Part 14

1473 Kata
“Haihhhh, capek” keluh Gilang sambil mengangkat tangannya, melengkungkan bahunya ke belakang. “Iya nih, capek” Geovani ikut menimpali. Leoni menatap kedua laki-laki itu lalu menggelengkan kepalanya. Dia merasa lucu. Geovani terus mengimitasi apa yang Gilang lakukan. Bahkan mereka terlihat mirip, tapi itu mungkin halusinasi Leoni saja. “Masak anak laki-laki gampang capek?” ejek Leoni sambil mengacak rambut Geovani. “Om Gilang aja udah gede capek, Ma, apalagi Geo!” Geovani membela diri. “Loh, kok ikut-ikut Om? Jangan jadiin Om alasan dong!” Gilang menggelitiki Geovani. “Eh, jangan Om! Ampun!” Geovani mengindari jemari Gilang yang terus menggelitikinya. Ia berlari, dan karena ia berlari terlalu kencang, ia terjatuh. “Astaga Geo!” Leoni berlari mengejar Geovani. “Cuma lecet dikit, Ma” ucap Geovani dengan wajah mengerut. Leoni melihat lutut Geovani. Kulitnya mengelupas dan mengeluarkan sedikit darah. Rasanya, ia ingin menangis melihatnya. Ia mengangkat pandangannya lagi, lalu tersenyum. Menunjukkan ekspresi yang berbeda dengan yang ia rasakan. Ia mengecup kening anaknya. “Hebat anak mama, luka tapi nggak nangis” ucap Leoni. “Namanya laki-laki, ya kan Ge” Gilang menghampiri mereka. Dia menarik Geovani hingga berdiri dan mengangkatnya ke atas kepalanya. “Eh! Eh!” Geovani memekik kaget. “Jangan bilang kamu takut ketinggian, Ge! Nggak jadi deh jadi anggota gengnya Om.” Leoni tertawa. “Kamu punya geng? Anggotanya berapa?” “Anggotanya baru satu, baru Geovani doang. Mau gabung?” tanyanya. Leoni tidak menanggapinya. Ia kembali tertawa. Gilang itu sosok laki-laki yang hangat. Dia mudah sekali membuat orang merasa nyaman. Pantas saja, Geovani sering menirunya. Pasti Geovani sekarang menjadikan Gilang sebagai sosok yang menjadi panutannya. “Turunin aja ah, berat.” Leoni mengadahkan kepalanya, mengangkat tangannya untuk menarik Geovani. “Ck, segini sih nggak berat. Ngangkat yang lebih berat juga aku masih sanggup.” Gilang memainkan alisnya menggoda Leoni. Leoni terdiam. Pikirannya langsung mencerna dan dia dengan cepat pula menepisnya. Tidak, Gilang hanya bercanda. “Ayo Om, jalan!” seru Geovani. “Siap!” Gilang kemudian melangkahkan kakinya menuju parkiran. Leoni yang berjalan lebih lambat, menatap punggung mereka dengan perasaan haru. Bagaimanapun juga, sekuat apapun ia berusaha, tetap saja Geovani pasti merasa kekurangan kasih sayang. Ia seorang ibu yang sibuk bekerja. Jika tidak begitu, siapa yang menjamin masa depan Geovani? Gerrald? Tunggu saja sampai ibunya kembali ikut campur. Atau mungkin, istri barunya. “Hey,” Gilang menoleh ke belakang.  “ayo” ucap Gilang menggerakkan kepalanya, memberi kode pada Leoni agar berjalan beriringan dengannya. Leoni tersenyum, dan berjalan dengan langkah cepat. Ternyata membuka diri terhadap orang sekitar membuat hidupnya terasa lebih mudah. ***   “Leoni nggak datang?” tanya Gerrald pelan. Kondisinya masih belum banyak membaik. Dia tidak bisa mencerna makanan sehingga masih harus bergantung pada nutrisi dari infus. Friska menatap Gerrald antara kasihan dan jengkel. Pilihan untuk terlalu memanjakan anak memang terasa wajar saat anak masih kecil. Tapi, saat mereka dewasa, hal itu justru membuat mereka tidak bisa bersikap dewasa. Hanya karena wanita, Gerrald seperti anak kecil yang mogok makan. Persetan dengan alasan kesehatan. Friska percaya, alasan satu-satunya Gerrald selalu memuntahkan makanannya bukan karena asam lambungnya kembali naik, tapi karena ia baru bersedia makan kalau Leoni menjenguknya. Tubuh manusia bertindak seiring dengan perintah dari otak. Jika otak sudah menolak sehat, maka tubuh akan sakit. Gerrald sekarang ini sedang dalam kondisi ingin sekarat agar Leoni kembali meski dengan alasan kasihan. “Aku___cinta kamu, Ni” gumam Gerrald lagi. Friska menggenggam tangan Gerrald, menyapukan ibu jarinya untuk memberikan ketenangan. Dia sendiri sebenarnya tidak tenang. Dia sudah bosan bolak balik rumah sakit tapi bagaimana lagi, hanya dia yang bisa diharapkan karena mamanya juga masih dirawat. Untung saja suaminya pengertian. Pintu terbuka perlahan. Seorang wanita yang menjadi penyebab utama keretakan rumah tangga Gerrald dan Leoni dulu masuk bersama dengan anaknya. “Papa!” teriak Bima. “Hush, jangan ribut! Om Gerraldnya lagi sakit!” ucap Friska ketus. Wina menatap anaknya sendu. Ini alasan kenapa dia membutuhkan Gerrald sebagai suami sebenarnya. Gerrald bisa menjadi contoh yang baik. Memberikan figur seorang ayah yang sempurna, bukan seperti mantan suaminya. Tapi kebersamaan mereka hanya sebentar dan sekarang Gerrald menghindarinya seperti wabah. “Bima, jangan begitu Nak. Papa sedang sakit.” Wajah Bima berubah murung. Ia mengangguk lalu mengikuti langkah Wina dengan kepala menunduk. “Sudah bagaimana, Mbak?” tanya Wina sambil menyalami Friska. “Ya begitulah. Kamu tau sendiri Gerald seperti apa.” Friska bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah sofa, memilih menepi agar Wina bisa duduk di kursi sebelah bankar tempat Gerrald berbaring. Wina merasa tidak enak dengan perlakuan Friska. Dia tau dia memang wanita hina. Dia dianggap sebagai perebut, dan memang begitu adanya. Jangankan Gerrald, diapun merasa sedih saat Leoni dan Gerrald akhirnya berpisah. Bukan itu yang diinginkannya. Wajah Gerrald sangat pucat. Rambut-rambut halus mulai tumbuh di atas bibirnya. Pria di hadapannya ini tampan sekali. Leoni rugi kalau ia berpikir lebih baik hidup sendiri. Gerald sangat mencintai Leoni, dan seorang anak pasti membutuhkan orang tua yang lengkap. Ada saatnya nanti Leoni pasti akan merasakan apa yang ia rasakan, kesepian dan membutuhkan teman hidup. “Cepat sembuh, Ge” bisik Wina dengan mata yang sudah mulai membasah. Apa yang terjadi pada Gerrald ini karena Gerrald berniat membantunya. Dia yang salah. Harusnya dia tidak mencintai pria yang telah bahagia bersama istrinya. “Papa sakit apa, Ma?” tanya Bima juga berbisik. “Doakan papa cepat sembuh aja, ya?” ucap Wina memeluk Bima. Bima mengangguk, merapat dan melingkarkan tangannya ke pinggang Wina. Wina menarik nafas panjang. Jika kemarin Gerrald memutuskan menentang larangan istrinya karena ingin membantunya, maka sekarang ia yang harus berkeras untuk membantu Gerrald. Dia tau obat yang paling ampuh untuk Gerrald saat ini. Leoni. Wina menghampiri Friska. Dia sengaja menyuruh Bima duduk di dekat Gerrald agar ia bisa leluasa berbicara dengan mantan kakak iparnya itu. “Apa Leoni sudah tau?” tanyanya. Friska mengangguk. “Lalu?” “Dia tidak perduli.” Wina mencelos. Begitu kerasnya hati Leoni. Tidakkah dia iba? Bagaimanapun Gerrald pernah menjadi suaminya. Gerrald hanya salah melangkah. Hanya satu kali membuat Leoni kecewa. Tapi wanita itu, dia sudah menghapus semua kenangannya bersama Gerrald. “Apa dia tidak kasihan?” tanya Wina lagi. “Entahlah. Sepertinya tidak.” “Hatinya keras sekali,” ucap Wina lebih kepada diri sendiri. Dia tidak sadar apa yang dipikirkannya itu keluar dari mulutnya. Begitu sadar, dia menatap Friska dengan mata membesar, melihat reaksinya. “Dari dulu dia memang begitu. Sekali lagi, kamu kan paling tau tentang mereka. Waktu Gerrald mendekati Leoni, kamu tau kan?” Wina menenggak ludahnya lalu mengangguk. “Ya, seperti itulah Leoni. Tidak seperti kamu.” “Maksud Kakak?” “Dia tidak selalu ada untuk Gerrald. Dia tidak melayani Gerrald secara umum dengan baik. Dia tidak bertutur lemah lembut, cenderung apa adanya. Tapi dia tegas dan mandiri. Mungkin itu yang membuat Gerrald jatuh cinta. Mau bagaimana lagi, seleranya begitu.” Wina menundukkan kepalanya. Apa yang dikatakana Friska benar. Itulah yang justru membuat Gerrald tergila-gila. Dan Wina tau, Leoni sangat mampu memuaskan Gerrald dalam masalah ranjang. Itu yang membuat Gerrald mengabaikan hal yang lainnya selama mereka berumah tangga. Seorang suami yang merasa mendapat kepuasan yang maksimal di ranjang dan sambutan yang hangat saat ia lelah, kata Gerrald, itu saja sudah cukup. Dulu, dulu sekali, dia berkata begitu, saat pernikahan Gerrald menginjak usia tiga bulan dan Ewie sudah mulai banyak mengeluh terutama belum adanya tanda-tanda kehamilan Leoni. Wina berpamitan pulang. Tadi, dia menitipkan Gina pada tetangganya tapi tetap saja dia tidak bisa meninggalkan Gina terlalu lama. Sepanjang perjalanan pulang, di dalam taxi, ia berpikir apa yang bisa ia lakukan. Aku harus ke sana. Aku harus bertemu langsung dan meminta maaf padanya. Bagaimanapun juga, semua ini karena aku. Wina sudah bertekad. Ia akan menitipkan Bima pada kerabatnya. Mungkin, dia bisa membantu melunakkan kerasnya hati Leoni. ***   “Capek?” tanya Leoni sambil menarik selimut sampai ke d**a Geovani. Geovani yang sedari tadi sudah menguap tapi tidak mau tidur sebelum Leoni ikut tidur bersamanya pun mengangguk. “Besok-besok kalau mama survey berarti Geo tinggal aja ya?” Leoni melingkarkan tangannya memeluk Geovani. Geovani membuka matanya lalu menatap Leoni dengan matanya yang sudah memerah. “Geovani ikut, Ma. Kan capeknya sedikit aja,” gumamnya lalu ia memutar tubuhnya hingga menghadap Leoni lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Leoni. Leoni tersenyum. Ia mengecup kepala Geovani lalu ikut memejamkan matanya. Satu pekerjaan selesai, setidaknya ia sudah bisa tenang. Tinggal menuntaskan pekerjaan-pekerjaan lainnya keesokan harinya. ***   Gilang berbaring di ranjangnya dengan wajah yang sedari tadi tidak bisa menahan senyumnya. Untung dia sendirian. Kalau ada orang lain, pasti ia akan berpikir kalau Gilang sedang tidak waras. Rasanya cinta itu pasti ya seperti ini. Tidak harus ada sentuhan fisik tidak harus ada pujian memabukkan hati, berjalan berdua saja rasanya sudah bahagia. Gilang mengambil ponselnya, membuka galerinya. Tadi ia berhasil mendapatkan foto mereka bertiga. Terima kasih pada Geovani. Kalau bukan karena ada dia, mungkin Leoni tidak akan mau foto bersamanya. Gilang menggerakkan ibu jadinya, seolah ia sedang menyentuh wajah Leoni. Semakin lama ia semakin mengagumi wanita itu. Dia cantik, mandiri, dan berkelas dengan caranya sendiri. Sesuatu yang jarang ditemukannya pada wanita lainnya. Jika ada pria yang tidak menyukai kemandirian wanita, menganggap itu artinya sang wanita tidak membutuhkan si pria untuk melindunginya, maka Gilang siap menerimanya. Dia justru lebih suka dengan wanita yang seperti itu dari pada harus bersama dengan wanita yang apa-apa tidak bisa. Hanya mengandalkan keindahan fisik dan rengekan manja. “Hah, harus tidur. Besok harus kerja. Muka nggak boleh kusut, lagi usaha gebet anak orang. Kali aja dia seleranya yang bening-bening,” canda Gilang lalu ia memejamkan matanya. Sedang di kamar sebelahnya, Heru masih menengguk bir yang dibawanya dari swalayan. Tentu saja dia sudah mengancam semua pekerja agar jangan mengadu. Dia merasa kesal, merasa kalah, dan merasa marah. Leoni hanya untuknya! Tunggu saja, sampai saatnya nanti kamu akan tau, Lang, bahwa Leoni hanya cocok denganku! Bukan kamu!   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN