“Hai,” sapa Gerrald akhirnya.
“Hai.”
“Aku pikir kamu nggak akan datang.”
“Buktinya aku datang. Geovani mau ketemu kamu, mana mungkin aku nggak datang.”
Gerrald merasa kecewa. Karena Geovani, bukan karena Leoni benar-benar mengkhawatirkannya.
“Mama mana?” tanya Leoni.
“Dia dirawat juga.”
“Ha?”
Gerrald tersenyum miris. “Aku sakit karena terlalu memikirkan kalian, dan dia sakit karena terlalu memikirkan aku. Rumit, tapi begitulah adanya.”
Leoni tertawa lalu menggelengkan kepalanya. “Bukan rumit tapi kalian yang membuat semuanya rumit. Membuat sesuatu yang tidak harusnya menjadi masalah, menjadi masalah. Memangnya kami kenapa sampai harus menyita pikiran kamu begitu besar, sampai akhirnya kamu harus sakit? Kami baik-baik saja. Ya kan Ge?”
Geovani mengangguk. “Geo nggak pernah buat masalah kok, nggak pernah kelahi sama teman, selalu nurut sama mama, nggak pernah minta yang aneh-aneh juga. Papa mikirin apa?” tanyanya.
Gerrald tidak menjawabnya. Geovani tidak akan mengerti. Kekhawatiran itu tidak harus karena ada masalah. Kekhawatiran itu, bisa jadi karena masalah yang tidak ada, tapi menjadi masalah karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang seseorang inginkan. Gerrald menginginkan Leoni dan Geovani kembali ke pelukannya tapi ternyata sangat sulit sekali. Mungkin mereka tidak akan mengerti karena rasa rindu yang dirasakannya tidak sama besar dengan yang mereka rasakan. Mereka nyaman dengan kehidupan mereka di sana, sedang ia tersiksa dalam setiap detik yang dihabiskannya.
“Kerja jangan terlalu keras. Jangan terlalu terbebani dengan nafkah kamu ke Geo. Penghasilan tokoku sekarang sudah cukup.”
“Tolong jangan bilang begitu, kalau aku tidak menafkahi Geo lagi, maka aku sama sekali tidak memiliki arti apapun lagi. Lama-lama dia lupa kalau aku papanya.”
“Nggak kok Pa. Geo nggak lupa. Masak lupa.”
Leoni tertawa lalu mengelus rambut anaknya itu. “Geo sangat mencintai kamu. Dan itu bukan diukur dari uang yang kamu berikan ke dia. Ya nggak Ge?”
Geovani mengangguk. Menatap Gerrald untuk memperlihatkan kesungguhannya.
Gerrald tersenyum. Ia menarik nafas dalam. Seandainya mereka bisa bertiga selamanya, atau mungkin berempat, berlima, ditambah dengan anak-anak Gerrald dan Leoni yang baru.
Seorang suster masuk untuk melakukan pemeriksaan rutin. “Eh, siapa ini?” canda sang suster memeriksa infus sambil melihat ke arah Geovani.
“Anak saya, Sus. Ganteng kan?”
Suster itu tertawa. “Gantenglah, orang mama papanya juga ganteng sama cantik.”
Leoni memalingkan wajahnya saat semua pandangan tertuju padanya. Dia merasa gamang jika dikaitkan dalam satu kalimat dengan Gerrald seperti itu.
Saat dia memalingkan wajah itu ia melihat ada pesan dari Gilang. Dia mengambil ponselnya dan membuka pesan itu.
Sudah sampai?
Leoni menegur dirinya sendiri. Dia lupa mengirim kabar pada Gilang.
Sudah. Ini sudah di rumah sakit. Di sana bagaimana? Aman? Kemarin kamu ada cek toko? Nanti malam jangan lupa bantu cek kunci toko ya?
Leoni ingin tertawa begitu ia selesai mengirimkan balasan ternyata Gilang sudah langsung mengetik balasannya.
Oke deh. Ditunggu baliknya ya, aku jemput. Jangan naik travel. Oke?
Leoni ingin menolak, dia sudah mengetik kata-kata penolakan itu, tapi dia menghapusnya. Mungkin dia bisa mentraktir Gilang makan siang sebagai ucapan terima kasih.
Oke
“Kamu lagi chat sama siapa?” tanya Gerrald.
Leoni mengunci ponselnya lalu meletakkannya lagi di nakas. “Temen,” ucapnya.
“Teman?” Gerrald merasa aneh. Leoni bukan tipe orang yang suka akrab dengan orang lain. Dia terbiasa sendiri. Saat mereka berpacaran pun, Leoni sering malas membalas pesannya. Gerrald harus mengeluh dulu baru Leoni mau sedikit rajin membalasnya.
“Iya teman, dia bantu aku awasin toko.”
“Oh. Perempuan atau laki-laki?”
Leoni tidak menjawab. Itu pertanyaan tidak penting dan tidak perlu dijawab. Apapun jenis kelaminnya dan apapun jenis hubungan mereka, Gerrald tidak berhak bertanya.
“Om Gilang, Pa” jawab Geovani.
“Gilang?” Gerrald menatap Leoni dengan tajam.
Leoni menarik nafas panjang. Pandangan Gerrald menyiratkan rasa sakit hati sekaligus menuduh.
“Iya, Gilang. Memangnya kenapa?” tanyanya. Dia saja dulu tidak berhak melarang Gerrald bertman dengan Wina, bahkan menikahinya padahal saat itu mereka masih terikat pernikahan, kenapa saat mereka sudah bercerai malah justru seakan Leoni tidak berhak memiliki teman yang berjenis kelamin pria?
“Kok Gilang? Memangnya nggak ada orang lain?”
“Nggak ada alasan khusus sih. Kebetulan waktu dimintai tolong dia bersedia, ya udah, aku nggak nanya orang lain lagi. lagi pula di sana tuh, keluarganya cukup dipandang. Kalau dia yang ngawasin semoga aja orang di sekitar sana nggak berniat jahat.”
Gerrald terdiam. Dia semakin merasa terancam. Dari awal dia melihat Gilang, dia bisa melihat ketertarikan yang begitu besar di mata Gilang pada Leoni. Ini berbahaya baginya. Gilang bisa menghalangi langkahnya mendapatkan Leoni lagi.
Pintu terbuka, akhirnya Friska dan Wina kembali ke dalam ruangan. Friska sebenarnya sudah malas menahan Wina yang sedari tadi berkata ia ingin pulang. Dia menahan Wina karena pesan Leoni bahwa saat ia datang Wina harus ada. Dia belum tau tujuannya apa tapi yakin kalau tujuan itu belum tercapai.
“Tante bawa roti nih, rasa keju. Mau?” tawar Friska.
“Boleh Ma?” tanya Geovani.
“Boleh. Sedikit aja ya?”
Friska memberikan sebungkus roti pada Geovani dengan mata mengawasi Leoni, dalam hati dia sibuk menerka apa sebenarnya yang direncanakan Leoni.
“Aku___pulang duluan ya?” pamit Wina.
“Eh, eum, gimana Ni?” tanya Friska.
“Sekalian, aku juga mau ke kantin. Bisa tunjukin jalannya Win?”
Wina sempat terdiam sejenak lalu mengangguk. Dia paham Leoni memiliki maksud lain. Tidak mungkin wanita seperti Leoni membutuhkan bantuan untuk mencari kantin di rumah sakit sebesar ini. Bahkan kantinnya pasti telah terlihat saat dia memasuki rumah sakit ini tadi, karena letaknya di bagian depan.
Leoni menyandang tasnya lalu berjalan lebih dulu. Saat ia membuka pintu, dia mengulurkan tangannya memberi interuksi pada Wina agar berjalan di depannya. Dan sebelum ia menutup pintu, ia melambaikan tangannya pada Geovani.
“Pinter banget anak kamu, nggak ngekor kemana-mana sama mamanya. Anteng aja dari tadi,” puji Friska.
“Memang. Geo memang pintar. Anak kesayangan papa, ya kan?” tanya Gerrald pada Geovani.
Geovani mengangguk lalu mulai berceloteh, bercerita pada papanya tentang apa saja yang diingatnya.
“Sudah. Aku__langsung pulang ya?” ucap Wina saat mereka sudah sampai di depan sebuah gerai makanan.
“Loh, buru-buru?”
“Gina__dia pasti sudah rewel.”
“Aku traktir kopi. Satu cangkir aja, rasanya nggak akan lama.”
“Terima kasih, tapi___”
“Satu cangkir.” Leoni tidak menunggu bantahan lainnya lagi. Dia langsung masuk ke dalam gerai makanan itu dan mencari tempat duduk. Setelah duduk, dia meninggalkan tasnya di meja yang membuat Wina mau tidak mau duduk untuk menjaga tas Leoni.
Leoni memesan dua cangkir kopi untuk mereka. Saat Leoni memindahkan cangkir itu dari nampan ke atas meja, jantung Wina terus berdetak semakin kencang. Dia merasa akan mendapat penghakiman.
“Akhirnya kamu datang juga,” ucap Wina basa basi.
“Berkat kamu. Terima kasih banyak. Kamu banyak membantu menegur saya.” Tatapan tajam Leoni tidak sejalan dengan ucapannya.
Wina tertawa dipaksakan. “Kamu__kamu sudah menjadi ibu yang hebat. Kamu membuat aku iri. Aku bukan apa-apa.”
“Tidak-tidak!” bantah Leoni cepat. “Kamu wanita yang sangat mulia, yang selalu bisa melakukan apapun demi kebaikan orang lain. Jiwa kamu sangat mulia.”
Wina meraih kopinya dan meneguknya. Berusaha menghilangkan kegugupannya.
“Kalau tidak karena kamu mungkin hatiku masih berkeras tidak mau mengunjungi Gerrald. Toh, aku beranggapan, kami tidak ada hubungan apapun lagi. Tidak ada kewajiban dari aku untuk melakukan sesuatu demi kebaikan Gerrald, ataupun anggota keluarganya lainnya. Geovani, hanya dia yang memiliki ikatan karena selamanya memang Geovani tetap anak Gerrald. Tapi, dalam situasi normal, seorang anak yang bersekolah tidak bisa sering-sering bolos demi mengunjungi ayahnya yang sakit. Tapi, sekali lagi. aku memang terlalu keras. Melihat kondisi Gerrald, bagaimana kalau jika kami tidak datang sekarang maka selamanya Geovani tidak akan bisa berjumpa dengan Gerrald lagi.”
“Tapi, dia hanya kelelahan dan asam lambung. Mana mungkin meninggal.”
“Loh, masak? Bukannya karena sudah sangat darurat sampai-sampai kamu mendatangi saya? Menunggu sampai saya bersedia datang baru kamu pulang? Sampai-sampai, kamu melibatkan Geovani untuk mendesak saya?”
Wina menundukkan pandangannya. Dia sudah menduga kalau Leoni akan segera tau. Anak kecil seperti Geovani tidak akan bisa berbohong.
“Aku berusaha memperbaiki apa yang telah rusak, karena aku” ucap Wina dengan suara bergetar.
“Kamu bukan malaikat, kamu bukan wanita super, kamu hanya wanita biasa sama seperti aku. Saat sesuatu terjadi jangan jadikan kamu sebagai alasan. Stop menjadi sosok yang menyebalkan dengan berusaha memaksakan kehendak kamu pada orang lain dengan alasan yang kamu buat terdengar mulia. Saat Gerrald menampung kamu, alasannya pun mulia. Apa itu kebiasaan kalian? Berbuat sesuatu dengan alasan yang baik agar kalian berhak melakukan apapun yang kalian mau? Dengar ya, Wina, kamu seorang wanita, dan seorang janda! Kamu tau bagaimana rasanya menjadi orang tua tunggal kan? Mendidik anak itu tidak gampang, kecuali kamu tidak perduli dengan anak kamu! jangan rusak konsep mendidik anak yang aku bangun dengan meracuni pikiran anakku Geovani! Selama ini dia tau hubungan kami baik-baik saja. Meski kami berpisah kami tetap berhubungan baik! Karena kamu, dia mulai merasa kalau aku membenci Gerrald! Meski itu benar, Geovani tidak perlu tau karena apa yang aku rasakan pada orang lain tidak perlu dirasakan anakku juga!”
Wina mulai menangis. Matanya mengawasi sekitar, merasa malu jika ada yang mendengar. Untungnya suasana begitu sunyi dan semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing.
“Tapi Gerrald mencintai kamu...” ucapnya lirih.
“Dan aku tidak perduli. Kamu tau, meski dia sangat sangat sangat mencintai aku tapi aku sudah tidak menginginkan dia. Kamu bukan Tuhan yang berhak menentukan dengan siapa seseorang harus melabuhkan cintanya. Jadi, kalau ada sepuluh pria yang mencintai aku, apa kamu mau memastikan semua kubalas cintanya? Hidup ini bukan hanya tentang perasaan kamu dan Gerrald, hargai aku juga! Saat aku tidak menginginkan Gerrald, berhenti memaksa aku untuk kembali pada dia! Kalau kamu kasihan, kamu saja yang rujuk kenapa harus aku? Toh untuk menjalankan kehidupan suami istri itu tidak harus ada cinta. Kalian yang paling tau itu.”
“Ni, aku mohon. Aku___aku sangat menyesal. Kalau aku tidak__”
Leoni memukul meja kuat sampai semua orang melihat mereka. Dia mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Wina.
“Dengar ya, simpan air mata kamu untuk orang yang bisa kamu perdaya. Mungkin Gerrald dan mamanya bisa, tapi aku tidak! Sekali lagi, dengan alasan apapun, kamu mengganggu kehidupan kami lagi, aku pastikan hidup kamu akan hancur. Camkan itu, Win. Jangan semena-mena karena selama ini aku diam! Kamu paling tau setega apa aku, kan? Jangan sampai kamu menyesal pernah berurusan sama aku, Win. Kamu yang tau sendiri saat aku marah aku nggak perduli apapun ‘kan?”
Wina mengangguk.
“Jangan sampai aku membongkar pada mertua kesayangan kamu itu kalau saat menikah dengan Gerrald pun, kamu masih bertemu dengan mantan suami kamu” ancam Leoni.
Mata Wina membesar. Dia menatap Leoni dengan wajah menegang kaget.
“Tapi... kami bertemu bukan untuk berselingkuh. Aku hanya memastikan dia tidak mengganggu Gerrald.”
“Aku-tidak-perduli! Yang jelas aku tau dan menurutku itu bisa mengubah pandangan mama Gerrald ke kamu. Siapa yang tau bagaimana hubungan kalian sekarang? bukannya menuduh tapi mengingat kamu sampai harus dinikahi Gerrald untuk mendapat perlindungan, bukannya itu artinya kalau tidak ada Gerrald kamu tidak mampu menghindari dia? Bisa saja kan, dia memaksa kamu untuk kembali berhubungan dan kamu tidak kuasa melawan?”
“Leoni! Saya tidak seperti itu!” bentak Wina tanpa sadar.
“Siapa yang tau? Ingat, saya tidak pernah memfitnah orang tapi kalau memang saya harus melakukannya tidak masalah. Selalu ada kesempatan pertama untuk semua hal. Terima kasih waktunya dan camkan ucapan saya baik-baik. Kamu mau Gerrald, silahkan. Kamu mau masuk kembali ke keluarganya, silahkan. Kamu mau menguras hartanya, silahkan. Apapun yang kamu rencanakan, silahkan. Tapi ingat, jangan libatkan saya dan Geovani! Atau saya akan melibatkan semua anggota keluarga kamu untuk membalas perbuatan kamu.”
Leoni meminum kopinya sampai habis lalu menyandang lagi tasnya. Dia pergi meninggalkan Wina tanpa berkata apapun lagi. Biar saja wanita itu berkata dia kejam tapi tidak ada satupun orang yang bisa merusak pikiran anaknya. Susah payah dia mendidik anaknya agar menjadi anak yang baik tanpa kekurangan apapun dan Wina merusaknya. Dia memang salah karena mengurangi intensitas komunikasi Gerrald dan Geovani tapi itu dia lakukan agar Geovani tidak terguncang jiwanya jika suatu saat nanti Gerrald benar-benar mengurangi perhatiannya. Wanita bisa sendiri sampai seumur hidupnya sedang pria memiliki kebutuhan besar berkaitan dengan kepuasan yang membuat mereka tidak bisa sendiri dalam waktu lama.