Part 16

1184 Kata
Wina sudah seperti penagih hutang. Berkali-kali dia datang tapi ucapan Leoni masih sama, ia akan datang jika ia memiliki waktu senggang. Permasalahannya, toko Leoni buka bahkan di hari minggu. Jikapun tidak buka, katanya kepada Wina, ia harus belanja beberapa barang. Wina juga melihat kedekatan Leonid an Gilang. Itu membuatnya merasa alasan Leoni tidak perduli kepada Gerrald adalah karena ia telah menemukan tambatan hati yang baru. Tega sekali. Padahal Gerrald sampai sakit karena memikirkannya. Sekarang siapa yang jahat? Leoni bersikap seolah dia menjadi pihak paling tersakiti tapi sekarang apa? Dia telah menemukan pengganti sedang Gerrald masih berkabung karena kehilangan wanita yang dicintainya. Sekarang, siapa yang tidak benar-benar mencintai? Wina tidak sabar. Sudah seminggu dan dia belum mendapatkan kepastian. Dia harus bermain licik, sekali ini saja. Dia sengaja meminta tukang ojek mengantarkannya ke sekolah Geovani. Dia berdoa agar apa yang dilakukannya tidak akan membawa masalah baru. Demi Gerrald, pria yang mengemban beban karena dirinya. “Geo…” panggil Wina. Dia memang sengaja masuk ke pekarangan sekolah karena tau Geovani selalu dijemput ojek langganannya. Jika ia menunggu di luar bisa jadi Geovani sudah dibawa pulang duluan dan misinya gagal. “Ya?” tanya Geovani heran. “Apa kabar, sayang?” Wina melangkah mendekat. Geovani berjalan mundur. Wajahnya masam melihat Wina. Wina tersenyum, berusaha membujuk Geovani agar tidak menjaga jarak dengannya. “Kamu kok takut begitu lihat tante? Kamu marah sama tante?” Geovani menggelengkan kepalanya tapi pandangannya sudah beralih kea rah pagar sekolah. Wina segera menarik Geovani. Dia takut Geovani malah berlari menghampiri ojeknya. “Papa kamu sakit, sayang” ucap wina segera. Dia merendahkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar. Matanya menatap mata Geovani mengirimkan kesungguhan dalam kata-katanya. “Papa? SAkit?” Wina mengangguk. Tangannya mengelus kepala Geovani dengan sayang. Dia menyayangi Geovani sama seperti ia menyayangi Bima. Keduanya, merupakan anak laki-lakinya yang paling tampan. Dia selalu memperlakukan Geovani dengan baik selama mereka hidup serumah. “Papa sakit, sayang. Dia kangen Geo. Kangen mama Geo.” Suara Wina sudah bergetar menahan tangisnya. Dia tau rasa rindu itu apa dan saat menjelaskan rasa rindu Gerrald dia jadi terbawa perasaan. “Papa nggak pernah telepon Geo, makanya dia kangen!” Geovani berkata dengan ketus. “Bohong, sayang. Papa kamu selalu telepon kok. Tapi Geo kan tidurnya cepat. Pagi Geo sekolah. Siang Geo tidur siang. Kapan dong papanya nelepon?” “Tapi___” “Geo nggak percaya? Sebentar, kita video call sama papa ya…” Wina menghubungi nomor whatssap Friska. Begitu diangkat dia segera berkata kalau dia sedang bersama Geovani dan mengarahkan layar ke Geovani. “Geo, sayang, ini Tante Friska, Nak” ucap Friska. “Iya, tante” ucap Geovani. Matanya sudah memerah. Tangannya sudah terangkat untuk menghapus air matanya yang bahkan belum menetes. “Kamu apa kabar?” “Baik, Tante.” “Kak, kasih ke Gerrald” ucap Wina. Friska mengangguk. Dia berjalan mendekati bankar Gerrald dan mendekatkannya ke wajah Gerrald. “Ge___Gerrald__ ini Geo,” ucap Friska berusaha membangunkan Gerrald. Perlahan, mata Gerrald membuka. Semakin lama semakin lebar lalu ia langsung menangis. Tangannya terangkat untuk menutupi layar. Dia tidak ingin anaknya melihatnya menangis. Wina kaget saat panggilan terputus tapi melihat Geo yang sudah menangis dia tau Geo sudah paham bagaimana kondisi ayahnya sekarang. Wina memegang bahu Geovani. “Kamu lihat kan? Papa kamu sedang sakit, sayang. Dia rindu kamu.” “Geo juga rindu papa, tante” isak Geovani. “Geo mau ketemu papa.” Wina memeluk Geo, mengusap-usap punggungnya menenangkan. Kali ini tidak mungkin Leoni mengelak lagi. “Dengar, dengarin tante. Kalau kamu mau papa kamu sembuh, kamu minta mama supaya jenguk papa” ucap Wina mendorong Geovani agar mereka bisa bertatapan. “Papa rindu kalian. Rindu Geo, rindu mama. Geo mau mama sembuh kan?” Geovani mengangguk. Wina menghapus airmata Geovani lalu mengecup keningnya. “Geo nggak boleh nangis. Nanti mama malah marah. Sekarang Geo pulang terus bilang sama mama kalau Geo mau ke tempat papa. Ya?” Geovani mengangguk patuh. “Dan satu lagi, jangan bilang kalau tante yang bilang ke kamu. Jangan bilang kalau kamu tau papa sakit. Bilang aja sama mama kamu rindu papa jadi mau ke tempat papa. Oke?” “Kenapa Geo harus bohong, tante?” “Karena nanti mama nggak mau pergi. Nanti mama mikir kamu dipaksa papa padahal papa nggak bilang apa-apa kan sama kamu?” Geovani menggelengkan kepalanya. “Anak baik. Anak pintar. Sekarang, kamu pulang ya…” Geovani kembali mengangguk. Ia melangkah menuju tempat tukang ojek menunggunya. Saat ia sudah di motor, matanya masih menatap Wina dengan pandangan sendunya. ***   Wina menggelengkan kepalanya dengan bibir yang sedang tersenyum. Sedari tadi Gilang mengirimkannya pesan yang menurutnya tidak lucu sama sekali tapi karena laki-laki itu terus mengirimkannya ia jadi merasa geli. Geovani sudah pulang. Ia menghampiri Leoni dengan wajah yang masam. Senyum Leoni langsung memudar. “Geo kenapa, sayang? Ada masalah?” Geovani menatap Leoni lalu menggelengkan kepalanya. Dia malah berlari menuju ke dalam rumah. Leoni kaget. Ada apa dengan anaknya? Leoni memasukkan ponselnya ke laci, menguncinya, lalu ia menyusul Geovani. Dia takut telah terjadis sesuatu pada anaknya. “Geo! Geo! Buka pintunya!” teriak Leoni karena Geovani mengunci kamar mereka. Tidak biasanya Geovani seperti itu. “Geo! Sayang! Mama hitung sampai tiga ya! Satu!” “Geo mau mandiiiii!!!” teriak Geovani lalu pintu kamar mandi berdentum kuat. Leoni tidak habis pikir. Tadi pagi Geovani masih baik-baik saja. Leoni segera menghubungi wali kelas Geovani tapi menurut wali kelasnya itu tidak terjadi apapun. Leoni menghubungi penjemput Geovani, jawabannya pun sama. Leoni berusaha untuk tenang meski tangannya mulai gemetar. Dia takut. Berbagai pemikiran buruk menguasai pikirannya. Ia memilih ke dapur, memasakkan makan siang untuk Geovani. Tidak lama kemudian, Geovani berjalan ke meja makan dengan wajah yang menunduk. Leoni menyajikan makan siang Geovani lalu duduk di sebelahnya. “Geo kenapa? Cerita dong sama mama. Mama kan pengen tau.” Geovani menatap Leoni dengan matanya yang merah. Leoni menarik Geovani ke dalam pelukannya. Apapun yang terjadi jelas anaknya sedang merasa tertekan. “Ma, kita ke tempat papa ya? Geo rindu papa, Ma” isak Geovani. Leoni mengerutkan keningnya. “Papa?” tanyanya bingung. Pasalnya, Geovani tidak pernah membahas masalah Gerrald dengannya sebelumnya. Ia bahkan berpikir Geovani sudah benar-benar tidak teringat lagi. Geovani mengangguk. “Sekali aja, Ma. Geo rindu papa.” Leoni melepas pelukannya dan menatap Geovani dengan pandangan menyelidik. Wajah Geovani bertambah muram. Ia mengapus air matanya lalu menarik piringnya. “Maaf, Ma” ucapnya lalu mulai menyendok nasi ke dalam mulutnya. “Geo habis bicara sama siapa?” selidik Leoni. Geovani menggelengkan kepalanya. “Bilang sama mama, kenapa mendadak Geo bilang rindu papa?” “Nggak jadi nggap apa-apa, Ma. Maaf,” cicit Geovani. Leoni menarik nafas panjang. Dia mengecup puncak kepala Geovani lalu berdiri. “Mama ke toko dulu. Setelah makan Geo tunggu mama di kamar. Kita bicara setelah Geo makan. Oke?” Geovani mengangguk sambil menghapusi air mata yang masih saja menetes meski berusaha ditahannya. Leoni pergi. Dia kembali ke ruangannya. Bukan karena dia tidak perduli tapi dia memberi ruang kepada Geovani untuk menuntaskan perasaan emosionalnya. Jika Leoni tetap duduk di sampingnya, Leoni yakin Geovani akan terus menahan tangisnya padahal dia memang membutuhkannya untuk perkembangan emosionalnya yang normal. Dia sedang merasa sedih, menahan tangis hanya akan membuatnya semakin tertekan. Lagipula ia sedang makan. Jika Leoni terus mengganggunga bisa jadi ia malah tidak selera sama sekali. Apa karena ikatan batin? Pikir Leoni. Gerrald masih sakit. dia tau itu dari ocehan Wina dan kabar yang selalu dikirimkan Friska. Leoni jadi tidak tega. Ia bisa berkeras untuk menolak menjenguk tapi Geovani berhak meminta bertemu ayahnya jika ia rindu. Bagaimanapun juga Gerrald adalah ayah kandungnya. Dia tidak pernah meminta bertemu Gerrald sebelumnya dan tadipun ia sempat membatalkan permintaannya. Leoni takut. Ia takut jika ia menolak permintaan Geovani, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak akan pernah meminta apapun lagi karena saat ia meminta ia tidak mendapatkannya. Ia juga takut kelak Geovani akan menjadi orang yang sibuk memendam perasaannya sendiri, sama sepertinya. Rasanya tidak enak berusaha bersikap baik-baik saja padahal dia sedang tidak baik-baik saja.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN