Part 12

1163 Kata
“Tidak sarapan?” tanya Ewie. Gerrald menjawabnya dengan gelengan kepala sambil melirik jam tangannya panik. Dia melangkah tergesa untuk berangkat kerja. Ewie menggelengkan kepalanya, semakin lama semakin dia yakin Gerrald butuh seorang istri. Wanita itu, si Leoni, sudah menikah kah? Tanya Ewie dalam hati. Jika belum, siapa tau dia masih bisa meminta Leoni kembali untuk anaknya. Gerrald sudah seperti mayat hidup dan itu berbahaya. Dia melupakan sarapan, bisa jadi mengabaikan makannya yang lain, istirahatnya juga hanya sebentar karena saat ia pulang di jam yang terlalu larut, dia masih sempat mengerjakan entah apa itu di kamarnya. Ewie memasang kamera dan kaget karena jika tidak melanjutkan pekerjaannya, maka Gerrald akan memandangi foto mantan anak dan istrinya itu. Ewie meninggalkan meja makan, menyuruh pekerja rumah tangga membereskan meja makan, lalu ia menelepon kakak Gerrald, Friska. “Ya Ma?” “Kamu sibuk Ka?” “Enggak sih, cuma lagi duduk-duduk aja. Kenapa?” “Ka, tolongin mama dong. Kamu kan dekat sama Leoni, bisa nggak kamu bujuk dia untuk kembali sama Gerrald? Atau coba deh kamu cari tau dia udah ada pasangan belum? Udah nikah belum?” “Ya ampun, Mama. Ngapain sih, kurang kerjaan banget?” “Ini demi adikmu, Gerrald. Kamu nggak tau kan, dia udah kayak orang depresi di sini. Pulangnya selalu larut malam, makan malas-malasan, bahkan dia udah jarang mau ngomong sama mama. Kalau begini terus akhirnya Cuma dua, kalau nggak Gerraldnya gila ya dia mati. Masak kamu tega sama adik kamu.” “Yaaaa, gimana ya? Udah terlanjur cerai juga kan. Friska kan deketnya ya deket gitu-gitu doang. Waktu mereka cerai ya Friska udah nggak ada komunikasi. Lagipula kan Mama harusnya sedang keinginan Mama udah terkabul, Leoni sama Gerrald cerai.” “Ya, nggak gini juga. Mama memang sebenarnya lebih suka Wina, atau siapa aja, Cuma kan yang jalanin adik kamu. Mama udah coba bujuk dia buka hati ke orang lain tapi dia nggak mau. Pernah mama undang beberapa anak gadis teman mama, akhirnya mereka pulang tanpa bertemu karena Gerrald pulang jam dua pagi.” Friska tertawa. “Laki-laki emang begitu, nggak tahan membujang. Biarin ajalah lama-lama dia nanti bosan sendiri, pulang bawa calon istri baru. Kita juga nggak tau kan dia pulang lama karena apa? Bisa jadi dia malah singgah di tempat lain. kemarin aja kita nggak nyangka kan dia hamilin Wina, padahal Leoni jarang nggak ada di rumah.” “Jangan sembarangan nuduh kamu! Kalau memang ada wanita lain, tidak mungkin adikmu itu selalu memandang foto Leoni sebelum tidur. Mama juga heran kenapa sebegitunya. Apa mungkin Leoni memelet dia?” “Astaga Mama! Anak Mama yang gila, anak Mama yang selingkuh dan anak Mama yang menceraikan dia, kenapa yang salah lagi-lagi Leoni? Ingat, mama perempuan dan anak mama yang lain juga perempuan! Kalau sampai suami Friska begitu, gimana?” “Ck, mama bahas apa kamu bahas apa! Sudahlah, mau bantu mama nggak? Demi adik kamu?” “Nanti deh, Friska coba. Tapi nggak janji bawa hasil ya.” “Iya, kamu bantu mamalah. Demi adik kamu.” “Hmmm, udah ya Ma, mau masak.” Sambungan terputus, Ewie menggerutu kesal. “Asalan!” ucapnya lalu meletakkan gagang telepon itu ke tempatnya. Ewie membuang nafas lelah. Kenapa jadi begini, dia memiliki dua cucu dan keduanya jauh darinya. Geovani, cucu laki-lakinya, sudah bagaimana ia sekarang? Pertama kali sejak mereka pergi, Ewie merasakan rindu yang teramat sangat. ***   Leoni meletakkan lagi ponselnya di laci meja kerjanya. Aneh sekali, kenapa Friska meneleponnya dan berbasa basi mengorek informasi kehidupannya? Leoni pikir, dengan bercerainya ia dan Gerrald, ia tidak akan berhadapan lagi dengan keluarga Gerrald. Kemarin ibunya, lalu kakaknya, besok siapa lagi? Leoni tidak tersanjung sama sekali. Dia malah merasa risih. Mau dibilang apapun, dia dan Gerrald tidak akan pernah bersatu lagi. Jika Tuhan membenci perceraian maka ia membenci rujuk. Baginya, jika ia rujuk, maka ia telah mempermainkan kesakralan pernikahan. Menikah, saat ada masalah maka bercerai, lalu saat masalah selesai rujuk. Saat ia sudah memutuskan untuk bercerai maka itu sudah keputusan akhir, artinya ia sudah tidak tahan lagi. “Bu, ada Pak Heru” lapor fitri. Leoni mengerutkan keningnya. Heru? “Suruh masuk aja.” Fitri mengangguk lalu beranjak. Heru berdiri di depan ruangan, lalu masuk saat Leoni mempersilahkan Heru masuk dengan gerakan tangannya. “Ada apa ya?” tanya Leoni heran. Jujur, dia masih merasa gamang dan sepertinya akan selalu gamang jika berhadapan dengan Heru. Mungkin karena dia teman pria b******k yang pernah mengganggu Leoni atau memang aura gelap pria itu yang membuatnya merasa sedang berhadapan dengan preman. Entahlah. “Aku membawa ini.” Heru mengangkat dan meletakkan bungkusan yang dibawanya ke atas meja. Leoni tertawa bingung. “Ini apa?” tanyanya. “Aku dengar kamu suka baca. Ini novel, tapi aku nggak tau kamu suka pengarangnya atau enggak.” “Dan___atas dasar apa kamu memberikan novel ini?” “Aku hanya ingin. Memberi tidak harus ada alasan kan? Aku harap kamu suka. Kalau begitu, aku pamit dulu. Terima kasih.” Heru berdiri lalu berjalan meninggalkan ruangan kerja Leoni. “Heru!” teriak Leoni. Heru menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. “Terima kasih,” ucap Leoni. Heru tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya. Leoni membuka bingkisan itu. Sepertinya Heru mengambil novel secara acak karena dari lima novel yang diberikannya, semua ditulis oleh orang yang berbeda dengan genre yang berbeda-beda pula. Leoni menyimpannya ke dalam laci. Benar dia suka membaca, tapi itu dulu. Saat ia masih lajang dan tidak memiliki banyak hal yang harus dipikirkan. Sekarang dia seorang ibu, juga merangkap sebagai seorang ayah. Jika ia memiliki waktu luang lebih baik ia habiskan dengan anaknya. Heru mengendarai mobilnya dengan jantung yang berdebar kencang. Rasanya menegangkan sekali menjalani proses pendekatan yang normal. Jika mengikuti keinginannya, sebenarnya ia lebih ingin masuk ke ruangan kerja itu, mengunci pintunya, lalu menerkam Leoni hingga ia luluh tak berdaya. Tapi, ia sadar bahwa strategi itu akan gagal. Leoni wanita yang keras dan tegas. Bisa jadi, satu waktu ia akan luluh lalu di saat lainnya ia akan menutup semua akses Heru dalam kehidupannya. “Abang darimana?” tanya Gilang yang ternyata sudah di swalayan. “Kenapa?” tanya Heru sinis. Gilang adiknya tapi juga musuh besarnya. Sebagai sesama lelaki dia tau Gilang tergila-gila pada Leoni. Gilang muda, bersemangat, dan gampang berbaur. Dia saingan yang berbahaya karena Leoni tampaknya banyak tersenyum saat bersama adiknya itu. “Ya, kan katanya kemarin minta diajarin cara meriksa pembukuan. Aku udah nunggu dari tadi. Ditelepon nggak ngangkat. Kalau emang nggak jadi hari ini belajarnya ya aku ke Rumah Bambu aja.” “Jadi-jadi!” ucap Heru lalu ia duduk di kursinya. Di seberangnya, Gilang mulai membuka laporan pembukuan dan menjelaskannya satu persatu. Saat Gilang bertanya apakah ia mengerti, Heru hanya mengangguk padahal ia tidak bisa mencerna satupun penjelasan itu. Pikirannya sibuk berkelana, memikirkan bagaimana cara berikutnya untuk mendekati calon wanitanya, Leoni. “Udah jam sebelas. Besok lanjut lagi deh. Aku ke Rumah Bambu ya?” pamit Gilang. Heru mengangguk. Gilang mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja kerja Heru lalu beranjak. Saat pintu tertutup, senyum mengembang di wajah Heru. Dia sengaja menyuruh Gilang ke swalayan agar Gilang tidak mengganggunya saat bertamu ke tempat Leoni. Dari dulu, sedari awal dia melihat Leoni dia tertarik. Tapi waktu itu dia memiliki banyak pengalihan perhatian. Dunia malam membuatnya terlena. Ada banyak wanita yang bersedia memuaskannya. Dia dulu berusaha juga mendapatkan wanita itu tapi dia malas menunggu terlalu lama sedang kebutuhannya sebagai lelaki dewasa begitu besar. Melihat wanita itu sekarang sudah menjadi janda, ia merasa sudah saatnya dia berhenti bermain-main dan mulai fokus untuk mendapatkan wanita itu. Leoni sempurna. Dia cantik dan terlihat begitu berharga. Membuat Heru merasa tidak masalah ia berkorban banyak agar ia bisa mendapatkan wanita seperti Leoni.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN