Part 15

1873 Kata
Wina sudah sampai di tempat yang katanya tempat tinggal terbaru Leoni. Sebuah kota kecil. Bahkan, Wina hanya bisa menaiki ojek karena tidak ada taxi di sini. Dalam hati Wina semakin merasa Leoni sangat keras hati. Ia rela meninggalkan kehidupannya di kota besar untuk pindah ke kota sekecil ini hanya agar jaraknya tidak begitu terjangkau Gerrald, pastinya. Agar Gerrald tidak bisa sering-sering mengunjunginya. Pantas saja pria itu harus menunggu libur panjang. Wina datang bertiga. Ia membawa keponakannya yang baru saja beranjak dewasa, yang dibawa agar nanti saat ia berbicara dengan Leoni, ada yang menjaga Gina. Mereka menginap di hotel yang lebih seperti motel. Wina mencari tau kepada petugas hotel dan untungnya dia mengaku mengenal Leoni. Saat mendengar informasi bahwa Leoni pernah menginap di hotel itu bersama dengan anak dan seorang pria hanya saja di kamar terpisah, Wina tidak bisa berbohong, dia merasa sakit di hatinya. Apalagi jika mereka rujuk. Tapi, itu yang terbaik untuk Gerrald. Sebesar apapun keinginan Wina untuk memiliki Gerrald harus dipendamnya dalam-dalam. Bahagianya Gerrald adalah bahagianya juga. “Kamu jaga Gina ya, Ndah” ucap Wina setelah mereka selesai sarapan keesokan harinya. “Kami nunggu di hotel aja?” Wina mengangguk. “Gina lagi tidur. Takutnya dia malah rewel karena tidurnya terganggu. Kesananya kan naik motor. Kalau dia kebangun, kamu kasih s**u formula yang ada di tas tante aja ya.” Endah mengangguk. Wina meminta bantuan resepsionis hotel untuk memesankan ojek karena saat dia bertanya, katanya resepsionis itu memiliki nomor kontaknya. Katanya, di kota ini pangkalan ojeknya jauh dari hotel. “Ke Toko Makmur, tau kan Pak?” tanya Wina pada si tukang ojek. “Punya Mbak Leoni kan ya?” Wajah Wina mencerah. “Iya benar. Leoni.” “Tau Bu, tadi si Teti juga udah bilang kalau Ibu mau ke tempat Mbak Leoni.” Ada yang mengganjal perasaan Wina. Kenapa tukang ojek ini memanggilnya Bu sedang Leoni Mbak. Ah, mungkin hanya karena aku orang baru, batinnya. Wina segera menaiki ojek. Dalam perjalanan, dia menatap sekitar. Benar-benar kota kecil yang baru berkembang. Leoni sepertinya sengaja mengucilkan diri di daerah ini. Padahal untuk apa? Di tempat seperti ini dia hanya menghalangi semua kemudahan yang bisa didapatkannya. Sekolah yang bagus untuk anaknya, misalnya. Sepeda motor itu berhenti di depan sebuah ruko. Wina turun dan semua anggapannya tadi sirna. Leoni tampaknya tidak merugi malah mendapatkan keuntungan. Tokonya tampak maju. Dari luar saja Wina bisa melihat isi tokonya banyak. Pekerjanya juga sibuk sekali padahal hari masih pagi. “Bu, maaf, bayarannya?” “Oh, maaf” Wina segera mengeluarkan dompetnya dan membayar tukang ojek itu. “Eum, saya minta nomor hp Bapak ya? Nanti kalau saya sudah selesai saya telepon Bapak. Bisa?” Tukang ojek itu mengangguk dan memberikan nomor ponselnya lalu pergi. Wina menarik nafas panjang lalu melangkah dengan jantung yang berdetak kencang. Dia harus kuat. Meski ia harus bersujud ia rela yang penting Leoni mau mendengarkannya. “Ya Bu?” Seorang pria yang berpakaian baju kaos usang yang lengannya sengaja dipotong menghampiri Wina. Wina tersentak kaget karena ia sibuk memikirkan cara membujuk Leoni. Dilihatnya pria di depannya. Pria itu menatapnya, menunggu jawabannya. “Saya__saya mau ketemu sama Leoni.” “Bu Leoni? Ada di dalam. Ada perlu apa ya?” “Saya temannya dari kota. Katakan saja, ada Wina.” “Bu Wina?” Wina mengangguk. “Woi Bro, panggilin Mbak Leoni cepet. Ada Bu Wina nyariin.” Wina melihat ke arah tatapan pria itu. Dia berbicara pada wanita yang duduk di meja kasir. Wanita itu melihat ke arahnya lalu mengangguk. “Tunggu di sana aja Bu,” ucap pria itu menunjuk ke arah meja kasir. Wina mengangguk. Ia melangkah menuju meja kasir. Penjaga kasir itu tersenyum padanya, menunjuk kursi di depannya untuk mempersilahkan Wina duduk. “Tunggu ya Bu,” ucapnya ramah. Wina mengangguk. Sembari menunggu, ia melihat lagi barang-barang dagangan Leoni. Sembako di tokonya tampaknya cukup lengkap. Pasti banyak sekali langganannya. Pantas saja dia tidak mau bergantung pada Gerrald lagi. Seandainya dia bisa semandiri Leoni. “Bu, disilahkan masuk” ucap penjaga kasir. Wina mengangguk. Ia mengikuti arah yang ditunjuk penjaga kasir itu. Meski pintu tidak tertutup ia tetap mengetuk pintu hingga wajah yang tadinya terfokus pada kertas-kertas di hadapannya terangkat dan terarah padanya. “Masuk,” ucap Leoni meletakkan kertas itu. Wina merasa terancam dengan tatapan yang sangat tenang itu. Tatapan itu membuatnya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ada di pikiran Leoni saat ini. Dia melangkah masuk. Saat sudah di depan Leoni dia mengulurkan tangan. “Apa kabar?” sapanya. Leoni berdiri, menyambut uluran tangan itu. Mereka berdua kemudian duduk, saling diam. Wina akhirnya memutuskan berbicara karena memang ia yang memiliki kepentingan. “Pertama-tama, aku mau meminta maaf___” “Dimaafkan,” potong Leoni cepat. “Aku___ aku bahkan belum selesai berbicara” Wina tersenyum getir. “Apapun yang kamu lakukan dan kamu rasa salah sehingga kamu perlu meminta maaf, saya maafkan. Apapun yang terjadi, itu sudah pasti merujuk ke masa lalu dan saya sudah hidup di masa yang berbeda, masa sekarang. Saya tidak merasa perlu membahas apapun itu di masa lalu karena saya sudah tidak memikirkannya lagi.” “Tapi___permasalahannya___ini bukan hanya tentang aku, Ni, jni juga tentang Gerrald.” “Dia sakit?” Wina mengangguk. “Aku tau. Dan apa masalahnya?” “Dia butuh kamu!” Wina bahkan tidak sadar kalau nadanya sudah memaksa. Leoni tertawa. “Itu hanya___hanya bisa-bisanya kalian saja. Mengaitkan apa yang terjadi pada Gerrald dengan saya. Padahal, dia sakit itu artinya dia butuh obat. Dia butuh dirawat.” “Tapi dia terus memanggil nama kamu dan Geo. Dia merindukan kalian berdua.” “Lantas saya harus bagaimana?” “Jenguk dia, Ni. Demi Tuhan, dia tidak pernah berniat selingkuh. Dulu setelah kalian bercerai, dia terpuruk. Dia sangat mencintai kamu.” Leoni menarik nafas panjang. Wajahnya sudah mengeras dan memerah. Matanya sudah membesar dan Wina tau dia sudah terpancing emosi. Leoni memukul meja kuat, membuat Wina kaget saat mendengar suaranya. “Dengar ya,” ucap Leoni dengan nada marah namun pelan. “Cinta saja tidak cukup! Rasa bersalah itu harusnya ada bukan karena kesalahan itu diketahui orang lain tapi karena adanya kesalahan itu sendiri! Jawab saya dengan jujur, berapa kali kalian berhubungan badan?” Wina menundukkan kepalanya. Ia merasa tersudut. Menjawab pertanyaan itu hanya membuat suasana semakin runyam. “Jawab!” bentak Leoni sambil memukul meja lagi. “Satu kali,” jawab Wina masih dengan wajah menunduk. “Bohong kamu! Jangan pikir saya perempuan bodoh! Potong telinga saya kalau kalian hanya melakukannya satu kali!” Wina menitikkan air matanya. Apa yang dituduhkan Leoni benar. Tidak hanya sekali. Meski melakukannya tanpa rasa cinta dan terkesan hanya seperti aktifitas pelampiasan gairah saja, Gerrald beberapa kali mendatanginya. Iapun tidak pernah menolak karena ia menikmatinya. Ia merasa, selain mendapatkan kepuasan, itu juga bentuk dari pembalasan jasa atas bantuan yang diberikan Gerrald. Saat mereka melakukan itu, mereka berdua sadar tidak akan ada kelanjutan lagi. Mereka melakukannya tanpa memikirkan apapun, hanya sekedar bersenang-senang. “Sudahlah! Keluar kamu!” Leoni mengibaskan tangannya beberapa kali. Dia membuka kertas-kertas yang bertumpuk di meja. Wina melihat ke tangan Leoni yang bergetar itu. Dia tau Leoni masih sangat marah, tapi itukan tanda kalau Leoni masih mencintai Gerrald. Dia masih mengingatnya. “Dia sudah dihukum. Dia sudah merasa bersalah. Tidak kah kamu mau mencoba memaafkan dia? Toh Tuhan saja mau memaafkan hambaNya...” Leoni tertawa. Dia menatap Wina tidak percaya. “Tuhan? Kamu mau bahas Tuhan? Supaya apa? Supaya merasa berhak berhubungan badan dengan Gerrald waktu itu? Karena kalian sudah sah? Saya akui saya memang tidak semulia Tuhan karena saya hanya orang biasa. Ibadah saya saja masih bolong-bolong. Saya kan sudah memberikan kesempatan pada Gerrald untuk memilih kamu atau saya dan dia memilih kamu, jadi, apa yang harus dibahas lagi?” “Waktu itu dia emosi. Mana mungkin dia memilih aku, Ni. Mungkin dia hanya tidak sanggup memilih...” “Kalau begitu, bukannya bagus saya membantu dia menetapkan pilihan? Begini, saya pernah mendengar, kalau dari segi agama, suami memang berhak menikah lagi meski tanpa izin sang istri. Tapi, sebagai istri, saya berhak meminta cerai. Benar kan?” “Tapi perceraian dibenci Tuhan,” Wina berusaha membantah Leoni dengan pemahamannya yang sebenarnya seadanya. “Dan Tuhan membenci orang munafik. Apa yang kalian lakukan itu, persis seperti ciri-ciri orang muanfik. Tuhan membenci perceraian, itu kenapa saya membenci Gerrald. Dia dua kali menceraikan perempuan, berarti dua kali melakukan hal yang dibenci Tuhan.” “Tapi itu karena dia ingin membuktikan pada kamu kalau kami tidak ada apa-apa. Dia hanya menunggu sampai Gina lahir. Itu saja. Dia hanya ingin bertanggung jawab.” “Lalu bagaiman dengan anak saya? Anaknya juga kan? Kenapa dia lebih memilih menjaga tanggung jawabnya kepada kamu yang orang baru daripada kami yang orang lama? Dia___ Gina itu baru akan menjadi anaknya sedang Geo sudah menjadi anaknya berapa tahun? Gina, kata kalian, ada karena ketidak sengajaan sedang Geo lahir karena direncanakan bahkan dinantikan! Kenapa dia pilih kasih? Saya benci tersisihkan dengan orang yang jelas-jelas tidak sepadan dengan saya! Status saya waktu itu istri dan kamu itu simpanan!” Tangis Wina mengencang. Dia terhina tapi dia berusaha untuk terus bertahan. Dia tidak perduli seberapa keras Leoni berusaha mengintimidasinya asal akhirnya Leoni mau mendatangi Gerrald. “Kamu datang, kamu hanya membuat dosa saya bertambah banyak. Kamu memancing emosi saya, membuat saya memaki-maki kamu padahal saya sudah hidup dalam ketenangan. Kamu kan sahabat Gerrald, kamu yang paling tau dia. Kamu hadapi saja dia.” “Dia butuh kamu! perlu aku bilang berapa kali kalau yang dia butuhkan itu kamu?” desak Wina masih dengan tangisannya. “Saya tidak perduli. Hidupnya itu tanggung jawabnya bukan saya. Tanggung jawab saya hanya Geovani. Pulanglah. Kamu beranak kecil kan? Pulang, jaga anak kamu baik-baik. Ngapain kamu repot-repot kemari?” “Ni, aku mohon. Aku mengaku salah. Semua itu salahku. Aku yang lemah, aku yang bodoh!” Wina menampar pipinya sendiri untuk menunjukkan rasa bersalahnya. “Ck, udahlah. Kamu pulang. Saya sedang kerja,” ucap Leoni tampak tidak terpengaruh sama sekali. Wina mengambil jalan terakhir. Dia menghampiri Leoni lalu bersujud. “Aku mohon, Ni, aku mohon,” isaknya. “Astaga!” Leoni menarik Wina agar berdiri. “Dengar ya Win, kamu hanya membuat diri kamu semakin nggak berharga kalau begini. Sudahlah. Jalani hidup kamu yang baru. Jangan mau jadi tameng untuk Gerrald, atau mungkin kalian memang begitu, jadi tameng untuk satu sama lain.” Wina menggelengkan kepalanya cepat. “ Aku! Aku yang memang harus begitu! Karena aku yang membuat kalian berpisah!” Wina berkeras. “Kamu pulang. Kalau saya sempat saya datang.” Wina menghapus air matanya. “Kamu__kamu janji?” tagihnya. “Iya, kalau saya sempat saya datang.” Wina tertawa, dia merasa lega. Dia memeluk Leoni lalu kembali menangis. “Terima kasih Ni, terima kasih.” Leoni mengangguk. “Pulanglah. Kamu harus menjaga anak kamu dan saya harus bekerja.” Wina menganggukkan kepalanya. Bibirnya masih tersenyum. “Terima kasih. Sekali lagi terima kasih.” Wina tidak menunggu diusir kesekian kalinya. Yang penting Leoni sudah berjanji. Dia bisa menunggu sampai akhirnya Leoni menepati janjinya. Sebulanpun tidak masalah yang penting dia sudah mendapatkan janji itu sehingga dia memiliki alasan untuk menagihnya nanti. “Kalau sempat,” ucap Leoni lagi saat Wina sudah pergi. Wina keluar dengan perasaan lega. Ia tidak perduli pekerja Leoni menatapnya bingung karena wajahnya yang kusut dan matanya yang merah. Dia menelepon ojek itu lagi dan kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, tepat sebelum ojek meninggalkannya, ia bertanya pada sang tukang ojek pertanyaan yang mengganjal pikirannya. “Pak, perasaan saya, bapak memanggil saya bu dan Leoni mbak. Kenapa ya? Soalnya pekerjanya juga begitu.” “Wah,” tukang ojek itu tertawa. “Mbak Leoni itu kan masih muda. Meski janda, jandanya janda kembang. Cantik, kaya, pinter, ramah, pokoknya t.o.p. Wong deketnya aja sama Mas Gilang, anak pak Edi yang guanteng banget itu. Masih muda juga. Pokoknya, Mbak Leoni kayak abg deh Bu. Di sini dia sering dibicarain soalnya dia itu kan idola laki-laki di sini. Apa-apa getol banget.” “Terus__kenapa manggil saya ibu?” “Demi kesopanan Bu. Sudah ya Bu, saya pamit. Terima kasih. Selamat siang.” Wina merasa sedikit terganggu dengan ucapan tukang ojek tadi. Dia merasa rendah diri. Leoni semenjak menjanda semakin cantik, mungkin ia semakin menjanda semakin jelek. Kalau dia ingat-ingat, Leoni memang semakin terlihat rapi, bersih, anggun dan menarik. Ini pasti karena Wina hanya seorang ibu rumah tangga sehingga mereka menampilkan aura yang berbeda. Rasanya, kalau dari wajah, mereka tidak jauh berbeda. Hanya masalah penampilan. Sial, batin Wina, tabungannya sudah menipis. Seandainya masih banyak ingin sekali ia berbelanja agar bisa merubah penampilannya agar smeakin terlihat menarik. Jika diingat-ingat, pantas saja semenjak bertemu Leoni Gerrald semakin tergila-gila. Ternyata pesona Leoni semakin besar.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN