dia menarik tangan Leoni lalu menguncinya. “Sekali kamu usik kehidupan Wina, kamu akan menyesal. Kamu Cuma salah paham! Aku nggak selingkuh sama dia, Ni!”
“Omong kosong! Kalian pembohong! Aku benci!”
“Heh, apa-apaan kalian? Memangnya kalian pikir ini jam berapa?” bentak Ewie menghampiri mereka.
“Maaf Ma” ucap Gerrald. Dia menarik Leoni untuk segera menjemput Geovani.
Hari-hari berikutnya lebih buruk. Gerrald melarang Leoni keluar rumah dan menjadikan Ewie sebagai pengawas. Berbagai pemikiran buruk melintas di kepala Leoni. Dia sangat mencintai Gerrald. Dia takut kehilangan Gerrald. Pria bisa sangat mencintai di satu saat lalu mencintai wanita lain di saat lainnya lagi. Bagaimana jika ternyata sekarang Gerrald baru sadar kalau ia mencintai Wina? Apalagi wanita itu sudah berstatus janda?
Leoni banyak menangis banyak melamun. Dia kehilangan gairah hidupnya tapi berusaha kuat karena dia memiliki Geovani.
Lalu, malam itu, Leoni dipanggil untuk berbicara serius. Di sana ada Ewie, Gerrald dan dirinya. Jantungnya berdetak kencang merasa ada berita yang tidak baik yang akan segera didengarnya.
“Begini. Aku minta kamu jangan salah paham dulu. Apa yang aku lakuin ini murni demi kebaikan, bukan karena alasan lain. Aku mohon kamu percaya. Aku__aku Cuma mencintai kamu. dari dulu sampai sekarang dan sampai nanti.”
Bukannya lega dengan ucapan pernyataan cinta itu, Leoni justru semakin cemas.
“Ada apa, Ge?” tanyanya cepat.
“Dengerin dulu suami bicara! Jangan biasakan memotong!” tegur Ewie.
Leoni menundukkan wajahnya tapi ia masih menunggu kelanjutan ucapan Gerrald.
“Aku___demi Tuhan ini hanya untuk membantu Wina...”
“Udahlah, kelamaan. Intinya, Gerrald dan Wina sudah menikah.”
Leoni mematung. Mulutnya membuka tidak percaya. Matanya menatap Gerrald menunggu pria itu meralat tapi wajahnya yang lesu dan sikap diamnya membuat Leoni paham bahwa itu benar.
Leoni menggelengkan kepalanya lalu mulai menangis.
“Aku nggak terima! Apapun alasannya aku nggak terima!” isaknya lalu ia meninggalkan Gerrald dan Ewie.
“Leoni! Aku belum selesai bicara!” teriak Gerrald.
“Bicara sama tembok! Aku nggak mau dimadu, Ge! Ceraikan aku, atau dia!” teriak Leoni lalu ia berlari menaiki tangga.
Gerrald mengejar Leoni. Saat tau Gerrald mengikutinya, Leoni semakin mempercepat langkahnya. Dia segera menutup pintu dan menguncinya. Dia tidak perduli Gerrald terus menggedor pintu dan berteriak agar ia menutup pintu.
“Mama...” ucap Geovani yang saat itu masih batita.
“Maafkan mama, sayang. maafkan mama yang gagal mempertahankan papa kamu” isak Leoni.
Dia menaiki ranjang, memeluk Geovani. Mereka sama-sama menangis. Leoni merasa akan gila. Lalu keesokan harinya ia memaki dirinya sendiri saat Geovani panas tinggi. Ia merasa begitu bodoh karena sibuk dengan perasaan sedihnya sampai ia melupakan kesehatan anaknya. Ia berjanji tidak ada hal lain lagi yang akan dipikirkannya selain putranya. Dia tidak perduli kalau Gerrald menikah lagi. dia tidak perduli kalau Gerrald membawa Wina ke rumah mereka yang katanya agar Leoni percaya mereka tidak berselingkuh.
Malam hari menjadi momok bagi Leoni. Perasaan marahnya masih begitu besar, membuatnya merasa benci setiap Gerrald menyentuhnya. Jangankan menyentuh, mendengar suara Gerrald saja dia merasa ingin marah. Setiap kejadian yang membuatnya kesal disimpannya di dalam hati dan hanya pada Gerrald ia merasa berhak melampiaskannya. Yang terikat janji suci sumpah setia padanya itu Gerrald.
Leoni mematikan lampu dan pura-pura tidur. Sebentar lagi Gerrald pasti masuk ke dalam kamar, batinnya.
Benar saja, pintu terbuka dan suara langkah kaki terdengar semakin jelas. Ranjang bergerak dan Leoni merasakan tangan Gerrald memeluk pinggangnya.
“Aku tau kamu belum tidur,” bisik Gerrald lalu mencium leher Leoni.
Leoni masih berusaha menahan dirinya.
“Sayang, jangan marah terus. Aku Cuma cinta kamu. Aku sayangnya itu sama kamu. meski kamu menolak, buktinya setiap malam aku tetap bersama kamu kan?”
Leoni membuka matanya lalu membalikkan badannya hingga berhadapan dengan Gerrald. “Siapa yang tau apa yang kamu lakukan sebelum kamu masuk ke dalam kamar?” balas Leoni dengan suara pelan karena Geovani tidur di kamar mereka, di ranjang kecil berkelambu.
Gerrald mencium bibir Leoni lalu terkekeh. “Kamu yang tau seliar apa aku bersama kamu. kalau gairahku dibagi dua, harusnya tidak seperti itu kan?” godanya.
Wajah Leoni bersemu merah. Dalam hati dia membenarkan, Gerrald masih sama seperti saat mereka baru menikah.
“Jangan merajuk terus. Aku cinta kamu,” ucap Gerrald sambil menatap mata Leoni.
“Kamu janji kan nggak akan pernah nyentuh Wina?”
“Janji, sayangku. Janji.”
Gerrald merendahkan kepalanya hendak mencium bibir Leoni tapi Leoni memalingkan wajahnya. Gerrald tidak mundur. Dia melanjutkannya. Dia menempelkan bibirnya di leher Leoni. Menghisapnya. Bibir itu terus gergerak turun lalu Leoni kalah, lenguhan mulai keluar dari mulutnya.
Lama-kelamaan Leoni merasa lelah terus merajuk dan marah. Dia mulai terbiasa dengan nasibnya. Dia berkata dalam hati, setidaknya gairah Gerrald hanya untuknya. Apapun cobaan dalam hidupnya ia akan kuat selama Gerrald ada di pihaknya. Tidak perduli kalau Ewie mulai lengket dengan Wina dan malah mengasingkannya.
Tapi, janji tinggallah janji. Leoni menyadari ada yang aneh pada Wina. Dia sering tidak ikut sarapan dan sering mual. Beberapa kali juga Leoni memergokinya memuntahkan sarapannya di wastafel. Saat ia bertanya, Ewie memarahinya dan berkata ia lancang. Tapi Leoni yakin sekali itu ciri-ciri wanita yang sedang hamil muda.
Leoni membeli test pack lalu menarik Wina ke kamarnya. Dia menguncinya agar tidak ada satu orangpun yang mengganggunya.
“Cepat, gunakan ini” ucapnya menyodorkan dua buah test pack kepada Wina.
“Tapi___tapi___”
“Cepat!” bentak Leoni.
Wajah Wina memperkuat dugaan Leoni. Ia tampak ketakutan.
“Cepat, Wina! Aku bilang cepat!” teriak Leoni lagi.
“Aku___Leoni aku nggak hamil.”
“Cepat!” Leoni menyeret Wina ke kamar mandi lalu mendorong Wina hingga duduk di closet.
“Leoni pelan-pelan!” erang Wina memegang perutnya.
“Kenapa? Kenapa harus pelan-pelan? Hah?” teriak Leoni. Dia menarik paksa celana dalam Wina.
“Cepat, keluarkan urine kamu” ucapnya. Air matanya mulai turun karena firasatnya semakin buruk.
“Leoni___”
“Cepaatt!!!!” teriak Leoni.
“Tapi Leoni, aku tidak sedang ingin pipis.”
“Kalau begitu, tunggu. Aku ambilkan air minum” ucap Leoni beranjak.
Pintu terbuka, Gerrald masuk dengan wajah marahnya.
“Keterlaluan kamu!” bentak Gerrald. Dia melangkah cepat menuju kamar mandi. Wina menangis tersedu-sedu keluar dari kamar mandi lalu memeluk Gerrald.
“Dia hamil anak kamu kan!” bentak Leoni muak melihat mereka berdua.
“Hamil apanya? Jangan asal tuduh kamu!”
“Dia mual! Dia muntah! Dia tidak sarapan!”
“Bukan berarti dia hamil! Bisa saja dia maagh!”
Ewie ikut masuk ke dalam kamar lalu melemparkan celana dalam Wina kepada Leoni.
“Lihat, ada darahnya. Kamu mau bilang Wina yang sedang datang bulan itu hamil?”
Leoni melihat bagian tengah celana dalam. Benar, ada bercak darahnya. Meski hanya sedikit tapi itu memang darah.
“Aku___aku___”
“Keterlaluan kamu Ni, kamu sudah kelewatan” ucap Gerrald menarik Wina keluar dari kamar.
“Sudah untung kamu tidak dicerai!” ucap Ewie sinis ikut keluar dari kamar.
“Ya Tuhan, kenapa aku ini?” ucap Leoni lalu ia menangis sekencang-kencangnya. Sepertinya dia memang mulai gila.
Leoni terus berusaha menepis semua pemikiran buruknya di hari-hari berikutnya. Malah ia berusaha bersikap baik di depan Gerrald, berusaha mengambil hati Gerrald lagi. Sifat kekanakannya kemarin hanya menambah masalah. Rumah tangga mereka baik-baik saja. Ia hanya khawatir berlebihan.
Leoni hendak ke dapur lalu ia mendengar samar-samar suara Gerrald. Tidak mungkin harusnya karena Gerrald selalu pulang malam dan sekarang baru tengah hari.
Leoni mempertajam pendengarannya dan akhirnya tau bahwa Gerrald, Ewie dan Wina sedang berbincang di teras samping ynag letaknya di dekat dapur.
“Mama sih senang ya, kalau Wina hamil. Cucu mama nambah.”
Deg! Jantung leoni seakan berhenti berdetak.
Tidak Leoni, tidak boleh gegabah, dengarkan sampai akhir!
“Anehnya kok ada darah ya?” tanya Ewie lagi.
“Kata dokter itu biasa, Ma. Ada beberapa kehamilan yang memang mengeluarkan darah dan ada beberapa yang tidak tapi itu tidak berpengaruh sama sekali.”
“Yang penting kandungannya sehat ya suda,” balas Ewie.
“Bagaimana kalau Wina dipindahkan, Ma?” tanya Gerrald.
“Kenapa dipindahkan?”
“Leoni lama-lama pasti tau,” bisik Gerrald. “Dia pasti marah besar.”
“Loh, biarkan saja! Wina kan istri kamu, ya wajar dia hamil. Kecuali kamu main serong ya kamu berhak takut.”
“Ma, ada benarnya. Mendingan Wina mengungsi ke tempat lain. Wina nggak mau merusak rumah tangga Leoni dan Gerrald.”
“Nggak ada yang rusak, sayang. Kalau Leoni tidak terima ya silahkan. Ini anak sudah terlanjur kamu kandung, masak mau ditolak? Lagipula Ge, kamu jangan terlalu takut istri lah! Makanya istri kamu melunjak!”
“Ma, suaranya. Nanti Leoni dengar.”
“Biarin saja. Sudah mama bilang, berhenti takut sama istri!”
“Ma!” tegur Gerrald.
“Sekarang mama tanya, kalau Leoni meminta kamu menceraikan Wina kamu akan melakukannya?”
“Ya enggak, Ma. Wina sedang mengandung anak Gerrald. Nggak mungkin Gerrald menceraikan Wina...”
Leoni menutup mulutnya menahan suara isakannya. Dunianya hancur. Suaminya berkhianat. Mereka munafik dan mereka semua penjahat.
Leoni berjalan cepat menuju kamarnya lalu memasukkan beberapa pakaiannya dan Geovani beserta barang-barang dan berkas pentingnya ke dalam koper lalu ia menggendong anaknya. Demi apapun juga, dia akan pergi dari rumah ini. Meski dia harus terlunta-lunta dia akan memperjuangkan haknya. Dia berhak mendapatkan suami yang setia dan jika suaminya tidak setia maka dia berhak meminta cerai.
Leoni menutup pintu kuat lalu menuncinya dengan kunci cadangan yang dipegangnya. Dia keluar dari area rumah Gerrad, menaiki angkutan umum yang lewat. Dia tidak tau kemana angkutan itu akan membawanya. Yang terpenting, ia harus pergi dari rumah itu. Rumah yang menjadi saksi penghiatan Gerrald atas pernikahan mereka.