Part 19

2179 Kata
Leoni tidak perduli dengan Wina yang menangis saat ditinggalkannya. Dia harus tegas. Hidupnya baik-baik saja sewaktu tidak ada orang di masa lalunya yang datang. Begitu mereka datang, semua menjadi drama yang membuat Leoni muak. Dia kembali ke ruang rawat inap Gerrald. Saat dia masuk, Geovani sudah terlelap di ranjang bersama Gerrald. Friska menatapnya sambil tersenyum. “Sudah?” tanyanya tanpa suara. Leoni mengangguk lalu menghampiri Friska yang duduk di sofa. “Eum, kamu di sini lama nggak?” tanya Friska berbisik. “Kenapa, Kak?” “Kalau lama, kakak mau minta tolong jagain Gerrald dulu. Kakak mau pulang. Anak-anak kelamaan ditinggal. Biasanya kakak pulang sore. Mumpung ada yang ganti jaga.” “Oh, iya. Leoni tidur di sini kok” ucap Leoni. Mata Friska membesar lalu ia tersenyum. Dia tampaknya memikirkan sesuatu yang mengarah pada indikasi akurnya Leoni dan Gerrald. Leoni membiarkannya saja, malas mengklarifikasi hal yang sama berulang-ulang. “Ya udah, kakak pulang ya” pamit Friska. Dia meraih tasnya lalu mencium pipi kiri dan kanan Leoni. Sepeninggal Friska, Leoni merebahkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan matanya. ***   Heru baru sampai di hotel. Dia melakukan hal gila yang anehnya membuatnya senang, menyusul Leoni. Begitu dia mendengar Leoni pergi, dia segera mengorek informasi dan menyusul. Padahal, saat sampaipun, dia tidak tau harus berbuat apa. Yang jelas, dia tidak bisa membiarkan Leoni berada terlalu jauh dari jangkauannya. Apalagi ini katanya Leoni pergi untuk menjenguk mantan suaminya. Dia tau dia tidak akan bisa menyusul ke rumah sakit. hal itu pasti aneh sekali. Dia bisa menunggu sampai Leoni pulang dan pergi menuju penginapan. Setelah tau Leoni menginap di mana, barulah ia akan menyusun rencana berikutnya. Sekarang ini, Heru membutuhkan istirahat. Dia kurang tidur membuat matanya berlingkaran hitam. Masalah dari masa lalu membelenggunya tapi tidak akan lama. Begitu masalah itu selesai dia akan kembali menjadi pria tanpa cela. Setidaknya, tidak terlalu tercela. Heru mengeluarkan ponselnya. Dia menatap wajah Leoni yang terpampang di layarnya. Gambar itu ia simpan dari sosial media lama wanita itu yang sudah tidak pernah digunakan lagi karena tidak pernah ada pembaruan. Wanita yang disukainya dulu, dan dia rasa, dia cintai sekarang. Dulu dia belum memikirkan tempat berlabuh. Dia masih ingin bersenang-senang sehingga sebesar apapun daya tarik yang dimiliki Leoni selalu berusaha ditepisnya. Sekarang, dia sudah bosan bersenang-senang. Dia ingin menjalani kehidupan yang lebih tenang bersama orang yang tepat. Leoni, aku akan mendapatkanmu, batin Heru. ***   Leoni menggerakkan tangannya mengusir penat. Dia kaget saat melihat hari sudah mulai gelap. “Astaga! Jam berapa ini?” pekiknya lalu ia melihat jam tangannya. “Astaha! Aku pikir...” ucapnya lalu ia menggelengkan kepalanya. “Kamu pikir udah malam?” tanya Gerrald. Leoni mengangguk. Dia menggeser tubuhnya untuk duduk lalu ia menggerakkan kepalanya untuk mengusir penat di leher dan bahunya. “Ge, sudah makan belum?” tanya Leoni. Geovani yang masih berbaring di sebelah Gerrald mengangkat sedikit tubuhnya agar ia bisa melihat Leoni dengan jelas. “Belum, Ma. Papa juga belum.” Leoni mengerutkan kening. Dia berdiri, berjalan mendekati ranjang. Benar saja, dia melihat makanan dari rumah sakit masih tertutup plastiknya. “Kok nggak makan? Udah jam dua,” ucap Leoni duduk di kursi di sebelah ranjang lalu membuka plastik pembungkus makanan itu. “Belum lapar. Belakangan memang nggak begitu selera makan.” “Makanya sakit! udah kayak anak kecil aja makan sendiri nggak bisa dipaksa. Padahal udah punya anak,” ejek Leoni. Geovani terkikik geli. Dia tambah terkikik saat Gerrald memasang wajah sedihnya. Leoni mencicipi ikan gulai yang kuahnya hanya sedikit itu lalu mengangguk. “Lumayan kok.” Gerrald tertawa. Dari dulu, Leoni menyukai makanan rumah sakit. Setiap Gerrald sakit pasti Leoni yang menyantap habis makanannya. Dia menyukai nasi lunak tapi di rumah atau di tempat makan lainnya dia sulit mendapatkannya. Dia juga suka makanan yang bumbunya juga tidak terlalu terasa. Dan tentu saja, dia sangat menggilai semua jenis bubur juga makanan berkuah lainnya. “Kamu mau? Makan aja,” ucap Gerrald. Leoni menggelengkan kepalanya. “Aku beli di bawah aja. Atau pesan ya? Bisa kan mereka antar ke rumah sakit?” tanya Leoni. “Go-Food?” Leoni mengangguk. “Kayaknya sih bisa. Kemana aja bisa. Ke kantor juga mereka kadang mau antar ke ruangan. Dikasih tips aja. Mau aku pesenin?” Leoni menggelengkan kepalanya. Dia mengeluarkan ponselnya lalu mulai menggerakkan jemarinya. “Nah, ini ada. Ge, kamu mau makan apa? Mama mau pesen salad sama soup. Eh, ada wadahnya nggak ya?” “Geo mau steak, Ma! Steak ayam!” sorak Geovani. Leoni mengangguk. “Eum, kamu mau pesan tambahan, Ge?” Leoni jelas-jelas merujuk pada Gerrald karena ia mengubah intonasi suaranya. Dalam situasi seperti ini dia menyesali kenapa awalan nama Gerrald dan Geovani sama membuat mereka kadang dipanggil dengan panggilan yang sama pula. “Aku___nggak usah deh,” ucap Gerrald. “Yakin? Di sini ada udang goreng. Kayaknya nggak apa-apa deh, kan udang nggak ngaruh ke lambung kan?” Senyum Gerrald mengembang karena Leoni masih ingat menu masakan kesukaannya. Udang goreng cincin. Leoni yang bisa membaca arti senyuman dan tatapan itu segera memalingkan wajahnya. “Kalau nggak mau titip juga nggak apa-apa,” ucapnya cepat. “Pesan aja. Apapun yang kamu pesan, aku makan.” Leoni mengangguk. Enggan memperpanjang percakapan lagi. “Nanti Geo minta udangnya ya , Pa? Boleh nggak?” tanya Geo. “Boleh, sayang. mau kamu habisin juga nggak apa-apa. Buat kamu apa sih yang nggak papa kasih?” Geovani tertawa besar kepala. “Nggak semuanya. Dikit aja. Tiga aja, kan Geo ada steak sendiri.” “Iya boleh. Terus kamu maunya apalagi?” “Apalagi? Udah. Steak ayam aja. Pa, Papa sembuhnya kapan?” “Kenapa?” “Geo mau main sama Papa, kayak kemarin waktu papa datang ke tempat kami. Geo libur seminggu, Pa. Sempat nggak ya jalan-jalan?” Gerrald menarik Geovani lebih mendekat ke tubuhnya dengan tangannya yang melingkar dan dijadikan bantal oleh kepala Geovani. Dia mencium puncak kepala anaknya. Padahal dulu dia tidak terlalu sering menghabiskan waktu bersama Gerrald tapi baru sekarang ia sadar arti pentingnya kebersamaan. Saat ia tidak bisa bersama karena terhalang oleh banyak hal, bukan hanya kesibukan pekerjaan saja. “Besok. Besok kita main ke taman bermain, ya?” ucap Gerrald. “Mas, kamu jangan janjikan sesuatu yang tidak mungkin. Kamu lagi sakit,” ucap Leoni sambil menatap Gerrald dengan tatapan menegur. “Iya. Kalau nggak bisa nggak apa-apa, Pa. Yang penting Papa sembuh.” “Papa udah mulai sembuh kok. Kan papa udah dijenguk sama jagoan papa. Nih, muka papa udah segar kan?” Gerrald membesarkan matanya melebarkan senyumnya membuat Geovani tertawa. “Papa jelek kalau begitu,” ejeknya. “Eh! Berani bilang papa jelek?” Gerrald menggelitik perut Geovani sampai Geovani meminta ampun. Semua terdiam saat mendengar suara dekhaman dan menoleh ke arah itu. Dari arah depan pintu, ada wanita tua yang merupakan Ewie duduk di kursi roda. Kursinya didorong oleh wanita yang tidak Leoni dan Gerrald kenal. “Benar ini ruangannya kan Bu?” tanya wanita itu. Ewie mengangguk. “Terima kasih banyak ya,” ucapnya. Wanita muda itu mengangguk lalu menatap Gerrald dan Leoni bergantian sambil menganggukkan kepalanya, menyapa, “saya mengantarkan ibu ini karena tadi dia meminta tolong suster sedang suster jaga sedang menangani keluarga saya. Kamar kami bersebelahan,” jelas wanita itu. “Oh,” jawab Gerrald dan Leoni serempak. Leoni beranjak mendekati Ewie, mengulurkan tangan untuk menyalami wanita itu yang dengan kikuk menyambut uluran tangan Leoni. “Kalau begitu saya pamit dulu,” ucap wanita itu. “Kok nggak bilang ada cucu oma di sini?” tanya Ewie. Pandangannya terkunci pada Geovani yang kini sudah dalam posisi duduk. Leoni mendorongnya mendekat ke ranjang. “Oma apa kabar?” sapa Geovani dan menyalami Ewie. Gerrald menenggak ludahnya. Dia berdoa semoga kali ini Ewie, alias sang mama, tidak membuat masalah baru dengan Leoni. Jujur saja, di saat seperti ini Gerrald merasa wajar saja terkadang anak lelaki lebih memihak pada pasangannya. Karena ternyata campur tangan seorang ibu yang terlalu besar bisa membuat perpecahan padahal awalnya rumah tangga itu dibangun dengan penuh cinta. Harusnya dia sadar kebodohannya ini sedari dulu, sebelum semuanya sudah terlanjur hancur berantakan. “Leoni baru sampai, Ma. Maaf nggak bawa apa-apa. Buru-buru soalnya,” ucap Leoni sopan. “Mama udah makan?” “Mama udah makan. Tapi itu__” Ewie menunjuk ke nampan makan siang Gerrald yang masih berisi penuh. “kenapa belum habis? Gerrald, kamu belum makan?” tanyanya rewel seperti biasa. “Belum, Ma. Nunggu makan siang pesanan Leoni datang. Biar makan sama-sama.” Leoni mengambil nampan itu dan menempatkannya di atas pangkuan Geovani. “Kalau kamu mau makan duluan nggak apa-apa. Makan aja dulu. Geo, bantu papa ya?” ucap Leoni. “Duh Leoni, anak kecil kok disuruh bantu orang sakit makan? Yang ada malah semakin belepotan. Kamu dong, bantu Gerraldnya.” “Ma!” tegur Gerrald. Leoni menarik nafas panjang. Dia melihat ke arah Geovani yang terdiam dan tampak takut dengan pertengkaran ayah dan neneknya itu. "Gerrald bisa makan sendiri. Mama udah dong jangan nambah-nambah masalah,” gerutu Gerrald berusaha duduk lalu mengerang sambil memegang perutnya. “Tuh kan!” geram Ewie. “Biar aku bantu, Mas” ucap Leoni. Dia duduk di tepi ranjang sambil menggerakkan dagunya menyuruh Geovani menggeser posisinya ke sisi tengah ranjang. Leoni mengambil nampan tadi dan mulai membuka plastiknya. “Nggak apa-apa, Ni, aku sendiri aja. Mama jangan didengerin” ucap Gerrald masih berusaha duduk meski dengan erangan pelan. “Menyuapi bukan berarti sesuatu kan? Hanya menyuapi tidak akan menimbulkan masalah baru. Lagipula, anggaplah ini bentuk bantuan antar-orang yang memiliki hubungan baik,” ucap Leoni lalu membawa sendok yang sudah berisi nasi dan lauk ke mulut Gerrald. Mau tak mau Gerrald menerimanya. Dia bersyukur Leoni masih mau menyuapinya, hanya saja ia menyayangkan sikap mamanya yang masih saja pemaksa dan tidak bisa membaca situasi. Leoni mau menjenguknya saja sudah syukur sekali. “sini sayang, dekat oma. Oma rindu sama Geo” ucap Ewie merentangkan tangannya memanggil Geovani. Geovani melihat ke arah Leoni dan saat Leoni menganggukkan kepalanya, Geovani mendekati omanya. Masuk ke dalam pelukan sang nenek yang jarang sekali baik dalam ingatannya. Ingatan masa kecilnya menyimpan adegan-adegan saat Ewie membentak Leoni, saat akhirnya orang tuanya bertengkar, juga saat Ewie menyalahkan Geovani saat ia berkelahi dengan Bima. “Kok diam? Geo nggak kangen oma?” “Kangen, Oma” cicit Geovani pelan. “Geo, coba ambil dompet mama, sayang. cek, uangnya cukup nggak bayar pesanan kita” ucap Leoni. Geovani melepaskan diri dari pelukan Ewie lalu mengambil dompet Leoni dari tas. Dia membawanya dan menunjukkan isinya pada Leoni. “Kayaknya cukup ya? Simpan lagi, sayang. kamu mandi dulu ya, habis mandi terus pesanan datang, baru kamu makan deh.” Geovani mengangguk. ia mengambil pakaian ganti, peralatan mandi, lalu handuknya, dan beranjak ke kamar mandi. “Kamu mau misahin mama sama cucu mama?” tanya Ewie. “Mama masih rindu loh! Bagaimanapun juga mama ini tetap omanya, nenek kandungnya.” “Bukan, Ma. Geo memang selalu mandi sebelum makan siang. Itu kebiasaan. Leoni sengaja buat begitu karena biasanya dia main kotor di sekolah. Biar dia bersih. Biar nggak sakit perut.” “Lah, sekarang kan dia nggak kotor! Sekarang kan dia nggak habis pulang sekolah! Cuci tangan aja harusnya kan sudah cukup!” “Ma!” tegur Gerrald lagi. “Dia memang sudah terbiasa seperti itu. Namanya kebiasaan ya sudah jadi rutinitas. Waktu Gerrald bawa dia main-main aja dia selalu minta mandi siang kok,” bela Gerrald. “Kamu bawa dia? Kemana? Kapan?” Gerrald terdiam. Dia lupa dia merahasiakan kunjungannya ke tempat Leoni. “Kamu diam-diam ketemuan sama Leoni ya?” tebak Ewie. “Bukan ketemuan, Ma, tapi___” “Intinya ketemu?” “Gerrald yang datang. Gerrald yang ke sana, Ma.” “Nah! Kamu nggak jujur sama mama! Kapan itu kejadiannya? Astaga! Kalau kalian masih saling berhubungan kenapa kalian tidak rujuk saja?” Leoni merasa tidak enak dengan ucapan Ewie itu. Dia menghentikan suapannya sejenak. Gerrald mengintip tangan Leoni, tangan itu sudah gemetar. Dia menyentuh dan menggenggam tangan Leoni. Menahannya saat Leoni berusaha melepaskan genggaman itu. “Maafkan mamaku,” ucapnya sangat pelan sekali. Ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. pesanan makanan datang. Leoni dan Geovani memakan santapannya tanpa banyak memperdulikan yang terjadi lagi. Leoni merasa lemah sekali karena meski setelah sekian lama dia masih tidak terbiasa dengan berbagai ucapan Ewie. ***   Ewie benar-benar mencari muka di depan Leoni. Dia tau Leoni terganggu atas ucapannya tapi itu benar, bukankah lebih baik Leoni dan Gerrald rujuk? Memangnya apa bagusnya menjanda selamanya? Memangnya apa bagusnya pria yang katanya menjalin hubungan dengannya itu? Memangnya apa bagusnya anak yang memiliki ayah tiri? Lebih baik Gerrald dibanding siapapun karena ia adalah ayah kandung Geovani. Geovani pasti lebih bahagia dibesarkan oleh orang tua kandungnya yang lengkap. Apa lagi masalahnya? Bukankah Gerrald sudah bertobat? Justru Leoni harusnya bersyukur karena kesalahan Gerrald hanya menghamili Wina. Dia tidak pernah main tangan, tidak pernah membawa Leoni pada kesengsaraan finansial, juga tidak pernah melarikan diri dari tanggung jawabnya sebagai suami dan seorang ayah. Leoni kurang banyak makan asam garam kehidupan. Dia tidak pernah melihat kehidupan rumah tangga yang lebih runyam sepertinya. Bukankah bagus, Gerrald sekarang sudah bertaubat. Jika mereka bersatu, selamanya mereka akan bahagia karena Gerrald tidak akan menyakiti Leoni lagi. Dia telah berubah. Bahkan dia telah berani melawan Ewie. Tapi tidak apa, Ewie tau anaknya hanya sedang berusaha memperjuangkan kebahagiaannya. “Ini mama beli dari kantin bawah. Jadi kalian nggak perlu makan siang di bawah” ucap Ewie saat mengunjungi kamar Gerrald. Leoni melirik jamnya. Masih jam sepuluh dan Ewie sudah membawa makanan untuk makan siang. Perhatian sekali. “Terima kasih, Ma” ucap Leoni. Dia mengambil bungkusan dari atas pangkuan Ewie. Friska yang membantu mendorong kursi roda Ewie pun melempar senyum pada Leoni. “Kakak makan siang di sini?” tanya Leoni pada Friska. Sengaja agar ia tidak harus berbincang banyak dengan Ewie. “Kayaknya enggak deh, Ni. Mumpung ada kamu kakak mau pulang cepat. Kasihan anak-anak. Soalnya nanti kalau kamu udah pulang dan mereka ini betah dirawat di rumah sakit, ya terpaksa kan kakak di rumah sakit lagi.” Leoni mengangguk mengerti. “Oh ya, di mobil ada selimut. Kakak lupa nuruninnya. Nanti kamu bisa nggak ke bawah, ambil selimutnya?” “Selimut?” “Iya, Gerrald minta bawain selimut buat kamu. katanya selimut yang kamu pakai tipis. Takut kamu masuk angin, katanya” Friska mengedipkan matanya menggoda Leoni. Leoni tersenyum tipis. “Tuh kan, sudah mama bilang. Gerrald itu perhatian sekali pada kamu. Sudah, rujuk saja” ucapnya. “Rujuk itu apa, Ma?” tanya Geovani. “Rujuk itu, mama kamu sama kamu tinggal satu rumah lagi sama papa. Kayak dulu,” jelas Ewie. “Ma!” tegur Gerrald. Dia menarik Geovani untuk berbaring di sebelahnya dan mengecup keningnya. “Sudah. Oma jangan didengerin.” Geovani mengangguk patuh. “Lihat Geovani, dia sangat lengket dengan Gerrald. Pasti sebenarnya setiap malam dia merindukan papanya tapi dia takut sama kamu makanya dia diam saja.” “Ma!” kali ini Friska dan Gerrald menegur bersamaan.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN