Part 13

2158 Kata
“Kenapa pulangnya bisa sama kamu?” tanya Leoni pada Gilang yang masuk ke ruangannya bersama Geovani. Geovani melepas genggaman tangannya dengan Gilang lalu berjalan mendekati Leoni. Leoni merasa tertampar. Pasti Geovani berpikir ia marah dan sekarang ia merasa takut. “Aku, tadi aku yang maksa. Dia tadi udah sama si Bapak, terus aku stopin. Kan aku juga mau ke sini, jadi sekalian aja.” “Kamu ada perlu apa?” Gilang tertawa. Leoni, wanitanya, ralat, calon wanitanya, sangat blak-blakan sekali. Wanita yang pemberani. Wanita mandiri dan tangguh, tipe wanita yang selalu berhasil membuatnya kagum. “Aku mau ngantarin daftar permintaan pasokan bahan masakan untuk lusa. Mendadak ada pesanan untuk kegiatan besar jadi aku harus memastikan kamu bisa mengirimkan semua bahan yang dibutuhkan. Kami harus mulai masak di pagi hari. Jam delapan itu sudah paling lama. Ini,” Gilang menyodorkan satu kertas berisi daftar pesanan. Leoni membaca daftar itu. Untuk mendapatkan bahan ini dia harus ke kota tetangga. Jaraknya sebentar tapi hari sudah siang. Dia harus memberi Geovani makan, dan jika ia berangkat sore, maka ia akan pulang malam. Ia ragu naik sepeda motor di malam hari, lebih ragu lagi masih ada kendaraan umum di malam hari. “Kenapa? Sulit ya?” “Gini loh Lang, masalahnya, ini bahan harus di cek dulu. Aku juga nggak bisa pastiin semuanya ada sebelum survey langsung. Masalahnya jumlahnya nggak sedikit. Takutnya, bisa aja bahannya ada, tapi nggak cukup. Mau survey besok, kelamaan. Kan dipakainya lusa. Kalau ternyata nggak ada kan aku yang nggak enak. Waktu untuk cari di tempat lain udah mepet.” “Iya sih. Jadi gimana? Nggak bisa?” “Bukan nggak bisa. Tapi aku ragu. Gimana ya, susahnya itu kendaraan umum nggak ada lagi kalau udah malam. Kalau ada kan enak aku bisa survey. Pulang perginya naik kendaraan umum. Masalahnya aku nggak punya mobil.” “Emangnya jauh surveynya?” “Kurang lebih dua jam dari sini. Cuma kan waktu survey nggak langsung dapat pedagang yang dicari. Masih harus keliling-keliling.” “Kalau aku antar, gimana?” “Loh, jangan! Kamu kan harus kerja.” “Ini bagian dari kerjaanku. Memastikan Rumah Bambu bisa memenuhi pesanan dengan memuaskan. Jadi, jangan geer” ucap Gilang sambil tersenyum. Leoni merasa kata-kata itu bermakna ganda dan ia merasa malu dengan pemikirannya. Astaga, kenapa dia jadi tidak profesional seperti ini? Maksud Gilang ge’er itu kan ke hal yang berkaitan dengan kebaikannya, bukan unsur ke arah pendekatan. “Eum, boleh sih. Tapi, Geo harus makan dulu. Nggak apa-apa nunggu?” “Nah, bener! Sekalian ya, aku numpang makan siang. Aku belum makan.” Leoni mengangguk. Tentu saja tidak masalah baginya jika Gilang menumpang makan. Gilang sudah sangat baik padanya, juga pada Geovani, anaknya. Permasalahannya adalah, mampukah ia menyediakan menu makan siang yang cocok untuk lidah Gilang, si pemilik tempat makan dengan menu terenak yang pernah dia makan di kota ini. “Eum, tapi, aku masak ayam goreng doang. Soalnya Geo makannya sukanya yang begitu. Nggak apa-apa?” tanya Leoni saat mereka sudah di meja makan. Gilang duduk menunggu makan siang sedang Geovani seperti biasa, masuk ke kamar untuk mandi sebelum makan siang. “Apapun yang disajikan, aku makan. Janji!” Gilang mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruff V. Syukurlah, batin Leoni. Kemampuan memasaknya memang standar. Itu salah satu alasan kenapa Ewie suka nyinyir padanya. Bukannya dia tidak mencoba, tapi dia buta akan bumbu. Dia tidak pandai menakar dan lidahnya kurang peka terhadap rasa. Yang dia tau, saat makan hanya enak dan tidak enak. Dia tidak pernah bisa menerka apa yang kurang jika masakan kurang enak. Leoni mengeluarkan ayam yang sudah diungkep dengan bumbu dari dalam kulkas. Dia sengaja menyimpannya untuk waktu darurat, dan sekarang ini menurutnya ia sedang dalam situasi darurat. Ayam di dalam kotak hanya tinggal dua potong. Pas-pasan. Leoni segera menggorengnya. Sambil menunggu matang, ia mengeluarkan sambal terasi yang juga ia simpan di kulkas dan nugget. Satu potong ayam perorang terkesan pelit. Lagipula itu tidak akan cukup untuk pria dewasa seperti Gilang. “Ma! Udah belum? Udah lapar” teriak Geovani. Leoni menoleh ke meja makan. Ternyata Geovani sudah duduk bersama Gilang. “Bentar ya sayang, bentar lagi selesai” ucapnya. Leoni menyalin ayam dan nugget ke wadah lalu membawanya ke meja makan. Meja atas meja makan itu ada rice cooker, sehingga Leoni hanya tinggal memberikan piring. “Semoga suka,” ucap Leoni setelah semua disajikan termasuk kerupuk peneman makan. “Pasti suka! Makanan mama gini, Om!” Geovani mengacungkan jempolnya. Leoni tertawa. Yang dia masak selalu jenis masakan yang mudah dan cepat. Tapi dia tidak membantah karena memang bagi seorang anak masakan terenak adalah masakan ibunya. Dia merasakannya. Dan mendadak dia merindukan ibunya. Dia malu pulang karena dia telah gagal membina rumah tangga. Dulu dia berkeras untuk menikah dengan Gerrald padahal orangtuanya kurang setuju. Lalu lihatlah hasilnya sekarang. Orangtua memiliki firasat yang besar berkaitan dengan kehidupan anak-anaknya. Gerrald dulu sangat sempurna. Dia tampan, mapan, dan memuja Leoni. Semua sifat buruk Leoni bisa ditolerirnya. Itu membuat Leoni merasa tidak akan ada lagi pria yang lebih layak selain Gerrald. Dia merasa alasan orangtuanya untuk tidak setuju, tidak masuk di akal. Ternyata, barulah Leoni paham. Saat seorang istri menikah, ia tidak hanya menikahi sang suami tapi juga seluruh keluarganya. Apalagi kalau anak laki-lakinya begitu diemaskan. Dua bulan di awal pernikahan Leoni, dia berusaha keras menyenangkan mertua yang tampaknya usahanya tidak banyak berhasil. Dia merasa rendah diri karena kerap kali dicap dengan kata ‘tidak becus’. Tapi, dukungan Gerrald, dan harmonisnya hubungan mereka, membuat Leoni mengabaikan semua tekanan dari Ewie. Dia berpikir, biarlah Ewie memarahinya sampai mulutnya berbusa karena suatu saat Ewie akan pergi. Yang akan bertahan lama itu Gerrald, dan anak mereka nanti. Merekalah yang harus Leoni prioritaskan. Ketakutannya ternyata menjadi kenyataan. Gerrald terbuai pembelaan dari sang mama sehingga melakukan hal yang benar-benar diluar batas toleransi Leoni, memadunya. Apapun alasannya dia tidak terima apalagi Gerrald tidak pernah meminta izinnya. “Melamun!” ejek Gilang sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Leoni. “Eh, aku___maaf” ucapnya salah tingkah. Ternyata menghapus kenangan lama itu sulit. Tidak semudah berkata bahwa ia telah melupakan semuanya. Selalu saja ada hal-hal kecil yang membuatnya teringat. “Jangan sering-sering melamun. Nanti kamu kena sambet baru tau! Kelihatannya sepele tapi penyakit karena terlalu banyak berpikir itu banyak.” Leoni hanya mengangguk. Dia melihat Geovani yang makan dengan lahap. Jangan sampai ia sakit karena memikirkan orang lain dan jadi lalai menjaga anaknya sendiri. Geovani itu hidupnya. Semua yang ia lakukan, ia menjadikan Geovani sebagai alasannya. “Nambah?” tanya Leoni saat nasi yang ada di piring Gilang masih tersisa. “Eh? Udah. Ucah cukup.” Leoni melirik ke piring Gilang lagi. Desakan untuk menyampaikan pendapatnya begitu besar tapi ia takut Gilang tersinggung. Tapi kan, Gilang dan dirinya sudah mulai akrab. Mereka sudah berteman. Harusnya tidak apa-apa saling mengingatkan. “Kalau di keluarga kami, waktu orang nyisain nasi di piringnya, itu tandanya dia mau tambah. Makanya aku mikir kamu mau tambah,” ucap Leoni hati-hati. Gilang melirik piringnya. Benar memang ia menyisakan sekitar dua kali suap lagi. Itu kebiasaannya. Dia anak rantau, di perantauan dia sering makan di luar dan biasanya dia memang menyisakan makanan agar tidak terlihat terlalu rakus. Teman-temannya juga begitu, jadi ia baru sadar kalau kebiasaan itu ternyata berarti lain bagi Leoni. “Sorry, ini kebiasaan dari perantauan” ucap Gilang lalu terkekeh. “Tapi untuk kategori anak laki-laki yang terbiasa hidup jauh dari orang tua, kamu berhasil, Lang. Kamu nggak bandel. Kayaknya” ralat Leoni langsung saat Gilang menatapnya. Gilang tertawa, begitu pula Leoni. “Geo juga nggak bandel kok, Ma. Yak an Om?” Geovani meminta pembelaan Gilang. “Jelas kamu nggak bandel, jagoannya Oom” ucap Gilang sambil melirik Leoni. Sayang, wanita yang diliriknya sedang menatap layar ponselnya. Padahal kalau tadi dia melihat, bisa jadi dia sadar kalau Gilang sedang mengirimkan sinyal pendekatan. Leoni itu wanita yang terlalu lurus, sepertinya dia menganggap apa yang dilakukan Gilang selama ini murni karena kebaikan hatinya. Padahal kan, dia memang sedang modus. “Ah, Eum, aku ke kamar sebentar ya” pamit Leoni sambil membawa ponselnya. Gilang menerka, pasti ada sesuatu yang terjadi. Benar saja. Di kamarnya, Leoni menghubungi Friska. “Halo Kak, Assalamualaikum.” “Waalaikum salam, Ni. Kamu sibuk?” “Enggak sih. Nggak terlalu. Kenapa Kak?” “Ni, Gerrald sakit.” Leoni hanya diam. “Dan mama pun ikut sakit.” “Dan?” tanya Leoni sinis. “Sekali ini saja, kakak mohon, datanglah. Sekali saja. Gerrald terus mengigau memanggil nama kamu dan Geo. Mamapun rewel meminta kakak membujuk kamu.” “Mereka sakit tidak ada hubungannya dengan saya, Kak. Bawa ke rumah sakit.” “Sudah.” “Ya sudah. Nantinya mereka akan sembuh asal mengikuti saran dokter. Benar-benar tidak ada hubungannya dengan aku.” “Ni, dengarkan kakak. Penyebab mereka sakit memang bukan kamu, penyebab mereka sembuh juga bukan kamu, tapi yang bisa mendorong semangat mereka untuk sembuh itu kamu.” Leoni tertawa mengejek. “Yang ada mama malah jantungan kalau ketemu aku.” “Enggak, sayang. Percaya sama kakak. Mama sudah berubah. Dia tidak lagi membenci kamu seperti dulu. Dia sekarang sadar kalau memang yang layak bersama Gerrald itu kamu.” Leoni kembali diam. Dia tidak mau mendengar namanya dan Gerrald disatukan dalam kalimat yang berkaitan dengan suatu hubungan. Dia dan Gerrald hanya memiliki satu status, yaitu mantan suami istri. Dan selamanya akan begitu. “Ni, please…” “Eum, Sorry Kak, aku ke bawah dulu. Toko jam segini udah mulai ramai jadi kita lanjut via chat aja ya.” Leoni langsung menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan. Enak saja mereka, batin Leoni, memanggil saat mereka butuh dan membuang saat mereka jemu. Memangnya Leonia apa? Leoni kembali ke meja makan dengan wajah yang mencerminkan isi hatinya. Saat melihat wajah Geovani yang tampak ceria bercengkrama dengan Gilang, Leoni merasa hangat. Bibirnya yang tadi tertarik lurus karena jengkel, sudah melengkung. “Udah siap? Berangkat sekarang?” tanya Gilang. Leoni mengangguk. “Eh, piring kotornya?” “Udah ditaruh di wastafel, Ma!” seru Geovani. “Kata Om Gilang, kalau selesai makai barang langsung dirapikan. Harus disiplin. Ya kan Om?” Gilang menyengir lebar lalu mengangguk. “Maaf ya kasih doktrin ke anak kamu. Soalnya, kebiasaanku begitu.” Leoni mengacak rambut Geovani lalu memeluknya. “Kalau begini, mama jadi makin bangga deh sama kamu.” Geovani melirik Gilang dengan senyum yang sangat lebar. Gilang menangkap senyuman itu sebagai ucapan terima kasih karena Gilang membantunya mendapatkan pujian. Gilang bangga pada Geovani karena dia masih begitu murni. Bahkan mendapatkan pelukan seorang ibu yang pasti bisa didapatkannya kapan sajapun, dia merasa begitu gembira. *** Heru tau kalau Gilang pergi dengan Leoni dan dia murka. Tidak ada bedanya Gilang adiknya atau bukan, karena sekarang ini dia hanya tau bahwa Gilang berusaha merebut apa yang ia inginkan. Heru tau, Gilang menang banyak darinya tapi ia tidak akan menyerah. Jangan sebut namanya Heru jika ia tidak berhasil menikahi Leoni. Wanita itu, hanya akan menjadi miliknya saja. Tok tok tok “Masuk!” teriak Heru. Pekerja swalayan yang Heru tidak ingat namanya masuk ke dalam. Heru mengerutkan keningnya. Wanita itu berbeda dari biasanya. Heru tau karena yang ia tau, pekerja swalayan ini semuanya berwajah kusam. Khas wanita yang tidak merawat diri dengan baik. Senyum di wajahnya mengembang. Baguslah, batinnya, setidaknya pekerjanya sudah mulai mengerti bagaimana harusnya mereka tampil di depan Heru. Wanita itu duduk lalu menaruh sesuatu di atas meja. “Ini dari PT. KAros, Pak. Mereka distributor makanan. Mereka memberikan penawaran untuk produk mereka dan ini katalognya.” “Mereka menitipkannya? Kemana marketingnya? Atau paling tidak salesnya?” tanya Heru dengan tatapan tajam. Wanita di depannya itu menundukkan kepalanya. Terlihat jelas bahwa ia merasa takut. “Tadi__tadi katanya, saya disuruh kasih ini ke bapak dulu. Ada nomor hpnya di bagian belakang. Kalau___” “Suruh mereka datang langsung ke saya lain kali, bukan dengan menitipkan katalog begini. Jangan karena swalayan kita kecil mereka semena-mena. Tidak ada mereka juga kita bisa dapat stok barang!” Wanita itu mengangguk lagi. “Sudah!” Heru mengibaskan tangannya, “Keluar kamu. Dan jangan biarkan seorangpun mengganggu saya sampai nanti sore. Kalau ada yang mencari saya, hubungi saya dulu. Setelah saya bilang biarkan masuk baru biarkan mereka masuk. Mengerti?” Wanita itu lagi llagi mengangguk. “Tunggu apa lagi?” bentak Heru tidak sabaran. Wanita itu tersentak lalu dengan segera ia beranjak meninggalkan ruangan. Sialan! Kalau ia tau yang sering berhubungan dengan usaha Leoni itu Rumah Bambu, ia pasti akan meminta Rumah Bambu pada orang tuanya. Bukan swalayan yang pengelolaannya membuatnya sakit kepala seperti ini. Tapi, tunggu dulu. Kenapa dia harus menyesal? Kan bisa saja dia meminta ganti. Dia bisa berkeras bahwa usaha yang harusnya menjadi miliknya adalah Rumah Bambu. Heru yakin, jika ia meminta dengan sungguh-sungguh, orang tuanya pasti akan memberikannya. ***   Ewie menatap anaknya penuh harap. “Bagaimana?” tanyanya pada Friska. Friska menghembuskan nafas lelah lalu menggelengkan kepalanya. “Dia masih sibuk, Ma. Mungkin lain kali, katanya” dusta Friska. Meski ia juga sering kesal dengan sikap Ewie tapi tetap saja sebagai seorang anak ia merasa khawatir melihat sang mama yang sudah tua itu terbaring tak berdaya dengan jarum infus yang terpasang di tangannya. “Dia sibuk apa coba? Kerjanya apa sih!” gerutu Ewie. Friska tidak mau menanggapi sungutan Ewie karena ia yakin sungutan itu bukannya berkurang malah bertambah. Ewie terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak memikirkan kebahagiaan anak lelakinya tersayang. “Nanti kamu telepon lagi, Ka. Biar dia bosan yang penting dia datang. Mama kasihan sama Gerrald. Yang dia sebut Leonid an Geo terus. Mama juga rindu sama cucu mama yang satu itu. Pasti dia sudah besar. Memangnya dia tidak rindu pada neneknya?” “Sabar Ma, nanti Friska coba bujuk lagi ya?” Ewie mengangguk pasrah. “Sudah, kamu ke kamar Gerrald aja. Jaga dia aja, mama nggak apa-apa sendirian.” Friska menurut. Dia mengambil tasnya lalu menyandangnya, membangunkan anaknya yang tertidur di sofa, lalu pergi ke kamar Gerrald. “Jangan sampai kamu tambah parah, Ge. Kamu harus sehat,” lirih Ewie sambil meneteskan air matanya. Dia tidak perduli semua orang berkata ia terlalu pilih kasih dan memanjakan Gerrald. Dia memang begitu. Dia memuja Gerrald karena ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Hanya Gerrald yang selalu ada di pikirannya. Kebahagiaan Gerrald adalah prioritasnya. Anak perempuannya, semuanya telah memiliki anak. Ewie yakin mereka mengerti kenapa ia sekeras ini dalam menjamin kebahagiaan Gerrald. Dia hanya ingin anaknya mendapatkan yang terbaik. Dia hanya ingin Gerrald bahagia.   NB   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN