Geovani masih tidak mau berbicara banyak. Yang ia katakan hanya ia merindukan Gerrald tapi jika Leoni tidak mau membawanya ke tempat Gerrald tidak apa-apa. Tidak mungkin ia menggantikan permintaan Geovani, menjadi berbicara dengan Gerrald di telepon. Gerrald sedang sakit. Yang ada Geovani malah semakin merasa sedih.
Malam harinya saat Leoni terbangun, ia mendengar bunyi seperti isakan tertahan. Ia mengerutkan keningnya. Ia menatap ke sebelahnya tempat Geovani berbaring miring memunggunginya. Punggung Geovani bergetar. Ia benar-benar sedang menangis.
Astaga, betapa jahatnya aku, batin Leoni.
Leoni tidak ingin merusak momen sendu anaknya karena ia sendiri sedang tidak bisa membujuk. Ia memiringkan tubuhnya membelakangi Geovani, lalu air bening dari matanya pun menetes. Ikatan batin seorang ayah dan anaknya sepertinya tidak akan pernah putus, pikirnya.
Wajah Geovani sangat kusut pagi harinya. Ia terlihat tidak bersemangat. Leonipun hanya diam saja. Dia membiarkan Geovani tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa.
Lalu, setelah Geovani pergi ke sekolah dan ia sudah selesai memeriksa pembukuan toko, ia menelepon seseorang. Gilang. Hanya dia yang bisa dia percaya untuk sementara ini.
“Bisa tolong bantu aku?” tanyanya begitu Gilang mengangkat ponselnya.
***
“Geovani, ada mamanya menjemput, sekarang di ruang guru” ucap guru piket yang menghampiri kelas Geovani dan berdiri di depan pintu. Semua orang menoleh padanya. Wali kelasnya bertanya tanpa suara pada sang guru piket dan dijawab dengan gerakan bahu yang berarti guru piket itu pun tidak tau.
Geovani menyusun bukunya ke dalam tas, berjalan menghampiri wali kelasnya dan mencium tangannya untuk berpamitan. Dia berjalan dengan pandangan menunduk. Saat ia sudah memasuki ruang guru, ia mengangkat pandangannya, menatap Leoni dengan wajah yang ia paksa agar terlihat baik-baik saja.
Leoni tersenyum lebar. Mengangkat tangannya memanggil Geovani agar menghampirinya.
“Jangan lupa oleh-oleh ya,” ucap Wakil kepala sekolah yang duduk di depan Leoni. Dia yang memberikan izin untuk Geovani tidak masuk sekolah selama seminggu, tentu saja setelah mendapatkan bujukan dari Leoni.
“Oleh-oleh?” tanya Geovani bingung. Dia mengangkat pandangannya, bertanya pada Leoni.
Leoni mengangguk dengan senyuman yang semakin lebar. “Tebak, kita mau kemana?” tanyanya sambil menaik turunkan alisnya.
“Kemana?”
“Ke tempat papa,” ucap Leoni. Perasaan Haru langsung melingkupinya saat melihat reaksi diam Geovani. Bukan karena respon Geovani, tapi karena akhirnya ia merasa sudah mengambil tindakan yang tepat.
Geovani menatap Leoni lalu ibu wakil kepala sekolahnya lalu kembali lagi menatap Leoni. Kali ini wajahnya langsung berubah ceria. “Beneran Ma?” tanyanya antusias.
Leoni mengangguk. Geovani bersorak lalu memeluk Leoni erat.
“Makasih, Ma. Geo sayang Mama” ucapnya dengan suara paraunya.
Geovani dan Leoni berpamitan pada guru piket yang tadi menjemput Geovani ke kelas juga pada wakil kepala sekolah. Mereka melangkah menuju ke luar pagar dimana di sana, sudah terparkir mobil hitam yang dikendarai Gilang.
“Oom ikut juga?” tanya Geovani saat ia sudah masuk ke mobil dan duduk di kursi paling depan.
Gilang menggelengkan kepalanya dan memasang wajah sedihnya. “Nggak dibolehin sama mama padahal Om pengen loh,” ucapnya.
Leoni tertawa. “Bohong tuh Om Gilang, jangan dipercaya. Dia mau nyalah-nyalahin mama aja. Om Gilang kan sibuk, banyak kerjaan.”
“Padahal kalau Om Gilang ikut, seru kan Ma. Nanti bisa main ke taman bermain. Eh, ke sana mau jenguk papa ya?” Geovani menggaruk kepalanya.
“Menjenguk?” tanya Gilang dan Leoni bersamaan.
Geovani menggigit bibirnya lalu menoleh ke belakang dengan wajah yang terlihat takut. Leoni ingin bertanya lebih banyak tapi sepertinya tidak sekarang. Dia tidak ingin merusak suasana.
Gilang mengantar mereka ke Hotel dekat bandara. Sebenarnya Leoni hanya meminta tolong Gilang untuk membantunya mengawasi tokonya, untuk mengecek apakah toko sudah dikunci pada malam harinya, juga memastikan pekerjanya tidak mengalami kendala selama ia tidak ada. Tapi Gilang menawarkan diri atau lebih tepatnya memaksa untuk mengantarnya sampai ke hotel.
“Terima kasih banyak ya,” ucap Leoni saat mereka sudah sampai.
Gilang mengangguk. “Hati-hati di sana. Kalau ada apa-apa jangan sungkan, hubungin aja. Insya Allah selama setahun ke depan nomor HP-ku nggak akan ganti kok,” candanya.
Leoni tertawa lalu mengangguk. “Sorry ya ngerepotin, pasti kamu sampai sana malam deh.”
“Nah, mulai deh cerewetnya keluar. Untung cantik. Jangan sering-sering rewelnya, nanti malah bikin cowok-cowok naksir.”
Leoni menggelengkan kepalanya, merasa ucapan Gilang tidak pernah ada seriusnya. “Ya udah, aku masuk ya” ucap Leoni menunjuk ke dalam hotel.
Gilang mengangguk. Dia tetap berdiri menunggu Leoni dan Geovani masuk ke dalam hotel. Saat Leoni sudah mendapatkan slot kunci kamarnya, ia kembali menoleh k arah Gilang dan mengangkat tangannya, melambaikannya sambil berkata ‘terima kasih’ tanpa suara.
Leoni memesan kamar yang biasa saja. Mereka hanya akan tidur satu malam, menunggu penerbangan mereka besok pagi.
“Lapar?” tanyanya pada Geovani saat mereka sudah sampai di kamar.
Geovani mengangguk. Tadi dia hanya makan sedikit di jalan. Leoni mengambil kotak bekal makan siang Geovani lalu memberikannya pada Geovani.
Geovani memakan bekal itu dengan lahap. Harusnya Leoni menyuruh Geovani berganti pakaian dulu tapi dia memang sedang mengabaikan semua aturan rutinnya. Ia sehari ini ingin menjadi ibu yang tidak terlalu cerewet. Dia mengelus rambut Geovani dengan lembut.
“Ge, mama mau tau dong, kenapa tadi Geo bilangnya jenguk? Geo tau papa lagi sakit?”
Geovani menghentikan suapannya lalu menoleh. Dia terlihat tidak berani berbicara.
“Kok mukanya takut gitu?” tanya Leoni tertawa pelan. “Mama kan nanya doing. Nggak akan marah. Justru mama akan marah kalau anak mama belajar bohong. Sekarang mama tanya, Geo tau kalau papa lagi sakit? Jawab aja, mama nggak akan marah. Toh kita udah mau pergi kan ke tempat papa? Tinggal nunggu besok pagi?”
Geovani akhirnya mengangguk. “Maaf Ma, Geo bukannya mau bohong. Kata Tante Wina, kalau Geo bilang, Mama akan marah. Mama pasti nggak mau pergi ke tempat papa.”
“Tante Wina?”
Geovani mengangguk dengan pandangan menunduk.
“Dia bicara sama Geo kapan, sayang?”
“Kemarin itu, Tante Wina datang ke sekolah. Dia kasih tunjuk Video papa lagi sakit. Katanya, Geo harus bilang Geo rindu papa. Jangan bilang kalau Geo mau lihat papa yang sakit. Jangan bilang kalau Tante Wina yang bilang. Mama nggak akan marah sama Tante Wina dan Papa kan, Ma?”
Darah Leoni sudah mendidih, wajahnya sudah memanas dan nafasnya sudah memendek. Dia marah. Dia benar-benar marah! Wina memanfaatkan anaknya untuk kepentingannya. Wina sudah mengajari anaknya berbohong! Silahkan Ewie atau Wina mendidik anak mereka seperti apa, tapi Geovani akan tumbuh dengan didikannya. Dia tidak pernah mengajarkan anaknya menjadi manja, pembohong apalagi suka menyakiti orang lain!
Tunggu saja, Wina, tunggu saja aku sampai di sana. Aku akan membuat kamu menyesal sudah mengganggu kehidupanku, batin Leoni.
“Sayang, mama keluar dulu ya, mau ke resepsionis” ucap Leoni. “Kamu lanjutin makannya, nanti waktu mama kembali kalau bisa udah habis. Oke? Kalau misalkan sempat nanti malam kita jalan-jalan.”
Geovani mengangguk. Leoni mengambil ponselnya lalu keluar dari kamar. Sambil berjalan dia menghubungi Friska.
“Halo kak, aku mau ke sana jenguk Gerrald. Aku sama Geo. Kalau bisa, tolong sewaktu aku datang, ada Wina di sana.”
“Loh, kenapa Ni? Kok malah harus ada dia? Bukannya bagusan nggak ada ya?”
“Aku harus bicara sama dia. Penting. Nanti di sana aku jelasin sama kakak.”
“Oke.”
“Dan satu lagi, jangan kasih tau siapapun apalagi Wina kalau aku mau ke sana. Tolong ya Kak?”
“Iya Ni, kakak pasti bisa jaga rahasia. Duh, nggak sabar mau lihat ponakanku yang ganteng. Hati-hati di jalan ya. Ada apa-apa langsung kasih tau.”
“Oke kak.”
Leoni mematikan panggilan lalu memasukkan lagi ponselnya ke saku. Wina boleh bermain akting sebagai wanita tidak berdaya yang baik hati pada semua orang sehingga mereka terpedaya, tapi dia tidak akan mengizinkan Wina bermain seperti itu dengan anaknya! Terlalu dini bagi Geovani berhubungan dengan wanita bermuka dua seperti dia.
***
Geovani terlihat tidak sabaran saat di atas pesawat. Dia terus berceloteh padahal saat mereka berada di ketinggian, telinga Leoni berdengung sehingga dia tidak bisa mendengar apapun lagi. Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
Saat mereka sudah sampai di bandara tujuan, mereka langsung menaiki taksi menuju ke rumah sakit. Mereka akan menginap di sana rencananya, kecuali jika situasinya tidak memungkinkan. Leoni ingin seminggu ini Geovani benar-benar puas menghabiskan waktu bersama Gerrald.
Saat mereka sudah berada di depan ruangan rawat inap Gerrald, Leoni menarik nafas panjang untuk menenangkan dentuman jantungnya yang begitu kencang, lalu ia memutar knop pintu.
“Papa?” panggil Geovani karena ia tidak bisa melihat dengan jelas isi kamar. Di sebelah pintu ada kamar mandi yang menghalangi pandangan ke ranjang. Hendak melangkah masuk, ia takut lancing. IA menoleh ke belakang menunggu Leoni.
Leoni menarik kopernya ke dalam. Geovani berjalan di sebelahnya.
“Papa!” seru Geovani saat mereka sudah di tengah ruangan.
“Geo? Geo?” panggil Gerrald beberapa kali lalu ia berusaha duduk. Tubuhnya kembali terhempas diikuti dengan suara erangan.
“Jangan banyak gerak dulu,” tegur Friska.
Geovani sudah sampai di sebelah Gerrald. Wina yang duduk di sofa hanya bisa diam. Friska membantu Geovani naik ke ranjang. Geovani langsung memeluk Gerrald dan menumpahkan tangisnya.
“Papa sakit apa? Papa kok bisa sakit? Makanya papa jangan makan sembarangan! Masak papa lupa pesan mama!” omelnya.
Geerald tertawa. Sekarang Geovani terdengar seperti Leoni.
Ia menatap Leoni dengan pandangan penuh kerinduan, menunggu wanitanya itu mendekatinya. Ia menyesal harus ada Wina di ruangan ini. Bisa saja Leoni berpikir macam-macam dan semakin menjaga jarak dengannya.
“Wina ke sini Cuma jenguk biasa,” ucap Geerald saat Leoni sudah mendekat.
Leoni meletakkan kopernya di sebelah nakas lalu ia duduk di sebelah ranjang. Ia mengangguk. “Aku tau,” ucapnya dengan suara tercekat.
Sebagai orang yang pernah dekat, yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, Leoni merasa dadanya sesak melihat perubahan fisik Gerrald yang sangat kentara. Tubuhnya mengurus dan wajahnya terlihat pucat. Jika hanya mendengar dia bisa bersikap biasa saja, saat melihat langsung ia tidak bisa memaksa dirinya untuk biasa saja. Ia menahan keinginan untuk menangis dan memaki Gerrald yang bisa-bisanya begitu lalai menjaga kesehatannya.
Friska menepuk bahu Leoni pelan. “Mau titip nggak? Aku mau ke kantin,” tanyanya.
Leoni menggelengkan kepalanya.
“Ya udah, aku sama Wina ke kantin dulu” ucap Friska.
Leoni hanya mengangguk. Harusnya dia menahan mereka agar tidak pergi, agar tidak terkesan seperti Geovani, Leoni dan Gerrald sedang menghabiskan waktu bersama melepas rindu, tapi dia tidak bisa bersuara sama sekali. Dia masih berusaha mati-matian untuk tidak menceramahi Gerrald tentang kecerobohan dan kebodohannya.